Black Shadow

Black Shadow
Bikin Malu


__ADS_3

Beberapa seorang petinggi dari tribun VIP, mengeluarkan energinya. Dia memperbaiki arena yang telah rusak, hanya dalam sekejap.


 


Peserta selanjutnya yang akan bertarung di atas arena adalah Drak melawan murid dari Akademi Kerajaan. Para penonton bersorak-sorai. Tidak sabar untuk menyaksikan pertarungan yang sebentar lagi akan dimulai.


 


Mereka tidak sabar menunggu, berteriak kepada wasit. Agar memulainya. Drak dan murid dari Akademi Kerajaan bersiap-siap, memasang kuda-kuda. Keduanya saling menatap awas, tidak mengendurkan kewaspadaan sedikitpun.


 


Drak tersenyum, bergerak maju. Dia mengerahkan sebuah pukulan keras. Murid Akademi Kerajaan tersentak, tidak bisa menghindar. Hal tersebut membuatnya terhempas cukup jauh.


 


Murid Akademi Kerajaan mengeratkan tangannya dalam memegang pedang, dia akan mengendurkan kewaspadaan, lengah. Padahal dia sangat waspada tadi, karena lengah sedikit. Dia bisa terkena pukulan keras, seperti ini.


 


Melihat lawan mengeluarkan pedang. Drak mengeluarkan senjata andalannya, bola berduri dengan pegangan kayu, serta rantai sebagai perantara.


 


Dia bergerak maju, menghantamkan bola berduri. Bum! Arena turnamen berlubang, murid Akademi Kerajaan menghembuskan nafas. Untungnya dia sempat menghindar, jika tidak. Mungkin saja, dia sudah berlumur darah.


 


Murid Akademi Kerajaan menelan ludah sendiri, dia sudah salah meremehkan Drak. Sempat berpikir meremehkan Drak, bahkan saat dia melihat Drak sedang bertarung di group A sebelumnya.


 


Drak kembali menyerang, murid Akademi Kerajaan mencoba menangkis serangannya menggunakan pedang. Akan tetapi, pedangnya terlilit rantai.


 


Drak tersenyum, menarik senjatanya. Agar murid Akademi Kerajaan terseret ke arahnya. Begitu tiba di hadapannya, Drak menghantamkan pukulan yang cukup keras. Bahkan sangat keras.


 


Hal tersebut membuat murid Akademi Kerajaan terhempas. Berdiri. Menghapus darah yang menetes pada ujung bibir.


 


Murid Akademi Kerajaan mulai geram, dia mengalirkan energinya pada pedang. Bergerak cepat. Menghunuskan pedangnya pada Drak. Keduanya saling jual-beli serangan.


 


Hal tersebut membuat para penonton bersorak, menikmati pertarungan keduanya. Menukik, melompat, dan menebas ke arah Drak. Tidak pantang menyerah.


 


Serangan bertubi-tubi diterima Drak, membuatnya terkena sayatan pada wajahnya. Tidak besar. Hanya goresan kecil, tapi cukup membuatnya naik pintam.


 


Drak kalangkabut menyerang murid Akademi Kerajaan, dia menyerang secara acak. Hal tersebut membuat debu mengepul di atas arena, karena serangannya hanya mengenai arena dan membuatnya hancur. Berlubang.


 

__ADS_1


Murid Akademi Kerajaan merasa puas, karena telah memprovokasi Drak. Dia tidak habis pikir dengan Drak yang begitu mudah emosi. Padahal hanya luka kecil.


 


Murid Akademi Kerajaan lebih mudah melukai Drak. Terlalu banyak celah yang terbuka, hanya karena emosi sesaat. Tidak dapat dipungkiri, bahwa emosi dapat menentukan sebuah pertarungan. Meski, kekuatan sangat berperan penting.


 


Drak tersengal, mengatur nafas. Tubuhnya telah penuh dengan luka sayatan yang tidak sedikit. Beberapa tetes darah mengucur, sementara murid Akademi Kerajaan tersenyum melihat keadaan Drak.


 


Merasa berada di atas angin, “Sudahlah, menyerah saja. Kau tidak akan menang dalam pertandingan ini! Bahkan luka yang kau terima sudah menjelaskan, bahwa saya pemenangnya.”


 


Drak terbahak, “Hahaha. Begitukah pemikiranmu? Baiklah, biarkan kita melanjutkan pertarungan ini. Biarkan waktu yang menjawab siapa yang akan berdiri paling akhir di antara kita?”


 


Murid Akademi Kerajaan bergerak maju, menyerang Drak. Dengan mudah dihindari, Drak mengayunkan senjatanya. Satu lubang tercipta di atas arena. Mengayunkan lagi, dua lubang tercipta.


 


Drak memasang kuda-kuda, memutar-mutar senjatanya. Tersenyum ke arah Drak, tidak menyangka pertarungan kali ini begitu mendebarkan.


 


Drak bergerak maju, begitu berada di hadapan murid Akademi Kerajaan. Dia meliukkan tubuhnya, menghindari ayunan pedang murid Akademi Kerajaan.


 


Drak meliuk-meliuk ke sana-kemari. Sesekali mengarahkan serangan pada murid Akademi Kerajaan. “Arrgghhh,”


 


 


Semua penonton terdiam, takjub dengan pertarungan yang terjadi. Mereka berteriak, “Hei, ini turnamen yang sangat hebat. Para peserta yang bertanding, memiliki kekuatan yang tidak bisa dianggap enteng.”


