
Gin sudah bergerak bebas, beraktifitas seperti biasa. Dia dan Si Tua Gila sudah pindah, mereka saat ini berada di rumah Si Tua Gila yang berada di Ibukota. Hanya saja, rumah itu sangat sederhana dibandingkan gedung lainnya. Hanya ada empat ruangan di rumah itu. Ruang tamu rangkap dengan ruang obat, kamar, dapur, dan toilet.
Meskipun sederhana, rumah ini hanya menerima tamu yang memiliki kepentingan berobat dan orang istana saja, selain itu akan diusir mentah-mentah oleh Si Tua Obat. Tidak toleransi tentang hal tersebut.
“Hei, Bocah cepat ambilkan tanaman gingseng gyros. Aich, dasar Bocah tidak berguna! Ini gingseng batu, bukan tanaman gyros.” Gin hanya bisa menghembuskan nafas kesal, selama satu minggu ini dia harus menjadi jongos Si Tua Obat.
Terlambat satu menit saja, Si Tua Obat akan mengomel terus-terusan tidak berhenti sedikitpun. Tidak ada jeda. Mengungkit dirinya telah menyelamatkan nyawa Gin. Kalau sudah begitu, Gin hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
Dia hanya bisa bernafas lega, ketika Putri datang berkunjung. Si Tua Obat tidak berani memerintah dirinya, Gin memanfaatkan momen itu untuk beristirahat dari kekejaman Si Tua Obat yang selalu menyuruhnya tanpa perasaan. Selalu mencak-mencak, jika salah mengambil tanaman obat. Mengatainya tidak berguna, tidak punya otak. Hei, masalahnya tanaman obat yang ada di ruangan tersebut ada ribuan jenis. Bagaimana dia akan menghafal itu semua?
Daya ingat Gin memang luar biasa, tapi banyak obat yang hampir mirip bentuknya. Hal tersebut yang sering membuatnya salah mengambil.
Gin kalangkabut, mencari disetiap laci yang ada. Cukup banyak yang dibuka, akhirnya ketemu juga tanaman obat yang dicari gingseng gyros. Gin menyerahkan tanaman tersebut pada Si Tua Obat, tidak ada senyum yang terpancar dari Si Tua Obat. Wajahnya begitu datar.
Pada saat Gin akan beristirahat, dia baru saja duduk. Si Tua Obat sudah berteriak lagi. “Hei, Bocah! Jangan bersantai saja. Cepat ambilkan tanaman tuyon, jangan sampai salah!”
Gin hampir saja kelepasan mengumpati Si Tua Obat. Untungnya, dia masih bisa menahannya. Dengan lesuh dia menuju laci yang menyimpan tanaman tersebut. Dia mengambil dua tanaman obat.
Begitu Si Tua Obat menerima tanaman obat, dia mengumpat keras. “Mengapa kau mengambil dua tanaman, Bo...”
Belum selesai ucapan Si Tua Obat, dia melirik ke arah pintu. Putri sedang berkacak pinggang, menatapnya tajam. “Aich, Nak Gin sudah kubilang, kau harus beristirahat. Kau malah memaksakan diri untuk membantuku.”
__ADS_1
Gin terperangah dengan perubahan sikap Si Tua Obat yang sangat mendadak. Si Tua Obat sampai memegang pundaknya. Merasa ada yang aneh, Gin menyisir setiap sudut ruangan tersebut. Matanya tertuju pada Putri.
“Pantas saja, orang tua ini tiba-tiba baik padaku. Ternyata, ada Putri.” Gin mangut-mangut, mengerti dengan situasi. Dia tersenyum sinis.
“Eh, Si Tua Obat tidak lagi mau menyuruhku untuk mengambil tanaman obat?” Gin menaik turunkan alisnya di hadapan Si Tua Obat.
Si Tua Obat yang mendapat perlakuan seperti itu, menatap nyalang pada Gin. Hal tersebut membuat Gin terbahak setengah mati.
“Dasar Bocah sialan! Awas saja nanti. Cepat pergi temui Putri.” Si Tua Obat berbisik pada Gin. Matanya tetap membulat besar, sebagai tanda ancaman.
Gin dengan masih sedikit tertawa menghampiri Putri. Dia memandu Putri ke meja di ruangan tersebut. Mereka duduk sambil berbincang hangat, keduanya akrab satu sama lain.
