Black Shadow

Black Shadow
Kebenaran


__ADS_3

Pintu kamar Raja diketuk dari luar. Raja belum tertidur, membukakan pintu. “Ada apa?” tanya Raja kepada prajurit yang sedang mengambil posisi setengah berlutut di hadapannya.


 


“Ampun Raja. Kami dari pasukan khusus datang membawa sebuah kabar!” ucap salah satu dari mereka. Perkataan prajurit tersebut membuat Raja tersentak, itu hal yang wajar. Karena para prajurit ini sebelumnya, diperintahkan langsung olehnya untuk mengawasi Putrinya. Berarti kabar yang akan mereka sampaikan ada kaitannya dengan anaknya.


 


“Kabar apa yang membawa kalian sampai mengganggu malamku yang tenang?” Meski Raja berkata dengan lembut, tapi suaranya membahana dan membuat ketiga anggota pasukan khusus yang membawa kabar hanya bisa bergidik.


 


“I__ ini, Be__ be__ beberapa saat yang lalu, ruang latihan Tuan Putri diserang oleh orang misterius berjubah hitam, Raja.” Prajurit tersebut menceritakan seluruh kejadian di depan ruang latihan Tuan Putri. Tentu saja, cerita tersebut sudah dimanipulasi dengan rapi.


 


Mereka bertiga tidak ingin mencari gara-gara terhadap Tuan Putri. Jadi mereka menceritakan kejadian sesuai yang telah direncanakan bersama yang lain, mereka bertiga bahkan tidak peduli dengan Raja yang mungkin bisa mengetahui cerita sesungguhnya.


 


Raja yang mendengar hal tersebut, agak panik. Tapi, tetap menampakkan wajah tenangnya, tidak ingin kelihatan sedang panik di depan bawahannya. Pokoknya wibawa adalah segalanya. Sementara itu, ketiga anggota pasukan khusus tersebut. Nampak takut-takut, karena Raja belum juga menanggapi.


 


“Apa Putri terluka?” ucap Raja dengan nada datar, satu paket dengan wajah datarnya. Meski dalam hati, dia  sedang was-was sendiri. Tidak ingin terjadi sesuatu pada Putri.


 


Ketiganya menelan ludah secara bersama, “Tuan Putri baik-baik saja, Raja.” Mendengar hal tersebut diam-diam Raja menghembuskan nafas lega. Dia sangat bersyukur, bahwa Putrinya baik-baik saja. Raja tidak tahu yang terjadi, jika saja terjadi sesuatu pada Putrinya.


 


“Apa Putri masih berada dalam ruang latihan?” Selidik Raja sembari memicingkan mata. Ketiga anggota pasukan khusus cepat menunduk.


 


“Ampun Raja, terakhir kali kami berada di depan ruang latihan. Tuan Putri masih berada di sana.” Jelas salah satu anggota pasukan khusus dengan takut-takut.


 


Mendengar hal tersebut Raja hanya mengangguk-angguk, “Sepertinya anak itu akan latihan sampai pagi lagi. Dia berlatih terlalu keras dan memaksakan tubuhnya. Jika saja, dia__ sudahlah. Terlalu dipikirkan juga tidak akan berguna, malah hanya akan menambah beban. Sebaiknya, saya memikirkan cara untuk mengatasi Si Jubah Hitam ini.”


 


“Oh ya, sekali lagi ampun Raja. Prajurit yang berjaga sepanjang lorong asrama peserta, telah tewas terbunuh. Mungkin pelakunya adalah Si Jubah Hitam,” jelas salah satu anggota pasukan khusus. Raja yang mendengar hal tersebut menjadi geram.

__ADS_1


 


“Bagaimana bisa?” Raja tidak percaya dengan yang telah terjadi dalam Kerajaannya. Yup! Kejadian ini tentu bukan yang pertama terjadi, tapi setiap kali diadakan turnamen. Selalu saja, ada yang terbunuh. Diduga peserta turnamen menjadi tujuan utama dari pelaku.


 


Pelaku ingin menghancurkan Kerajaan Selatan dengan memusnahkan generasi muda yang begitu berbakat. Jika dugaan tersebut benar, maka Raja akan marah besar dan tidak akan mengampuni pelaku.


 


“Ampun Raja, kami juga tidak mengetahui hal tersebut, karena hanya menjalankan tugas dari Raja yaitu mengawal Tuan Putri. Ke mana ‘pun Tuan Putri pergi kami harus ikut, jadi kami fokus dengan tugas tersebut dan mengabaikan hal lain. Sesuai yang kami ceritakan tadi, kami juga diserang oleh Si Jubah Hitam.” Salah satu anggota pasukan khusus mencoba menjawab dengan sebaik mungkin dan serba hati-hati.


 


Mendengar hal tersebut Raja mengerti dan memerintahkan ketiga anggota pasukan khusus untuk kembali menjaga Tuan Putri.


 


Tepat saat Raja menutup pintu kamar Kilin muncul, dia langsung mengambil posisi setengah berlutut. “Bukankah, saya sudah pernah mengatakan, Kilin? Jangan terlalu formal, kalau bertemu padaku.”


 


Mendengar hal tersebut, Kilin langsung berdiri, “Lapor Raja, tidak semua yang diceritakan oleh ketiga anggota pasukan khusus tadi, seluruhnya benar. Ada beberapa yang dimanipulasi!”


