Black Shadow

Black Shadow
Jalan Rahasia


__ADS_3

Arena turnamen penuh dengan kepulan debu yang begitu tebal. Terdapat tiga bayangan peserta yang masih berdiri. Begitu kepulan debu menghilang, terlihat ketiga peserta tersebut, yaitu Rog, Boo, dan Drak. Mereka terluka parah.


 


“Sial, kalau kutahu akan seperti ini. Lebih baik kita saling menyerang tadi, tanpa harus menonton kedua monster tersebut selesai bertarung. Untuk menyingkirkan salah satu dari mereka.” Drak mengumpat. Sementara, Rog dan Boo menyumpah serapahi Raddas dan Lip.


 


Arena Turnamen hancur sebagian. Sudah tak berbentuk. Lip tak sadarkan diri di luar arena, penuh dengan luka. Sementara Raddas terbaring lemah di sudut arena. Dia masih bergerak, hanya saja tak mampu berdiri.


 


Para penonton yang melihat pertarungan tersebut bersorak. Berseru takjub akan pertarungan yang mereka tonton. Satu-dua penonton, bahkan tak merasa rugi menyempatkan waktu untuk menonton turnamen kali ini.


 


“Wow, Si Bocah Api itu semakin kuat saja, Yan.” Gin tak bisa memungkiri, bahwa Raddas telah bertambah kuat. Sejak pertemuan terakhir mereka.


 


“Kau benar, Gin. Dia merupakan lawan yang kuat untuk kita. Tak boleh diremehkan. Bola api raksasa tadi, bahkan panasnya luar biasa. Sampai ke kita.” Yan berbicara serius, tapi tak ada sahutan dari Gin. Dia menoleh, Gin sudah menghilang dari sampingnya.


 


Yan mengumpat, menyumpah serapahi Gin. Dia tak habis pikir dengannya, pergi seenaknya saja. Padahal Yan masih membicarakan hal serius padanya.


 


“Baik. Para hadirin. Turnamen kali ini, benar-benar menakjubkan. Banyak bibit berbakat di Kerajaan Selatan. Sangat mengagumkan. Jujur saja, saya sampai termangu, tak berkedip melihat semua peserta yang bertarung dengan sengit. Saling mengalahkan, agar bisa bertahan hingga akhir. Kalian empat orang terbaik untuk group A. Selamat! Kalian lolos ke babak selanjutnya.” Wasit turnamen berbicara, suaranya memenuhi tribun.


 


Para penonton semakin bersorak.


 


Suara hiruk-pikuk arena turnamen terdengar semakin kecil, Gin sedang ditarik oleh Tuan Putri. Mereka sedang menuju ke suatu tempat. “Kau ingin membawaku ke mana, Iblis Kecil?”


 


“Kau ikut saja, jangan banyak mengeluh. Aku bosan di tempat ini, ingin keluar. Berjalan-jalan di tengah kota, kau temani aku.” Tuan Putri menjelaskan maksudnya pada Gin.


 


“Tapi, saya malas keluar, Iblis Kecil. Tak ada serunya berada di luar sana, lebih enak di dalam sini. Banyak petarung hebat di dalam.” Gin benar-benar tak ingin keluar. Terlebih, dia harus menyiapkan diri. Latihan untuk menghadapi turnamen. Group D sebentar lagi, setelah group B dan C selesai tentunya.


 


“Saya tidak suka penolakan, kalau kau masih tidak mau ikut. Akan kulaporkan pada Ayah, kalau kau melanggar aturannya dengan berkeliaran saat ada larangan keluar.” Gin langsung terdiam, tak bisa berkata-kata. Dia tak menyangka akan mendapat ancaman.


 


Gin menghembuskan nafas, terpaksa mengikuti kemauan Tuan Putri. Mereka berlari kecil, menyusuri lorong. Mereka masuk ke sebuah ruangan, sebuah kamar yang sangat luas dengan banyak benda-benda mahal. Juga terdapat kasur yang sangat besar.


 


“Kau keluarlah dulu, jangan coba-coba kabur!” Saat Gin keluar, pintu kamar tersebut dikunci dari dalam. Sepuluh menit, pintu tersebut terbuka. Kepala Putri menyembul. Wajahnya natural, tanpa riasan sedikitpun. Tapi, dia terlihat cantik seperti itu.


 


“Cepat masuk, sebelum ada penjaga yang mencariku ke sini. Bisa gawat, kalau kita ditemukan.” Gin masuk ke dalam kamar mengikuti Putri.


