Black Shadow

Black Shadow
Mie dan Kedai


__ADS_3

Masamune yang masih menghayal mendengar suara itu, mendongakkan kepala. “Kenapa bocah ini berani mengataiku ‘Tua bangka.’ Bahkan, Si tengil Liu Peng saja. Tidak berani mengataiku seperti ini. Tapi, tunggu dulu, bocah ini sedang tidak bercanda, bukan? Dia mengajak orang tua ini, makan bersamanya. Ah, rezeki memang tidak ke mana.”


“Lagipula sudah beberapa hari ini, saya tidak makan, meski seorang samurai. Tapi, samurai juga manusia kan, bisa merasakan kelaparan,” pikir Masamune. Seketika, Gin menarik pergelangan tangan Masamune yang sedang memeluk pedang.


Masamune yang ditarik terpaksa ikut, meskipun tidak terpaksa tetap akan ikut. “Gratis, mana ada manusia di dunia ini yang menolak makanan gratis?” batin Masamune.


“Apa Tua bangka tahu restoran terbaik di kota ini?” tanya Gin dengan senyum yang mengembang. Sementara, Masamune mengangguk mantap.


Masamune yang menjadi pemimpin jalan, tangan sudah terlepas dari tarikan Gin. Mereka berdua semangat sekali, langkah mereka tak tanggung-tanggung. Berbelok ke kanan, lurus, ke kiri, hingga mentok di depan kedai kecil.


Gin melongo melihat kedai, “Ini yang Tua bangka maksud?” Gin tak percaya kedai sekecil ini adalah restoran terbaik di Kota Bintang. Kedai tersebut berukuran tiga kali empat, sementara di luar kedai terdapat meja-meja berjejeran, memang kalau masalah pemandangan dan suasananya kedai ini memang yang terbaik.


Rembulan malam, purnama. Menambah suasana yang luar biasa, suara gemericik kali yang berada tepat di samping kedai. Untungnya mereka mendapat bangku yang tepat berada di paling pojok dan menghadap kali, rembulan juga dapat terlihat dari posisi mereka.


“Benar, kedai ini yang terbaik. Baik pemandangan yang di suguhkan, suasana, pelayanan maupun makanannya. Hei, kita bahkan beruntung kali ini. Biasanya, kedai ini ramai oleh pembeli sampai bangkunya penuh dan harus mengantri. Kita juga mendapat bangku dengan posisi terbaik sekarang.” Masamune menjelaskan dengan rinci.


“Tidak salah, kota ini dinamakan Kota Bintang! Lihatlah, bintang-bintang di atas sana. Berjejer rapi, juga bersinar paling terang, jika dilihat dari tempat ini. Sangat berbeda dengan tempat lain,” gumam Gin, namun masih terdengar jelas di telinga Masamune.


Pohon mapel juga sedang rindang-rindangnya, pohon tersebut tumbuh tepat pada tepian kali, tidak jauh dari posisi mereka berdua. Dedaunan pohon yang berbunyi diterpa angin, sesekali daunnya berguguran. Suasana yang diidamkan oleh setiap orang di muka bumi sedang tersaji di hadapan Gin dan Masamune.


Anak pemilik kedai yang menjadi pelayan menghampiri meja milik Gin dan Masamune, mengantarkan pesanan keduanya, Gin mengangkat kedua alis. “sejak kapan Tua bangka ini memesan? Sementara, saya jelas-jelas belum melihatnya memesan makanan sejak tadi.”


Tanpa merasa perlu berbasa-basi kepada Gin yang telah membayar semua makanan, Masamune langsung melahap mie yang tersaji. Dia dengan cepat menghabiskan mie dalam mangkuk, tak lama datang pelayan dengan satu mangkuk lagi. Membuat Gin yang baru akan menyuap mie ke dalam mulutnya tertegun melihat nafsu makan Masamune.


“Tua bangka ini, lapar atau rakus. Saya saja belum ada satu suap, eh, dia sudah satu setengah mangkuk. Eh, sudah dua. Cepat sekali makannya.” Gin, jadi menyesal mengajak Masamune makan bersama. Tapi, tentu dia tidak serius tentang ‘menyesal telah mengajak Masamune makan bersama.’

