Black Shadow

Black Shadow
Ada Apa?


__ADS_3

Raja menatap tajam ke arah tribun VIP, energinya meluap-luap. Batu-batu beterbangan di sekitarnya, karena lonjakan energinya.


 


Seseorang turun dari tribun dengan kecepatan tinggi. Raja mengarahkan tinjunya pada orang tersebut, disambut dengan senyum. Orang tersebut memukul ke udara. Kedua energi saling bertabrakan, menimbulkan gejolak energi yang luar biasa.


 


Raja balik ke sebelah kanan, menangkis pukulan yang datang. Kesiur angin berkelebat. Lawannya tiba-tiba muncul di sebelah kanannya, “Rupanya, kau sudah tidak sabaran, Barbara!”


 


Raja mundur tiga langkah, begitu juga dengan Barbara. Tawanya menggema ke seluruh arena.


 


Raja mengepalkan tangan dengan erat, energinya bergejolak. Dia menghilang dari tempatnya. Tidak. Bukan menghilang, lebih tepatnya gerakannya yang terlalu cepat.


 


Raja mengerahkan sebuah pukulan, Barbara memiringkan kepala untuk menghindari serangan tersebut. Barbara terkena hembusan angin yang begitu kencang, karena pukulan Raja tepat di samping kepalanya.


 


Barbara menghentakkan kaki ke lantai arena, muncul retakan pada lantai arena. Hal tersebut membuat arena hancur. Hanya sebagian yang hancur.


 


Barbara memukul Raja, hal tersebut membuatnya terlempar ke udara. Barbara terbang, mengikuti tubuh Raja. Begitu tiba di samping Raja, Barbara mengerahkan api yang begitu panas kepada Raja.


 


Hal tersebut membuat Raja terlempar cukup jauh, hingga menabrak salah satu toko di ibukota. Sialnya, bangunan toko tersebut hancur, tertabrak oleh Raja. Padahal belum lama di renovasi.


 


Barbara menyusul, sembari mengerahkan bola api ke arah bangunan toko yang ditabrak oleh Raja. Terlihat para pengunjung berlarian keluar, begitu melihat bangunan ambruk. Kebakaran.


 


Raja menyingkirkan pecahan dinding yang menindihnya, dia menatap ke arah Barbara. Di sekelilingnya terdapat kobaran api yang melahap bangunan toko. Sementara pakaian Raja sedikit hangus, untung dia memakai armor. Armornya berwarna hitam, terbuat dari bahan yang cukup kuat. Elastis.


 


Raja menggertakkan gigi, mengerahkan energinya. Puing-puing bangunan toko beterbangan di sekitar, Raja terbang ke atas. Dia muncul di hadapan Barbara, mengerahkan sebuah pukulan. Ditangkis, namun Barbara tetap terhempas jauh.


 


Di sisi lain, istana sedang diserang oleh para penyusup berjubah hitam, para prajurit berusaha menghadang mereka. Akan tetapi, mereka kalah telak.


 


Satu petinggi Kerajaan meninggalkan tribun turnamen, bergegas ke istana untuk melindunginya bersama pasukan khusus. Mereka membagi tiga kelompok. Kelompok pertama melawan para penyusup, kelompok kedua mengungsikan penghuni istana, kelompok ketiga mengungsikan penduduk kota.


 


Salah satu petinggi tersebut tidak yakin, ibukota akan tetap sama. Jika pertarungan Raja dan Barbara berlangsung lama.


 

__ADS_1


Pertarungan Raja dan Barbara terus berlangsung, keduanya saling menyerang satu sama lain. Saling membalas, seluruh Ibukota rusuh. Terlebih saat penduduk melihat ke arah langit, menatap secara langsung pertarungan Raja melawan Barbara.


 


“Lihat, Raja sedang bertarung melawan tangan kanannya sendiri, di atas sana. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi pada Kerajaan Selatan?” Salah satu penduduk menatap ke arah atas.


 


Mereka menahan nafas, saat melihat langsung pertarungan keduanya yang begitu dahsyat. Mereka sadar, tidak boleh berlama-lama di ibukota, harus segera mengungsi. Pada saat mereka berlari ke arah gerbang, muncul tiga orang anggota pasukan khusus. Pasukan khusus memimpin jalan menuju ke tempat aman. Tempat yang telah diusulkan oleh salah satu petinggi istana.


 


Raja dan Barbara terus bertarung, mengerahkan serangan satu sama lain. Saling berniat membunuh satu sama lain, tidak ada yang mengendurkan kewaspadaan. Tidak ada celah yang tercipta, mereka saling bertukar serangan. Berniat bertarung sampai mati.


 


Barbara mengerahkan tendangan pada Raja, namun di tangkap. Raja melempar Barbara ke jalanan Ibukota, menyusul mengerahkan pukulan bertubi. Hal tersebut membuat Barbara terjatuh lebih keras ke tanah, debu mengepul. Jalanan Ibukota berlubang cukup besar, karenanya.


 


Raja menatap ke arah tempat Barbara mendarat, dia masih melayang di udara. Membelalakkan mata, bola api besar menuju ke arah Raja.


 


Dengan cepat, Raja menyapu sekitar. Melihat keadaan ibukota, masih ada penduduk atau sudah kosong. Merasa aman, Raja menepis bola api tersebut. Akhirmya bola api berbelok, menghancurkan gerbang kota. Lubang besar tercipta di sana, masih terdapat sedikit api yang ada di atas tanah.


