Black Shadow

Black Shadow
Kejam


__ADS_3

Prajurit di hadapan Gin, bukan prajurit biasa. Prajurit tersebut adalah salah satu dari anggota pasukan khusus, dia juga mengenal Gin. Sempat melihatnya, saat bertugas membawakan Putri makan di ruang latihan khusus.


 


 


Gin bertarung melawan mereka, menebas satu tumbang. Dia bergerak dengan lincah, bahkan terdapat beberapa orang yang tewas dalam satu kali tebasan.


 


Gin bergerak dengan meliukkan tubuhnya, ke sana-kemari. Mengayunkan pedang, Gin melihat bola api yang mengarah padanya. Dia melompat, menebas satu orang di hadapannya. Terbelah menjadi dua. Tubuh lawan Gin terpisah, antara kaki dan tubuh bagian atas. Darah mengucur deras.


 


Orang-orang dari Klan Api yang berada di situ, mual. Tidak menyangka, orang yang mereka hadang sangat kejam. Bahkan jauh lebih kejam, dibandingkan dengan Barbara.


 


Mereka lari tunggang-langgang, tidak ingin berhadapan dengan Gin. Akan tetapi, Gin tidak membiarkan hal tersebut. Dia bergerak maju mengejar mereka, menebas orang-orang dari Klan Api. Tubuh salah satu dari mereka terbagi menjadi dua, terpotong pada tengah kepalanya.


 


Gin begitu buas mengalahkan para penghianat tersebut. Dia bahkan tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Tiba-tiba, dia naik pintam, begitu mendengar ada penghianat dalam Kerajaan Selatan.


 


“Tidak akan kubiarkan kalian pergi begitu saja!” Gin bergerak cepat, mengejar satu-persatu anggota Klan Api. Dia seperti orang kesetanan, membunuh tanpa ampun.


 


“Tolong, ampuni saya.” Gin berhasil menyusul satu orang yang terjatuh, saat sedang lari dari kejarannya. Anggota Klan Api yang satu ini, mundur dengan terduduk. Dia memohon pada Gin, agar mau dilepaskan. Anggota Klan Api tersebut begitu pengecut, padahal dia berani menghianati Raja.


 


Gin menggelengkan kepala, wajahnya tetap datar. Menghembuskan nafas kasar, mengayunkan pedangnya. Kepala Anggota Klan Api tersebut bergelinding di lantai istana. Pelayan istana yang baru muncul, ingin berlari ke tempat yang aman berteriak nyaring. Tidak sadarkan diri.


 


Gin ingin menyusul para anggota Klan Api, tapi dia tidak tega pada pelayan yang baru saja pingsan. Hanya karena melihat cara Gin dalam membunuh.


 


Dia menyimpan pedang tersebut pada sarungnya yang berada di punggung. Putri sendiri yang memberikan tali penyangga pedang. Terbuat dari kulit yang begitu bagus, tahan. Kualitas terbaik.


 


Gin nyaman menaruh pedangnya seperti itu. Tidak membuatnya repot. Pada saat, dia akan mengangkat pelayan tersebut. Anggota pasukan khusus yang diselamatkannya tadi muncul, dia menawarkan diri untuk membawa pelayan tersebut ke tempat yang lebih aman. Tempat pengungsian.


 


“Sebaiknya, biarkan saya yang membawa pelayan itu ke tempat pengungsian. Hanya anggota khusus yang memiliki akses ke tempat tersebut. Tidak ada yang bisa dipercaya saat ini, karena perang saudara yang sedang terjadi. Kuharap kau dapat mengerti.” Gin mengangguk, berlari mengejar orang-orang dari Klan Api dan orang-orang berjubah hitam.


 


Gin menyusuri istana, dia tersenyum saat melihat anggota Klan Api yang sedang mengerumuni prajurit Kerajaan. Mereka ingin membawa para pelayan Kerajaan yang tersisa ke tempat pengungsian, telah banyak korban dari pihak Kerajaan. Terlebih prajurit dan pelayan istana.


