Black Shadow

Black Shadow
Hari yang Menyebalkan


__ADS_3

Gin telah tiba di arena turnamen, di sekitar mereka terdapat banyak prajurit lainnya yang berjaga. Wajah mereka semua datar, tanpa ekspresi. Hanya mata mereka yang bergerak ke sana-kemari, memantau keadaan.


 


Saat ini Gin sudah sendiri, karena dia sudah melumpuhkan prajurit yang mengantarnya. Sesaat sebelum tiba di arena turnamen. Gin menyeret dan menyembunyikan prajurit tersebut dalam sebuah ruangan kosong.


 


Gin menyusuri setiap sudut arena turnamen, tanpa sedikitpun rasa gugup. Padahal di setiap sudut arena terdapat prajurit yang berjaga, Gin nampak santai berjalan ke sana-kemari. Memeriksa setiap detil yang terdapat di atas arena, bahkan setitik noda darah tak lepas dari matanya.


 


Itu sisa bekas noda darah peserta yang terbunuh, Gin merasa aneh. “sepertinya, ada banyak hal yang menjanggal pikiranku, salah satunya arena tunamen tidak terdapat sedikitpun bekas pertarungan. Ini memunculkan dua kemungkinan yang terjadi.”


 


“Yang pertama, si pembunuh ini jauh lebih hebat dari peserta dan dengan mudah membunuhnya, tanpa perlawanan sama sekali,  atau__ pembunuhan terjadi di tempat lain dan jasad peserta sengaja diletakkan di sini.” Gin tidak sedikitpun takut akan ketahuan, karena menurut yang diajarkan oleh Bibi Merume ‘Semakin aneh gerakan yang ditimbulkan, maka akan semakin membuat lawan curiga.’


 


Sementara itu, prajurit yang bertugas mengacuhkannya. Tak peduli dengan yang dilakukan Gin, mereka memang sengaja membiarkannya. Karena mereka pikir, Gin merupakan prajurit utusan yang khusus menyelidiki kasus tersebut.


 


Gin mondar-mandir, mencari setiap detil yang bisa dijadikan petunjuk. Namun selain noda darah tidak ada lagi yang bisa dijadikan petunjuk, “asrama dan arena turnamen merupakan satu bangunan, tempat ini sangat dijaga ketat. Tidak ada orang luar yang bisa keluar-masuk dengan mudah dari bangunan ini, kecuali__ yup, para prajurit dan orang-orang Kerajaan,” pikir Gin.


 


Setelah memeriksa situasi, Gin memutuskan mencari tempat aman untuk bersembunyi hingga malam tiba dan ada satu tempat yang cocok baginya. Ruangan latihan Tuan Putri, bukankah tempat itu sangat aman baginya. Lagipula, jika Gin kembali ke kamar akan sulit untuk keluar.


 


Jadi, dia memutuskan ke ruang latihan pribadi Tuan Putri. Di ruang tersebut terdapat banyak prajurit, tidak seperti biasanya. Gin memutar otak mencari cara untuk bisa masuk ke dalam, tapi tak kunjung mendapat ide.


 


Akhirnya, Gin memutuskan tetap berjalan. Dia akan bertindak sesuai kondisi, saat tiba di depan pintu. Para prajurit menghadangnya, “ada urusan apa, kamu ke sini?”


 


“Saya diperintahkan untuk menjaga Tuan Putri yang sedang berlatih di dalam. Camkan ini! Saya adalah prajurit pribadi Tuan Putri.” Seketika para prajurit meminta maaf kepada Gin dan mempersilahkannya masuk ke dalam.


 


Gin membuka pintu ruang latihan yang menimbulkan suara berderit, dengan cepat Gin menutup pintu. Dia langsung kembali ke bentuk aslinya, Tuan Putri yang sedang fokus berlatih panahan tidak menyadari kedatangannya.

__ADS_1


 


Kali ini, pakaian Tuan Putri tetap berwarna putih. Hanya saja, pakaiannya merupakan baju yang cocok untuk berlatih, tidak seperti awal pertemuan mereka yang di mana Tuan Putri memakai gaun.


 


“Ekhem.” Gin berdehem, agar Tuan Putri menghentikan kegiatannya sejenak. Tuan Putri yang mendengar hal tersebut menoleh ke sumber suara. Seketika dia memicingkan mata, senyum Tuan Putri tiba-tiba mengembang.


 


Hal tersebut membuat perasaan Gin mulai tidak enak. “Kuharap, dia tidak sedang memikirkan rencana jahat terhadapku.” Kuduknya seketika bergidik.


 


“Kebetulan kau muncul. Ah, tunggu dulu. Bagaimana caramu melewati puluhan prajurit yang berjaga di luar?” tanya Tuan Putri penuh selidik.


 


“I...itu sulit dijelaskan.” Gin sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.


 


“Ah, sudahlah. Saya tidak peduli, bagaimana caramu melewati puluhan prajurit menyebalkan itu. Tapi, jelasnya saya cukup beruntung kali ini. Kedatanganmu dalam sekejap telah mengusir kebosananku yang berlatih sejak tadi. Sekarang kau harus menemaniku latihan memanah.”


