
Gin dan Yan masih bisa berdiri tegap, keduanya mendapat luka bakar. Karena serangan yang dilakukan oleh Barbara.
Gin tidak mendapatkan luka parah, hanya sedikit luka bakar. Hal tersebut dikarenakan jubah yang digunakannya, bahkan jubahnya tak terbakar sedikitpun. Masih utuh. Sementara Yan, juga tidak mengalami luka serius, hanya saja baju yang baru diberikan oleh Si Tua Obat padanya terbakar begitu saja. Karenanya, dia baik-baik saja. Pakaian yang diberikan oleh Si Tua Obat merupakan armor, hanya tidak setahan milik Gin.
Tanah di sekitar mereka hancur parah, berlubang. Pepohonan sekitar terbakar oleh tak bersisa, menjadi abu. Ada beberapa pohon yang masih terbakar, menyala apinya. Yan yang melihat hal tersebut, melindungi pohon-pohon tersebut dengan membekukannya. Bahkan api yang membakar pohon-pohon tersebut ikut membeku.
Besok-besok hutan tersebut akan dikenal, sebagai Hutan Pohon Es-Api. Nama hutan ini besok-besok akan menyebar ke seluruh daratan.
Yan menatap tajam pada Barbara, dia menggeram. Menahan emosi. Bergerak cepat, melapisi lengannya menggunakan akar yang membentuk senjata. Menyerang Barbara menggunakan senjata yang terbentuk dari energinya. Pertarungan hidup-mati membuat potensi Yan berkembang, dia bergerak menyerang Barbara. Namun dapat dihindari.
Yan memutar tubuhnya, menghindari serangan bola api yang datang. Terkadang menangkisnya menggunakan tangannya yang sudah dilapisi oleh akar yang sangat kuat. Jual-beli serangan terjadi antara Yan dan Barbara.
Gin muncul, masuk dalam pertarungan. Dia mengayunkan pedangnya. Energi kegelapan mengarah pada Barbara, hal tersebut membuatnya terbelalak. “Energi macam apa itu? Sangat menakutkan.”
Barbara dengan susah payah menghindari serangan tersebut. “Energi ini jelas sangat berbeda jauh dengan milik orang itu.”
Barbara nampak sedang berpikir keras, kurang fokus pada pertarungannya melawan Gin dan Yan. Dia terlalu meremehkan keduanya. Lihatlah, kini dia harus terluka. Terhempas jauh.
“Para bocah sialan!” Barbara marah besar, bergerak menyerang Gin dan Yan.
Barbara muncul di hadapan Gin, memukulnya dengan menggunakan energi yang sangat besar melapisi tangannya. Gin menangkis serangan tersebut menggunakan pedang miliknya, namun dia tetap terhempas jauh.
Barbara bergerak lagi, muncul di samping kiri Yan. Mengerahkan pukulan yang sangat kuat. Karena hal tersebut, Yan terhempas jauh, muntah darah. Serangan Barbara mengenai perutnya.
Gin bergerak maju untuk menyerang Barbara, mengayunkan pedang. Dia menargetkan leher Barbara, namun dengan tangan kosong yang telah dilapisi oleh energi api miliknya. Barbara menangkis serangan tersebut, tanpa bergeser sedikitpun.
Dia menghempaskan Gin dengan tinjunya, Gin menyeimbangkan tubuh di udara. Membenamkan ujung pedangnya ke tanah, agar menghentikan tubuhnya yang masih terhempas.
Gin menyerang Barbara, mengayunkan pedang. Bertarung bersisian dengan Yan, sesekali dia mengekang Barbara dengan akar yang dibuatnya dari energi tumbuhan. Hanya bertahan beberapa detik, tapi beberapa detik tersebut terkadang dapat dimanfaatkan oleh Gin. Meski lebih sering gagal.
__ADS_1
Gin berhasil melukai Barbara. Tidak hanya sekali, tapi sudah berkali-kali. Cara tersebut cukup efektif untuk bertarung melawan Barbara. Karenanya, Barbara sedikit kesal pada keduanya.
