
Gin dan Yan sedang di hadapkan dengan hidangan yang melimpah-ruah. Begitu banyak makanan yang tersaji di hadapan mereka. Hal ini membuat Gin tersenyum lebar, sebaliknya Yan sakit kepala yang luar biasa, karenanya.
“Kamu kenapa Yan?” ucap Gin dengan penasaran.
“Tidak, saya tidak apa-apa, kok.” Ucap Yan sambil tersenyum kecut.
Setelah dipersilahkan oleh Ketua klan untuk menikmati hidangan sepuasnya. Gin langsung menyerobot piring dan mengisi semua jenis makanan yang ada. Yan dengan lemas mengisi piringnya dengan hidangan seadanya, sementara piring Gin terlihat bagaikan gunung yang menjulang tinggi.
Gin dan Yan menikmati makanan yang ada pada piring mereka masing-masing. Pada saat pirring Gin habis tanpa sisa sedikitpun. Dia mengissi kembali piring dengan makanan seperti tadi. Melihat hal tersebut membuat Yan terbengong dengan mulut yang membentuk huruf o. Matanya juga berbinar-binar.
“Sepertinya, kami punya kesempatan untuk lolos dari sini secepatnya.” Yan pernah mendengar kabar burung, jika ada yang bertamu ke klan gajah perkasa, maka tamu tersebut akan sangat dimuliakan oleh Ketua klan, tamu tersebut dihidangkan makanan yang begitu melimpah-ruah.
Tragisnya, jika tamu tersebut tidak sanggup menghabiskan makanannya. Maka dia tidak boleh ke mana-mana sebelum menghabiskan makanannya. Bahkan makanan basipun harus dihabiskan oleh tamu dengan alasan mubazir, jika tak dihabiskan.
Klan Gajah perkasa di kenal sebagai klan murah hati. Hal inilah yang membuat para Pendekar merasa enggan untuk bertamu, walaupun hanya lewat di wilayah klan Gajah perkasapun merasa enggan. Yan sedang merasakan sendiri kabar burung tersebut.
Dia pikir itu hanyalah rumor belaka yang diceritakan dari mulut ke mulut, tetapi setelah melihat dan menjadi pemerannya. Yan sepenuhnya, percaya. Jika rumor tersebut benar-benar nyata. Yan pernah melewati depan gerbang klan Gajah perkasa, namun saat itu kondisi gerbang sangatlah sepi. Akhirnya, dia hanya sekedar lewat saja.
__ADS_1
Gin sudah menghabiskan lima piring dengan porsi yang sama. Berbeda dengan Yan, bahkan satu piring saja belum habis. Gin tanpa henti memakan hidangan di hadapannya, seakan perutnya memiliki ruang tanpa batas, bahkan Ketua klan Gajah perkasa pun ikut terkaget, ini pertama kalinya dia melihat manusia dengan nafsu makan sebesar itu.
Gin telah menghabiskan sepuluh piring dengan porsi yang sama. Mata Yan semakin berbinar melihat Gin yang masih lahap menikmati jamuan yang diberikan oleh Ketua klan Gajah perkasa. Ketua klan hanya bisa menggeleng kepala melihat Gin yang masih lahap makan meski telah menghabiskan dua puluh piring tanpa henti dengan porsi yang sama.
Sampai akhirnya, Gin sudah memindahkan seluruh hidangan ke perutnya. Sementara Yan masih terbengon dengan mata berbinar. Diapun segera menghabiskan makanan yang tersisa pada piringnya.
Yan sudah menghabiskan satu piring dengan porsi sedikit. Wah, sangat mulia sekali yah hati Yan yang makan sedikit dan membiarkan Gin memakan semua hidangan yang tersedia untuk mereka. Ketua klan bertanya dalam hatinya, “bocah ini! bisa makan sebanyak itu, apakah karena rakus atau lapar?”
Gin dan Yan berniat untuk melanjutkan perjalanan, akan tetapi malam telah tiba. Jadi, Ketua klan menyarankan mereka untuk menginap di kediamannya. Saran tersebut diterima oleh Gin dan Yan. Mereka menempati salah satu kamar di kediaman Ketua klan.