 


Bom! Sebuah ledakan terdengar keras, membahana. Kesiur angin menerbangkan rambut Raja, dia nampak elegan dengan armor elastis tersebut.


 


 


Barbara tersenyum tipis, mengerahkan sebuah pukulan dengan dilapisi oleh energi api. Ditangkis dengan menyilangkan tangan, Barbara mengerahkan puluhan bola api kecil menyusul Raja.


 


Raja terhempas di pinggir hutan yang tidak jauh dari Ibukota, dia menabrak pohon hingga tumbang. Tidak lama bola api kecil mengarah padanya.


 


Raja sempat membuat tameng dari energinya, namun retak. Pecah begitu saja. Bola api kecil susul-menyusul mengenainya.


 


Meski begitu, dia tidak terluka sama sekali. Hanya saja, armor miliknya mulai compang-camping. Raja menyilangkan tangan lagi, terhempas menabrak pohon. Tumbang. Lima pohon tumbang begitu saja, karenanya.


 


Raja memuntahkan darah. Tawa Barbara membahana, menggema di seluruh hutan. “Pertarungan ini tidak mudah!”


 


“Maafkan saya Raja. Saya begitu prihatin dengan kondisi Kerajaan Selatan ini, terlalu penuh dengan kasih sayang, lemah. Tidak terlihat ganas dibandingkan Kerajaan lain. Lihatlah, diantara keempat Kerajaan. Hanya Kerajaan Selatan yang paling lemah. Maafkan saya. Karena harus menggulingkan kekuasaanmu dari singgasanah Raja.” Barbara terbahak, menertawakan Raja.


 


“Apa kau mampu mengalahkanku, Barbara? Seenaknya mengatakan dapat menggulingkanku dari tahta Raja. Jika bisa, akan kupastikan, kau tidak akan mudah mendapatkannya!” Raja bergerak cepat, mengerahkan energi pada tangannya. Dia mengerahkan sebuah pukulan keras pada wajah Barbara, namun dapat dihindari.

__ADS_1


 


Barbara meliuk, menyerang Raja dengan bola api kecil yang ditempelkan pada pinggang Raja. Tepat saat sedang meliuk.


 


Hal tersebut membuat Raja berguling di atas tanah. Dia berdiri tegap, berteriak, “Swordking.”


 


Raja mengangkat tangan ke atas, tangannya seperti sedang ingin menangkap sesuatu. Sebuah pedang dengan pegangan emas meluncur cepat dari arah istana.


 


Raja menangkap pedang tersebut dengan tangan kanan, dia memutar pedang tersebut. Memasang kuda-kuda. Bersiap bertarung hidup-mati melawan Barbara.


***


Di halaman belakang, Gin sedang berdiri tegap di dasar sumur. Kaki dan tangannya terantai. Masing-masing dua bola baja di kanan-kiri. Bola baja yang besar.


 


Dia merasakan getaran beberapa kali di bawah sana. Tapi, tetap melanjutkan latihannya, tidak berniat untuk memuaskan rasa penasarannya. Tidak ingin melihat keluar, mengecek keadaan luar. Mencari penyebab getaran yang dirasakannya.


 


Gin tetap tenang melanjutkan latihannya, tapi semua berubah ketika sebuah mayat prajurit terjatuh ke dalam sumur. Darah prajurit tersebut bercampur ke dalam air. Begitu melihat air sumur berwarna merah, dia mendongak ke atas. Matanya terbelalak melihat mayat prajurit yang sedang mengambang di permukaan sumur.


 


Dia memanjat ke atas sumur, berusaha keras. Leher, tangan, serta kakinya sampai berurat. Setelah sekian usaha, dia berhasil naik ke atas. Berpijak pada halaman belakang.


 


Gin melihat banyak prajurit yang telah terbunuh, tidak hanya itu. Mayat orang yang memakai jubah hitam juga berserakan, dia melihat para prajurit yang tersisa sedang menghadapi pria berjubah hitam.


 


Gin menghindar, begitu serangan mengarah padanya. Dia mengerahkan serangan tapak pada pria berjubah hitam, hal tersebut membuat pria yang menyerangnya terhempas jauh. Menabrak temannya yang sedang bertarung dengan salah satu prajurit. “Dasar lemah!”


 


Gin ingin lepas dari rantai bola baja, hanya saja kuncinya ada pada Bulan. Sementara Bulan dan Putri tidak terlihat sedikitpun di halaman belakang.


 


Dia hanya melihat meja yang sudah tidak berbentuk, tidak jauh dari sumur. Barang-barang, sisa makanan, buah-buahan juga tercecer. Tersenyum begitu melihat pedangnya tergeletak begitu saja di atas tanah, tidak jauh dari meja yang berserakan.


 


Dia berjalan dengan bola baja yang ikut terseret, memungut pedangnya. Memotong rantai bola baja, di kanan dan kakinya.


 


Gin merenggangkan otot, bergerak maju menyerang pria berjubah hitam. Dia dengan lincah menebas lehernya dengan mudah, darah muncrat begitu saja. Begitu juga dengan pria berjubah yang sedang berhadapan dengan para prajurit.


 


Dalam waktu singkat, para pria berjubah hitam tergeletak begitu saja. Tidak bernyawa. Gin menghembuskan nafas halus. Bertanya pada salah satu prajurit. “Sebenarnya, apa yang sedang terjadi?”

__ADS_1


__ADS_2