 


 


Setelah mendengar hal tersebut Raja langsung marah besar, “Berani sekali mereka membohongiku.”


 


Kilin yang berada di situ mengumpat pada beberapa pasukan khusus yang lebih mengikuti perintah Tuan Putri, dia tidak habis pikir mereka lebih takut pada Tuan Putri dibandingkan Raja. Akhirnya, dia juga yang harus menghadapi kemarahan Raja, karena ulah mereka.


 


“Mereka semua hanya mengikuti perintah Tuan Putri, Raja. Mereka menjadi serba salah sebenarnya, Tuan Putri juga memberi ancaman terhadap mereka. Apabila menceritakan kejadian lengkapnya kepada Raja dan itu semua demi melindungi seorang teman barunya.” Raja semakin tidak mengerti dengan semua yang telah terjadi.


 


“Putri memiliki teman? Sejak kapan? Dan bagaimana peserta tersebut bisa sampai ke ruang latihan khusus Putri? Hei, ini bahkan lebih menarik daripada harus menyaksikan turnamen berlangsung, Kilin. Putri bahkan tidak ingin berteman denganmu. Tapi, ada rakyat biasa yang bisa membuat Putri ingin berteman dengannya? Ini sungguh luar biasa.” Raja menjadi ceria, bahkan terbahak mendengar cerita Kilin.


 


“Benar, Tuan Putri memiliki teman. Saya juga tidak tahu sejak kapan, tapi sepertinya Putri benar-benar senang dengan temannya itu. Bahkan sampai memerintahkan anggota pasukan khusus untuk memanipulasi keberadaannya di sana.”

__ADS_1


 


“Soal cara teman Tuan Putri bisa sampai ke ruang latihan khususnya, saya juga tidak tahu-menahu. Saya turut bahagia dengan Tuan Putri yang sudah memiliki teman, sebab selama ini Tuan Putri tidak ingin berteman dengan siapapun. Hanya Bulan yang begitu dekat dengannya, tapi hanya sebatas guru dan murid. Karena... ah, maaf Raja. Saya terlalu bahagia sampai hampir membahas hal yang tidak seharusnya dibahas.” Kilin sungguh ikut bahagia. Tidak ada senyum yang dibuat-buat, karena sungkan pada Raja. Senyum tersebut murni dari hati.


 


“Hm, soal cara dia tiba ke ruang latihan tidak terlalu penting. Kau tenang saja, memang seharusnya hal tersebut tidak perlu dibahas.” Raja sangat bahagia saat ini, tidak ingin membahas hal yang tidak diperlukan sama sekali yang dapat mengganggu kebahagiaannya.


 


“Apa ada hal lain yang kau temukan?” Raja bertanya, siapa tahu ada yang dilewatkan oleh Kilin.


 


Kilin berpikir sejenak mengingat-ingat yang ditemukan, “Oh ya, apa Raja menyadari ada sesuatu yang salah dengan ceritaku tadi?”


 


Mendengar hal tersebut membuat Raja mengernyitkan dahi, “Sepertinya tidak ada yang salah.” Raja menjawab setelah mengingat yang diceritakan oleh Kilin. Rasa marah Raja kepada beberapa anggota pasukan khusus sirnah, karena mendapati Putri memiliki teman.


 


“Ah, Raja sepertinya terlalu bahagia, sehingga tidak menyadari. Jika teman Tuan Putri ini memiliki bakat yang luar biasa, dia bahkan bisa menahan Si Jubah Hitam seorang diri. Sedangkan, pasukan khusus yang Anda perintahkan untuk menjaga Tuan Putri, kapayahan menghadapinya.” Penjelasan Kilin membuat Raja terperanjat. Rupanya, dia melewatkan hal sepenting itu.


 


“Anak itu perlu diperhitungkan...” Raja dengan terbahak.


 


Sementara itu, Kilin agak ragu. Karena mengingat keberanian Gin yang terlalu berlebihan, dia bahkan tidak sedikitpun menghormati Tuan Putri. “Hm, saya agak ragu tentang hal tersebut. Dia memiliki keberanian yang berlebihan, peserta tersebut bahkan tidak sedikitpun menghormati Tuan Putri.”


 


Mendengar penjelasan Kilin membuatnya menghembuskan nafas halus, “Kau harus mengerti satu hal, Kilin. Manusia memang butuh rasa hormat dan dihormati oleh orang lain, tapi tidak harus gila hormat.”


 


“Orang yang menghormatimu tidak selalu menunjukannya dengan sikap, tapi terkadang melalui hati. Karena tidak selamanya orang yang selalu kau anggap menghormatimu dan selalu berlutut di depanmu, serta menuruti perintahmu. Benar-benar tulus dari hati. Mereka yang bersikap hormat di depanmu, bisa jadi yang berpotensi besar menghancurkanmu dan begitu pula sebaliknya.”


 


Mendengar penjelasan Raja membuat Kilin tertohok, dia merasa terlalu naif selama ini. Kilin berpikir terlalu sederhana melihat semua hal di depannya. “Ah, ada satu lagi, Raja. Dia memanggil Tuan Putri dengan sebutan ‘Iblis Kecil’. Bukankah itu, terlalu berani?"


 

__ADS_1


“Iblis Kecil?”


__ADS_2