__ADS_1


Gin tidak mau ambil pusing, lebih memilih fokus ke mie di hadapannya. Bahkan, setelah menghabiskan semangkuk mie, dia berebutan mangkuk dengan Masamune yang baru saja kelar menyelesaikan semangkuk mie.


Masamune tidak asal bicara tentang masakan di kedai yang mereka kunjungi itu yang terbaik. Gin sampai termangu, pada saat memasukan suapan pertama. Bahkan, dia sempat ragu masakan Bibi Merume kalah dari mie kedai yang direkomendasikan oleh Masamune.


Pengunjung yang lain tertegun, lebih memilih menyaksikan Gin dan Masamune berlomba menghabiskan setiap mangku yang datang ke meja mereka. Mangkok-mangkok mie telah bersusun di atas meja.


Namun keduanya belum ada tanda akan menyelesaikan kegiatan makannya, pelayan kedai sampai keteteran mengantarkan mie. Bahkan, pelayan tersebut sudah tiga orang hanya untuk melayani keduanya.


Pengunjung yang lain menjadi abai terhadap makanan di hadapan mereka, lebih menikmati kerakusan keduanya. Gila! Mereka belum berhenti makan juga, itu perut atau ruang berkapasitas tanpa batas? Hei, susunan mangkok kini diturunkan ke tanah, karena meja sudah tidak mampu menampung mangkok telah dipakai Gin dan Masamune.


Pemilik kedai, menggosok-gosokkan telapak tangan. Malam ini, dia mendapatkan pelanggan yang fantastis, nafsu makannya. Apalagi ada dua orang! Untung besar, sepertinya dalam waktu dekat, dia bisa membuka cabang di ibukota.


Padahal, kedai ini sudah sedari dulu, telah membuka cabang di empat kerajaan, malah. Tapi, pemilik kedai sangat selektif terhadap karyawan cabang, susah cari orang yang bisa dipercaya. Masalah ucapannya tadi, itu hanya gurauan belaka.


Masamune yang pertama kali tak sanggup memasukan mie ke dalam perutnya, bahkan mie yang sudah masuk seakan memaksa untuk keluar lagi, ingin muntah dia. Sementara, Gin masih lancar jaya memakan mie seakan luas perutnya tak terbatas.


Gin tak sadar diri, kalau mangkok yang berceceran adalah milik mereka. Mengatai diri sendiri monster adalah hal terkonyol yang pernah didengar oleh pemilik kedai maupun Masamune, membuat pemilik kedai terbahak. Sementara, Masamune tak bergeming sama sekali.


Pemilik kedai mendekati meja mereka ketika tawanya telah teredam. Pemilik kedai berkata, “semua mangkok ini adalah tanggungjawab Tuan muda dan Tuan Ma....” Sebelum menyelesaikan ucapannya pemilik kedai menerima kode dari Masamune, agar tidak membongkar identitasnya. Padahal, meski pemilik kedai membongkar identitasnya, Gin tak akan mengenalnya.


Mata Gin terbelalak, dia batuk-batuk tersedak oleh air liurnya sendiri. “Bagaimana mungkin?” melihat ekspresi Gin, membuat pemilik kedai mengerutkan dahi. Tawanya ditahan sebisa mungkin, mengingat slogan kedainya. Pelanggan terlayani dengan baik, maka kedai kami kaya senyum.


Gin takut-takut bertanya, “kalau ditotal, berapa semuanya?”


“Cuman satu koin emas!” ucap Pemilik kedai dengan senyum sumringah. Membuat Gin membuka mulut lebar-lebar, tidak menyangka makanan selezat itu harganya murah meriah. Apalagi dengan pelayanan yang baik, juga pemandangan yang tersaji sangat indah.

__ADS_1


Gin menyerahkan dua koin emas, agar dia bisa membawa beberapa mangkok mie yang dibungkus untuk Yan di penginapan. Juga untuk Masamune, dia juga memesan beberapa makanan kering untuk perbekalan mereka, tapi baru diambil ketika Gin dan Yan akan melanjutkan perjalanan.


