Black Shadow

Black Shadow
Ibukota


__ADS_3

Yan sedang duduk santai di depan kedai teh yang sederhana. Meski dalam ibukota, tapi tetap saja masih ada kedai sederhana. Akan tetapi, jangan salah dengan tampilannya saja. Walaupun kedai tersebut kecil dan pelanggannya hanya dibiarkan duduk di luar yang beratapkan daun kelapa saja.


Kedai tersebut adalah yang paling laris di ibukota, bahkan Raja selatan sering kali memesan teh dari kedai tersebut melalui prajuritnya. Letak kedai tersebut tidak jauh dari gerbang kota, terlihat banyak murid dari berbagai perguruan yang berlalu-lalang. Hal tersebut nampak dari baju yang mereka gunakan.


Yan benar-benar sedang menikmati waktu santainya, sejenak berpikir seperti melupakan sesuatu yang sangat penting. “Sepertinya, saya melupakan sesuatu, tapi apa?” Yan berpikir keras, mencoba mengingat-ingat.


“Ah, sudahlah. Nanti juga teringat sendiri,” ucap Yan sambil menepuk meja, pelan. Dia melanjutkan kegiatannya menyeruput teh yang terasa begitu nikmat.


Tiba-tiba saat Yan sedang keasyikan melamun, air teh dalam cangkirnya bergetar. Menandakan tanah bergetar, meja yang di tempati Yan ikut bergetar. Walaupun setiap getarannya terdapat jeda beberapa detik, tapi tetap saja. Hal tersebut mengejutkan.


Tidak hanya meja Yan yang mengalami getaran, tapi meja-meja pengunjung lain juga. Hal ini menimbulkan keresahan. Bahkan di seluruh ibukota, Yan yang sedang asyik melamun tidak menyadari getaran yang menimbulkan keresahan banyak orang.


Seketika, dia tersadar saat getaran tersebut semakin kuat. Semakin lama, semakin kuat. Mata Yan membulat sempurna, mulutnya terbuka lebar, serta menjerit histeris saat melihat ke arah gerbang kota.


Nampak Gin yang sedang menunggangi Madei yang sedang dikejar-kejar oleh Cebures, Yan baru mengingat, bahwa dia telah meninggalkan Gin seorang diri. Yan mengutuk diri sendiri, “Betapa bodohnya saya. Mengapa pula sampai melupakan si bodoh itu? Lihatlah kekacauan yang akan dia perbuat di ibukota.”


Penduduk kota tunggang-langgang berhamburan ke segala arah, setelah melihat kedatangan Cebures. Hanya yang memiliki kemampuan bertarung yang tetap berada di sekitar gerbang, Yan memijat kening yang terasa akan pecah.


Cebures dengan mudah menghancurkan gerbang kota dengan mudah, hanya dengan menabrakkan tubuhnya ke gerbang dan bum! Gerbang tersebut lubruh seketika. Yan tidak pernah menyangka , jika Gin akan membawa Cebures ke dalam kota.


Lihatlah tampangnya, dia tidak memasang sedikit pun raut wajah penyesalan. Bahkan, dia memasang senyuman terlebar yang dimiliki. Pada saat Gin turun dari Madei, kepalanya langsung mendapat sebuah jitakan yang amat keras.

__ADS_1


“Aich, cicicicici. Hei, itu sakit,” ringis Gin menunduk memegang kepalanya yang kesakitan.


“Itu untuk kebodohan yang kau perbuat. Bisa-bisanya, kau membawa monster itu ke sini.” Yan mencak-mencak sampai tak sadar air liurnya ke mana-mana.


Bukannya menyesal malah Gin tersenyum bangga sambil membusungkan dada, dan berkata, “bukan bodoh, tapi cerdik. Hei, saya bisa saja mati konyol di dalam hutan, kalau tidak berlari. Lagipula, kondisi di sini sesuai dugaanku.”


“Sesuai dugaanmu bagaimana?” Yan menjerit. Sementara mereka berdebat, beberapa orang petarung yang dibantu oleh beberapa prajurit Kerajaan yang kebetulan patroli dan sedang dapat jaga gerbang.


Mereka semua kewalahan menghadapi Cebures. “Bukan hanya sesuai dugaan, tapi melebihi itu. Lihatlah, kukira dari kejauhan kota ini kecil. Tapi ternyata kota ini adalah ibukota dan tentu di sini banyak orang hebat, bukan?!”