 


Putri memakai pakaian biasa, lebih tepatnya pakaian seorang pendekar perempuan. Di pinggangnya terdapat pisau kecil. Dia lebih cocok, seperti itu.


 


Putri menuju sudut ruangan, menekan dinding. Lantai kamar terbelah menjadi dua. Tak besar, cukup untuk satu orang lewat. Gin jalan lebih dulu, disusul Putri. “Iblis Kecil, di bawah sini gelap sekali.”


 

__ADS_1


“Kau cerewet sekali. Pakai ini.” Putri menyerahkan sebuah batu giok yang mengeluarkan sinar, cukup untuk menjangkau jarak dua puluh kilometer ke depan. Mereka berdua menuruni tangga dengan perlahan, lantai di atas mereka mulai tertutup secara perlahan.


 


Keduanya menyusuri lorong tersebut dengan santai. Lorong yang cukup panjang, hingga akhirnya cahaya muncul di ujung sana.


 


Gin bergerak lebih cepat, diikuti oleh Putri. Mereka muncul di balik semak-semak, tidak jauh dari gerbang kota. Mereka harus berjalan kaki sejauh lima ratus meter untuk sampai ke kota.


 


Putri berjalan lebih dulu, berjalan sambil lompat-lompat kecil. Dia sangat bahagia berada di luar, tak perlu formalitas seperti saat sedang berada di depan Ayahnya, atau di hadapan para prajurit. Dia tidak suka itu. Dipaksa untuk menjadi orang yang formal, bergerak seperti robot.


 


Gin hanya mengikutinya dari belakang. Tak banyak bicara, daripada dilaporkan. Jadi dia hanya bisa menurut. Terlebih, dia dan Yan sedang dicari-cari oleh Barbara (Tangan Kanan Raja Selatan).


 


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di depan gerbang kota. Gin takjub melihat gerbang tersebut begitu cepat diperbaiki, bahkan lebih baik dari sebelumnya.


 


Putri menyerahkan dua keping perak pada Gin. “Kau berikan uang itu pada penjaga.”


 


Gin menampakkan wajah tak terima. Hei, dia tak suka perbuatan itu. Hal itu bisa mencoreng harga dirinya, tidak peduli jika Putri melaporkannya pada Raja. Cuman turnamen itu saja. “Bukan menyogok. Tapi, memang biaya masuk ke kota. Apa jangan-jangan, kau masuk secara ilegal, ya?”


 


Gin menggaruk kepalanya, tersenyum konyol. Tidak mungkin, bukan? Dia menjawab yang sebenarnya. Masuk ke kota, karena di kejar-kejar oleh Cebures.


 


Putri memicingkan mata, menatap lamat-lamat pada Gin, “Tenang saja, saya tidak akan melaporkanmu pada siapapun. Lagipula itu tak penting bagiku.”


 


 


Dia penasaran dengan kedai tersebut. Sebelumnya, dia melihat Yan duduk di kedai ini, sudah seperti sedang menikmati sesuatu. Jadi dia ingin mencicipi sesuatu itu.


 


“Kenapa kita ke sini? Ini cuman kedai teh biasa. Lebih-lebih kita dibiarkan duduk di luar, seperti ini.” Putri mengeluh. Jangankan Putri, Gin baru tahu kalau tempat tersebut adalah kedai teh. Itu ‘pun dari Putri sendiri.


 


Putri memesan dua cangkir teh, sesekali dia ingin menikmati teh dari kedai kecil. Lagipula, dia sedikit bosan dengan rasa teh Kerajaan yang rasanya itu-itu saja. Tak ada perubahan sedikitpun.


 


Tak lama dua cangkir teh tiba, Putri langsung menyeruputnya. Mata terbuka lebar, meminum tehnya lebih banyak. Tak peduli teh tersebut masih panas.


 


“Ini... benar-benar enak.” Putri berkata takjub. Tak mengira teh seenak itu bisa ada di kedai kecil, seperti ini. Dalam waktu singkat cangkirnya tandas.


 


“Iblis kecil, kau suka dengan teh itu atau sedang haus?” Putri menatap tajam pada Gin. Hal tersebut membuat Gin menelan ludah sendiri.


 


“Hoe, saya tidak haus. Hanya saja, teh ini benar-benar enak. Tak pernah merasakan teh seenak ini.” Putri tak terima dengan perkataan Gin.


