
Hutan di pinggiran Ibukota dipenuhi oleh api, pepohonan terbakar di mana-mana. Hal tersebut memenuhi pandangan mata. Lubang yang tercipta akibat pertempuran Raja dan Barbara terlihat di mana-mana.
Raja tersengal berat, tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. “Dari mana kekuatan besar yang dimiliki oleh Barbara?”
Kondisi Barbara sama lelahnya dengan Raja. Dia tersengal, luka di sekujur tubuh. Dia mencoba untuk mengatur nafas dengan baik. Tidak mudah untuk mengalahkan Raja. Dia sudah berusaha sekuat tenaga, namun hasilnya hanya bisa ditahan imbang oleh Raja. Padahal, dia sudah mendapatkan suntikan energi dari orang itu.
Raja mendongak ke udara, tempat Barbara sedang mengambang. Hal yang sama dilakukan Barbara, kedua mata mereka bertemu.
Raja melepaskan energinya, bergerak menyerang Barbara. Namun Barbara mampu menghindari tebasan yang diarahkan padanya, energi dari tebasan tersebut lewat begitu saja. Hampir mengenai Barbara.
Barbara bergerak cepat, dia muncul di belakang Raja. Mengarahkan pukulan yang sangat kuat. Sadar akan hal tersebut, Raja cepat melapisi belakang tubuhnya dengan energinya. Agar meminimalisir dampak kerusakan yang diterima akibat pukulan Barbara.
Hal tersebut membuatnya terpental jauh, menumbangkan beberapa pohon. Debu mengepul memenuhi sekitar, Barbara menatap awas pada tempat Raja mendarat. Dia tahu betul, Raja tidak akan kalah dengan serangan seperti itu. Butuh usaha yang jauh lebih keras untuk mengalahkannya.
“Ini...” Barbara tercengang. Dia tiba-tiba merasakan keberadaan Raja di belakangnya. Menjauh dari tempatnya berada, benar saja Raja sudah mengambang santai di sana. Tidak jauh dari tempatnya mengambang tadi.
“Ba... bagaimana mungkin?” Barbara sangat syok akan kenyataan yang dilihatnya saat ini. Dia syok bukan karena Raja selamat dari pukulannya. Akan tetapi, Raja tidak terluka sedikitpun, bahkan kelelahan saja tidak.
Padahal jelas sekali, jika dia telah melukai Raja saat bertarung tadi. Tapi, sekarang! Semua luka yang ada di sekujur tubuh Raja telah sirna, seperti ditelan bumi. Tidak berbekas sama sekali.
“Hahaha. Saya tahu kau akan terkejut seperti itu, Barbara. Persis seperti yang kubayangkan, kau benar-benar naif. Jika berpikir selama ini, saya percaya padamu.” Barbara mundur ke belakangnya, dia sangat ketakutan. Terintimidasi oleh perkataan Raja.
Tidak menyangka Raja akan sekuat ini, dia pikir Raja adalah orang yang lemah. Tidak sekuat ini. “Benar-benar orang sulit ditebak.”
__ADS_1
Tiba-tiba tanah bergetar hebat, terlihat petir susul-menyusul di bagian utara Ibukota. Terlihat gelombang energi yang sangat besar di sana. Namun selalu meledak atau menghilang beberapa saat kemudian.
Barbara sampai tercengang melihat hal tersebut. Dia tahu di sana sedang terjadi pertarungan yang sangat luar biasa, bahkan menimbulkan getaran yang kuat pada tanah. Terlebih radius getarannya sangat luas.
Barbara terlalu kaget, hingga melupakan keberadaan Raja. Ilusi yang diciptakan oleh Raja menghilang. Toh, itu sudah tidak berguna lagi, hanya sebagai pengalih perhatian. Dia tidak perlu repot-repot lagi, pertarungan di bagian utara kota sudah mengalihkan perhatiannya.
Raja mengayunkan pedangnya, dia menargetkan leher Barbara. Namun dengan cepat Barbara merasakan bahaya datang, menjauh dari tempatnya semula. “Tidak kusangka, seorang Raja sepertimu sangat pengecut. Menyerangku dari belakang, terlebih disaat saya sedang lengah. Benar-benar pengecut!”
“Kau terlalu banyak bicara, Barbara. Apa kau memang secerewet ini? Aih, sepertinya saya terlalu sibuk, hingga kurang memerhatikanmu. Dan simpan kata-kata yang baru saja kau keluarkan, untuk dirimu sendiri.” Raja meledek Barbara.
Barbara melepaskan energinya, tanah tempatnya berpijak retak begitu saja. Bebatuan kecil melayang di sekitarnya. Hal tersebut dipicu oleh energi yang dikeluarkan Barbara.
