
Pada sebuah ruangan bawah tanah, dindingnya berukiran burung gagak yang berlapiskan emas. Serta terdapat ornamen-ornamen mewah di sekitar ruangan tersebut. Di ruangan tersebut terdapat meja bundar yang telah di huni oleh tiga orang pria paruh baya dan dua orang perempuan paruh baya, serta seorang pria sepuh. Pada ruangan tersebut hanya memiliki satu pintu saja yang merupakan pintu masuk dan keluar ruang pertemuan.
Ruangan ini menjadi tempat pertemuan mereka, di ruangan ini pula mereka membicarakan hal-hal yang teramat penting dalam dunia persilatan. Tak ada seorangpun di dunia persilatan yang mengetahui lokasi pertemuan tersebut, selain ke enam orang tersebut dan seseorang lagi yang sedang mereka tunggu.
Ke enam orang tersebut memiliki latar belakang yang berbeda-beda, mereka berasal dari ke empat kerajaan, serta masing-masing dari memiliki karakter unik masing-masing. Dari ke tujuh orang yang berkumpul tersebut, hanya dua orang yang memiliki wibawa dan karakter seorang pemimpin.
Mereka berdua tidak lain adalah si pria sepuh yang sedang duduk dengan tenang sambil memejamkan matanya pria sepuh tersebut bernama Masamune yang merupakan seorang samurai dan yang satu lagi adalah seseorang yang sedang mereka tunggu. Perkumpulan mereka semua benar-benar dirahasiakan dari dunia persilatan.
“Ke mana si cecunguk, sok penting itu. Bisa-bisanya dia membuat si tampan ini menunggu lama seperti ini. Apa kita tidak bisa memulai pertemuan ini, tanpanya.” Liu Peng yang sedang tidur menyamping di atas meja bundar dengan wajah kesal menunggu seseorang yang sejak tadi belum muncul bahkan batang hidungnya sekalipun.
Liu Peng merupakan orang yang sangat disegani di seantero kerajaan Timur. Dia juga memiliki sifat yang sedikit unik salah satunya seperti tidak mau tunduk terhadap aturan kerajaan Timur, bahkan dia dengan santai beberapa kali mengacaukan pertemuan besar yang diadakan oleh kerajaan Timur.
Liu Peng terkenal akan keangkuhannya, dia sangat jarang terlihat serius saat bertarung. Dia merupakan maniac arak. Jika seseorang memenginkan sesuatu darinya cukup beri dia segentong arak. Maka, tak perlu mati-matian untuk membujuknya, dia akan menuruti keinginanmu dengan suka rela.
“Sabarlah saudara, Liu. Pasti sebentar lagi dia pasti akan muncul. Dan apa katamu membuat si tampan menunggu, pppuuft hahahaha.” Mei Ni menertawai ucapan Liu peng yang mengatakan dirinya tampan padahal kulitnya sudah dipenuhi oleh keriput. Hal itu tentu membuat yang juga ikut tertawa.
Akan tetapi, tidak dengan Masamune yang masih dengan duduk tenang sambil menutup matanya. Dia dengan tenang duduk sambil menunggu kedatangan salah seorang dari kelompok mereka.
__ADS_1
Mei Ni merupakan penari jalanan keliling. Dengan wajah yang cantik nan imut. Walaupun umurnya tidak muda lagi. Dengan rambutnya yang tergelung rapi, serta lentik jari dan tak lupa pula bentuk tubuhnya yang mendukung menjadi daya tarik tersendiri terhadap pria-pria hidung belang yang selalu menyaksikan pertunjukannya.
Jangan salah menilai penampilannya yang layu serta tutur kata yang lembut, karena dibalik itu semua, dia merupakan petarung yang cukup kejam dan tanpa belas kasihan terhadap lawan-lawannya. Mei Ni juga merupakan salah satu petarung yang cukup disegani di kerajaan Timur.
Ledekan Mei Ni membuat Liu Peng tersulut emosi, “Apa kau ingin menantangku, haa?”
“Menantangmu, pufft. Berhentilah berbuat lelucon tua bangka, kau bukanlah lawan yang sebading denganku sebaiknya kau pergi beristirahat di gubuk reotmu sana. Agar kau tidak menyia-nyiakan sisa umur yang kian hari, kian berkurang. Sudah uzur bau tanah, masih berlagak angkuh di depanku.”
Tiba-tiba saja tawa Liu Peng pecah memenuhi ruangan pertemuan tersebut. “Apa kau bilang kau lebih lemah dariku? Apa lagi tadi katamu saya sudah uzur? Apa kau tidak sadar nenek lampir, kau lebih tua dariku, hanya karena kau berpenampilan lebih muda dari terus menganggap saya lebih tua darimu. Bangun... bangun... jangan terlalu banyak bermimpi nenek lampir.”
“Kau... kau... akan kuhajar agar bisa mengingat, bahwa kau jelas lebih tua dariku.” Mei Ni mengerahkan tenaga dalam sedari tadi meluap-luap dalam tubuhnya.