 


Gin bergerak maju, menebas anggota Klan Api yang dekat darinya. Tubuh anggota Klan Api tersebut, seketika terbelah menjadi dua. Darahnya berceceran, para anggota Klan Api yang melihat itu tidak gentar. Lebih tepatnya, mereka sedang memberanikan diri untuk melawan. “Jangan takut, dia hanya sendiri. Sementara kita banyak.”


 


Para anggota Klan Api tidak menganggap keberadaan prajurit yang ada di sana. Kesal dengan pernyataan barusan. Para prajurit menyerang anggota Klan Api, meski mereka kalah jumlah. Kalah kekuatan.


 


Gin tidak tinggal diam, bergerak maju meliukkan tubuh sembari menebas leher lawan. Anggota Klan Api yang mendapat tebasan dari Gin, terjatuh tidak sadarkan diri di lantai istana. Lebih tepatnya, sudah tidak bernyawa lagi.


 


Gin seakan-akan sedang menari-nari bersama pedangnya, banyak nyawa melayang karenanya. Pakaian yang dikenakannya berlumur darah. Bukan darah miliknya, tapi darah milik musuhnya.


 


Gin terus bergerak menebas musuhnya, tidak ada kata ampun bagi para penghianat. Disaat yang bersamaan, kepala-kepala dari anggota Klan Api menggelinding di atas lantai istana.


 


Semua prajurit juga pelayan yang ada di situ, merasa mual melihat semua kejadian yang ada di hadapan mereka. Tidak ada yang menyangka, akan ada yang membunuh sekejam itu.


 


Para anggota Klan Api yang masih tersisa, mereka mundur teratur. Bersumpah serapah, menyesal ikut dalam rombongan yang ingin menggulingkan Kerajaan secara langsung. Padahal mereka bisa memilih untuk tinggal di dalam Klan dengan tentram, tanpa gangguan sama sekali.


 


Satu-persatu dari anggota Klan Api direnggut nyawanya oleh Gin. Mereka sangat menyesal, hal itu terlihat dari raut wajah mereka.


 


Ada yang bagian tubuhnya terpisah, antara kaki dan badan bagian atas. Dari kaki sampai perut, dari perut sampai kepala. Sesekali pelayan menjerit, muntah-muntah melihat pembunuhan sadis tersebut.


 


Darah dari anggota Klan Api berserakan di dinding, di lantai, dan mengenai Gin. Dia dipenuhi oleh darah musuhnya. Gin mundur tiga langkah, mengatur nafasnya. Ada seorang dari anggota Klan Api tidak mau menyerah. Dia mengalirkan api pada tangannya, menyerang Gin. Namun Gin menghindar dengan menggeser ke kanan, menebas lengan musuhnya.

__ADS_1


 


Tangan anggota Klan Api jatuh begitu saja di lantai istana, terbelalak. Menjerit histeris. Dia tidak menyangka tangannya akan terpotong, belum habis histerinya. Kaki kanannya dipotong, musuh Gin terjatuh. Tidak bisa berdiri.


 


Gin dengan santai memotong kaki kiri musuhnya, tak ada yang tersisa lagi. Hanya nyawa saja, bahkan anggota Klan Api tersebut memohon untuk segera dibunuh. Akan tetapi, Gin dengan tatapan datar. Menyeret musuhnya dengan cara menarik rambutnya, melemparnya ke dinding. Sebelum tubuh itu menyentuh lantai, Gin menebas lehernya. Seketika nyawa musuhnya melayang.


 


Darah menciprat wajah Gin, para pelayan dan prajurit menutup mata. Tidak sanggup melihat yang terjadi. Gin berbalik, berjalan santai melewati orang-orang istana yang selamat.


 


Para prajurit, serta pelayan dibuat gemetar, ketika Gin lewat di depan mereka. Bahkan hanya untuk sekedar bernafas, mereka tidak berani.


 


Gin benar-benar pada situasi hati yang buruk, meski dia tidak tahu penyebabnya. Akan tetapi, dia sedang malas berkomunikasi saat ini. Dia hanya berjalan santai, menatap kosong lorong di hadapannya.


 


Gin melangkahi mayat musuh begitu saja, dia tidak peduli. Pikirannya kosong, hanya berjalan ke depan. Setiap melihat musuh, maka akan dibunuh secara tragis olehnya. Tidak ada belas kasihan.


