Black Shadow

Black Shadow
Keanehan


__ADS_3

Pertarungan keduanya terus berlangsung, jika dilihat secara sepintas memang murid dari perguruan laskar biru yang lebih mendominasi pertarungan diantara keduanya. Tapi, kalau dilihat secara seksama murid dari perguruan tapak merah adalah petarung yang cerdas.


 


Hal itu, bisa dilihat bagaimana dia mempermainkan alur pertarungan seperti saat ini, lawannya terlihat menang, tapi sebenarnya kalah.


 


“Apa kau masih merasa lebih hebat dariku? Lihatlah, kau jelas terlihat kelelahan. Sudah seperti orang yang habis maraton saja.” Murid dari Tapak merah menahan tawa.


 


Murid dari perguruan Laskar biru tidak menghiraukan perkataan lawannya dan terus menyerang, rasa sombong di hatinya belum mengecil juga. Bahkan, rasa sombongnya semakin membesar. Dia juga meremehkan murid dari perguruan Tapak merah, karena menurutnya lawannya hanya bisa membual saja.


 


Pukulan dan tendangan yang dilancarkan oleh murid perguruan Laskar biru dapat dihindari oleh lawannya, tanpa kewalahan sedikitpun. Lain cerita dengan murid dari perguruan Laskar biru yang sudah kelelahan dari tadi. Kecepatan gerakannya juga sudah menurun drastis.


 


“Hei, ada apa? Kau sudah kelelahan yah. Hayuyuyu, kasihan anak orang padahal masih muda.” Mendengar ledekan lawannya membuat emosi murid perguruan Laskar biru meledak seketika, rasa lelah yang dirasakan sirna begitu saja.


 


Dia bahkan mengeluarkan jurus jarum yang dipersiapkan untuk turnamen nanti, tapi malah dikeluarkan karena emosi sesaat. Tentu ini kerugian baginya, karena telah menunjukan salah satu kartu as miliknya hanya untuk hal konyol yang seharusnya tidak diperlukan.


 


Sementara itu, murid dari Tapak merah terlihat kalabakan menghindari jarum-jarum kecil yang mengarah padanya. Jarum-jarum ini seakan memiliki naluri, bergerak sendiri mengejar lawan ke mana pun dia pergi.


 


Murid dari perguruan Tapak merah terlihat menyesal, dia tidak menyangka ledekannya akan berimbas buruk. Lihatlah, dia harus mengeluarkan usaha keras hanya untuk menghindari setiap jarum yang datang padanya.


 


“Saya harus mencari cara untuk menghentikan jarum-jarum ini,” pikir murid perguruan Tapak merah. Seketika seperti sedang mendapat limpahan emas, murid perguruan Tapak merah tersenyum lebar.


 


Kemudian, dia berputar ke sana-ke mari hampir sama dengan sebelumnya yang membedakan adalah raut wajahnya, kali ini terlihat sangat cerah dengan senyuman lebar di wajahnya. Secara tiba-tiba dia berlari ke arah murid Laskar biru.


 


Murid Laskar biru tertawa heboh sejak tadi, lalu berkata, “mau ke mana kau? Dasar bodoh ke mana pun kau berlari jarum-jarumku akan mengikutimu. Hahaha.”


 


Tapi, saat murid Tapak merah berhenti di hadapannya dan tersenyum meledak padanya, membuat raut wajah murid Laskar biru pucat fasih, karena dia mengerti maksud senyuman meledek itu. Dengan cepat, dia menghentikan jurusnya. Jarum-jarum yang sebelumnya bergerak cepat tiba-tiba jatuh ke lantai arena begitu saja, tak lagi bergerak sama sekali.

__ADS_1


 


“Ada apa? Mengapa kau menghentikan jarum-jarum yang kau banggakan itu? Oh, saya tahu__ saya tahu. Kau... Hahaha.”


 


Murid Laskar biru menggertakkan gigi, kesal terhadap lawannya. Dia melayangkan sebuah pukulan, namun dapat dihindari dengan mudah. Dari sudut matanya, dia melihat lawannya mengerahkan tendangan ke arah dagu.


 


Murid Laskar biru tidak sempat menghidari tendangan tersebut, akibatnya dia salto belakang karena kerasnya tendangan yang diterima. Darah mengalir dari sudut bibir, dihapus dengan punggung tangan.


 


Murid Laskar biru memendam emosi yang membuncah, namun apalah daya kemampuan tak sepadan dengan emosi yang dimiliki. Murid Laskar biru, terhanyut dalam lamunan tanpa menyadari bahwa lawannya sedang bergerak untuk menyerang.


 


Murid Laskar biru terlempar ke samping, akibat pukulan yang mengenai pipinya. Darah segar keluar dari mulutnya, tidak banyak karena darah tersebut dari lapisan kulit  dalam mulut yang robek. Dia mengatupkan rahang. Merasa sakit pada wajah, dia memegangnya terasa kebas.


 


Murid Laskar biru mencoba untuk berdiri, menyapu sekitar dengan tatapannya. Tanpa disadari oleh siapapun mata yang dimiliki oleh murid Laskar biru berubah menjadi merah sepenuhnya, dia juga kehilangan kendali atas dirinya sendiri.


