
Keduanya telah tersengal-sengal sejak tadi, bertarung secara habis-habisan. Mereka bergerak cepat menyerang musuh, menumbangkannya dengan serangan fatal.
Mereka sudah mencapai batas maksimal stamina, masih bertahan dengan kerasnya gempuran musuh yang terus berdatangan. Mereka mundur untuk saling membelakangi, saling melindungi satu sama lain. Mereka benar-benar berada di ujung tanduk, nafas keduanya saling memburu. Membalas satu sama lain.
Menangkis semua serangan yang datang, menghatamkan bola berduri ke arah musuh. Batuk darah keluar dari musuh yang perutnya terkena serangan Drak.
Keduanya mencoba bertahan selama mungkin, berharap ada bantuan yang tiba. Drak menutup mata, merasakan lingkungan sekitar. Dia mendengar langkah kaki yang begitu berat, tidak hanya satu. Akan tetapi, puluhan langkah kaki.
Drak gemetar, dia membuka matanya. “Ini... jangan bilang jumlah musuh akan bertambah lagi, terlebih sebanyak itu?”
“Apa maksudmu?” Rog tidak mengerti dengan ucapan Drak, dia menoleh ke kiri dan kanan. Menyisir sekitar dengan seksama.
Keduanya mencoba bertahan sekuat yang mereka bisa, meski tenaga yang keluar sudah melebihi yang seharusnya. Mereka benar-benar bermental baja, tidak ada rasa takut sedikitpun.
Mereka saling melindungi dengan baik, meski tubuh sudah penuh dengan luka. Tanpa sadar terdapat tali tidak kasat mata telah menghubungkan keduanya, mereka saling menaruh rasa peduli satu sama lain. Pertarungan hidup-mati yang keduanya hadapi, tanpa sadar telah membuat sesuatu yang ada dalam diri mereka saling tergerak untuk saling melindungi.
Keajaiban yang mereka nanti, akhirnya datang. Di penghujung pertempuran, disaat mereka tidak mampu lagi bertahan, disaat stamina mereka hampir habis. Keajaiban yang mereka nanti, kini tiba.
Para prajurit Kerajaan muncul, memberantas musuh yang ingin menggulingkan kekuasaan Raja. Mereka baru saja kembali dari tempat pengungsian, tidak prajurit biasa yang berada dalam rombongan tersebut. Akan tetapi, juga terdapat sepuluh orang dari anggota pasukan khusus di dalamnya.
Musuh yang tadinya berfokus pada Drak dan Rog. Kini berubah haluan untuk menghadapi gempuran prajurit yang datang. Mereka benar-benar kesulitan kali ini, terdesak dengan para prajurit yang menumbangkan musuh.
Suara pertemuan senjata saling bertabrakan, teriakan-teriakan saling bersautan. Para prajurit maju tanpa gentar sama sekali, membunuh musuh tanpa ampun. Mayat-mayat bertumbangan satu-persatu dari kedua belah pihak.
Pada pertempuran tersebut banyak nyawa yang melayang begitu saja. Tidak ada rasa kemanusiaan dalam pertempuran tersebut. Banyak nyawa yang terbantai begitu saja, padahal diantara mereka masih memiliki keluarga yang menunggu untuk pulang.
__ADS_1
Pertempuran terus berlangsung, Rog dan Drak sedang mengistirahatkan diri. Berhubung mereka bukan lagi sasaran musuh. Mereka bergerak ke arah yang lebih tenang, duduk terlentang.
Merenggangkan otot-otot tubuh. Mereka beristirahat dengan baik, mempersiapkan diri untuk membantu para prajurit yang sedang melawan musuh. Seluruh tubuh mereka terasa sakit.
Para prajurit dalam keadaan unggul, di atas angin. Mampu menyudutkan musuh sejak awal kedatangan mereka, meski banyak dari prajurit Kerajaan yang harus gugur.
“Kalian semua menyerahlah, agar dapat dipenjarakan secara baik-baik oleh pihak Kerajaan.” Salah satu anggota pasukan khusus bersuara.
“Cuih, mana sudi. Kami menyerah di tangan kalian!” Pemimpin dari rombongan musuh tidak terima, jika harus menyerah di tangan Kerajaan Selatan. Mereka lebih memilih melawan, melakukan pertempuran hingga titik darah penghabisan.
Suara benturan senjata terdengar mengisi udara, pertempuran tidak ada habisnya. Namun tiba-tiba keadaan berbalik kembali, prajurit yang tadinya mendesak musuh. Kini berbalik menjadi terdesak.
Bala bantuan musuh telah tiba, sekelompok pria berjubah hitam muncul dan menyerang para prajurit. Menghabisi mereka satu-persatu.
Drak yang melihat hal tersebut ingin segera membantu, hanya saja Rog menghalanginya. “Belum saatnya kita ikut membantu, ada waktu yang tepat untuk kita. Tunggu momentum yang tepat, agar kita bisa menuntaskan musuh.”
Prajurit Kerajaan pantang menyerah, mereka tidak mundur sama sekali. Mereka mempunyai strategi yang bagus, cukup tenang dalam menghadapi gempuran musuh yang terus berdatangan.
