Black Shadow

Black Shadow
Terbunuh?


__ADS_3

Gin memberontak kuat. Setelah melihat semua prajurit keluar dari ruang latihan, dia berkata ketus terhadap Tuan Putri. Namun hanya terdengar gumaman saja. Gin mencoba berbagai cara untuk melepaskan diri, tapi hanya lelah yang didapatkan.


 


Sementara itu, Tuan Putri menegakkan kursi yang tergeletak sembarang di lantai, karena kerusuhan mereka tadi. Kemudian, Tuan Putri duduk manis sambil menaruh dagu di atas tangan kanan, serta menatap jahil pada Gin.


 


Gin yang diperhatikan seperti itu, bergidik ngeri. Dia mengucurkan keringat dingin di punggungnya, hanya bisa pasrah. Tidak tahu lagi, kejahilan macam apa yang akan diterimanya dari Tuan Putri. Lelah sudah jiwa dan raganya, baru dua kali bertemu sudah disiksa seperti ini.


 


Gin masih tergantung, sementara Tuan Putri tidak henti-hentinya menatap. Seakan penderitaan Gin adalah kesenangan terindah baginya.


 


Tangan Gin mulai pegal, sebab terikat sejak tadi. Apalagi harus tergantung seperti itu, sudah kayak jemuran lusuh saja, dia. Gin nampak lesuh, apalagi perutnya sudah bunyi minta jatah sejak tadi. Mau meminta kepada Tuan Putri juga percuma, karena mulutnya sedang tersumpal lap kotor.


 


“Mengapa Iblis Kecil ini senang sekali menyiksaku, ya?” Gin membatin. Dia sangat merasa teraniaya, setiap kali bertemu dengan Tuan Putri. Jika ada pilihan persembunyian yang aman dari tempat ini, mungkin Gin tidak akan menginjakkan kakinya ke sini.


 


Dia hanya bisa menangisi nasibnya yang tragis dalam diam, tak lupa paket sumpah serapah untuk Tuan Putri yang terhomat. Dalam lubuk hati, Gin ingin cepat lolos. Agar dia bisa makan dengan puas, sebab Gin hanya bisa menatap lesuh pada Tuan Putri yang sedang menikmati buah apel.


 


Beberapa saat yang lalu seorang prajurit membawa buah-buahan segar, karena stok sebelumnya telah terjatuh ke lantai. Akibat kerusuhan yang ditimbulkan oleh Gin dan Tuan Putri.


 


Melihat Tuan Putri yang sedang menikmati buah, membuat liur Gin menetes dari selah-selah mulutnya yang tersumpal. “Kapan penderitaan ini akan berakhir? Ini bahkan lebih sengsara dibanding hidup di hutan terlarang seorang diri, tapi masih bebas mencari makan. Sementara, di sini?” Gin berteriak frustasi dalam hati.


 


Tiba-tiba Tuan Putri menatap iba pada Gin, “Apa kau lapar?” dengan suara lembut.


 


Gin menjawab, “Iya,” tapi hanya gumaman yang terdengar. Membuat Tuan Putri mendekatkan telinganya ke arah Gin.

__ADS_1


 


“Bicara yang jelas, kau lapar atau tidak?” tanya Tuan Putri sambil berkacak pinggang di hadapan Gin. Sementara itu, Gin mencak-mencak tak karuan menggeliatkan tubuh.


 


“Hmpt... hmpt... hmpt... hmpt...” Gin mencoba menjawab pertanyaan Tuan Putri.


 


“Suara tidak jelasmu akan kuartikan tidak.” Tuan Putri menjauh sambil kembali ke tempatnya. Dia memakan buah sambil menggoyang-goyangkan ujung kaki.


 


“Dasar Iblis Kecil! Bagaimana saya bisa berbicara dengan jelas, sementara sumpalan pada mulutku belum kau lepas?” Gin mencak-mencak yang hanya menimbulkan suara gumaman. Dia sangat kesal pada Tuan Putri yang mengerjainya sampai seperti ini.


 


Puas memakan buah, Tuan Putri menepukkan kedua tangan sebagai tanda memanggil prajuritnya berada di depan pintu ruang latihan. Terdengar pintu berderit, pertanda seseorang sedang memasuki ruangan.


 


Bisa ditebak seseorang itu adalah prajurit Tuan Putri. Prajurit tersebut membukukkan tubuh dan berkata, “Ada yang anda perlukan, Tuan Putri?”


