
“Kukira kau sudah tidak mampu berdiri lagi, tapi tidak kusangka kau bahkan masih sehat bugar.” Raddas berkata sinis kepada Lip.
Penampilan Lip sekarang jauh dari kata baik, baju yang tercerai-berai dan tersisa sedikit baju yang masih terbakar oleh api yang sangat kecil. Sementara, celananya tentu masih utuh. Lip tetap bersikap santai, seakan tidak terjadi apapun padanya.
Mata merah Lip, sedetik memancarkan kilatan merah. Hal tersebut sempat tertangkap oleh mata Raddas, dia merasa Lip bertambah kuat dari sebelumnya. Lip, tiba-tiba muncul di hadapannya, membuat Raddas tersontak.
Raddas terlempar ke belakang, karena tidak bisa menghindari serangan Lip. Apalagi hanya untuk sekedar menangkis. Raddas dengan cepat menyeimbangkan tubuh, dia baru saja berpijak pada lantai. Akan tetapi, sudah terkena tendangan Lip.
Raddas sempat menangkis tendangan tersebut, meski harus bergeser tiga langkah ke samping. Dia mengatupkan rahang, karena belum bisa mengikuti kecepatan Lip. Menjengkelkan memang, tapi untuk saat ini dia belum bisa berbuat banyak.
Sebuah tendangan menghantam belakang kepalanya, membuat tubuh bagian depannya terseret ke lantai arena. Hal tersebut membuat emosi Raddas naik, dia mengeluarkan api panjang seperti sebelumnya. Api tersebut mengitari tubuhnya, saat Lip menyerangnya. Secara alami, api tersebut menutup dan melindungi Raddas dari Lip.
Lip yang mundur, menjaga jarak dari Raddas. Kakinya terbakar, karena serangan yang dilakukannya tadi. Dia mengeluarkan energi, seketika api di kakinya menghilang.
Api yang melindungi Raddas, kembali mengitari tubuhnya. Dia menatap Lip tajam, menghembuskan nafas gusar. Tubuhnya, tiba-tiba menghilang. Begitu juga dengan Lip. Para penonton yang melihat hal tersebut berseru kaget, begitu juga dengan sebagian penonton. Sementara itu, Raddas saling jual-beli pukulan maupun tendangan. Tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya.
Raddas berhasil menyarangkan sebuah pukulan yang sangat keras, pukulan tersebut mampu membuat Lip tersungkur jatuh ke lantai arena. Raddas melangkah, mendekati tubuh Lip. Dia menendang perutnya sampai mengeluarkan darah, dia juga menginjak-injak kepalanya dengan energi yang melapisi kakinya.
Raddas melakukannya sambil terkekeh, seperti orang gila. Penonton yang melihat itu menjadi kasihan terhadap Lip, mereka berharap Lip menyerah saja. Daripada harus tersiksa seperti budak, hal yang sangat miris untuk dilihat.
Kepala Lip sampai botak, karena terkena api yang keluarkan oleh Raddas. Pada saat Raddas ingin mengakhiri pertarungan diantara mereka dengan sekali injakan, Lip menahan kakinya dengan satu tangan saja. Tanpa dilapisi oleh energi.
__ADS_1
Tangannya menjadi melepuh, karenanya. Tapi, herannya. Bukannya meringis, dia malah tersenyum bahagia. Hal tersebut membuat Raddas merinding, dia agak aneh melihatnya.
Tubuh Raddas terbanting, karena terdorong oleh Lip. Tidak hanya sampai di situ, dia juga mengangkat dan membanting tubuh Raddas ke kanan dan kiri tubuhnya. Hal tersebut terus dilakukannya.
Merasa muak diperlakukan seperti itu. Raddas menendang Lip dengan sekuat tenaga, agar dapat lolos dari jeratannya. Raddas memutar tubuhnya di udara, mengambil kesempatan saat melihat Lip belum juga mendapat keseimbangan tubuhnya.
Raddas bergerak maju ke arah Lip. Namun saat akan menghantamkan sebuah pukulan, Lip menghindar saat dirinya masih terhempas.
Hal tersebut membuatnya membuka mulut lebar-lebar, tanpa sadar. Dia tersadar saat termundur beberapa langkah dari tempatnya semula, “Hanya itu kemampuan yang dimiliki oleh anak Barbara, sungguh mengecewakan. Kupikir, kau bisa lebih baik daripada ini, tapi kau adalah kelemahan terbesar yang dimiliki oleh Barbara dan menghambat rencana kami.”