 


Gin tiba di depan kamar Putri, tidak jauh dari kamarnya. Dia sudah tinggal di istana beberapa hari ini. Terdapat mayat prajurit berserakan, Gin melihat anggota Klan Api dan kelompok jubah hitam sedang terbahak. Ada menendang mayat prajurit, ada yang mendudukinya sambil menertawai mayatnya. Ada yang menyeret mayatnya, kemudian diguling-guling.


 


Gin bergerak maju, menebas salah satu dari anggota Klan Api. Kepalanya menggelinding ke lantai. Dia sempat berseru tertahan. Akan tetapi, nyawanya sudah melayang begitu saja.


 


Tawa semua orang di situ tersumpal, mereka tidak bisa berkata-kata. Beberapa orang dari mereka meremehkan Gin, membunyikan persendian jarinya. Menyerang Gin dengan pukulan berapi, namun dapat dihindari dengan mudah.


 


Gin mengunuskan pedang pada musuh yang baru menyerangnya, darah mengucur ke lantai. Musuh Gin sudah kehilangan nyawa. Tidak gentar melihat hal tersebut, mereka semua menyerang Gin. Dengan tangan kosong, tombak, pedang, dan cambuk. Gin menyapu sekitar, memastikan satu hal. Bahwa tidak ada perempuan diantara kerumunan tersebut. Setelah memastikan, Gin meliuk-liukkan tubuhnya untuk menebas lawannya. Dia bermandikan darah musuh, langsung mengiris titik vital, yaitu leher.


 


Dalam hitungan menit orang-orang tersebut menjadi mayat tidak bernyawa, teronggok membisu. Satu-dua jam ke depan akan dikerumuni lalat, sehebat apapun mereka sewaktu masih hidup.


 


Nafas Gin menderu, dia mencoba mengatur nafas dengan baik. Berharap Putri baik-baik saja di dalam, saat dia membuka pintu. Kamar tersebut kosong, tidak berpenghuni. Jelas tidak ada Putri di dalam kamarnya. Hal tersebut membuat Gin mengerutkan kening.


 


Prajurit di hadapan Gin, bukan prajurit biasa. Prajurit tersebut adalah salah satu dari anggota pasukan khusus, dia juga mengenal Gin. Sempat melihatnya, saat bertugas membawakan Putri makan di ruang latihan khusus.


 


 


Gin bertarung melawan mereka, menebas satu tumbang. Dia bergerak dengan lincah, bahkan terdapat beberapa orang yang tewas dalam satu kali tebasan.


 


Gin bergerak dengan meliukkan tubuhnya, ke sana-kemari. Mengayunkan pedang, Gin melihat bola api yang mengarah padanya. Dia melompat, menebas satu orang di hadapannya. Terbelah menjadi dua. Tubuh lawan Gin terpisah, antara kaki dan tubuh bagian atas. Darah mengucur deras.


 


Orang-orang dari Klan Api yang berada di situ, mual. Tidak menyangka, orang yang mereka hadang sangat kejam. Bahkan jauh lebih kejam, dibandingkan dengan Barbara.


 


Mereka lari tunggang-langgang, tidak ingin berhadapan dengan Gin. Akan tetapi, Gin tidak membiarkan hal tersebut. Dia bergerak maju mengejar mereka, menebas orang-orang dari Klan Api. Tubuh salah satu dari mereka terbagi menjadi dua, terpotong pada tengah kepalanya.


 


Gin begitu buas mengalahkan para penghianat tersebut. Dia bahkan tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Tiba-tiba, dia naik pintam, begitu mendengar ada penghianat dalam Kerajaan Selatan.


 


“Tidak akan kubiarkan kalian pergi begitu saja!” Gin bergerak cepat, mengejar satu-persatu anggota Klan Api. Dia seperti orang kesetanan, membunuh tanpa ampun.


 


“Tolong, ampuni saya.” Gin berhasil menyusul satu orang yang terjatuh, saat sedang lari dari kejarannya. Anggota Klan Api yang satu ini, mundur dengan terduduk. Dia memohon pada Gin, agar mau dilepaskan. Anggota Klan Api tersebut begitu pengecut, padahal dia berani menghianati Raja.