 


 


Gin yang melihat itu, memicingkan mata. “Apa lagi yang akan direncanakan, Iblis Kecil ini padaku?” batin Gin. Matanya terlihat sayu, perutnya terus bersuara meminta jatab. Gin sangat kelaparan, sebab belum makan sejak pagi tadi.


 


“Ini semua karena Yan, jika dia tidak mengawasiku secara berlebihan pasti saya tidak akan kehilangan nafsu makan.” Gin kemudian melimpahkan semua kekesalannya pada Yan, sebenarnya Gin tidak seharusnya menyalahkan Yan. Toh, dia sendiri yang tidak nafsu makan.


 


Tak berselang lama, beberapa orang prajurit masuk dan menata ulang seluruh ruang latihan. Mereka semua membersihkan seluruh ruangan dengan cepat dan gesit. Setelah ruangan rapi kembali, para prajurit keluar.


 


Dan tiga orang prajurit memasuki ruangan dengan masing-masing mengangkat satu yang totalnya dua kursi dan satu meja. Para prajurit tersebut meletakkan meja bundar dan kursi yang saling berhadapan, serta tak lupa taplak meja dengan motif bunga melati putih sebagai penghias meja.

__ADS_1


 


Para prajurit langsung keluar, sesudah menuntaskan pekerjaan mereka. Prajurit yang keluar digantikan oleh beberapa pelayan dapur yang mengantar hidangan ke atas meja. Terdapat dua piring dengan beberapa macam jenis hidangan yang tersaji di atas meja.


 


Gin yang dalam keadaan terikat, semakin banyak meneteskan liurnya. Meski masih tersumpal kain lap kotor. Hidangan di atas meja membuatnya tidak tahan, ditambah saat ini dia sedang kelaparan setengah mati.


 


Meja bundar telah dipenuhi oleh hidangan beraneka ragam masakan, pelayan dapur sudah meninggalkan ruang latihan.


 


Tuan Putri berdiri dan berjalan dengan anggun ke arah Gin, melihat Putri yang berjalan ke arahnya menciptkan secercah harapan untuk menikmati makanan di atas meja. Akan tetapi, menurut pengalamannya selama berada dengan Putri. Membuat Gin tidak terlalu menaruh harap.


 


Hal itu tetap saja, membuatnya sedikit menaruh harapan. Dan itu tentu, hal normal bagi manusia. Apalagi orang sepertinya, tapi ah sudahlah. Ternyata, Tuan Putri berbelok mengambil sebuah pedang. Dirasa cukup berat, dia menggantinya ke pedang yang lebih ringan.


 


Gin langsung bergidik melihat itu, dia menggerakkan tubuhnya. Namun tak bisa berbuat banyak, karena tangan, kakinya terikat. Terlebih harus bergelantungan dengan tangan terikat. Gin mengucurkan keringat dingin, jauh lebih banyak. Akan tetapi, yang membuat Tuan Putri penasaran adalah pakaian yang dikenakannya tidak basah sedikitpun.


 


Lama berpikir, namun tak menemukan jawaban. Tuan Putri, bersikap masa bodoh. Dia menghampiri Gin dengan wajah datar, tanpa ekspresi. Sementara itu, Gin dibuat bergidik. “Apa perjalananku hanya sampai di sini saja?”


 


Gin menampakkan wajah memelas, berharap Tuan Putri akan iba melihatnya. Tapi harapan, tetap hanya sekedar harapan saja. Bahkan, raut wajah Tuan Putri tetap sama yaitu datar. Ketika Tuan Putri mendekat, Gin semakin aktif menggerakkan tubuh.


 


Berharap bisa lolos dari jeratan yang mengikatnya, tapi usahanya sia-sia saja. Saat Tuan Putri sudah berada di hadapannya, dia menjadi pasrah menyerahkan semuanya pada nasib. Walau dalam hati tersirat, Yan akan muncul menyelamatkannya.


 


Tapi, sepertinya harapan Gin tidak akan terwujud, pasalnya pintu masuk belum bergerak sama sekali. Sementara, Tuan Putri sudah berada di hadapannya dengan sebuah pedang di tangan, terlihat pedang tersebut sangat tajam.


 

__ADS_1


Pada saat Tuan Putri mengangkat pedang, Gin hanya bisa menghembuskan nafas halus. “Sirna sudah harapanku.” Tebasan tersebut membuat Gin menghembuskan nafas halus, pasrah. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


__ADS_2