Black Shadow

Black Shadow
Menjadi Tamu


__ADS_3

Pada saat Gin tak pernah merasakan serangan Yan mengenai dirinya. Akhirnya Gin memutuskan untuk membuka mata secara perlahan. Awal penglihatannya buram, tetapi lama-kelamaan menjadi lebih jelas.


Dia melihat Yan sedang menatapnya sambil menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan menggunakan tangannya. Melihat itu Gin menyerang Yan dengan pukulan biasa tanpa menggunakan energi, serangan Gin tentu dapat dihindari oleh Yan dengan mudah.


“Kamu hampir membunuhku, tau.” Gin benar-benar kesal pada perbuatan Yan. Dia belum sadar saja, kalau dia juga hampir membunuh Yan, bahkan sedikit lagi tadi nyawa Yan sudah melayang.


Yan tertawa terbahak-bahak, “Bukannya, kamu yang hampir saja merenggut nyawaku, haa. Kamu sadar tidak, siapa yang sudah memporak-porandakan tempat ini sebelumnya.”


“Saya tau pasti monsterkan yang mempora-porandakan tempat ini. Bukankah tadi, kamu sudah mengiyakan, bahwa yang memporak-porandakan tempat ini adalah monster.”


“Benar sekali, monster tersebut berbentuk manusia yang tidak lain adalah kamu.” Gin tersentak kaget.


“Ah, tidak mungkin saya yang melakukan itu.” Gin tidak memercayai ucapan yang dilontarkan oleh Yan.


“Kalau, kamu masih tidak percaya. Coba kamu memperagakan jurus pedang yang kau lakukan sebelumnya, tetapi sebelum itu saya harus mengambil jarak aman darimu.” Yan lalu menjauh-sejauh mungkin dari Gin.


Melihat Yan sudah memberikan dia kode untuk memulai gerakan pedangnya. Gin menarik nafas secara teratur kemudian menghembuskannya. Dia memulai gerakan pedang, Gin melenting ke sana-kemari cara dia mengayunkan pedang benar-benar lembut namun tegas, Gerakannya berirama namun tak beraturan.


Gin melakukan gerakan ilmu pedangnya hingga akhir. Seusainya, Gin memperagakan ilmu pedangnya dimenghembuskan nafas halus. Gin melihat keadaan sekitar benar-benar jauh lebih berantakan dari sebelumnya. Dia bahkan hampir tidak percaya, bahwa ilmu pedang yang dilatihnya dapat menimbulkan dampak yang sekeras ini.


Gin hanya mampu menelan ludahnya sendiri, melihat semua akibat yang baru saja ditimbulkannya. Yan yang bahkan sudah jauh di sana, masih saja terkena dampak jurus yang Gin gunakan. Wajah Yan kali ini benar-benar pucat, dia seakan-akan baru saja selamat dari bencana besar.


Penampilan Yan benar-benar berantakan, bahkan rambut putihnya lebih berantakan dari sebelumnya, jubahnya juga sudah tak bersisa, dia juga dipenuhi oleh luka sayatan. Gin ingin tertawa terbahak-bahak melihat kondisi Yan saat, tetapi dia urungkan karena yang membuat kondisi Yan seperti itu adalah dirinya.

__ADS_1


Gin berniat mengalirkan tenaga dalamnya pada Yan, tetapi hal aneh terjadi. Dia tak bisa mengalirkan tenaga dalam pada Yan, walau hanya sehelai tenaga dalam. Dia terus mencoba hal tersebut secara berulang-ulang, namun tak pernah berhasil.


Gin memutuskan untuk tidak lagi mencoba mengalirkan tenaga dalamnya pada Yan. Karena menurutnya sekuat apapun dia mencoba tak akan ada hasilnya alias nihil.


Gin mencoba cara kedua yaitu memberikan sisa ramuan yang disimpan dalam botol kulit untuk menyimpan air minum. Yan, tersontak kaget ternyata Gin menyimpan sisa ramuan tersebut. Dia mengira Gin telah meneguk habis ramuan tersebut saat itu. “Kenapa kamu tidak memberikan ramuan ini sejak tadi?”


“Saya lupa.” Gin menjawab pertanyaan Yan dengan enteng. Gin dan Yan melanjutkan perjalanan, tanpa sengaja mereka memasuki kawasan klan Gajah perkasa.


Salah satu penghuni klan melihat mereka memasuki kawasan Klan. Orang Klan Gajah perkasa tersebut mengira Gin dan Yan adalah pengemis yang ingin meminta beberapa koin emas dan makanan dalam Klan.


