
Gin terus melesatkan pukulan yang sangat kuat pada Barbara. Namun dapat dihindari, tak menyerah begitu saja. Gin melakukan tendangan memutar dari belakang, tepat mengenai wajah Barbara. Hal tersebut membuatnya terhempas jauh.
Gin menghembuskan nafas kasar, bergerak cepat menyusul Barbara. Dia muncul menghantam tubuh Barbara dengan pukulan yang keras. Hal tersebut membuat Barbara terhempas ke tanah, karenanya tanah retak.
Tidak puas, Gin mengerahkan pukulan keras pada Barbara. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali. Barbara menjadi sam-sak hidup.
Armor milik Barbara sedikit retak, sadar akan hal tersebut. Dia melepaskan energi yang besar, membuat Gin mundur tiga langkah ke belakang. Menyerang Gin dengan pukulan yang dilapisi oleh api biru.
Gin terhempas jauh, Barbara menyusulnya menghantamkan pukulan pada perutnya. Tepat Gin menangkap tangan Barbara sebelum menyentuh perutnya. Dia memutar tubuhnya, membanting Barbara ke tanah. Hal tersebut menciptakan debu yang mengepul, menghalangi pandangan.
Gin melompat mundur, menatap tajam tubuh Barbara yang masih tergeletak tak bergerak. Dia belum mati, hanya saja masih ingin berbaring seperti itu. Lelah menghadapi Gin. Terlebih, Barbara sudah menghadapi Raja sebelumnya.
Ingin beristirahat sebentar. Hanya saja, Gin kurang pengertian. Dia terlalu lama menunggu, karena tidak ada pergerakan dari Barbara. Gin mengerahkan pukulan yang sangat kuat, hal tersebut membuat retakan pada armor Barbara semakin membesar.
Barbara benar-benar kesal pada Gin, dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Bebatuan di sekitarnya melayang, suhu sekitar mulai berubah drastis. Panas.
Barbara melesat cepat, menghantam Gin dengan kuat. Hal tersebut membuat Gin terhempas, dia menciptakan dinding api. Menghalangi tubuh Gin terhempas jauh, dia bergerak cepat. Mengerahkan pukulan bertubi-tubi.
Barbara menciptakan bola api biru yang lumayan besar. Menyarangkannya pada tubuh Gin. Hal tersebut membuat Gin terhempas menabrak dinding api. Barbara melepaskan api biru lainnya dalam jarak sangat dekat.
Serangan tersebut tak mampu merusak jubah Gin, tetap utuh. Tanpa lecet sedikitpun. Barbara melepaskan bola api biru tanpa henti, ledakan besar muncul. Hal tersebut membuatnya terhempas ke belakang.
Dia bergerak memasuki kepulan asap, mencekik leher Gin. Barbara tahu, jika bocah tersebut akan baik-baik saja. Tanpa luka sedikitpun.
Gin nampak kesulitan bernafas. Kakinya bergerak-gerak. Menendang udara. Berhasil! Dia dapat menendang dada Barbara. Lolos dari Barbara yang mencekiknya, mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Barbara menghantamkan pukulan keras dengan api biru miliknya, Gin mencabut pedang di punggungnya. Menangkis serangan Barbara dengan cepat. Kesiur angin bertiup, cukup kencang. Gelombang energi saling bergejolak.
__ADS_1
Keduanya mundur satu langkah ke belakang. Gin menebaskan pedangnya, sementara Barbara mengerahkan pukulan kuat yang dilapisi oleh energi api biru. Serangan keduanya saling berbenturan.
Barbara mencoba bertahan sekuat tenaga, Gin sedikit mendominasi. Semakin lama, Gin semakin mendominasi. Serangannya, menghempaskan Barbara begitu jauh. Gin bergerak, menyusul Barbara. Berhenti di hadapannya. Mengayunkan pedang, namun Barbara memutar tubuhnya. Menghindari tebasan Gin. Tidak mudah memang, Barbara mengusap peluh di lehernya.
Sedikit saja terlambat, maka dia akan mendapat luka yang cukup parah. Terlebih, armornya sudah retak dibeberapa bagian.
Gin mengerahkan tendangan keras mengenai dagu Barbara, hal tersebut membuatnya memuntahkan darah segar. Melesat ke udara.
Gin menyusul Barbara, meletakkan pedang pada tempatnya. Mengerahkan pukulan yang dilapisi oleh energi yang sangat kuat, Barbara mengatupkan rahang kuat. Dia terhempas lagi.
Barbara seperti bola biliar terhempas ke sana-kemari, dipukul oleh Gin. Dia menyeimbangkan tubuh menciptakan bola api biru raksasa dari energi miliknya. Dengan mudah Gin menebasnya, bola api tersebut terbagi menjadi dua.
Barbara bergerak cepat, mengerahkan pukulan dengan dilapisi oleh energi api biru di tangannya. Gin terpental jauh, Barbara melemparkan bola api biru raksasa secara beruntun pada Gin. Ledakan beruntun terdengar, membahana.
