
Yan berada di ruang tabib yang ada di bangunan arena turnamen. Ruangan tersebut cukup luas, hanya saja penuh dengan bau tanaman obat. Cukup menyengat.
Dia sudah semalaman tidak sadarkan diri, sepaket langsung tidur. Lumayan. Menghemat energi, Si Jubah Hitam sepertinya membantu Yan untuk tidur lebih cepat, sudah beberapa malam ini susah tidur.
Seorang tabib Kerajaan sedang berkutat dengan tanaman obatnya, di sudut ruangan. Banyak tanaman obat langka yang diletakkan di atas meja. Di ramu dengan sangat teliti dan cermat. Tak ingin ada kesalahan sedikitpun.
Dia akan mengalami kerugian besar, jika terjadi kesalahan. Walau sedikit saja. Keringat membasu, saat dia akan mencampurkan bahan terakhir yang telah dibuat cair. Tidak banyak, cukup setetes. Tidak lebih, juga tidak boleh kurang.
Begitu meneteskan bahan terakhir, dia tabrak oleh sesuatu dari belakang. Alhasil, ramuan obat buatannya tumpah, gagal total. “Tidakkkkk!!!”
Ternyata pelakunya adalah Yan yang masih belum pulih betul. “Kau, kembalikan ramuanku. Kembalikan ramuan seperti semula. Karena ulahmu, ramuan mujarab gagal total. Semua usaha selama satu minggu penuh ini gagal, hanya dengan kecerobohanmu. Saya jadi menyesal menerimamu semalam. Ada baiknya membiarkanmu tak sadarkan diri untuk selamanya.” Si Tua Obat mencak-mencak. Penampilannya yang unik menjadi ciri khasnya. Berantakan, satu definisi yang menjelaskan tentang penampilannya.
Tubuhnya memiliki bau berbagai jenis tanaman obat. Yan tidak masalah tentang itu, hanya saja saat ini lehernya sedang dicekik oleh Si Tua Obat. “Saya harus membunuhmu sekarang, sebelum kau membawa masalah lain untukku. Eh, apa sedang kulakukan barusan?”
Itulah keunikan dari Si Tua Obat, gampang lupa. Faktor umur. Hampir semua hal mudah dilupakan, hanya beberapa tidak. Salah satunya tentang hal obat-obatan.
Yan heran dibuatnya, menghirup udara sebanyak mungkin. Hampir kehabisan nafas, karena tercekik. Dia mencari pintu keluar, muak dengan bau obat-obatan yang menyengat hidung.
“Kau sudah sadar. Maaf, saya sempat melupakanmu. Saya dibuat takjub dengan regenerasi tubuh. Padahal banyak luka dalam yang parah, saya bahkan sempat mengira kau akan sadar satu minggu lagi. Sangat menakjubkan.” Si Tua Obat menepuk-nepuk bahu Yan. Menggiringnya ke tempat tidurnya tadi.
“Iya. Beberapa saat yang lalu, Kek.” Yan menjawab dengan senyum.
“Kau boleh memanggilku Si Tua Obat. Orang-orang sering memanggilku seperti itu.” Si Tua Obat sembari memberi arahan pada Yan untuk berbaring.
“Kau berbaringlah, saya harus memeriksa tubuh kembali untuk memastikan kondisimu.” Si Tua Obat mengeluarkan energinya. Si Tua Obat, seperti ketakutan setengah mati. Dia seperti habis melihat sebuah mata serigala tadi. Bahkan sempat merasa kedinginan.
“Ada yang salah denganku?” Yan bertanya heran. Si Tua Obat menggeleng. Dia sampai terjatuh saat ingin mundur. Dalam posisi tersebut dia mundur dengan bantuan tangan dan kakinya.
Yan merasa heran dengan Si Tua Obat. Menurutnya orang tua itu sangat aneh. “Kau keluar, luka di dalam tubuhmu sudah tak ada lagi. Hilang.
Dia beranjak, “Di mana pintu keluarnya, Si Tua Obat?”
“Kau lurus, belok kanan, lurus belok kiri. Kau akan menemukan pintu di sana. Hei, ruangan ini tidak terlalu besar. Di sana pintu keluarnya.” Si Tua Obat mengomel, lupa dengan kejadian yang baru dialaminya. Dia menunjuk ke arah pintu keluar.
