
Serangan yang dilakukan Gin kali ini sangat kuat hingga mampu membunuh monster yang diserangnya, namun sebelum serangan tersebut mengenai monster tersebut seseorang menangkis serangan Gin dengan melapisi pergelangan tangannya dengan energi yang sangat besar.
Hal tersebut membuat Gin terhempas ke belakang begitu jauh, nasib orang yang menangkis serangan Gin juga terhempas dan menabrak monster yang dilindunginya. orang tersebut terhempas cukup jauh bersama monster yang coba dilindunginya.
Gin mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya. “Siapa tadi?” Gin menatap sekeliling untuk mengetahui orang yang telah menangkis serangannya. Saat matanya menangkap sesosok manusia yang sedang berusaha bangkit. Gin terperanjat, karena sosok yang dilihatnya adalah Yan.
Dia lalu berlari ke arah Yan dan menunjuk-nunjuknya. “Kau... kau... Apa kau sudah gila?”
“Kau yang gila!!! Hampir saja kau membunuh orang yang tidak bersalah.” Gin kebingungan dengan pernyataan yang Yan.
“Bukankah mereka ini hanyalah kumpulan monster. Kenapa pula Yan sampai mengatakan, kalau saya hampir membunuh orang yang tidak bersalah? Jelas-jelas para monster ini telah menyerang dan menghancurkan rumah penduduk desa,” batin Gin.
Melihat raut wajah Gin. Yan mengerti, bahwa Gin tidak menyukai perbuatannya. Yan menghembuskan nafas kasar dan menjelaskan, bahwa semua monster yang menyerang desa adalah Pemuda desa yang lepas kendali dan berubah menjadi monster, serta sampai saat ini belum diketahui penyebab semua kejadian tersebut.
Gin dan Yan terhempas jauh hingga meruntuhkan beberapa pepohonan, karena terhantam sesuatu. Gin meringis akibat hantaman yang mengenainya, tak jauh berbeda dari Yan yang saat ini sedang meringis kesakitan.
Pada saat Gin mencoba untuk bangkit, muncul satu dari tiga monster di hadapan Gin. Sebelum Gin bersiap untuk menerima serangan dari monster tersebut dia sudah terhempas beberapa meter. “Ini gila para monster ini, semakin ganas saja. Mana mereka tidak boleh dibunuh lagi.”
Pernah tidak kalian membayangkan harus melawan musuh yang tidak boleh dibunuh akan tetapi, musuh tersebut dengan ganas ingjn membunuh. Itulah yang dialami oleh Gin dan Yan. Mereka berdua terus-menerus menghindari serangan ketiga monster yang terus membatasi ruang gerak mereka.
__ADS_1
Gin dan Yan sedang mencari celah agar mereka dapat melumpuhkan ketiga monster secara bersama. Tentu ini sangat merepotkan bagi Gin dan Yan, pada saat ketiga monster tersebut menghimpit Gin dan Yan. Para monster tersebut siap menerkam mereka, namun disaat yang bersamaan tercipta celah yang amat lebar.
Inilah kesempatan yang sangat dinanti-nantikan oleh keduanya, “Sekarang!!!” Gin berteriak sekuat tenaga. Mendengar itu Yan mengeluarkan energi tumbuhannya yang menciptakan akar yang membentuk palu yang agak besar dan menghantam dua monster yang berada di samping kiri dan kanannya. Sementara Gin melapisi kepalan tangannya dengan energinya yang sangat tipis dan meninju monster yang berada di hadapannya.
Melihat ketiga monster tersebut terbaring. Yan menciptakan akar yang cukup panjang yang memlilit kedua kaki, tangan dan tubuh dari ketiga monster yang sedang menyerang Gin dan Yan.
“Akhirnya berhasil juga.” Gin tersenyum lebar, karena rencananya berhasil.
Belum juga ucapan Gin kering. Tiba-tiba saja Ketiga monster tersebut mengeluarkan unsur api dari sekujur tubuhnya. Hal tersebut membuat hawa sekitar menjadi agak panas Gin dan Yan menghapus peluh yang mengalir di dahi mereka.
Mereka berdua menerima berubi-tubi serangan yang dikerahkan oleh ketiga monster yang dilapisi unsur api memenuhi tubuhnya. Terdapat luka bakar disekujur tubuh Gin dan Yan yang diakibatkan oleh serangan ketiga monster yang sedari tadi menyerang Gin dan Yan.