 


Gin menggelengkan kepala, wajahnya tetap datar. Menghembuskan nafas kasar, mengayunkan pedangnya. Kepala Anggota Klan Api tersebut bergelinding di lantai istana. Pelayan istana yang baru muncul, ingin berlari ke tempat yang aman berteriak nyaring. Tidak sadarkan diri.


 


Gin ingin menyusul para anggota Klan Api, tapi dia tidak tega pada pelayan yang baru saja pingsan. Hanya karena melihat cara Gin dalam membunuh.


 


Dia menyimpan pedang tersebut pada sarungnya yang berada di punggung. Putri sendiri yang memberikan tali penyangga pedang. Terbuat dari kulit yang begitu bagus, tahan. Kualitas terbaik.


 

__ADS_1


Gin nyaman menaruh pedangnya seperti itu. Tidak membuatnya repot. Pada saat, dia akan mengangkat pelayan tersebut. Anggota pasukan khusus yang diselamatkannya tadi muncul, dia menawarkan diri untuk membawa pelayan tersebut ke tempat yang lebih aman. Tempat pengungsian.


 


“Sebaiknya, biarkan saya yang membawa pelayan itu ke tempat pengungsian. Hanya anggota khusus yang memiliki akses ke tempat tersebut. Tidak ada yang bisa dipercaya saat ini, karena perang saudara yang sedang terjadi. Kuharap kau dapat mengerti.” Gin mengangguk, berlari mengejar orang-orang dari Klan Api dan orang-orang berjubah hitam.


 


Gin menyusuri istana, dia tersenyum saat melihat anggota Klan Api yang sedang mengerumuni prajurit Kerajaan. Mereka ingin membawa para pelayan Kerajaan yang tersisa ke tempat pengungsian, telah banyak korban dari pihak Kerajaan. Terlebih prajurit dan pelayan istana.


 


Gin bergerak maju, menebas anggota Klan Api yang dekat darinya. Tubuh anggota Klan Api tersebut, seketika terbelah menjadi dua. Darahnya berceceran, para anggota Klan Api yang melihat itu tidak gentar. Lebih tepatnya, mereka sedang memberanikan diri untuk melawan. “Jangan takut, dia hanya sendiri. Sementara kita banyak.”


 


Para anggota Klan Api tidak menganggap keberadaan prajurit yang ada di sana. Kesal dengan pernyataan barusan. Para prajurit menyerang anggota Klan Api, meski mereka kalah jumlah. Kalah kekuatan.


 


Gin tidak tinggal diam, bergerak maju meliukkan tubuh sembari menebas leher lawan. Anggota Klan Api yang mendapat tebasan dari Gin, terjatuh tidak sadarkan diri di lantai istana. Lebih tepatnya, sudah tidak bernyawa lagi.


 


Gin seakan-akan sedang menari-nari bersama pedangnya, banyak nyawa melayang karenanya. Pakaian yang dikenakannya berlumur darah. Bukan darah miliknya, tapi darah milik musuhnya.


 


Gin terus bergerak menebas musuhnya, tidak ada kata ampun bagi para penghianat. Disaat yang bersamaan, kepala-kepala dari anggota Klan Api menggelinding di atas lantai istana.


 


Semua prajurit juga pelayan yang ada di situ, merasa mual melihat semua kejadian yang ada di hadapan mereka. Tidak ada yang menyangka, akan ada yang membunuh sekejam itu.


 


Para anggota Klan Api yang masih tersisa, mereka mundur teratur. Bersumpah serapah, menyesal ikut dalam rombongan yang ingin menggulingkan Kerajaan secara langsung. Padahal mereka bisa memilih untuk tinggal di dalam Klan dengan tentram, tanpa gangguan sama sekali.


 


Satu-persatu dari anggota Klan Api direnggut nyawanya oleh Gin. Mereka sangat menyesal, hal itu terlihat dari raut wajah mereka.


 


Ada yang bagian tubuhnya terpisah, antara kaki dan badan bagian atas. Dari kaki sampai perut, dari perut sampai kepala. Sesekali pelayan menjerit, muntah-muntah melihat pembunuhan sadis tersebut.


