Black Shadow

Black Shadow
Cebures


__ADS_3

Gin tiba di kamar mereka, ketika Yan sedang duduk bersila menutup mata. Gin ingin mengganggu kegiatan Yan, tapi urung melihat Saat melihatnya yang sedang serius, tubuhnya tak bergeming sedikit pun. “Apa sedang dilakukannya, sepertinya serius sekali. Sampai kedatanganku saja, tidak disadarinya.”


Tak lama setelah itu terdengar suara dengkuran. Mendengar hal itu, Gin yang sedang rebahan di atas kasur yang empuk mengubah posisinya menjadi duduk. Sementara, makanan kering yang sudah disimpan tadi, di atas meja bersama mie yang masih terbungkus rapi.


Gin memiringkan kepala, melihat Yan dengan seksama. Yan yang dikiranya sedang menjernihkan pikiran melalui perenungan yang dalam, ternyata sedang tertidur pulas dengan posisi duduk. Gin tak mengira totalitas Yan dalam hal mencari kenyamanan untuk tidur sampai sebegitunya.


Gin mencoba membangunkan Yan, tapi Yan tak bergeming sedikit pun. Tetap pulas dalam tidurnya, Gin tidak kehabisan akal. Dia menutup hidung, serta mulut Yan yang membuatnya susah bernafas dan akhirnya terbangun dengan wajah kesal setengah mati.


“Kau darimana saja? Daritadi ditunggu tak kunjung muncul.” Yan mencak-mencak mengeluarkan segala keluh-kesahnya terhadap Gin.


“Hei, seharusnya, saya yang bertanya seperti itu. Kamu ke mana tadi, pas bangun kamu sudah tidak berada di dalam kamar.” Gin tak mau kalah.


“Saya keluar sebentar ke tempat pengiriman barang, untuk mengirim tiga tanaman obat yang kita dapatkan dari Kota Goa. Lagipula, saya tidak lama. Setelah urusanku selesai langsung kembali ke penginapan dan hebatnya kamu sudah tidak berada di tempat tidur.” Yan menjelaskan dengan secara rinci.


“Sudahlah, kau tak perlu lagi membahas hal yang tak perlu. Makan sana, ada sebungkus mie. Khusus kubelikan untukmu.” Gin menunjuk malas pada mie di atas meja.


Yan langsung bungkam, menghamburkan diri ke meja yang berada di sudut atas tempat tidur. Mie yang dibawakan Gin, begitu lahap dimakan olehnya. Sampai abai dengan Gin yang mengajaknya bicara, tapi Yan tetap fokus pada makanan di hadapannya.


Yan makan seperti tidak pernah makan selama hidupnya, dalam waktu singkat mie yang dilahapnya tandas seketika. “Kau membeli mie ini di mana? ini mie terlezat yang pernah kucicipi.”


Gin hanya mengangkat bahu, mengacuhkan pertanyaan yang terlontar dari mulut Yan__ tak henti-hentinya berbicara.


Gin menguap seketika merebahkan tubuhnya ke atas kasur, tak ambil pusing dengan Yan yang sedang merapikan tempatnya makan.

__ADS_1


***


Gin dan Yan berada tepat depan gerbang Kota Bintang, mereka berniat melanjutkan perjalanan, tidak ingin menunda lagi. Madei dan Sicepat berdiri tegap dengan Gin dan Yan yang menunggangi. Mereka meninggalkan kota dengan cepat, tanpa menoleh sama sekali.


Pohon-pohon dilewati dengan cepat, lincah sekali Madei dan Sicepat melewatinya. Mereka melewati perjalanan yang terjal tanpa hambatan sama sekali, seperti melewati tanah rata saja. Sepanjang perjalanan lancar saja.


Mereka sesekali beristirahat malam hari seperti malam ini, di bawah sinar rembulan dan gemintang. Tapi, hanya saja. Bintang-bintang di sini kurang menarik dilihat, berbeda dengan saat masih berada di Kota Bintang.


Gin yang sedang mengalunkan nada indah melalui serulingnya, terhenti oleh kedatangan Yan. Gin dan Yan, akhirnya duduk bersama di batuan cadas, menatap indahnya rembulan. Sinar rembulan tepat menyinari mereka.


Terdapat berbagai macam bunga di sekitar mereka, kalau kalian bertanya tentang kondisi Madei dan Sicepat. Kedua hewan tunggangan itu sedang menikmati rumput yang tidak jauh dari padang bunga tersebut.


Tak lama kemudian, segerombalan kunang-kunang bercahaya merah mengelilingi Gin dan Yan yang sedang duduk santai di atas batu cadas. Gin mengulurkan jari telunjuk, seekor kunang-kunang hinggap. Tak lama kunang-kunang itu hinggap, cuman sebentar. Kemudian berlalu pergi, tanpa kata.


Gin dan Yan menikmati malam itu dalam keheningan, senyap tanpa suara, hanya suara jangkrik yang terdengar. Keindahan malam itu, membuat mereka terlelap begitu saja pada batuan cadas. Tubuh mereka meringkuk oleh dinginnya angin malam.


Mereka melanjutkan perjalanan, saat matahari tanpa malu muncul dari balik pergunungan. Keduanya sudah cukup istirahat, langsung melanjutkan perjalanan tidak ada salahnya, bukan. Hewan tunggangan mereka bergerak cepat, gesit dan lincah.