Tiba-tiba, mata Lip semakin pekat, suaranya juga berbeda. “Kau__ siapa kau? Kau bukan Lip.” Untuk pertama kalinya di depan umum, Raddas menampakkan ketakutan. Dia juga merasakan sesuatu yang sangat mengerikan dari dalam tubuh Lip.
Sementara itu, di samping Raja. Barbara meremas tangannya, hingga mengeluarkan darah segar. Dia mengeraskan rahang, menatap tajam ke arah arena. Lebih tepatnya, ke arah anaknya yang sedang berhadapan dengan Lip.
***
Di sudut arena yang berlawanan dengan tempat Raddas dan Lip bertarung saat ini, seorang peserta berjubah kuning sedang berhadapan melawan Drak dari perguruan laut biru.
Peserta berjubah kuning menyerang Drak dengan tangan yang dibuat seperti cakar harimau, serangan tersebut begitu fatal akibatnya, jika mengenai tubuh lawan. Sebagai bukti, Drak yang terkena serangan tersebut pada dadanya, hingga robek dan mengalir banyak darah di sana.
Gerakan Drak, semakin ke sini melambat, karenanya. Dia juga terengah-engah menghindari setiap serangan yang datang padanya. Meski begitu, dia tetap tenang. “Mengapa kau begitu tenang? Padahal kau sedang terdesak dengan luka seperti itu.”
__ADS_1
Terdapat luka garis mendatar di dada Drak, darah terus mengalir dari sana. “Itu sangat mudah, kau cukup bersikap seperti air sungai yang mengalir, hingga ke ujung dan jatuh ke bawah menghantam kerasnya bebatuan sungai.” Drak dengan senyum lebar dan mata yang tertutup, karena senyumannya.
Peserta berjubah kuning mengarahkan sebuah tendangan memutar, Drak yang siap dapat dengan mudah menghindarinya. Dia juga melihat celah yang begitu terbuka lebar. Dengan badan yang elastis, dia menopang pada kedua tangan dan menghantam perut peserta berjubah kuning dengan tendangan yang cukup keras. Hal tersebut membuatnya tersungkur ke lantai arena.
Peserta berjubah kuning berdiri, dia dengan mengeraskan rahang. Bergerak mengerahkan pukulan pada Drak. Namun dapat dihindari dengan memiringkan kepala, dia menendang dadanya yang membuatnya terpental sekian meter ke belakang.
“Kau!” Dengan emosi yang memuncak, peserta berjubah kuning menyentuh lantai. Dia bergerak seakan sudah bisa menebak ke mana langkah kaki Drak. Krak! Sebuah retakan terdengar. Suara retakan tersebut, akibat kaki peserta jubah kuning yang menahan serangan mematikan Drak.
Yup! Tulang kakinya retak, karena mencoba menahan tendangan Drak. Peserta berjubah kuning meringis kesakitan, meski begitu dia tetap memasang kuda-kuda. Memposisikan tangannya, seperti cakar harimau lagi. Dia menyerang Drak terus-menerus, tanpa memikirkan pertahanannya terbuka kembali.
Drak tentu dapat melihat celah tersebut, tapi dia hanya menghindari serangan tersebut sambil melompat mundur dengan memiringkan kepala ke kiri dan kanan. Terkadang, dia juga menunduk, jika serangan peserta berjubah kuning datar dari kiri ke kanan.
Melihat hal tersebut membuatnya makin hilang fokus, dia kemudian menyerang Drak dari segala arah secara acak. Tetap saja, dia hanya menghindari serangan tersebut, bahkan lebih mudah dari sebelumnya.
“Ada apa? Kau frustasi sekarang? Padahal kamu yang sedang berada di atas angin sekarang, apalagi dengan luka yang cukup fatal di dadaku. Tapi kok. Sepertinya, kau seperti cacing kepanasan saja.” Drak dengan senyum mengejek.
Dia sengaja melakukan hal tersebut, agar dapat dengan mudah mengalahkan lawannya. Tanpa harus melukainya. Mungkin itu, hal yang mustahil dalam turnamen seperti ini, tapi setidaknya Drak sudah berusaha sebaik yang dia bisa.
Peserta berjubah kuning terpancing, dia menyerang Drak dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan senyuman lebar, Drak melambaikan tangan kepada peserta berjubah kuning dan menyingkir dari tempatnya saat ini.
Karena terlalu cepat, peserta berjubah kuning tidak bisa menghentikan kecepatannya. Dia terlalu cepat, hingga tidak mampu menghentikan gerakannya sendiri. Hal tersebut membuatnya keluar arena dengan miris. Dia berteriak emosi, karena dipermainkan oleh Drak dengan begitu mudah.
__ADS_1