Black Shadow

Black Shadow
Berevolusi


__ADS_3

Dengan cepat, tanpa basa-basi lagi. Itam membuat kubah batu yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya. Hal itu membuat sinar matahari kembali sirna dari pandangan ketiganya, kubah yang dibuat oleh Itam, besarnya sama saja dengan yang tadi, hanya saja kekebalannya yang bertambah.


Mereka bertiga seakan gentar menghadapi Cebures yang semakin kuat, tapi mereka lebih takut dengan pemotongan gaji. Hahaha, tentu soal pemotongan gaji hanya sedikit candaan.


Bulan, Itam dan Afro bersiap memasang kuda-kuda terbaik milik mereka. Cebures menghantamkan pukulan yang mematikan terhadap mereka bertiga, tak ada waktu untuk menghindar. Dengan sangat terpaksa Afro meladeninya dengan pukulan meletupnya, bum!


Sebuah ledakan menggema saat pukulan Afro dan Cebures bertemu, ledakan tersebut membuat Itam dan Bulan terhempas cukup jauh. Tidak hanya sampai disitu, Cebures mengirim sebuah pukulan lagi, begitu juga dengan Afro.


Setiap kali pukulan mereka beradu, maka ledakan akan menggema yang menimbulkan angin kencang yang mengempas apapun disekitarnya. Afro yang tidak terima pukulannya tak berdampak sedikit pun pada Cebures, mengeluarkan lebih banyak energi untuk menghadapinya.


Bulan tak tinggal diam, dia mengeluarkan dua kawat lentur dan mengikatnya pada kedua belati miliknya. Bulan mengenakan kaus tangan perak yang sangat nyaman dan lentur saat dikenakan, kaus tangan tersebut mengeluarkan cahaya dalam suasana gelap.


Sementara, Itam menciptakan golem batu yang lebih kuat dari sebelumnya. Hal itu, terlihat dari golem yang memancarkan energi yang luar biasa besar.


Bulan berlari ke arah Cebures dan melemparkan salah satu belatinya, belati yang dilemparkan Bulan melesat cepat di udara. Belati milik bulan tertancap di dinding kubah yang berada tepat di belakang kepala Cebures, Bulan menarik kencang belati tersebut yang  membuat tubuhnya melesat cepat ke arah monster tersebut.


Pada saat posisi Bulan berada dalam area serangan, dia melemparkan satu belati yang tersisa ke sebelah kanan. Belati tersebut melesat melingkari leher Cebures dan menancap tepat pada dinding kubah.


Sementara itu, Afro dan golem milik Itam habis-habisan melawan Cebures. Mereka saling bertukar pukulan. Afro sudah dua kali terhempas menabrak dinding kubah, sementara golem milik Itam beberapa kali harus termundur satu langkah karena terkena pukulan telak.


Tepat saat belati menancap di dinding, Bulan mendaratkan diri pada bahu Cebures dan melompat mundur ke belakang. Sementara, monster tersebut menampeleng bahunya, namun Bulan sudah tidak berada di sana.


Bulan yang sudah berada jauh dari Cebures, mengeratkan kawat yang siap melilit leher monster tersebut. Kawat miliknya berhasil melilit Cebures, namun monster tersebut terlihat baik-baik saja. Sebenarnya, jika itu bukan Cebures, maka bisa dipastikan kepala monster tersebut sudah berpisah dengan badannya sejak tadi.

__ADS_1


Melihat triknya tidak berguna, Bulan pun kesal setengah mati. “bagaimana caranya mengalahkan monster ini?”


Itam datang dan berkata, “jika trik kecilmu itu bisa membinasakan monster ini, maka saya yakin monster ini yang konon katanya dapat mengimbangi penguasa selatan, hanyalah sebuah mitos belaka.” Perkataan Itam membuat Bulan mengerutkan dahi.


“Ada benarnya juga kata-katamu itu, tapi alangkah lebih baik kau memikirkan cara mengalahkan monster ini atau dia yang akan membunuh kita secara perlahan. Bukan malah mengeluarkan omong kosong yang tidak perlu sama sekali.”


Itam kesal dengan pernyataan Bulan, dia mengeluarkan energi yang lebih besar lagi. Tiba-tiba golem miliknya yang sedang bertarung melawan Cebures, muncul sebuah sarung tangan dari baja di tangan kiri dan kanan, serta energi yang melingkupi golem tersebut memadat.


Golem milik Itam melancarkan sebuah pukulan yang bertemu dengan hantaman Cebures, karena hal tersebut Cebures terjatuh ke belakang.


Bulan yang sedang melilit leher monster tersebut, juga ikut terseret ke depan karena belum sempat melepaskan lilitan kawat pada leher Cebures. Saat berada di udara Bulan menarik satu belatinya yang tertancap di dinding kubah.