Tapi, tiba-tiba saja. Kedua hewan tunggangan itu berhenti begitu saja. Gin merasakan tubuh Madei bergetar hebat, “Apa kau kelaparan, Madei? Mengapa tubuhmu bergetar begitu hebat?” tanya Gin sembari mengelus surai Madei.


“Tidak, bukan lapar. Tubuh Sicepat juga bergetar hebat. Pasti ada hal lain yang membuat mereka seperti ini!” Tak lama, setelah Yan berucap. Tanah di sekitar mereka bergetar hebat, daun-daun pepohonan berguguran, bahkan ada suara pohon tumbang dari kejauhan.


“Apa yang sebenarnya terjadi!? Apa Madei dan Sicepat bisa merasakan sinyal bahaya?” Gin bertanya gusar. Ini jelas-jelas sangat janggal, makhluk apa coba yang mampu membuat tanah bergetar, pepohonan tumbang begitu saja.

__ADS_1


Dari kejauhan Gin melihat sesosok makhluk yang sangat besar, makhluk tersebut menghancurkan semua yang dilewatinya. Makhluk itu memiliki tinggi tiga puluh meter, berkulit ungu, memiliki mata bulat, gigi taring yang menjulang ke atas, serta memiliki tangan dan kaki layaknya manusia, hanya saja ukuran tubuhnya yang besar.


“Itu Cebures! Bukankah, seharusnya makhluk itu ada dalam penjara kerajaan? Kukira makhluk ini hanya ada dalam kisah dongeng saja, untuk menakuti anak-anak yang keluar malam.” Cebures adalah makhluk yang pernah mengacau di wilayah penguasa selatan beberapa ratus yang lalu, sebelum jauh sebelum terbentuknya Kerajaan Selatan.


Cebures ini merupakan makhluk yang kuat pada masanya, namun karena terlalu lama dalam kurungan membuatnya melemah. Makhluk tersebut, bahkan sempat menahan imbang kekuatan Penguasa Selatan Saat itu. Sungguh, kekuatan yang menakutkan.


Makhluk itu semakin dekat dari tempat Gin dan Yan berada, “Siak.” Gin dan Yan, tetap maju ke depan. Tetapi, mengambil arah yang berbeda untuk mengecoh makhluk tersebut. Gin dengan tenang menunggangi Madei yang bergerak dengan lincah di samping makhluk tersebut.


Sialnya, makhluk ungu yang tadinya memiliki gerakan lamban, dengan gerakan cepat menghadang laju Sicepat yang ditunggangi oleh Yan. Cebures mengayunkan tangan, menyerang Yan.


Sedikit saja, lambat merespon. Mungkin, Yan sudah terhempas jauh bersama Sicepat. Cebures mendengus marah, tak terima serangannya dihindari. Merasa tak ingin kesusahan sendiri, sementara Gin sedang berleha-leha di sudut sana.


Yan mengeluarkan energi tumbuhannya, akar muncul dari tanah merambat ke arah kaki Cebures yang sedang bergerak. Alhasil, Cebures terjerembab ke tanah, bum! Suara berdebam memenuhi udara, tanah bergoyang sampai radius ratusan meter. Pepohonan tumbang, terkena tubuh Cebures.


Sicepat bergerak cepat menghindari tubuh Cebures yang akan terjatuh ke tanah. Terbirit-birit Sicepat, menyelamatkan nyawanya, serta Yan.


Yan menghembuskan nafas lega, setelah hampir lepes oleh tubuh Cebures yang hampir menindihnya dan Sicepat. Menganga mulutnya melihat Cebures telah berada di hadapannya, “Sejak kapan makhluk ini ada di hadapanku?” batin Yan.


Kepalan Cebures mengarah pada Yan, untungnya Sicepat sigap menghindar. Bum! Tanah bergetar akibat serangan tersebut, tapi tak mengganggu keseimbangan hewan tunggangan Yan. Sicepat bergerak ke arah Gin dan Madei yang sedang berleha-leha di sudut sana.


Gin yang sedang menikmati masa santai, membelalakan mata. Dia tak percaya, Yan mengarah ke arahnya dan sedang dikejar Cebures di belakangnya, “Ini bercanda kan? Apa dia ingin menyeretku melawan Cebures. Ah, merepotkan, tapi sepertinya Cebures ini kuat juga.” Gin dengan senyum mengembang.


Gin berteriak setengah mati saat Yan dan Sicepat melewatinya, sementara Madei masih menikmati rumput tanpa mengetahui Cebures sedang mengerahkan pukulan pada mereka. Tak punya pilihan lain, Gin melapisi tangan dengan energi yang cukup besar, berdiri di atas pelana Madei.

__ADS_1


Gin melesat ke atas untuk beradu pukulan dengan Cebures, kesiur angin menghempas sekitar, menghempas jauh Madei yang sedang makan. Hal tersebut akibat pukalan Gin dan Cebures beradu, dia nampak kewalahan beradu pukulan, hingga akhirnya terhempas jauh ke tanah. Hal tersebut menimbulkan suara yang besar.


Tanah yang menjadi pendaratan Gin berlubang besar, dia yang berada dalam lubang merasa tubuhnya remuk. Tak terpikir dalam benaknya Cebures akan sekuat itu. “Gin, apa kau baik-baik saja di bawah sana?” teriak Yan terdengar samar-samar.


__ADS_2