Yan meremas rambut frustasi mendengar jawaban Gin yang begitu santai. “Apa kau tidak sadar, kau telah membuat kekacauan yang luar biasa di sini, hah?” Gin hanya menggeleng.


Tiba-tiba Yan melihat Cebures mengarahkan pukulannya ke Gin, untungnya Yan dengan sigap meninjunya dan membuat Gin terhempas jauh. Yan bergerak dengan cepat menghindari serangan Cebures.


Cebures geram, pukulannya tidak mengenai sasaran. Tapi meski begitu, halaman kedai teh yang disediakan untuk para pelanggan hancur lebur, tak bersisa. Sepertinya, monster tersebut menyimpan dendam besar kepada Gin. Lihatlah, jelas-jelas para prajurit kerajaan sedang menyerangnya habis-habisan, tapi matanya sibuk mencari Gin.


Meski begitu serangan para prajurit tidak memiliki dampak sama sekali, bahkan hanya seperti gelitikan bagi Cebures.


Gin yang kesal terhadap Yan menghampirinya dengan gerakan yang cepat. “Apa kau ingin membunuhku? Sebelumnya kau meninggalkanku sendirian melawan Cebures di tengah hutan dan sekarang? Hei, kau jelas-jelas memukulku begitu keras.”


Yan tertawa sembari berkata, “begini, mending kau dapat pukulan dariku atau mungkin kau ingin mencoba pukulan dari monster sialan itu?” Yan menunjuk Cebures yang sedang dikeroyok oleh para prajurit.

__ADS_1


Tiba-tiba sebuah bangunan di samping kedai teh hancur terkena pukulan Cebures, monster itu menyerang secara membabi buta. Mungkin karena serangannya tak mengenai Gin. Akhirnya, monster tersebut melampiaskan seluruh amarahnya kepada segala sesuatu yang ada di sekitarnya.


Satu persatu prajurit yang mengeroyok Cebures terhempas jauh dan kehilangan nyawa begitu saja. Hal tersebut menandakan betapa kuatnya serangan monster tersebut. Gin dan Yan hanya mengamati dari kejauhan.


Mereka berdua jelas ingin membantu, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi Gin yang sejak tadi meronta ingin membantu, tapi tangan dan kakinya sedang terikat oleh akar dari energi Yan, mulutnya juga tertutup oleh daun yang cukup besar. Yan yang mengingat sesuatu, dia cepat mengikat Gin dengan akar yang tercipta dari energinya.


Dia tak ingin masalah baru, jika membiarkan Gin seenaknya saja. Lihat saja, baru juga dilupakan beberapa saat. Dia sudah membuat kekacauan dengan menggiring Cebures ke ibukota.


Yan berpikir sejenak sampai tak menyadari saat ini Cebures sudah berada di hadapannya dan bersiap menyerangnya. Cebures sudah lebih leluasa sekarang, setelah membunuh beberapa prajurit dan juga petarung yang menghalanginya.


Gin yang melihat hal tersebut, meronta-ronta. Berusaha memberitahu Yan dengan rontahnnya, tapi naas Yan malah abai padanya.


Yan yang sedang berpikir keras merasakan ada sesuatu yang sangat bahaya mendekatinya, untungnya dia dengan instingnya menoleh ke depan. Tanpa suara memekik dan bergerak menyeret Gin menghindari serangan Cebures.


Yan sedikit lebih cepat dari Cebures, tapi dia masih terkena sedikit angin yang cukup kuat menghempaskan mereka berdua. Naas bangunan yang dindingnya baru saja ditabrak Gin, kini rata dengan tanah dalam sekejap.


Cebures semakin geram, karena lagi-lagi serangannya tak mengenai sasaran. Monster tersebut melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan gedung toko maupun penginapan dan apapun yang ada di sekitarnya.


Banyak penduduk ibukota yang masih tersisa di sekitar, menjerit hiteris berlari pontang-panting menjauh dari kisaran gerbang kota. Sementara itu, gerombolan para prajurit bermunculan mengepung Cebures.


Para prajurit tersebut berdatangan, tak ada habisnya. Tapi, dilain sisi mereka juga dihabisi satu-persatu tanpa ampun oleh Cebures.

__ADS_1


Tiba-tiba muncul sekelompok orang di atap toko tingkat tiga, mereka berjumlah tiga orang. Ketiga orang ini memiliki posisi yang berbeda-beda ketika muncul. Ada berdiri tegap sambil melipat tangan di depan dada, ada yang langsung berjongkok, ada pula yang muncul sambil mengupil.


__ADS_2