 


“Kau benar! Ini turnamen yang sangat hebat.” Salah satu penonton menyahut dengan semangat, dia tidak menyangka akan menjadi saksi dari lahirnya para generasi emas. Generasi yang melebihi para pendahulunya.


 


Yan memusatkan perhatian pada arena turnamen, dia melihat, menganalisis, serta mencari kelemahan calon lawannya di babak selanjutnya. Meski belum tentu lolos, tapi dia yakin bisa lolos ke babak selanjutnya dengan mudah.


 


Drak dan murid Akademi Kerajaan saling menyerang satu sama lain, saling membalas serangan. Tebasan, hantaman saling beradu. Tang! Tang! Tang!


 


Suara senjata yang saling beradu terdengar menggema di seluruh penjuru arena turnamen. Keduanya benar-benar ingin memenangkan pertarungan tersebut, tidak ingin berhenti di tempat. Hanya saja, diantara keduanya. Hanya satu peserta yang bisa maju ke babak selanjutnya. Runyam memang, tapi itulah aturannya.


 


Drak membungkuk ke belakang, menghindari tebasan yang hampir mengenai lehernya. Dia sempat mengucurkan keringat, hampir terkena tebasan pedang.

__ADS_1


 


Drak membasuh peluh, mundur tiga langkah ke belakang. Mengatur baik-baik. Pertarungan yang sulit bagi keduanya, sama-sama berkeinginan kuat untuk melaju ke babak selanjutnya.


 


Drak melompat mengayunkan bola berdurinya, namun dapat dihindari dengan mudah oleh murid Akademi Kerajaan. Begitu kakinya berpijak, Drak memutar tubuh menghantamkan senjatanya. Dihindari lagi. Tidak menyerah, dia mengerahkan serangan bertubi-tubi.


 


Murid Akademi Kerajaan kewalahan menghindari serangan tersebut, dia bergerak ke sana-kemari. Hanya demi menghindari serangan Drak. Sementara salah satu tetuah di Akademi Kerajaan, hanya bisa menggelengkan kepala. Menahan malu, tidak menyangka salah satu murid Akademi Kerajaan, dibuat kewalahan oleh peserta yang berasal dari klan atau perguruan antah-berantah.


 


Tang! Murid Akademi Kerajaan mencoba menangkis serangan Drak, bola duri milik Drak terpental ke belakang. Dia mengayunkannya lagi, kali ini bukan wajah sebagai sasarannya. Akan tetapi, kaki milik murid Akademi Kerajaan.


 


Bebatuan kecil dari pecahan arena berserakan ke mana-mana. Berulang kali, seperti itu. Drak benar-benar gigih untuk menyerang murid Akademi Kerajaan.


 


Drak menghantam perut murid Akademi Kerajaan, terhempas jauh. Memuntahkan darah, dia mengatupkan rahang keras.


 


Murid Akademi Kerajaan berpikir keras, mencari cara untuk mengalahkan Drak. Tapi, dia tidak mendapatkan caranya. Buntu.


 


Dia mengerahkan seluruh kemampuannya, jika kalah setelahnya. Tidak ada peluang baginya untuk melaju ke babak selanjutnya. Murid Akademi Kerajaan memasang kuda-kuda, bersiap mengerahkan sebuah jurus. Bergerak cepat muncul di belakang Drak.


 


Drak terbelalak, tidak menyangka. Murid Akademi Kerajaan bisa tiba-tiba muncul di belakangnya. Tidak sempat menghindar, dia terkena sayatan pedang. Darah menyembur ke atas arena. “Arrggghhh.”


 


Drak mengayunkan senjatanya, menyerang murid Akademi Kerajaan. Tidak hanya itu, dia menyerang secara bertubi-tubi. Tidak ada ruang untuk menyerang balik.


 


Darah terus menetes dari luka yang diterimanya, luka di belakang tubuhnya. Drak tidak ingin kalah, dia mengayunkan senjatanya secara vertikal. Bergerak cepat. Tahu, jika murid Akademi Kerajaan akan menghindar. Mengayunkan kembali senjatanya, rantai melilit leher murid Akademi Kerajaan.


 


“Dasar bodoh!” Salah satu Tetuah Akademi Kerajaan. Mengatai murid Akademi Kerajaan.


 


Murid Akademi Kerajaan sekuat tenaga mencoba untuk melepaskan rantai yang melilit lehernya. Akan tetapi, Drak menarik rantai tersebut. Agar murid Akademi Kerajaan semakin kesulitan bernafas.


 


Murid Akademi Kerajaan masih bertahan, bersikeras untuk melepaskan diri. Tidak mau berhenti di sini, tapi di sisi lain nyawanya bisa saja melayang. Jika tidak menyerah sesegera mungkin. Wajahnya sudah memerah, mulai membiru.


 


Murid Akademi Kerajaan mengangkat tangan tinggi-tinggi, menyerah. Dia tidak sanggup lagi, saat Drak mengendurkan rantai yang melilitnya. Murid Akademi Kerajaan terbatuk-batuk. Mencoba untuk menghirup nafas sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


 


Para penonton terpukau melihat pertarungan yang baru saja terjadi di depan mereka sendiri, tanpa mereka sadari bahaya besar sedang mengintai mereka. Tidak... tidak hanya mereka. Bahkan Kerajaan Selatan sedang dalam bahaya.


__ADS_2