Penampilan Yanlah yang tak memakai jubah dan pedang Gin tak mencolok yang membuat Orang klan berpikir, bahwa mereka merupakan Pengemis yang dengan sengaja memasuki wilayah Klan Gajah Perkasa demi meminta Koin emas dan makanan. Hal tersebut sudah biasa dialami oleh penghuni Klan, karena Klan Gajah perkasa terkenal akan Klan yang ringan tangan dalam memberi.


“Apakah kalian datang meminta koin emas dan makanan, ikuti saya.” Orang tersebut menuntun Gin dan Yan yang terbengong, karena mereka dianggap pengemis. Dengan pasrah mereka mengikuti pemdekar tersebut, hitung-hitung bisa mendapatkan jubah baru untuk Yan dari orang tersebut.


Gin dan Yan terus mengikuti orang tersebut hingga berhenti di depan, kediaman yang paling besar dibanding dengan yang lain. “Mungkin, ini merupakan kediaman Ketua klan Gajah perkasa.”


Tanpa diketahui Gin dan Yan, orang yang mereka ikuti sedang mengirim pesan suara menggunakan tenaga dalamnya melalui udara. Pesan yang dikirim orang tersebut diterima oleh Ketua klan Gajah perkasa secara langsung.


Ketua klan Gajah perkasa memerintahkan salah satu pelayannya untuk menyambut orang yang bersama Gin dan Yan.


“Pelayan sambutlah Ten yang sedang bersama dua orang Pengemis yang sedang berada di depan kediamanku.”


“Baik, ketua.” Pelayan yang diberi perintah dengan langkah tergesah-gesah ke depan kediaman untuk menyambut Ten, Gin dan Yan. Dengan senyum yang hangat, pelayan tersebut menyambut kedatangan Ten, Gin dan Yan.

__ADS_1


Gin, Yan dan Ten dituntun oleh sang Pelayan memasuki kediaman ketua klan. Pada saat mereka tiba di hadapan Ketua klan. Ten, Pelayan, disusul oleh Yan, mengambil posisi setengah berlutut. Hanya Ginlah yang masih berdiri tegap.


Hal ini membuat Ketua klan tertarik pada Gin, karena selama ini, selain orang-orang berasal dari kerajaan, belum ada orang yang datang bertamu padanya tanpa melakukan posisi setengah berlutut. Ini merupakan kejadian pertama yang ada sepanjang sejarah klan Gajah perkasa.


Yan sempat melirik ke arah Gin yang masih tegap tanpa melakukan posisi setengah berlutut. Wajah Yan menjadi pucat fasih menatap Gin yang lancang pada ketua klan Gajah perkasa. Ten juga berbalik ke arah Gin dan menyuruhnya untuk melakukan posisi setengah berlutut.


“Saya tidak akan pernah berlutut di hadapan siapapun termasuk pada Raja selatan.” Gin bersuara dengan lantang setelah mendengar perintah dari Ten.


“Orang yang menarik.” Ketua klan tersenyum tipis, lalu mempersilahkan Ten, Pelayan, serta Yan untuk bangkit dari posisinya.


Ketua klan tak mempermasahkan sikap Gin yang menurut Ten cukup arogan. Ketua klan bahkan sangat tertarik pada Gin. “Ketua, kedua Pengemis ini, datang untuk meminta koin emas serta makanan.” Ten setengah membukuk saat mengatakan hal tersebut.


Mendengar hal tersebut Yan buru-buru menimpali, “Ketua, Ten telah salah paham, karena melihat saya tak memakai jubah, kami hanya tidak sengaja memasuki wilayah klan Gajah perkasa saat sedang menuju Ibukota. Jubah saya sobek, karena sebuah kecelakaan saat dalam perjalanan.”


Saat dalam perjalanan Gin, Yan serta Ten sempat berbincang dan berkenalan satu sama lain. Yan mencoba menjelaskan kekeliruan yang dialami oleh Ten, tetapi Pemuda terus memotong pembicaraan dengan cerita-cerita yang cukup menarik sebenarnya, jika saja mereka dalam situasi yang berbeda.


“Rupanya seperti itu, walaupun kalian sudah sampai di sini, alangkah tidak baiknya. Jika kami tidak menjamu tetamu. Sebelum itu, Pelayan bawakan jubah yang layak untuk Pria ini."


Tak lama kemudian Pelayan membawa jubah berwarna putih yang sama dengan warna rambut Yan. Saat Gin dan Yan sedang menunggu jamuan, Yan berbisik pada Gin. “Gin, celaka kita dalam masalah sekarang.”


“Masalah? Bukankah kita sedang mendapat jamuan. Jadi, masalah apa yang kamu maksud?” Gin tidak mengerti akan maksud Yan.


“Sebentar lagi, kau akan mengerti.” Membayangkannya saja sudah membuat Yan merasa pusing, apalagi mengalaminya secara langsung, hadeuh.

__ADS_1


__ADS_2