Lagi-lagi, tubuhnya terkekang oleh akar yang begitu banyak, dia dengan cepat menghancurkan akar tersebut. Gin cepat mengayunkan pedangnya, menebas Barbara. Darah merembes keluar dari pakaian Barbara.
Barbara cepat bergerak, menangkap wajah Gin. Dia menghantamkan kepala Gin ke tanah. Hal tersebut membuat tanah hancur, retak di mana-mana. Sementara Gin terbenam ke dalam tanah.
Yan yang melihat hal tersebut terbelalak, dia tidak menyangka Barbara akan semarah itu. Dia makin kaget, ketika Barbara muncul di hadapannya. Mengerahkan pukulan yang sangat keras, Yan terhempas jauh.
Tidak hanya sampai di situ, Barbara menyusul tubuh Yan. Menarik kakinya, melemparnya ke udara. Menghantamnya dengan kuat, Yan muntah darah. Tubuhnya melesat begitu saja. Beberapa kali, seperti itu. Tanpa sadar mereka memasuki bagian terdalam hutan.
Barbara menarik kaki Yan yang sedang melesat, membantingnya ke tanah. Terbang ke udara, mengerahkan bola api yang lumayan besar pada Yan. Hal tersebut dilakukannya secara bertubi-tubi, dia ingin membinasakan Yan tanpa sisa. Tanpa jasad.
Ledakan besar muncul secara beruntun di hutan tersebut. Orang-orang yang sedang bertarung di dalam Ibukota, semua menghentikan pertarungan mereka. Melihat ledakan besar tersebut
Lubang besar tercipta akibat serangan tersebut. Dalam waktu singkat tercipta lahan kosong, akibat ledakan yang baru saja terjadi. Yan terbaring mengenaskan di sana. Tak sadarkan diri.
Dia tidak pernah menyangka, bahwa yang diserangnya dari tadi adalah tiruan Yan. Terbuat dari energi es miliknya, dia tidak sengaja menciptakannya saat sedang latihan bersama Biru waktu itu. Tubuhnya di bawah sana mencair begitu saja, seperti tak pernah ada.
Tubuh Barbara terjatuh ke tanah. Yan bergerak dari jauh, begitu dekat dengan tubuh Barbara. Dia berjalan santai, menendang tubuh Barbara yang menghadap ke tanah. Matanya terpejam. Dia berjongkok, “Hah! Kau benar-benar meremehkan kami, kau pasti tidak akan pernah menyangkanya. Bahwa hari ini, kau akan mati di tanganku. Orang-orang sepertimu memang pantas mati secara memalukan, tidak pantas mati secara terhormat.“
Yan berdiri, menendang tubuh Barbara dengan kuat. Hal tersebut membuat tubuh Barbara terseret beberapa meter.
Dia berbalik, pergi meninggalkan tubuh Barbara. Belum jauh melangkah, mata Barbara terbuka. Dia bangkit. Yan yang merasakan energi Barbara, membulatkan mata tidak percaya. “Ba... bagaimana mungkin kau masih hidup?”
“Heh, bocah ingusan seperti dirimu ingin membunuhku? Masih terlalu dini untuk melakukannya, meski harus kuakui di masa depan kau mungkin bisa membunuhku dengan mudah. Kau berbakat. Untuk alasan itu, saya harus membunuhmu sekarang juga. Jika tidak. Akan menjadi bencana besar bagiku.
“Ah, tidak kusangka regenerasi tubuhmu sangat cepat. Lihatlah, luka-lukamu telah pulih. Bahkan sebelum pertarungan ini selesai. Sangat disayangkan, jika saya harus membunuhmu di sini. Bagaimana jika kau bergabung denganku? Dapat kupastikan kau akan mendapatkan posisi yang menjanjikan di Kerajaan nantinya, jika bergabung denganku.” Barbara berbaik hati menawarkan kesempatan hidup untuk Yan. Dia mematahkan mematahkan ujung anak panah yang menembus tubuhnya, mencabutnya dengan cepat. Sempat berteriak kesakitan.