Perbincangan mereka cukup lama, sesekali Si Tua Obat lewat untuk mengambil kebutuhan tanaman yang diperlukan. Setiap kali lewat, dia akan melirik ke arah Gin.
Putri mengangguk mantap. Tentu saja, Gin berbisik dengan sangat pelan. Agar tidak terdengar oleh Si Tua Obat yang sedang bersungut-sungut mengambil tanaman obat.
Si Tua Obat mendengus dan membuang muka, saat bertatapan dengan Gin. Kelihatannya, dia dalam suasana hati yang buruk. Lagi-lagi Gin harus menahan tawa.
“Kamu ikut saya. Kita akan sedikit berjalan-jalan.” Putri mengajak Gin untuk berjalan-jalan. Gin sempat menoleh ke arah Si Tua Obat, tapi karena dia kelihatan tidak peduli. Gin menyanggupi ajakan Putri.
Mereka berjalan bersisian di tengah keramaian Ibukota. Tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Putri berjalan sambil lompat-lompat, sepertinya suasana hatinya sedang baik.
__ADS_1
Gin mengenali jalan ini, dia sangat familiar dengan tempat-tempat yang mereka lewati saat ini. Gin tahu betul tujuan mereka, yaitu sebuah kanal yang ditumbuhi oleh pohon bunga flamboyan di sekitarnya.
Sebentar lagi, mereka akan tiba. Gin cukup menyukai tempat tersebut. Begitu menyenangkan berada di sana, tempat yang sejuk dan indah. Jika ingin menenangkan pikiran, Gin selalu menyukai memandangi kanal yang dihiasi oleh bunga flamboyan yang berjatuhan.
Ketika mereka tiba, hal pertama yang dilakukan oleh Gin adalah melompat. Duduk di batu besar, selalu menyenangkan untuk duduk di batu besar tersebut. Sementara itu, Putri bersiul pelan. Terdapat sebuah kotak kue di tangannya, mereka sempat mampir ke toko kue tadi. Hanya untuk membeli makanan kesukaan elang tersebut.
Kehidupan elang tersebut benar-benar sejahtera, makanannya saja dari kue paling mahal di kota tersebut. Bahkan di Seluruh Kerajaan Selatan, tidak heran.
Suara elang memenuhi sekitar, menggema beberapa kali. Gin mendongak, dia melihat elang tersebut sedang mengitari mereka, tepat berada di atas kepala mereka. Untung saja, elang tersebut tidak sedang usil, menjatuhkan kotorannya di kepala Gin.
Gin menampakkan sedikit senyum, dia sudah jarang menampakkannya. Kejadian itu yang membuat senyumnya seakan menghilang. Suara elang tersebut bergema lagi, semakin besar.
Elang tersebut terbang di dekat Putri Mutia. Dia seakan tahu, jika Putri Mutia akan memberinya makan. Burung elang tersebut nampak senang, dia terus mengeluarkan suara yang memenuhi sekitar.
Putri mengajak Gin untuk menunggangi elang tersebut. Ini sudah kedua kalinya. “Selalu menyenangkan terbang dengan elang ini.”
Mereka tidak mengitari Ibukota saja, namun terbang lebih jauh ke atas. Keduanya tertawa lepas, seakan waktu sedang berhenti. Elang tersebut terbang, hingga menembus awan, matahari sore begitu indah dari atas. Berwarna orange, sebentar lagi akan terbenam. Keduanya terpukau dengan pemandangan indah tersebut, elang tersebut seakan mengerti. Dia terbang perlahan, menghadap matahari sore. Ikut menikmati indahnya senja yang kian menyingsing.
Hati Putri Mutia terasa tenang dan hangat. Dia sangat menyukai pemandangan di hadapannya, sampai lupa dengan sesuatu yang sangat penting.
Mereka mengitari hutan Ibukota, melihat bekas pertempuran. Terdapat tiga tempat yang membuat Putri Mutia terkejut, yaitu hutan es-api, lubang setengah lingkaran bisa dibilang lahan tandus yang hanya terdapat tanah gersang. Terakhir adalah lubang raksasa yang begitu gelap, seperti tanpa ujung. Gin ikut terkejut, karena hal tersebut.
__ADS_1
“Apa lubang ini sudah ada sebelum kekacauan beberapa waktu yang lalu?” Gin bertanya serius pada Putri Mutia. Dia menatap kosong lubang tersebut, juga pohon-pohon yang terpotong rapi dan rata oleh pedang.