 


Darah dari anggota Klan Api berserakan di dinding, di lantai, dan mengenai Gin. Dia dipenuhi oleh darah musuhnya. Gin mundur tiga langkah, mengatur nafasnya. Ada seorang dari anggota Klan Api tidak mau menyerah. Dia mengalirkan api pada tangannya, menyerang Gin. Namun Gin menghindar dengan menggeser ke kanan, menebas lengan musuhnya.


 


Tangan anggota Klan Api jatuh begitu saja di lantai istana, terbelalak. Menjerit histeris. Dia tidak menyangka tangannya akan terpotong, belum habis histerinya. Kaki kanannya dipotong, musuh Gin terjatuh. Tidak bisa berdiri.


 


Gin dengan santai memotong kaki kiri musuhnya, tak ada yang tersisa lagi. Hanya nyawa saja, bahkan anggota Klan Api tersebut memohon untuk segera dibunuh. Akan tetapi, Gin dengan tatapan datar. Menyeret musuhnya dengan cara menarik rambutnya, melemparnya ke dinding. Sebelum tubuh itu menyentuh lantai, Gin menebas lehernya. Seketika nyawa musuhnya melayang.


 


Darah menciprat wajah Gin, para pelayan dan prajurit menutup mata. Tidak sanggup melihat yang terjadi. Gin berbalik, berjalan santai melewati orang-orang istana yang selamat.


 


Para prajurit, serta pelayan dibuat gemetar, ketika Gin lewat di depan mereka. Bahkan hanya untuk sekedar bernafas, mereka tidak berani.


 


Gin benar-benar pada situasi hati yang buruk, meski dia tidak tahu penyebabnya. Akan tetapi, dia sedang malas berkomunikasi saat ini. Dia hanya berjalan santai, menatap kosong lorong di hadapannya.


 


Gin melangkahi mayat musuh begitu saja, dia tidak peduli. Pikirannya kosong, hanya berjalan ke depan. Setiap melihat musuh, maka akan dibunuh secara tragis olehnya. Tidak ada belas kasihan.


 


Gin tiba di depan kamar Putri, tidak jauh dari kamarnya. Dia sudah tinggal di istana beberapa hari ini. Terdapat mayat prajurit berserakan, Gin melihat anggota Klan Api dan kelompok jubah hitam sedang terbahak. Ada menendang mayat prajurit, ada yang mendudukinya sambil menertawai mayatnya. Ada yang menyeret mayatnya, kemudian diguling-guling.


 


Gin bergerak maju, menebas salah satu dari anggota Klan Api. Kepalanya menggelinding ke lantai. Dia sempat berseru tertahan. Akan tetapi, nyawanya sudah melayang begitu saja.


 


Tawa semua orang di situ tersumpal, mereka tidak bisa berkata-kata. Beberapa orang dari mereka meremehkan Gin, membunyikan persendian jarinya. Menyerang Gin dengan pukulan berapi, namun dapat dihindari dengan mudah.


 


Gin mengunuskan pedang pada musuh yang baru menyerangnya, darah mengucur ke lantai. Musuh Gin sudah kehilangan nyawa. Tidak gentar melihat hal tersebut, mereka semua menyerang Gin. Dengan tangan kosong, tombak, pedang, dan cambuk. Gin menyapu sekitar, memastikan satu hal. Bahwa tidak ada perempuan diantara kerumunan tersebut. Setelah memastikan, Gin meliuk-liukkan tubuhnya untuk menebas lawannya. Dia bermandikan darah musuh, langsung mengiris titik vital, yaitu leher.


 


Dalam hitungan menit orang-orang tersebut menjadi mayat tidak bernyawa, teronggok membisu. Satu-dua jam ke depan akan dikerumuni lalat, sehebat apapun mereka sewaktu masih hidup.


 

__ADS_1


Nafas Gin menderu, dia mencoba mengatur nafas dengan baik. Berharap Putri baik-baik saja di dalam, saat dia membuka pintu. Kamar tersebut kosong, tidak berpenghuni. Jelas tidak ada Putri di dalam kamarnya. Hal tersebut membuat Gin mengerutkan kening.


__ADS_2