Keduanya saling menyerang, hal tersebut menimbulkan energi yang bergejolak. Angin bertiup kencang, dedaunan kering di sekitar beterbangan. Barbara membelokkan pedangnya, menebas. Gejolak energi muncul lagi, kesiur angin yang lebih kencang menerpa sekitar. Menggoyangkan rambut keduanya.
Raja meliukkan tubuhnya, menebas Barbara. Dengan cepat Barbara melapisi lengannya dengan energi miliknya, menyilangkan tangan. Tanah tempat Barbara berpijak retak, hancur seketika. Berlubang.
Barbara kesal menendang Raja dengan keras. Raja mundur tiga langkah. Hal tersebut dimanfaatkan oleh Barbara untuk berpindah tempat, dia tidak bisa berada di situ dalam waktu yang lama.
Barbara melayang ke udara melesatkan bola api kecil ke arah Raja. Hal tersebut membuat Raja bergerak cepat untuk menghindari serangannya. Raja melayang ke udara, bergerak menuju Barbara. Dia ingin menyerangnya, begitu tiba di hadapan Barbara. Raja mengayunkan pedangnya dengan kuat, namun dapat dihindari olehnya.
Tidak hanya sampai di situ, Raja mengeluarkan jurus yang aneh untuk menyerang Barbara. Hal tersebut membuat Barbara kesulitan menghindari serangan Raja.
Tubuh Barbara terkena sayatan pedang yang sangat banyak, saat Raja mengerahkan serangan penghabisan. Barbara mengeluarkan bola api untuk menahan serangan Raja. Tetap saja, Barbara terhempas jauh, tubuhnya jatuh ke tanah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Raja yang masih berada di udara menghembuskan nafas lega. Akhirnya pertarungannya telah berakhir. Dia bisa istirahat sejenak, untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang sedang kelelahan.
Raja mulai turun untuk mendarat ke tanah, namun sial baginya. Disaat baru saja berpijak ke tanah, luapan energi api muncul dari dalam tubuh Barbara. Kini tubuhnya dipenuhi oleh api yang berkobar-kobar, bukan api biasa. Namun api biru, api yang lebih panas.
Raja meringis menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, dia tahu api itu. Akan sangat merepotkan untuk menghadapinya secara langsung. Dia pernah mendengar tentang legenda Klan Api, menurut yang dia tahu hanya satu orang dari Klan Api yang pernah membangkitkan api biru.
Orang tersebut benar-benar ditakuti pada masanya, tidak terkalahkan. Dia merupakan petarung terhebat yang pernah lahir di Klan Api.
Raja tidak menyangka akan melihat pengguna api biru secara langsung, tepat di depan matanya. “Sepertinya pertarungan ini tidak akan mudah.”
Raja tidak asal bicara, bahkan luka yang dialami oleh Barbara dalam waktu singkat telah pulih, tidak berbekas sama sekali. Hal tersebut membuat Raja mendengus, dia sadar akan kewalahan. Boleh jadi sangat kewalahan.
Tiba-tiba Barbara muncul di hadapannya, Raja membulatkan mata lebar tidak menyangka Barbara bertambah cepat. Bahkan sangat cepat, Raja dibuat tercekat.
Raja melesat ke udara terkena pukulan keras dari Barbara. Darah mengalir di sudut mulutnya, “Cih, benar-benar kuat. Sesuai dengan yang ada dalam dongeng Klan Api!”
Barbara muncul di belakang Raja yang masih melesat ke udara, dia menghantam punggung Raja. Hal tersebut membuat Raja melesat ke bawah. Raja dibuat seperti ping-pong oleh Barbara. Dia melesat ke sana-kemari terkena pukulan Barbara. Sangat cepat gerakannya.
Raja benar-benar dibuat kalabakan, tidak menyangka kekuatan Barbara akan bertambah kuat dengan sangat signifikan. Dia menjadi bulan-bulanan Barbara, tanpa balas.
“Jika seperti ini terus, bisa jadi nyawaku melayang di tangannya. Saya tidak sudi kalah begitu saja.” Raja melepaskan semua energinya, menangkis pukulan Barbara menggunakan pedangnya. Raja tidak lagi terpental. Energi meluap-luap dari dalam tubuhnya, pasir di bawah terbang ke udara. Berputar-putar mengelilingi Raja, dia tidak mampu menciptakan pasir dari energinya. Meski atribut energinya adalah pasir, Raja hanya mampu mengendalikan pasir sesuai kehendaknya.
Raja benar-benar mengerahkan kemampuannya kali ini, melihat Barbara menciptakan bola api dari energinya. Dia membuat pisau kecil dari energinya, bersiap menggerakannya ke arah Barbara.
Barbara bergerak cepat, muncul di belakang Raja. Hal tersebut membuat Raja tersenyum, pisau kecil dari pasirnya bergerak memutari Raja. Kemudian mengarah pada Barbara, persis saat Barbara melepaskan bola api. Sebuah ledakan tercipta di udara, hutan dekat Ibukota.
__ADS_1