Yan mengangguk mantap, dia berjalan cepat. Membuka pintu.
__ADS_1
Dia samar-samar suara teriakan, arahnya dari arena turnamen. Akhirnya, Yan berjalan ke arah tersebut. Dia tidak kaget lagi, melihat arena yang sudah kembali seperti sebelumnya. Sudah diperbaiki.
Di atas turnamen sedang terjadi battle royal. Lima puluh orang sedang bertarung di bawa sana, saling menyerang, saling menyingkirkan untuk bertahan. Karena yang dibutuhkan masuk babak selanjutnya adalah empat orang pergroup.
Yan mencoba mengamati pertarungan yang ada di arena. Membosankan. Tidak ada yang menarik untuk dilihat, pesertanya lemah-lemah. Dari perguruan kecil, bahkan terlihat dua perempuan di sudut sana sedang tarik-tarikan rambut. Para penonton bersorak menyemangati.
Yan ingin meninggalkan tribun, tapi matanya melihat sesuatu yang menarik. Seorang peserta yang sejak tadi hanya duduk di tengah arena, kini berdiri. Matanya tajam menyapu arena turnamen.
Dia mulai bergerak menyerang peserta yang menghalangi langkahnya, cukup sekali pukul. Peserta tersebut jatuh pingsan, tidak sadarkan diri.
Dengan tidak peduli peserta lain sedang bertarung, dia menyerangnya. Membuat mereka pingsan seketika. Dalam hitungan menit, dia mampu mengalahkan setengah dari jumlah peserta awal.
Menguap beberapa kali, karena tidak ada lawan yang sebanding dengannya. Sementara perempuan yang sedang jambak-jambakan tadi, salah satunya merasakan energi yang cukup besar.
Dia berhenti menjambak lawannya. Memilih untuk meraih tangan yang menarik rambutnya, memilinnya dan menendang lawannya hingga membuatnya terpental keluar arena.
Yan tertegun melihat hal tersebut. Dia tidak menyadari kekuatan perempuan itu sejak tadi. “Rupanya, terdapat beberapa monster di group B yang menyamarkan kekuatannya diantara peserta pecundang.”
Yan batal meninggalkan tribun, tertarik untuk menonton pertarungan menarik yang akan terjadi di atas arena.
“Hai, itu salam perkenalan dariku. Saya berasal dari perguruan Tanah Hitam. Saya bernama Ahu.” Perempuan tersebut melambaikan tangan ke arah pria di hadapannya.
“Gul. Dari perguruan Tombak Emas.” Dengan senyum menghina. Gul bergerak cepat, muncul di hadapan Ahu. Dia melesatkan sebuah tendangan, tapi dapat dihindari oleh Ahu.
Tiba-tiba di seluruh arena muncul kabut yang sangat tebal. Entah berasal dari mana? Namun hal tersebut mengganggu penglihatan para peserta.
“Cih, sepertinya saya satu group dengan orang-orang itu. Saya terlalu meremehkan group B ini, hingga tidak memeriksa semua peserta yang ada di group B.” Gul bergumam dalam hati. Dia merasa semua akan sangat merepotkan, jauh lebih merepotkan dari perkiraannya.
“Groub B yang sebenarnya baru akan dimulai.” Raja menonton dari tribun VIP. Dia sejak tadi menguap bosan menunggu, sama seperti para panitia.
Para petinggi Kerajaan mengangguk setuju, sependapat dengan Raja. Mereka tidak sabar menanti, generasi muda saat ini membuat mereka semangat.
Gul bergerak maju, dia menggunakan nalurinya. Pandangannya terbatas. Mengerahkan pukulan pada Ahu, namun serangan tersebut dapat ditangkis. Keduanya saling menyerang satu sama lain, balas-membalas. Tidak ada yang mau mengalah.
Para penonton kebingungan. Tidak bisa melihat arena turnamen secara langsung. Terdapat kabut tebal yang menghalangi pandangan mereka.
__ADS_1
Pada saat Gul dan Ahu saling menyerang, saling balas-membalas pukulan. Muncul seseorang menghajar keduanya, membuat mereka terhempas cukup jauh.
