
Melihat teman mereka sudah tak bernyawa. Seluruh murid tersebut berteriak histeris. Sebelum teriakan dari murid Perguruan menengah tersebut hilang. Dua murid lagi terjatuh ke tanah dengan jantung tertusuk oleh tombak.
Tersisa tiga murid yang masih berdiri, mereka memasang kuda-kuda ingin melawan. Mungkin lebih baik melawan dengan harapan masih ada penyelamat, daripada membiarkan lawan membunuh mereka satu-persatu. Mati konyol bukanlah pilihan terbaik.
Gin melihat para murid perguruan menengah yang sedang terbantai ingin rasanya membantu. Akan tetapi, Yan menahannya. Karena dia tidak ingin terlibat masalah.
“Lebih baik kalian bertiga menyerah dan biarkan kami membunuh kalian secara perlahan. Kujamin itu tidak akan menyakitkan.” Salah satu dari pengepung berinisiatif memberikan solusi.
Tanpa menjawab ketiga murid tersisa menyerang enam orang yang sedang mengepung mereka. Namun mereka jelas bukanlah lawan yang sebanding dengan enam orang ini. Salah satu dari murid Perguruan menengah menyerang ke depan, namun dapat dihindari dengan mudah. Begitu pula dengan kedua orang lainnya.
Mereka bertiga terjatuh ke tanah dan tak bisa bergerak lagi. Darah segar mengalir di tubuh mereka, luka akibat tombak memenuhi sekujur badan mereka. “Jika kalian membiarkan kami membunuh kalian, mungkin kalian tidak akan tersiksa seperti ini.”
Pria tersebut menyabetkan tombaknya pada salah satu murid Perguruan menengah. “Akhhh.” Teriakan itu bergemah di sekitar hutan tersebut. Gin menggertakkan giginya melihat tindakan Pria tersebut.
Jika dilihat dengan seksama orang yang mengelilingi para murid Perguruan menengah tersebut seumuran dengan mereka. “Akhhh.” Sebuah sabetan mengenai salah seorang murid Perguruan menengah.
“Jika kau mengira saya akan membunuh kalian dengan cepat. Itu hanya akan terjadi dalam mimpi kalian hahahaha.” Salah seorang dari penyerang mencengkram baju salah satu murid Perguruan menengah dan menatap wajah murid tersebut. Tanpa dia sangka sama sekali, bahwa murid tersebut akan meludahinya.
Pria yang terkena ludah, menahan amarah yang memuncak. Dia menikam perut murid perguruan menengah yang meludahinya dan menyeretnya. “Hahaha rasakan itu.”
Murid tersebut menatap nyalang kepada pria yang menyeretnya. Namun pria tersebut terus menyeretnya ke sana-ke mari. Sementara lima yang lain terus menyiksa dua murid yang tersisa. Pria tersebut terus menyeret murid tersebut dengan tombaknya tanpa memperdulikan teriakan yang begitu memilukan.
__ADS_1
Pada saat pria tersebut sedang asik-asiknya menyeret murid Perguruan menengah dengan tawanya yang terbahak-bahak. Seorang yang beberapa tahun lebih muda darinya menghalangi langkahnya. Pemuda tersebut memiliki mata setajam elang. Tatapannya begitu mengintimidasi, “Kau sudah keterlaluan!!!”
Yan mencari keberadaan Gin yang telah menghilang dari tempatnya. Pada saat matanya melihat Gin, dia telah berada di depan sana, Yan berdecak kesal. “Anak ini, kenapa dia membuat masalah dengan mereka. Bukankah posisi kita saat ini akan mudah diketahui oleh tangan kanan Raja selatan. Jika dilihat Ibukota dari sini masih jauh.”
Gin mengacungkan pedang kepada pria yang telah menyeret murid Perguruan menengah. Yan muncul di samping kanan Gin. “Jika kau ingin menolong orang-orang ini, sebaiknya kita membunuh para penganggu ini tanpa menyisahkan seorang pun. Jika tidak, posisi kita akan diketahui oleh tangan kanan Raja selatan.”
Gin mengayunkan pedangnya pada leher pria di hadapannya, seketika tubuh pria itu tersungkur tak bernyawa ke tanah. Tidak seperti para murid Perguruan menengah, teman dari pria tersebut justru menyerang Gin dan Yan secara brutal.
Gin dan Yan berlari secara terpisah. Gin diikuti oleh tiga orang, sementara Yan diikuti oleh dua orang. Gin terus berlari hingga mendapati tempat begitu luas, “ Sepertinya tempat ini sangat cocok.” Gin menunggu beberapa saat hingga ke tiga orang yang mengejarnya tiba di belakangnya.
“Kau tidak bisa lolos dari kami. Minta maaf, lalu ciumlah kaki kami. Maka kau akan kami lepaskan. Hahaha.” Salah satu dari ke tiganya begitu sombong dan meremehkan Gin, “apa kalian memiliki kemampuan untuk menghadapiku?”