Salah satu anggota pasukan khusus menggunakan pedang, bergerak bebas untuk menebas musuh. Cepat sekali gerakannya, dia mampu melukai banyak musuh dalam waktu singkat. Benar-benar orang yang terlatih, tidak salah bisa masuk ke dalam pasukan khusus. Dia memiliki riwayat sebagai mantan pasukan Anwai, jadi tidak heran dia begitu hebat.
Para anggota khusus yang dari tadi hanya berada di belakang para prajurit, melindungi mereka dari belakang. Kini maju ke barisan terdepan, mereka menyerang musuh dengan keahlian masing-masing. Melapisi senjata menggunakan energi mereka, bergerak maju untuk menyerang musuh.
Para anggota khusus tersebut bergerak tac-tics, gerakan mereka saling terhubung satu sama lain. Mereka membelah kerumunan musuh, menumbangkan mereka satu-persatu.
Tidak ada yang salah dengan hal tersebut, para prajurit yang sempat kalah jumlah. Kini dapat mengimbangi musuh dengan pergerakan para anggota khusus. Pertempuran kembali sengit, kedua belah pihak saling menjatuhkan. Tidak ada yang sudi untuk kalah begitu saja, tanpa perlawanan.
__ADS_1
Pertempuran tersebut menghilangkan banyak nyawa, satu-persatu nyawa berguguran. Sekeliling dipenuhi oleh jasad yang tidak bernyawa lagi, mayat tersebut mulai membusuk. Mengeluarkan aroma tidak sedap, lalat mengerumuni mayat-mayat tersebut. Darah bertebaran di mana, sebagian diantaranya sudah mulai mengering.
Beberapa dari prajurit harus bertarung, sembari menutup hidung. Mereka tidak tahan dengan bau busuk yang sangat menyengat hidung, hal tersebut persis seperti yang dialami oleh seluruh anggota Klan Api yang berada di tempat pertempuran tersebut. Sementara itu, para pria berjubah hitam biasa-biasa saja. Tanpa beban sedikitpun, tanpa terganggu oleh bau busuk yang menyeruak ke area sekitar.
Pertempuran terus berlangsung hebat, meski perbedaan mulai terlihat. Terlebih, semenjak bau busuk yang menyeruak dari tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa di atas tanah.
Pihak prajurit Kerajaan Selatan mulai terdesak kembali, meski secara perlahan. Namun semakin lama, perbedaan tersebut mulai terlihat membesar. Musuh mulai mendominasi pertempuran, para prajurit tidak bisa bertarung dengan fokus. Hal tersebut tidak lain karena bau busuk yang memenuhi sekitar, satu-dua prajurit harus muntah. Mengeluarkan isi perut.
Kondisi tersebut dimanfaatkan pihak musuh, khususnya para pria berjubah hitam. Mereka membunuh secara efektif, memanfaatkan kondisi tersebut. Musuh saat ini benar-benar di atas angin.
Drak mulai habis kesabaran, lagipula dia sudah cukup untuk beristirahat. “Kita harus bergerak sekarang, Rog. Saya sudah habis kesabaran melihat prajurit Kerajaan yang sedang terbantai saat ini.”
“Baiklah, kita bergerak sekarang, Drak. Mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk memasuki pertempuran, sebelum itu saya lebih dulu merenggangkan otot bahuku.” Rog melemaskan tangan, kakinya, bahkan seluruh tubuhnya. Dia merasa tubuhnya sedikit kaku.
Keduanya bergerak maju ke barisan terdepan, membelah kerumunan musuh. Mereka mengayunkan pedang masing-masing, darah bercipratan di mana-mana. Drak bergerak secara efesien, menyerang musuh sembari bekerja sama dengan Rog.
Mereka merupakan kerjasama yang sangat baik, hal tersebut membuat salah satu dari anggota khusus merasa tertarik pada keduanya. Dia mengamati keduanya, “Hei, bagaimana bisa gerakan anak-anak ini saling terhubung satu sama lain?”
Mereka bergerak menyerang musuh yang ada di depan, menghindari serangan musuh yang datang. Meski ada beberapa serangan yang membuat salah satu dari mereka harus mundur dua langkah, terpental ke tanah.
Kondisi pertempuran berbalik arah kembali, kini pihak prajurit Kerajaan yang berada di atas angin. Meski, bau busuk tetap mengganggu konsentrasi mereka. Namun bantuan Drak dan Rog mampu membuat keadaan terkendali.
Mereka semakin merasa berada di atas, ketika datang bala bantuan prajurit yang berseragam lengkap. Dengan jumlah yang cukup banyak, para prajurit yang melihat hal tersebut merayakan kemenangan dalam kerumunan. Padahal pertempuran belum berakhir.
Namun sorakan kemenangan tersebut, berubah menjadi jeritan kengerian saat bala bantuan yang datang menyerang prajurit yang sedang bertarung. Para prajurit dibantai begitu saja.
__ADS_1
Drak yang melihat hal tersebut dibuat kebingungan, gerakannya sempat terhenti beberapa detik, karenanya. Dia tidak mengerti dengan yang sedang terjadi.