__ADS_1
“Mana sudi, saya mau bergabung denganmu. Lebih baik mati dari pada harus menghinakan diri dengan bergabung dalam kelompokmu!” Yan menolak tegas ajakan Barbara. Padahal, dia bisa saja pura-pura bergabung dengannya untuk bertahan hidup. Ketika waktunya tepat untuk melarikan diri, dia bisa berkhianat.
“Dasar tidak tahu diuntung! Baiklah. Mungkin kematian akan menyadarkanmu.” Barbara mengalirkan energinya pada tangannya. Dia bergerak menghantam Yan, hal tersebut membuat Yan terpental.
Barbara mengerahkan bola-bola kecil untuk menemani Yan. Begitu bola-bola kecil tersebut mengenai tubuh Yan, maka ledakan muncul. Yan berteriak kesakitan.
Barbara bergerak menyusul Yan yang baru saja berdiri. Dia memegang lehernya, mencekiknya. “Jika mau, saya sangat mudah membunuhmu saat ini. Tapi, saya lebih suka melihatmu tersiksa terlebih dahulu. Sebelum kehilangan nyawa.”
Barbara memukul perut Yan berulang kali, sembari mencekiknya. Muntah darah. Barbara terus menyiksanya dengan pukulan bertubi-tubi. “Ini adalah kompensasi, karena telah menolak tawaranku.”
Suara Yan yang berteriak kesakitan menggema di udara. Barbara memukulnya secara brutal. Yan benar-benar kesakitan, dia bahkan tidak sanggup lagi. Barbara melempar tubuh Yan yang sudah lemas, melayang ke udara. Cukup tinggi. Dia menciptakan bola api raksasa. Bukan bola api biru.
Gin tiba bersama Raja, mereka berdua melihat Yan terkapar. Gin mendongak ke atas, melihat bola api yang sangat besar. Dia ingin menolong Yan, tapi Raja menghalanginya. Sebab Barbara sudah melepaskan bola api tersebut.
Gin tetap memaksa, “Hentikan tindakan bodohmu itu, kau hanya akan menyerahkan nyawamu. Meski dengan kecepatanku sekali ‘pun, saya tidak bisa menyelamatkan bocah itu.”
Raja merangkul tubuh Gin, membawanya sedikit menjauh dari tempat itu. Ledakan yang sangat besar muncul, bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya.
Dengan kecepatan penuh, Raja menghindari serangan tersebut. “Barbara sudah gila! Apa dia ingin menghancurkan keseimbangan hutan ini?”
Begitu sudah terasa jauh, Raja berhenti. Menurunkan Gin. Anak itu, wajahnya sudah sembab dengan air mata, jelek sekali wajahnya ketika sedang menangis. Raja memegang bahunya, “Maafkan saya, Nak. Bukannya tidak ingin menyelamatkan temanmu, hanya saja kondisinya tidak memungkinkan. Lihatlah, sendiri daya rusak serangan yang dilepaskan oleh Barbara.”
“A... apa Yan masih ada kemungkinan untuk selamat?” Gin bertanya dengan suara parau, dia benar-benar bersedih kali ini. Dalam hatinya, berharap Yan masih selamat.
“Meski pahit, saya harus jujur padamu, Nak. Bocah itu mustahil untuk selamat.” Raja berterus-terang pada Gin. Dia tidak ingin menyembunyikan fakta.
Tiba-tiba tanah bergetar, retak. Bebatuan kecil di sekitar situ melayang di sekitar. Raja merasakan energi yang sangat besar meluap dari dalam tubuh Gin, dia menjaga jarak darinya. Menjauh dari Gin. Merasa ada yang aneh dari Gin.
Tubuh Gin diselimuti oleh energi kegelapan yang sangat besar, sama seperti waktu sedang dilatih oleh Bibi Merume. Bedanya, kali ini tidak ada jubah petarung dan pedang yang terbentuk dari energi kegelapan miliknya.
__ADS_1