 


“Eh, apa tidak ada peracik teh yang bagus di Kerajaan, hingga kau tak pernah merasakan teh yang seenak itu, Iblis Kecil?” Gin bertanya polos, dia tidak sedang mempermainkan Putri.

__ADS_1


 


“Hei, kau sedang meledekku, ya?” Gin menggeleng tegas. Kedai teh itu cukup ramai, banyak dari mereka sedang bercerita tentang turnamen hari ini.


 


Sepertinya, turnamen hari ini. Sangat berkesan bagi mereka. Lihat saja, mereka sangat bersemangat menceritakan turnamen tadi. Menirukan beberapa gerakan peserta.


 


“Kalian menonton turnamen tadi? Bueh, rugi. Jika kalian tidak ikut menonton. Peserta tahun ini, jauh lebih berbakat dari pada tahun-tahun sebelumnya. Para peserta tahun ini bisa disebut generasi emas, Kerajaan Selatan.” Pria berpakaian coklat semangat menjelaskan.


 


“Kau benar! Terlebih turnamen tahun ini, sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Turnamen kali ini memiliki sistem battle royal, karena peserta yang mendaftar jauh lebih banyak dari pada sebelumnya. Di luar perkiraan pihak panitia.” Pria berpakaian lusuh, tidak mau ketinggalan.


 


“Dari banyaknya peserta, sepertinya aku lebih mengandalkan putra dari tangan kanan Raja. Bagaimana pendapat kalian?” Pria berpakaian coklat berbicara lantang.


 


“Ya... ya... kau benar. Dia sangat beringas hari ini, karena kekuatannya arena turnamen hampir rata dengan tanah.” Salah satu dari mereka menimpali, melebih-lebihkan.


 


Gin yang mendengar hal tersebut, santai menyeruput teh miliknya. Dia cukup menikmati teh tersebut, bisa dibilang dia menyukai rasa tehnya.


 


“Setelah ini, kita akan ke mana, Iblis Kecil?” Putri mengangkat bahu. Dia lebih memilih untuk menikmati secangkir teh yang baru tiba di mejanya. Masih panas. Lihatlah, asap mengepul di gelas teh tersebut.


 


Gin menghembuskan nafas kasar, merasa bosan menemani Putri minum teh. Dia sangat lambat kali ini, berbeda dengan sebelumnya.


 


Cukup lama mereka di kedai tersebut. Gin bosan menunggu, dia sudah beberapa kali menguap. Mengantuk tak ada yang dilakukan.


 


Gin melirik ke cangkir teh milik Putri, runyam urusannya. Setengah gelas saja belum, “Kapan gelas itu kosong?”


 


Gin frustasi, sementara Putri santai sambil mendengarkan cerita dari beberapa orang tadi. Pembahasan mereka telah berubah, tak lagi membahas tentang turnamen. Saat ini mereka membahas kejadian beberapa hari yang lalu


.


“Kalian masih ingat dengan kejadian beberapa hari yang lalu? Saat monster raksasa datang menyerang kota. Semua orang yang mendengar itu mengangguk, termasuk Putri. Sementara Gin, diam-diam memasang kuping.


 


“Ssstt. Kalian harus merahasiakan ini. Saya mendapat informasi ini dari kawanku, informasinya tidak perlu diragukan. Akurat.” Pria dengan kaos lusuh menurunkan volume suaranya, Putri mencoba mendekat. Penasaran dengan pembahasan orang-orang tersebut.


 


“Menurut kabar yang beredar, monster tersebut sampai ke kota. Karena, dia mengejar seorang bocah. Ajaib, bocah tersebut dapat lolos dari kejaran monster tersebut. Monster yang mampu mengalahkan tiga komandan pasukan Kerajaan.” Semua orang berada di situ terlonjak kaget. Hanya Gin yang terlihat biasa saja.


 


Tentu saja, dia tidak kaget. Bocah yang ada dalam pembicaraan orang-orang tersebut adalah dia. Jadi dia terlihat biasa saja.


 


“Apa kau tidak salah?” Salah satu dari mereka mempertanyakan kebenaran dari berita yang disampaikannya.


 


“Benar! Rasanya mustahil seorang bocah bisa lolos dari kejaran monster tersebut. Dari monster yang dapat mengalahkan ketiga komandan pasukan Kerajaan.” Tentu saja, tidak ada yang percaya dengan perkataan orang tersebut.

__ADS_1


 


Ada satu orang yang percaya dengan perkataan orang tersebut. Dia adalah Putri. “Ekhem, apa bocah yang ada dalam cerita itu adalah kamu?”


__ADS_2