 


 


Gin tentu mendapat angin segar mendengar hal tersebut, setidaknya dia bisa menggunakan kecepatannya untuk menghindari setiap anak panah yang mengarah padanya. Tentu itu, hal yang sangat mudah bagi Gin. Karena dia sudah pernah berlatih dengan Bibi Merume sebelumnya.


 


“Bersiaplah.” Tuan Putri dengan cepat menarik anak panah. Meski, secara tiba-tiba. Tapi, hal tersebut mudah saja dihindari Gin. Di matanya anak panah yang mengarah padanya sangat lambat, jadi dengan mudah menghindar.


 


Tuan Putri tersenyum melihat anak panahnya dapat dihindari oleh Gin. Kemudian, Tuan Putri berlari ke arah Gin sambil menarik anak panah. “Hei, hal ini tidak ada dalam perjanjian.”


 


“Justru itu, saya melakukannya. Karena tidak ada dalam perjanjian. Jadi lumrah saja, memanah sambil bergerak, bukan?” Gin hanya bisa menggertakkan gigi, tentu saja dia hanya bisa menerima itu semua. Daripada harus terusir dari ruangan tersebut dan semua rencananya bisa hancur berantakan.


 


Gin berlari menghidari Tuan Putri sebisa mungkin, tentu Gin mudah melakukannya. Dengan gesit melenting ke sana-kemari, Tuan Putri juga tidak kalah. Dia melompat sambil membalikkan tubuhnya kaki di atas, tangan di bawah. Saat masih di udara anak panah ditariknya dengan kuat, dia melepaskan anak panah tersebut.

__ADS_1


Anak panah tersebut bergerak lebih cepat dari biasanya, secara bersamaan Tuan Putri menjadikan tangannya sebagai tumpuan untuk mendarat. Dia memutar tubuh, serta melenting agar mendarat dengan tegap.


 


Sementara itu, Gin sempat kesulitan. Karena kecepatan anak panah yang semakin cepat, semakin terarah datangnya. Tapi, dia dapat menghindar tanpa tergores sedikitpun.


 


“Iblis Kecil, apa kau berniat untuk membunuhku, hah!? Dari awal kita bertemu kau terus melakukan hal yang berbahaya terhadapku. Perasaan, saya tidak pernah menyinggung Tuan Putri yang terhormat ini.” Gin mengatakan hal itu dengan wajah mengejek.


 


Tuan Putri geram terhadap pernyataan Gin, “Hei, saya hanya ingin bermain sambil berlatih denganmu, tidak lebih. Apalagi ingin membunuhmu, saya tidak ada niat untuk melakukan hal bodoh semacam itu. Jadi, hentikan pikiran bodohmu itu dan lanjutkan latihan kita atau saya akan benar-benar membunuhmu.”


 


Gin hanya bisa menelan ludah mendengar perkataan Tuan Putri. Karena kesal Tuan Putri melesatkan tiga buah anak panah ke arah Gin, terus-menerus melesatkan anak panah tanpa pikir panjang. Gin yang diserang, menghindar sebisa mungkin.


 


Gin melompat, melekukkan tubuh dan melentingkan tubuh untuk menghindari anak panah yang mengarah padanya “Perempuan, kalau marah sangat menakutkan. Dia tidak sedang marah saja, sudah lebih menakutkan dibanding Widora. Apalagi sedang marah seperti ini, aduh Iblis Kecil ini sangat menakutkan.”


 


Gin terus mengitari ruangan yang mulai berantakan, karena kemarahan Tuan Putri. Dia mengunakan segala cara untuk menghindari serangan Tuan Putri, bahkan dia harus mengangkat meja yang dipenuhi buah-buahan untuk melindungi diri dari anak panah, buah-buahan yang berada di atas meja berhamburan ke mana-mana.


 


Sementara itu, anak panah menancap ke meja, bahkan bagian ujungnya menembus meja. Hal tersebut membuat Gin tergopoh-gopoh berlari sambil melempar meja di tangannya. “Tolong!!! Ada Iblis Kecil yang ingin membunuhku.”


 


“Kyaaaa.” Gin melentingkan tubuhnya ke samping untuk menghidari anak panah yang hampir mengenainya.


 


Teriakan Gin terdengar oleh para prajurit yang berada di luar, mereka semua saling menatap dan mengeryitkan dahi. Mereka secara brutal mendorong pintu besar, dan menasuki ruang latihan. Para prajurit ternganga melihat yang telah terjadi.


 


Ruangan tersebut berantakannya bukan main, seluruh peralatan latihan terbengkalai ke mana-mana. Meja dipenuhi oleh anak panah dan dinding-dinding juga terdapat banyak anak panah yang tertancap. Ruangan tersebut seperti kapal pecah.


 


Tragisnya para prajurit berseru kasihan kepada anak muda yang tergantung dengan tangan terikat dan anak panah yang menyangganya diantara tangan anak muda tersebut, juga mulut yang tersumpal oleh kain lap kotor. Semua prajurit berseru, “Siapa dia, Tuan Putri? Bukankah tadi ada seorang prajurit yang mengaku sebagai prajurit pribadi anda?"

__ADS_1


 


Tuan Putri melebarkan senyum, tak menanggapi pertanyaan para prajurit. Dia memberi kode kepada para prajurit untuk keluar dari ruang latihan, para prajurit bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Mereka menurut saja, tanpa membantah.


__ADS_2