Black Shadow

Black Shadow
Istana


__ADS_3

Bibi Yio menghampiri Putri dengan wajah tertekuk, dia tidak suka Putri berada di luar istana atau bangunan turnamen. Hal itu dikarenakan membahayakan nyawanya.


 


Bibi Yio adalah adik dari Ratu. Kembarannya. Hanya saja, dia tidak seperti Ratu yang selalu memanjakan Putri. Sifatnya yang keras membuat Putri tidak suka padanya. Selalu saja, mengatur hidup Putri. Mulai dari makannya, caranya bertutur kata, berjalan, menghadap Raja yang merupakan Ayahnya sendiri. Memuakkan.


 


“Hei, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah, kau meminta pada Ayahmu, agar kau tinggal di asrama peserta selama turnamen?” Bibi Yio memarahi Putri.


 


“Ini tempat favorit Ratu, saya suka tempat ini. Jadi Bibi tidak punya hak untuk melarangku ke tempat ini.” Putri membentak Bibi Yio.


 


“Kau...” Bibi Yio tidak mampu berkata-kata, jika sudah membahas Ratu.


 


“Prajurit bawa Putri ke Istana. Untukmu anak muda, kau harus ikut bersama kami. Kau teman Putri, bukan? Sepertinya, jika kau ikut Putri akan sedikit menurut.” Bibi Yio tersenyum pada Gin.


 


Hal tersebut membuat Gin memasang senyum konyolnya. Dia hanya bisa menurut, lagipula dia tidak ingin Putri melakukan hal aneh lagi padanya. Jika tidak ikut kembali ke Istana. Seperti menjadi sasaran latihan panah, misalnya.


 


“Lepas, saya bisa berjalan sendiri.” Prajurit tersebut menatap Bibi Yio. Dia mengangguk, agar prajurit tersebut menuruti keinginan Putri.


 


Putri benar-benar di bawa kembali ke istana. Di jaga ketat sepanjang istana, mereka melewati jalur rahasia. Itu dibuat agar rahasia keberadaan Putri tidak terbongkar oleh pihak luar.


 


Benar-benar tidak ada yang tahu tentang rahasia tersebut. Gin merupakan satu-satunya orang yang tahu hal tersebut. Sekaligus, tahu jalan rahasia untuk masuk ke dalam istana, tanpa harus melewati gerbang istana.


 


Mereka melewati lorong-lorong gelap, temaram. Hanya obor kecil sebagai penerang. Bibi Yio mendekati Gin yang berjalan paling belakang. “Setelah tiba ke dalam istana, kau temui saya. Akan kukirim prajurit untuk bisa menemuiku.”


Gin mengangguk mantap, Bibi Yio tersenyum hangat. Kembali ke posisinya semula. Mereka berjalan cukup lama, hingga akhirnya tiba di ujung lorong. Menarik obor, sebuah pintu terbuka di atas sana. Tepat di ujung tangga.


 


Mereka menaiki anak tangga, satu-persatu. Gin bergumam dalam hati, “Jika begini caranya. Bagaimana caranya saya bisa kembali ke asrama?”


 


Mereka muncul pada salah satu pojok lorong yang buntu,  berjalan santai. Sepanjang jalan terlihat sepi. Tak ada satu orang ‘pun di sana. Aneh.


 


Putri yang menoleh, melihat raut wajah Gin. Dia tertawa kecil. “Apa kau baru pertama kali melihat bangunan semegah ini? Setelah turnamen berakhir, kau boleh tinggal bersamaku di istana. Kebetulan ada kamar kosong yang tidak jauh dari kamarku. Kau boleh menempatinya.”


 


Gin tidak menanggapi Putri, dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Terlebih perutnya sudah berbunyi dari tadi. “Apa di sini ada makanan?”

__ADS_1


 


Suara Gin begitu besar, sampai mengisi seluruh lorong tersebut. Menggema. Bibi Yio tersenyum. “Tentu saja, istana memiliki berbagai jenis makanan.”


 


“Kebetulan sekali, Bibi Yio. Saya lapar!” Gin seakan-akan sudah sangat akrab dengan Bibi Yio, dia bahkan memanggil dengan sebutan ‘Bibi’. Prajurit yang mendengar perkataan Gin bergidik.


 


Mereka tidak habis pikir dengan keberanian yang dimiliki Gin. Pertama dia mengabaikan Putri, kedua dia Yio dengan panggilan ‘Bibi’. Sok akrab sekali.


 


“Hahaha, anak yang bersemangat. Baiklah, kita akan langsung ke meja makan.” Bibi Yio, Gin dan Putri menuju ke meja makan, sementara para prajurit diperintahkan bubar oleh Bibi Yio menggunakan kode tangan.


 


Ketiganya duduk di meja makan yang panjang. Menunggu hidangan yang akan diantar oleh pelayan dapur, Bibi Yio selalu memerhatikan gerak-gerik Gin dengan senyuman lebar.


 


Gin bukannya tidak tahu akan hal tersebut. Akan tetapi, dia malas untuk menanyakan hal seperti itu. Terlalu merepotkan.


 


Tak lama menunggu, meja makan dipenuhi berbagai jenis makanan lezat. Gin yang melihat hal tersebut takjub. Dia bergumam, “Semua makanan ini, bahkan jauh lebih banyak di bandingkan dengan hidangan yang disajikan oleh Klan Gajah Perkasa. Oh ya, apa rasa masakannya akan seenak Klan Gajah Perkasa?”