Gin dan Masamune berpisah di simpang jalan, Gin menuju penginapan dengan bungkusan yang terdapat mie di dalamnya. Sementara, Masamune terlihat kembali ke kedai tadi.


“Mengapa Tuan Masamune bisa bersama bocah tadi?” sambut Pemilik kedai saat Masamune masuk ke dalam kedai.


“Bocah itu melihatku kelaparan di pinggir jalan, jadi mengajakku makan bersama. Sampailah kami ke sini, saya yang merekomendasikan tempat ini ke bocah terrsebut.” Masamune menceritakan semuanya dengan jujur, tanpa menutupi satu hal pun.


“Kelaparan? Mengapa Tuan tidak ke sini saja. Bukankah, saya pernah mengatakan ‘Khusus untuk Tuan, gratis seumur hidup makan di kedaiku.’ Lagipula, kedai ini tidak akan tutup hanya memberi makan gratis, satu orang saja.


“Saya hanya tidak ingin merepotkan pemilik kedai, setiap kali ke sini selalu dikasih gratis. Jadi tidak enak hati,” ucap Masamune datar. Perkataannya tidak dibuat-buat tulus dari hati, Masamune tidak ingin merepotkan pemilik kedai yang telah banyak kali memberinya makan gratis.


“Apa Tuan tertarik pada bocah tadi? Sepertinya, dia bukan bocah sembarangan. Ada yang spesial dari dirinya.” Masamune memicingkan mata, tersenyum lebar.


“Pemilik kedai telah lama pensiun dari segala kekacauan dunia, tapi tak kusangka. Keahlian Pemilik kedai dalam melihat hal-hal yang tidak bisa diamati oleh banyak orang, tidak berkurang sedikitpun. Ya, benar! Saya tertarik dengan bocah tersebut.”


“Oh ya, saya harus melanjutkan perjalanan malam ini juga, jadi Pemilik tidak perlu mencari ke seluruh Kota, kalau ada perlu. Jelas saya sudah tidak di Kota ini lagi, saat itu.” Masamune menjelaskan dengan wajah yang tetap sumringah.


“Oh ya, apa Tuan tidak ingin menambah bekal perjalanan? Sepertinya, bekal tersebut sangat kurang untuk Tuan yang memiliki nafsu makan besar, tunggu sebentar!” Pemilik kedai menyiapkan bekal tambahan untuk Masamune.


Tentu bekal yang disiapkan__ seluruhnya adalah makanan kering yang beragam, karena kalau makanan basah cepat basi. “Aduh, jadi merepotkan begini deh. Jika, tahu akan seperti ini. Mending, saya lamgsung bergegas meninggalkan kota tadi,” ucap Masamune sembari menggaruk kepala yang tidak gatal, setelah menerima bekal dari Pemilik kedai.


Sebenarnya, Masamune sengaja singgah ke kedai, agar mendapatkan bekal tambahan. Sesuai yang dikatakan oleh pemilik kedai ‘Nafsu makan Masamune sangat besar.’ Jadi, mau tidak mau harus pura-pura datang ke kedai dengan alasan berpamitan, dasar Tua bangka modus!


Masamune tidak berlama-lama berbasa-basi lagi, berjalan meninggalkan kedai tersebut tanpa menoleh. Tujuannya adalah ibukota Kerajaan Selatan, Masamune mengikuti jalur kali. Ada sebuah jalur yang jarang diketahui oleh banyak orang, jalur tersebut adalah alternatif yang paling baik. Jika, sedang buru-buru ke ibukota.

__ADS_1


Dengan kecepatan, serta jalur alternatif, tentu Masamune dapat mencapai ibukota dengan cepat. Masamune kini berada di luar Kota Bintang, berlari cepat di bawah rembulan dan gemintang yang menemani.


Masamune meninggalkan Kota Bintang, tanpa berbalik sedikit pun. Tapi, jauh di lubuk hatinya terselit harapan bisa bertemu lagi dengan Gin. Dia berlari dalam keheningan malam, tak peduli malam yang semakin larut..


__ADS_2