Yan yang sedari tadi berusaha menghindari serangan yang datang secara bertubi-tubi, walaupun telah menghindar dengan cukup baik, dia tetap saja menerima beberapa serangan yang cukup fatal. Yan juga sudah mulai kelelahan.
Fenomena ini tentu tak luput dari Yan. Dia merasa heran dengan Gin yang sejak tadi terus bergerak ke sana-kemari menghindari serangan para monster yang selalu mengincar mereka berdua. Juga jika dilihat, Ginlah yang sejak awal harus menghadapi ketiga monster tersebut sebelum Yan tiba membantunya.
“Sebenarnya dia manusia atau monster?” gumam Yan dalam hati. Sementara itu, sembari menghindari dua monster yang terus menyerangnya, dia mencari cara untuk melumpuhkan para monster tersebut tanpa harus menghia mereka. Apalagi terdapat kobaran api yang memenuhi tubuh para monster.
Yan yang sedang menghadapi satu monster tentunya lebih leluasa bergerak ke Sana-kemari untuk menghindari setiap serangan yang datang, walaupun dia sudah kelelahan karena monster tersebut tak membiarkannya istirahat sedikitpun.
__ADS_1
Gin dan Yan dilanda oleh kebingungan, sebab semakin lama mereka bertarung para monster tersebut semakin kebal dengan serangan mereka. Kekuatan para monster tersebut semakin bertambah seiring waktu berlalu.
Mereka berdua semakin kesulitan dalam menghadapi para monster yang tak henti-hentinya menyerang. Terlebih Yan yang hampir berada pada batasnya, dia sangat lelah. Hal ini dapat terlihat dari setiap gerakannya yang semakin lambat saja.
Luka bakar pada tubuhnya bertambah sekaligus berkurang, karena regenerasi tubuhnya. Lain halnya dengan luka bakar pada tubuh Gin yang penyembuhannya sangat lambat. Gin menggertakkan gigi, dia telah menemukan sebuah celah dari kedua monster yang telah mempersulitnya sejak tadi. Gin dengan sigap melapisi kepalan tangannya dengan energi kegelapan.
Pukulan Gin menghempaskan salah satu monster, dia juga menendang monster yang berada di belakangnya. Kedua monster tersebut terkapar pingsan akibat serangan Gin yang menghempaskan keduanya hingga merobohkan beberapa pohon sampai akhirnya pingsan. Sementara itu, pada sela-sela gerakannya saat menghindari serangan monster yang sedang dia hadapi.
Yan melemparkan tiga buah gelang pada Gin. “Lemparkan kedua gelang tersebut tepat di atas kepala kedua monster itu.”
Gin yang segera mengerti dan mendekati salah satu monster yang sedang terbaring lemah pada sebuah pohon yang besar serta masih kokoh. Dia melemparkan sebuah gelang di atas kepalanya, tiba-tiba saja gelang tersebut membesar dan melilit monster tersebut.
Gin juga menghampiri monster yang berada pada arah yang berlawanan dari tempatnya saat ini, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang telah dia lakukan pada monster sebelumnya. Gin ingin berleha-leha sambil menyaksikan pertarungan Yan.
Akan tetapi, melihat Yan sedang kesulitan, dia memutuskan untuk membantunya dengan menyerang monster tersebut menggunakan sebuah pukulan yang dilapisi dengan sedikit energinya.
Hal yang dilakukan oleh Gin membuat Yan sedikit mengambil nafas, dia juga memanfaatkan hal tersebut dengan beristirahat sambil mengamati pertarungan Gin.
Gin terus menyerang monster tersebut hingga tak memberikannya ruang untuk bernafas. Dia terus-menerus menyerang, Gin benar-benar melepaskan seluruh kekesalannya pada monster terakhir hingga membuatnya tak sadar, jika serangannya yang bertubi-tubi hampir merenggut nyawa monster tersebut.
__ADS_1
Yan yang juga sedang terlena dengan tontonan tersebut, tersadar setelah melihat monster yang menjadi lawan Gin telah berlumuran darah. Diapun segera bangkit dari duduknya dan meneriaki Gin berulang kali. “Monster tersebut bisa mati, jika kau terus menyerangnya seperti itu.”
Merasa Gin tidak mendengarkan ucapannya, diapun berlari sekuat tenaga. Gin yang saat ini sedang menyerang monster yang mati-matian menangkis serta menerima serangannya hanya bisa pasrah dengan nasibnya sendiri.