 


Gin dengan mata berbinar mengambil berbagai jenis makanan, hingga piringnya penuh. Bahkan menggunung, Bibi Yio yang berperilaku anggun, senyum, juga sangat berkarismatik dibuat terbelalak dengan cara makan Gin yang begitu berantakan.


 


 


Putri tersenyum puas melihat hal tersebut. Dia bahkan mengikuti cara makan Gin, berantakan. Hanya saja, perutnya tidak bisa mengisi lag. Ketika mau menambah piring kedua, dia mencapai batasnya.


 


Gin belum berhenti di situ, dia masih menambah porsi makannya. Bibi Yio dalam hati, “Terbuat dari apa perut anak ini?”


 


Bibi Yio sampai tidak sadar liurnya keluar dari mulutnya. Putri yang melihat hal tersebut terbahak, menertawai Bibinya.


 


Bibi Yio sadar, menghapus liur tersebut. Dia menggelengkan kepala. Makanan di meja tinggal seperempat, sebuah hal yang sangat mengejutkan. Makanan yang memenuhi meja panjang tersebut, kini tersisa seperempat.


 


Meja makan hari itu begitu ramai. Padahal hanya tiga orang yang ada di meja makan, Gin yang membuat berisik. Hal tersebut membuat para pelayan dapur penasaran dengan keributan yang ada di ruang makan. Mereka semua menguping dari balik pintu besar yang sedikit terbuka.


 


Awalnya hanya satu orang yang menguping, tapi ada beberapa pelayan yang kebetulan lewat. Mereka ikut menguping juga. “Kalian tahu, ada orang luar yang tidak tahu dari mana asalnya diundang makan bersama oleh Adik mendiang Ratu.”


 

__ADS_1


Mereka semua mengangguk serempak.


 


Orang yang dimaksud adalah Gin, tapi dari pendengaran mereka saat menguping, ada banyak orang yang diundang. Memang mereka tahu ada orang yang diundang makan bersama, tapi yang mereka lihat saat membawa makanan hanya satu orang. Benar-benar mengherankan.


 


Mereka saling bisik-bisik. Kebingungan meliputi. Tidak mau ketahuan menguping, mereka memutuskan untuk mengambil aktivitas lain. Takut dihukum hanya karena rasa penasaran terhadap hal konyol.


 


Gin selesai makan, begitu makanan pada meja habis. Bersih tidak bersisa. Dia bersendawa besar. Tidak peduli, jika ada Bibi Yio dan Putri di situ. Bahkan kentut dengan mengeluarkan bunyi yang sampai ke telinga Bibi Yio dan Putri.


 


Bibi Yio merasa ingin muntah, tapi menahannya. Menghormati tamu, Putri. Sementara itu, Putri terbahak, karenanya.


 


Putri berjalan menghampiri Gin, menarik tangannya. Berlari kecil, mendorong pintu besar. Mereka menyusuri lorong kerajaan. Menaiki tangga. Mereka berlari kecil, belok kanan.


 


Bibi Yio yang melihat Gin dan Putri sudah jauh, muntah habis-habisan. “Anak itu, benar-benar membuatku terkejut. Nafsu makannya, benar-benar besar. Mengingatkanku pada seseorang. Kira-kira, dia berada di mana sekarang, ya?”


 


Gin tiba di kamar yang akan ditempati olehnya, ditemani Putri. Kamar tersebut begitu megah, bahkan besar kemungkinan dindingnya terbuat dari emas. Tempat tidurnya sangat besar dengan kelambu yang menutupi. Gin berlari ke arah tempat tidur, naik dan melompat. Sangat empuk.


 


Putri yang melihat hal tersebut tertawa kecil dengan menutup mulutnya. Dia bahagia melihat Gin seperti itu. Gin lupa sesuatu, dia menghampiri Putri.


 


“Iblis Kecil, jika saya tinggal di sini. Bagaimana caranya saya ikut turnamen?” Putri terbahak.


 


“Kau bodoh atau pura-pura bodoh? Jika kau bisa dengan mudah masuk ke ruang latihanku, tanpa ketahuan. Itu artinya, kau juga bisa pulang-balik istana dan arena turnamen. Meski, saya tidak tahu caramu melakukannya.” Gin terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


 


“Benar juga. Saya lupa. Hehe.”


***


Di waktu yang sama, di salah satu bagian terbengkalai istana. Gudang. “Kau sudah mengurus, bocah itu?”


 


Si Jubah Hitam menggeleng, menunduk. Takut akan dibunuh oleh orang di hadapannya. Si Jubah Hitam terus menatap lantai. Tahu dengan siapa dia bekerja, Si Jubah Hitam mengerti bisa saja terbunuh saat gagal menjalankan perintah.


 


“Dasar bodoh! Mengatasi seorang bocah, seperti itu saja tidak becus. Tidak bisa diandalkan. Ingat! Saya tidak mau tahu, kau harus berhasil. Meski kau harus mati sekalipun.” Si Jubah Hitam menelan ludahnya sendiri. Orang di hadapannya pergi, menghilang.


 

__ADS_1


Dia takut gagal, karena tidak mau terbunuh oleh orang di hadapannya. Kalau terbunuh untuk menghabisi seorang bocah. Apa bedanya? Toh, sama-sama mati. Hanya saja, harga diri Si Jubah Hitam akan sirna, jika mati di tangan seorang bocah.


__ADS_2