Orang yang menyerang keduanya berasal dari perguruan Tombak Emas. Dia tertawa keras, suaranya terdengar hingga ke seluruh arena turnamen.
Tiba-tiba tubuhnya terpental, terkena serangan yang datang dari belakangnya. Dia berasal dari Klan Embun.
Pertarungan dari keempat peserta tersebut, saling menyerang satu sama lain. Menyingkirkan mereka yang menghalangi, tanpa peduli. Pertarungan keempat peserta tersebut, sangat sengit. Terjatuh, bangkit lagi. Menyerang dengan segenap kekuatan.
Mereka memiliki pikiran yang sama, yaitu lolos ke babak berikutnya. Mereka benar-benar gila, tidak ada yang mampu menghentikan mereka. Peserta lain yang sedang bertarung, pasrah harus terlempar, atau diserang hingga tidak sadarkan diri.
Mereka tidak menyadari tidak ada lagi peserta di atas arena, selain mereka bertiga. Wasit turnamen menghentikan pertarungan mereka dengan masuk di tengah-tengah keempat peserta tersebut, saat mereka akan saling menyerang.
Kabut yang memenuhi arena, semakin menipis. Tidak ada yang tersisa lagi. Para penonton yang melihat peserta di atas arena hanya tinggal tiga orang, sementara yang lain pingsan dan keluar. Mereka kebingungan dengan hal tersebut. Hanya sementara, sampai akhirnya mereka bersorak.
***
Di tempat lain, halaman belakang istana. Gin sedang berlari, tidak cepat. Bahkan bisa di bilang lambat. Dia tidak lagi mengangkat batu besar, tidak mampu. Jangankan terangkat, bergeser seinci saja, tidak. Pelik memang, membuat Bulan memijat kepalanya.
Merasa Gin terlalu lemah. Bagi bulan, Gin hanya akan menjadi sam-sak peserta lain. Tidak akan bisa lanjut ke babak selanjutnya, bertahan lima menit saja. Bulan tidak yakin.
Bulan menggelengkan kepala melihat kemampuan lari Gin. Dia berlari di atas batu kecil, batu tersebut terus muncul di mana kakinya melangkah. Tidak putus. Sejauh apapun, dia berlari. Peluh membasahi tubuhnya, dia merasa pakaian yang diberikan oleh Putri telah bau oleh keringatnya. Dia memang kurang nyaman dengan pakaiannya sekarang, lebih nyaman dengan pakaiannya sendiri.
“Setidaknya, saya bisa berlari sekarang. Berbeda dari sebelumnya, berjalan saja sudah setengah mati.” Gin berusaha berlari lebih kencang. Tubuhnya, kini mulai terbiasa. Beradaptasi dengan gravitasi level empat yang berasal dari gelang.
“Masih terlalu lambat, Gin. Lebih cepat.” Putri yang memberitahu Bulan tentang namanya, Gin merupakan peserta turnamen juga.
Gin sudah pada batas kecepatannya, belum bisa berlari lebih cepat. Berlari terus. Nafasnya sejak tadi tersengal ingin minum, tapi tidak diperbolehkan.
Dia berusaha mencari akal, seperti mencoba untuk pura-pura terjatuh ke dalam sumur. Tapi, begitu dia mendekati sumur. Tubuhnya menabrak sesuartu.
Dia mengelus keningnya, sepertinya terdapat benjol di sana.
Bulan dan Putri yang melihat dari cukup jauh, terbahak. Mereka tidak menyangka, Gin akan mendekati sumur tersebut.
Bulan berpikir sejenak, “Temanmu itu terlalu lemah, Mutia. Saya bingung harus melatihnya, seperti apa? Lihatlah, dia berlari sejak tadi, tapi tidak ada perkembangan. Ada satu, sebenarnya. Dari yang malas berlari, hanya berjalan lesuh, jalan, kemudian sedikit berlari dan akhirnya berlari seperti itu.”
Putri menghembuskan nafas, “Dia tidak lemah, Guru. Bahkan, dia kuat. Memakai gelang gravitasi dan menyetelnya ke level tiga.”
__ADS_1
“Apa kau bilang?!” Bulan berteriak kaget.