Mei Ni tanpa basa-basi lagi, melompat ke atas meja dan langsung menyerang Liu Peng yang sedang tiduran di atas meja. Dia menyerangnya Liu Peng menggunakan selendang yang selalu dipakainya. Liu Peng gesit menghindari serangan Mei Ni. Tepat sebelum selendang Mei Ni mengenai meja pertemuan. Philip melapisi meja tersebut dengan energinya dalam sekejap meja kayu tersebut, berubah menjadi meja metal.
“Hahaha. Apa hanya itu kemampuan yang kau banggakan selama ini, nenek lampir, haa?” ucap Liu Peng sambil kembali tiduran sambil ngupil di atas meja pertemuan yang telah tertutupi oleh metal.
Hal tersebut membuat Mei Ni geram, ingin sekali dia menelan Liu Peng secara hidup-hidup agar menjadi pelampiasan rasa kesalnya pada Liu Peng. “Diamlah, tua bangka renungilah dosa-dosamu selama ini, sebab sebentar lagi saya akan mencabut nyawamu.”
__ADS_1
“Hahaha, berhentilah membual nenek lampir. Saya mulai muak dengan bualanmu selama ini.” Liu Peng dengan santai menjawab Mei Ni sambil tertidur dan mengupil.
Pertengkaran keduanya disaksikan oleh ketiga rekannya, Masamune tetap pada posisinya semula tanpa bergeming sedikitpun apalagi sekedar membuka mata.
Pemandangan di hadapan ketiganya bukanlah fenomena yang jarang terjadi. Kejadian ini seakan sudah menjadi semacam budaya tersendiri bagi pertemuan tersebut. Sebab, disetiap pertemuan tak jarang Liu Peng dan Mei Ni bertarung, paling tidak minimal mereka beradu mulut. Entah pertengkaran tersebut dimulai oleh Liu Peng maupun Mei Ni.
Mungkin, entah karena sudah merasa bosan menunggu kedatangan orang yang mereka tunggu atau siklus pertengkaran Liu Peng dan Mei Ni yang itu-itu saja. Kimo mengajak Philip dan Tomoe untuk taruhan tentang siapakah yang akan memenangkan pertengkaran Liu Peng dan Mei Ni kali ini.
“Saya setuju dengan ajakanmu. Saya bertaruh seratus koin emas untuk Liu Peng.” Philip dengan penuh percaya diri memilih Liu Peng.
“Ok, saya bertaruh dua kali lipat untuk Mei ni. Tomoe apakah kamu tidak ingin ikut bertaruh bersama kami?” Kimo lalu mendekati Tomoe yang sedang asik menonton pertarungan Liu Peng dan Mei Ni yang sedang berlangsung di atas meja.
“Saya tidak sudi melakukan hal yang kekanak-kanakan seperti kalian. Membuatku jijik saja, menyingkirlah jangan mencoba mengusikku.” Tomoe dengan cekatan melemparkan shuriken ke arah Kimo, karena jarak mereka begitu dekat membuat Kimo sulit menghindari shuriken tersebut, akan tetapi dengan kecepatan dan keterampilannya dia mampu menghindari shuriken dengan susah payah.
Sementara itu Mei Ni sedang naik pintam oleh ulah Liu Peng yang sedari tadi mengejeknya. “Dengan serangan ini akan kubungkam kau tua bangka!!!”
Mendengar hal itu hanya membuat Liu Peng tertawa terbahak-bahak, karena ucapan Mei ni. Melihat itu Mei Ni benar-benar murka dan mengeluarkan jurus tarian kematian. Hal ini tentunya membuat Liu Peng pucat fasih. “Melihat gerak-geriknya, apa jangan-jangan Nenek lampi ini serius ingin membunuhku?” Liu Peng mengerahkan seluruh tenaga dalam, serta kemampunnya untuk menahan segala serangan yang akan dilancarkan oleh Mei Ni.
__ADS_1
Dia juga bersiap-siap untuk menyerang Mei ni, dia merasa sesuatu yang mengerikan akan terjadi bila dia tidak serius menghadapi Mei ni yang sudah puncak kemarahannya. “Gawat!!! Mei Ni seriud untuk membunuh Liu Peng. Sebaiknya kita menghentikan mereka berdua, sebelum ada korban berjatuhan.” Kimo juga menghetahui apa yang akan dilakukan Mei Ni. Ucapan Kimo bagai angin lalu bagi Tomoe dan Philip.
Saat serangan Mei Ni dan Liu Peng akan beradu, tiba-tiba saja. Pintu ruangan seakan terbuka lalu tertutup kembali, bersamaan dengan hal tersebut Masamune membuka kelopak matanya. Sedetik sebelum serangan mereka mengenai satu sama lain. Seorang pria bermata sejuk dan berambut biru muncul di tengah-tengah Liu Peng dan Mei Ni. Dia pula menangkis kedua serangan mereka berdua dengan mudah. “Sepertinya sedikit saja, saya terlambat tiba di tempat pertemuan ini. Mungkin ada yang terluka parah di antara kalian berdua.”