Baru saja lolos, Gin sudah diserang dengan bertubi-tubi. Dia bagitu tangkas menghindari serangan yang datang kepadanya. Dia melihat terdapat celah untuk menyerang. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Gin melesatkan sebuah pukulan yang dilapisi sedikit energi kegelapannya.
Pukulan Gin tepat mengenai wajah salah seorang dari mereka. Pria tersebut terpental jauh dan menyemburkan banyak darah. Sementara itu dua lainnya menyerang Gin dengan ganas. Salah satu tombak terarah pada wajahnya, sementara satu lagi di perut. Tubuh Gin melenting dan berputar diantara kedua tombak.
Gin dengan sigap menangkap kedua tombak tersebut. Kedua orang yang menyerang Gin kaget bukan kepalang. Jurus tombak mereka dapat dipatahkan dengan mudah. “Ini...” Kedua orang tersebut saling bertatapan.
Gin melompat sambil masih mempertahankan kedua tombak. Dia menendang kedua orang tersebut, mereka mundur beberapa langkah ke belakang. Ke dua orang tersebut mengeluarkan darah dari sudut bibir mereka.
Mereka tidak pernah mengira, bahwa akan menghadapi salah satu calon kontestan turnamen yang sekuat ini. Padahal yang lalu-lalu, para calon kontestan yang mereka hadang, tidak pernah sekuat orang sedang berada di depan mereka saat ini.
__ADS_1
Para penghadang ini, selalu memilih lawan yang lebih lemah dari mereka. Selama ini mereka tak pernah salah sasaran, walau pun menghadapi murid perguruan besar, mereka tak pernah kalah seperti ini. Apalagi salah satu dari mereka harus terbunuh.
Tak mau kalah, kedua orang tersebut menyerang Gin kembali. Serangan keduanya mengarah pada ke dua sisi Gin, satu menebas ke arah kanan, satu lagi menebas ke arah kiri. Gin menghindari ke dua serangan tersebut dengan mudah.
Melihat serangan mereka tak mengenai Gin. Mereka mengeluarkan jurus tombak, walau tombak tersebut tak dilapisi energi. Akan tetapi, gerakan mereka begitu cepat dan cukup sulit untuk diikuti. Tombak milik kedua orang tersebut terarah padanya, tapi yang membuat Gin bingung adalah tombak yang dilihatnya saat ini ada empat. “Bukannya mereka memiliki masing-masing satu tombak saja.”
Gin menghindari ke empat tombak yang mengarah padanya. Gerakan Gin cukup cepat, tapi kurang cepat. Sebab saat ini mengucur sedikit darah dari pipi sebelah kirinya. Gin memutuskan untuk menggunakan pedangnya, dia mencabut Pedang bayangan dari punggunya. “Bersiaplah dan berhati-hatilah, jika tidak ingin kehilangan nyawa, saya serius kali ini.”
Satu penyerang segera bergabung dengan teman-temannya.
Gin mengeluarkan tatapan mengintimidasi kepada tiga orang berada di hadapannya. Tatapan Gin membuat ketiganya terpaku, tanpa mereka sadari. Gin sedang menyerang leher mereka satu per satu. Dua pemegang tombak telah tersungkur tak bernyawa, ketika Gin ingin menghabisinya.
Tiba-tiba datang seorang petarung yang memakai tunik yang sama dengan para penghadang, namun yang satu ini tuniknya berlumuran darah. Tunik berwarna Hijau dengan lambang tombak emas di belakangnya. Orang tersebut dengan mudah menangkis serangan Gin. Orang tersebut menangkis pedang Gin menggunakan sebuah tombak. Tapi tombak orang tersebut telah dilapisi oleh energi yang begitu pekat.
Pertarungan keduanya tak dapat dihindari. Gin terus melancarkan serangan pada orang tersebut. Namun hanya benturan kedua senjata yang terdengar, tak ada sedikit pun tebasan yang mengenai orang tersebut.
Gin sangat bingung pada orang di hadapannya ini, sejak tadi hanya menangkis serangannya saja. Tanpa mau membalas. “Orang ini tak berniat melawanku.” Baru saja Gin mulai curiga dengan gelagat orang tersebut.
Secara tiba-tiba, orang tersebut mengeluarkan benda panjang berbentuk tabung agak panjang, berwarna abu-abu. Benda tersebut dibuangnya ke arah Gin, setelah benda tersebut mengenai tanah. Asap tebal mulai mengepul mengelilingi sekitar hingga membuat pandangan Gin terbatas dan membuat Gin terbatuk-batuk.
Pada saat asap itu menghilang. Orang tersebut menghilang, juga satu penyerang yang masih hidup. Mungkin orang tersebut yang membawanya kabur. Gin hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.
__ADS_1