Pada saat Gin dan Yan bersiap untuk tidur, klan Gajah perkasa mendapat serangan dari organisasi Rakon. Organasasi ini merupakan kelompok petarung yang suka merampas hak orang lain. Akhir-akhir ini organisasi tersebut sering menyerang klan Gajah perkasa.
Mayat-mayat ada di mana-mana, darah berceceran di dinding lantai, bahkan sampai mengenai bunga-bunga yang ada di halaman. Kondisi tersebut membuat Gin muntah-muntah. Isi perutnya seakan keluar semua. Gin masih saja belum terbiasa melihat pemandangan mengenaskan seperti ini.
Sebaliknya, Yan bahkan kelihatan sehat bugar. Dia seperti sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini. “Kuatkanlah mentalmu, Gin. Jika tidak, maka kau mudah terbunuh dengan kondisi mengenaskan. Jika tak membiasa diri dengan hal seperti ini.”
“Kamu sudah memilih untuk menjadi seorang petarung, maka mau tidak mau. Kau harus membiasakan diri untuk menghadapi situasi yang jauh lebih mengenaskan dari pada yang kita hadapi saat ini. Apakah kau paham?”
__ADS_1
Gin tidak menjawab pertanyaan Yan, sebab dia sedang sibuk dengan urusannya sendiri yaitu menuntaskan muntahan yang sempat tertahan. Yan kemudian membunuh satu, dua, bahkan sepuluh musuh dalam waktu setengah jam. Sebelum akhirnya, dia menemukan lawan yang hampir seimbang dengannya.
Yan mengerahkan jurus tanaman, akar yang cukup besar dan tajam keluar dari dalam tanah. Menyerang musuhnya, namun musuh Yan dapat menghindar dengan mudah, namun ada sebuah akar yang tajam menyerang musuhnya dari arah samping. Hal ini tak disadari oleh lawan Yan, saat akar tersebut akan mengenai musuh Yan.
Tiba-tiba saja, ada tameng yang tak terlihat oleh mata biasa menghalangi serangan Yan. Hal tersebut membuat Yan menggertakkan gigi. Dia kemudian mengerahkan jurusnya lagi.
Jurus tumbuhan, ilusi tulip putih. Bunga tulip muncul dari tanah tumbuh sedikit demi sedikit hingga menjadi mekar. Tiba-tiba saja, Yan serta lawannya seakan berubah menjadi patung. Rupanya mereka sudah memasuki dunia ilusi yang diciptakan dari jurus Yan.
Di sisi lain, Gin menghindari serangan -serangan yang mengarah padanya sambil muntah-muntah. Gin juga merasakan kepalanya mulai pusing, dia mulai kehilangan keseimbangan saat sedang menghindari serangan musuh dari empat sisi sekaligus.
Dengan kondisi muntah-muntah serta keseimbangan yang sangat goyah membuat Gin menerima beberapa luka sayatan dari ke empat musuhnya, dia sesekali memuntahkan darah segar. Gin mencoba untuk fokus dengan menutup matanya, dia juga menarik nafas pelan dan dihembuskannya.
Melihat Gin sedang menutup mata, salah satu dari ke empat musuh Gin. Memberi kode ke teman-temannya yang lain untuk menyerang Gin secara bersama-sama. Saat jarak serangan ke empatnya hanya tinggal beberapa senti lagi.
Tiba-tiba Gin membuka matanya dan menghilang dari hadapan musuh-musuhnya. Satu-persatu musuhnya terpental jauh dan jatuh pingsan setelah mendapatkan pukulan Gin yang dilapisi energi kegelapannya.
Mata Gin menyisir sekitar, dia melihat banyak penduduk klan yang terbunuh. Jasad-jasad yang berserakan tidak lagi membuat Gin muntah, sepertinya cara yang dia lakukan sebelumnya ,benar-benar ampuh.
__ADS_1
Gin melihat Yan yang sedang berhadapan dengan seorang petarung berbadan kekar dan memiliki banyak luka serta rambut yang mengambang bagai pohon beringin. Dia menghampiri keduanya, saat Gin mendekat dia memanggil-manggil nama Yan. Berulang kali, namun tidak ada jawaban dari Yan. Hal ini membuat Gin khawatir. “Jangan-jangan, Yan telah berubah menjadi patung lagi.”