Bulan seketika melepaskan kawat yang melilit leher Cebures dari tangannya dan menangkap belati yang mengarah kepadanya. Dia memegang belati dengan kedua tangannya dan menikam Cebures tepat di tengah luka silangnya.


Sementara itu, teriakan Cebures yang mengandung energi mampu menghancurkan kubah dan golem yang diciptakan Itam. Bulan juga terhempas jauh karena suara tersebut, begitu pula dengan Itam dan Afro.


Bahkan suara milik monster tersebut menggema ke seluruh penjuru Ibukota, sampai-sampai Raja dan para tamu yang berada di ruangan perjamuan tersontak kaget dan menghentikan canda-tawa mereka.


Mereka semua berdiri, serta bergidik ngeri mendengar teriakan yang lebih ke jeritan tersebut.


Sementara itu, Afro yang sempat terhempas. Nasibnya lebih bagus dibandingkan kedua rekannya yang tertimbun runtuhan kubah. Cebures juga tertimbun oleh reruntuhan tersebut. Afro sempat meninju puing-puing yang akan menimbunnya.


Afro melihat sekeliling, kondisi kota benar-benar mengenaskan. Bahkan, bisa dibilang setengah kota hancur oleh ulah Cebures. Toko-toko sekitar gerbang kota hampir tidak tersisa. Hanya beberapa toko yang masih utuh, itu pun hanya toko-toko yang satu deret dengan kedai teh yang sudah hancur.

__ADS_1


“Sepertinya, turnamen Kerajaan akan ditunda pelaksanaannya karena hal ini.” Afro menghembuskan nafas halus.


Tiba-tiba salah satu gundukan reruntuhan kubah bergetar dan hancur, puing-puingnya berserakan ke mana-mana. Debu mengepul disekitar bekas gundukan tersebut, terlihat silet manusia di sana. Jika diperhatikan bisa dipastikan orang itu adalah Bulan.


Hal tersebut dapat dari silet orang tersebut yang ramping, tidak mungkin itu Itam kan. Saat kepulan debu menghilang benar saja, orang tersebut adalah Bulan. Hampir seluruh tubuhnya dilumuri darah biru, wajahnya tidak lagi terdapat darah biru di sana.


Mungkin dia sempat membersihkannya, hanya saja terdapat darah yang mengalir dari kepalanya. Meski tidak banyak, tapi itu tetap harus diobati, bukan.


Salah satu gundukan bergetar lagi, tak lama berselang gundukan tersebut hancur serta puing-puingnya berserakan ke mana-mana. Setelah debu menghilang Itam muncul, dia terlihat baik-baik saja. Hanya terdapat luka dibeberapa bagian tubuhnya.


Sementara itu, diantara banyaknya gundukan kubah. Ada satu yang paling besar, tapi gundukan tersebut tidak bergerak sama sekali. Dapat dipastikan dalam gundukan tersebut terkubur tubuh Cebures.


“Sebaiknya, kita segera melapor kepada Raja atas peristiwa ini. Jangan sampai Raja mengetahui kondisi Ibukota dari prajurit.” Itu saran dari Bulan.


“Saya setuju dengan perkataan Bulan,” ucap Itam. Sementara itu, Afro tidak berkata apa-apa. Itu berarti dia setuju dengan saran Bulan.


Mereka bertiga pun melangkah ke arah Kerajaan, saat mereka baru tiga langkah melewati gundukan yang paling besar. Tanah tempat mereka berpijak bergetar hebat, getarannya adalah yang terhebat dari getaran yang sebelumnya.


Hal tersebut membuat para pengungsi yang berada di halaman Kerajaan ketakutan setengah mati, karena setengah diantara mereka hanyalah penduduk biasa. Sementara, sisanya adalah petarung, para murid yang akan mengikuti turnamen Kerajaan dan para petarung yang ingin menonton.


Sementara itu, orang-orang yang terdapat pada ruang perjamuan. Mulai membahas getaran yang sudah terjadi beberapa waktu ini. Sang Raja hanya bisa sebatas menjelaskan, bahwa hal tersebut adalah perbuatan monster dan tidak lebih.


Hal tersebut diakibatkan oleh pemblokiran informasi yang dilakukan oleh tangan kanannya sendiri, selama perjamuan.

__ADS_1


Disaat yang sama di luar Kerajaan, ketiga komandan hanya bisa terpaku melihat Cebures yang semakin bertambah kuat. Dengan tubuh yang kini seukuran mereka, udara sekitar mereka lagi-lagi menghilang. Bukan, itu semua bukan disebabkan oleh kekuatan Cebures. Tapi, karena reflek tubuh mereka yang ketakutan dengan kekuatan yang dipancarkan oleh Cebures.


__ADS_2