Barbara menangkap tangan Gin, memelintirnya. Menghantamkan pukulan keras padanya. Tepat mengenai wajah Gin, hal tersebut membuat Gin terhempas cukup jauh.
Gin menyeimbangkan tubuh, menatap tajam ke arah Barbara. Dia bergerak cepat, mengerahkan pukulan yang sangat brutal pada Barbara.
Barbara tidak hanya berdiam diri, membiarkan tubuhnya diamuk oleh Gin. Dia membalas pukulan, pertemuan pukulan mereka menimbulkan gejolak energi yang luar biasa.
Semakin lama, kecepatan serangan Gin semakin cepat. Tidak mampu diikuti oleh Barbara, dia tidak percaya harus kalah cepat dengan Gin. Sampai keringat dingin dibuatnya, padahal dia sudah mengerahkan seluruh kekuatannya. Akan tetapi, masih kalah cepat dari seorang bocah yang dikendalikan oleh kekuatannya sendiri. “Lelucon macam apa ini? Bisa-bisa saya kalah dari seorang bocah yang baru lahir kemarin sore!”
Satu-dua pukulan telak mengenai Barbara, kalah cepat. Dia sudah tidak bisa mengimbangi kecepatan Gin, mundur tiga langkah. Mengambil nafas, memutar otak agar tidak kalah dari Gin. Harga dirinya bisa hancur, kalau kalah. Hal tersebut sangat memalukan baginya.
Pukulan Gin telak mengenai wajah Barbara. Hal tersebut membuatnya terhempas jauh, dia benar-benar merasa terhina. Merasa kehilangan harga dirinya sendiri. Hanya melawan seorang bocah saja, tidak sanggup.
__ADS_1
“Jangan bercanda, saya tidak akan kalah dari seorang bocah.” Urat di kepalanya membesar, menonjol begitu saja. Sepertinya, dia benar-benar tidak mentoleransi sebuah kekalahan.
Barbara melesat cepat. Pada tangannya berkobar api biru, suhu sekitar naik pesat. Bahkan, Fionix yang berada jauh dari tempat pertarungan. Merasa kepanasan. Daun-daun kering yang berjatuhan terbakar begitu saja. Tidak hanya itu, bahkan pohon yang dijadikan tempat berpijak olehnya terbakar.
Fionix dengan cepat berpindah tempat, tidak ingin dilahap oleh api. Dia menghembuskan nafas halus, tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi. “Kekuatan macam apa itu?”
Pukulan Barbara mengenai udara kosong, semburan api melesat jauh. Gin lebih cepat menghindar. Melesatkan sebuah tendangan, serangan tersebut dihindari oleh Barbara. Mereka saling jual-beli pukulan.
Gelombang kejut akibat pertarungan keduanya menciptakan kesiur angin, menyerang satu sama lain. Fionix tercekat melihat pertarungan keduanya, dia tidak menyangka seorang bocah belasan tahun mampu menahan ketua Klan Api. Bahkan mampu membuatnya tersudut, “A... apa saya sedang bermimpi? Saya tidak percaya ini.”
Barbara terhempas jauh, begitu juga dengan Gin. Hanya saja, seluruh tubuh Gin dipenuhi oleh api biru milik Barbara. Terbakar. Serangan Barbara benar-benar membuatnya kesulitan.
Barbara menyeimbangkan tubuh melesat cepat, tiba di hadapan Gin. Dia mengerahkan pukulan yang sangat kuat sekali lagi, api biru semakin membakar Gin. Tubuhnya melesat ke tanah. Membuat tanah berlubang. Gin tertanam di dalamnya.
Barbara meluapkan energi yang tersisa dalam tubuhnya, dia menciptakan bola raksasa dari api biru. Suhu sekitar semakin memanas.
Tanah tempat Gin mendarat pecah, bebatuan beterbangan di sekitar. Energi yang sangat besar muncul dari dalam tanah, bebatuan yang sebelumnya beterbangan. Kini melesat ke mana-mana.
Gin muncul, berpijak dengan santai. Api biru yang membakar tubuhnya, kini telah sirnah. Tidak berbekas lagi, bahkan secuil ‘pun tidak terlihat lagi.
Sorot mata Gin tertuju pada Barbara yang sedang menciptakan bola api biru raksasa. Sementara Raja yang melihat hal tersebut mengeluarkan keringat dingin. Menganggap Barbara sudah kehilangan akal sehatnya.
“Apa Barbara ingin menghancurkan hutan ini?” Raja mengatupkan rahang dengan keras, tidak habis pikir dengan perbuatan yang dilakukan oleh Barbara saat ini.
Barbara melepaskan bola api tersebut, terbahak dengan keras. Suaranya sampai ke telinga Raja yang membuatnya menyumpah serapahi Barbara.
__ADS_1
Gin menarik pedangnya, melesat ke udara. Menebaskan pedang miliknya pada api biru raksasa. Api biru tersebut meledak. Hal tersebut membuat angin kencang, radius ledakan yang sangat besar. Bahkan Raja harus terpaksa membuat tameng dari energi miliknya, tidak sempat untuk menghindari ledakan tersebut.