 


 


“Kau mencariku?” Belum sempat murid Tapak merah menolehkan tubuh, dia sudah terhempas terkena sesuatu yang menghantam wajahnya dengan begitu kuat.


 


Murid Tapak merah yang masih terhempas, kini tiba-tiba terhantam sesuatu pada dadanya dan terhempas menghantam lantai arena. Semua penonton yang berada di tribun hanya bisa menganga melihat kejadian tersebut, karena mereka tidak melihat sama sekali sesuatu yang menghantam murid Tapak merah.


Hanya beberapa orang saja yang samar-samar melihat bayangan menghantam murid Tapak merah.


 


Sementara itu, para penonton berbisik-bisik setelah melihat murid Laskar biru terlihat menginjak kepala lawannya. Terlihat lawan murid Laskar biru mengeluarkan banyak darah dari mulutnya, tiba-tiba tawanya pecah memenuhi arena turnamen.


 


“Bagaimana dia menjadi kuat seperti itu secara tiba-tiba?” ucap salah satu penonton yang menduga hal yang menimpa murid Tapak merah adalah perbuatan murid Laskar biru. Karena toh, hanya mereka berdua yang berada di atas arena.


 


“Apa dia menyembunyikan kemampuannya sejak tadi? Jika benar dia benar-benar mempermainkan lawannya dengan sangat baik. Kukira awalnya memang murid dari Laskar lebih kuat, tapi setelah beberapa saat keadaan berbalik.”


 

__ADS_1


“Dan sekarang lagi-lagi keadaan berbalik lagi, yang menguasai pertarungan saat ini adalah murid dari Laskar biru.”


 


Puas dengan tawanya, dia menjauhkan kakinya dari kepala lawannya. Jika kau pikir hanya sampai di situ, maka kau salah besar. Karena murid Laskar biru, melayangkan pukulan yang bertubi-tubi ke arah wajah lawannya.


 


Hal tersebut membuat mata yang menyaksikan, hanya bisa menahan nafas. “Hei, bukankah itu sudah melewati batas.”


 


“Benar itu sudah melewati batas, jika tidak dihentikan maka murid dari perguruan Tapak merah akan berpindah alam.”


 


Yan juga ikut terperanjat melihat peningkatan kekuatan yang diperlihatkan oleh murid Laskar biru sungguh tidak wajar, dia tahu yang membuat murid Tapak merah terpontang-panting tadi adalah murid Laskar biru. Karena melihatnya cukup jelas tadi.


 


Yan tidak menyangka, bahwa perhitungannya salah besar dan si Cebol menebak dengan benar. Akan tetapi, Yan seakan tidak terima dengan hasil yang dilihatnya. Lihatlah, murid Tapak merah tersebut sedang menjadi bulan-bulanan lawannya, walaupun bisa dikatakan itu sudah keterlaluan.


 


Tapi, Yan tidak ingin terlibat masalah. Jadi, dia enggan membantu toh, masih banyak peserta lain yang bisa memisahkan murid Laskar biru dari lawannya. Yan sudah lelah dengan semua masalah yang menimpanya akhir-akhir ini.


 


Sementara itu, murid Laskar biru benar-benar menjadikan lawannya sebagai sam-sak tinju. Dengan tawa yang menggelegar, dia terus menghantam tubuh Murid Tapak merah. Seluruh tubuh murid Tapak merah telah dipenuhi darah, bahkan jubah yang dikenakan sudah dipenuhi juga.


 


Para peserta di tribun berkata ini-itu seakan mereka sudah membantu murid Tapak merah. Hei, jika ingin membantu seharusnya mereka turun ke arena dan memisahkan murid Laskar biru dari lawannya, bukan malah mengoceh sana-sini tidak jelas.


 


Murid Tapak merah dicekik lehernya dan diangkat ke udara, sementara lawannya menyiapkan serangan terakhir. Hal tersebut dapat dilihat dari tenaga dalam yang terpusat pada pukulan yang akan dikerahkan kepada murid Tapak merah.


 


Sesaat sebelum mengerahkan tinju pada murid Tapak merah, dia mendengus keras dan melayangkan pukulan yang sangat kuat. Namun pukulan tersebut tak mengenai apapun, tangan murid Laskar biru berhenti sebelum menyentuh lawannya.


 


Pergelangan tangan yang digunakan untuk serangan terakhir dicengkram begitu oleh seorang pria tua dengan setelah pakaian serba putih, rambut, alis berwarna putih juga. Dia menarik lengan murid Laskar biru yang mencekik murid Tapak merah dan merebutnya.


 


Setelah itu, dia memutar tubuh murid Laskar biru ke udara dan membantingnya kuat. Tindakan tersebut membuat para peserta yang berada di tribun menahan nafas sejenak. Bantingan yang dilakukan oleh pria tua tersebut sangat kuat terbukti dari arena yang sedikit hancur dan menimbulkan kepulan debu di sekitar mereka.

__ADS_1


__ADS_2