Black Shadow

Black Shadow
Kubah Raksasa


__ADS_3

Ketiganya berkumpul diantara kedua kaki Cebures, “kau benar-benar hebat, Bulan. Bakat yang kau miliki bukan sekedar isapan jempol belaka. Li... lihatlah, dalam sekali serang kau mampu mengalahkan Cebures,” ucap Karibo meski agak terbata.


Mereka bertiga sedang bersenda gurau, sesekali membahas pesta ulang tahun Raja. Mereka ingin cepat kembali ke pesta perjamuan. Tapi, naas sekali nasib mereka, baru saja satu langkah meninggalkan tempat tersebut. Udara sekitar mereka menghilang entah ke mana.


Di tengah-tengah rasa panik yang melanda ketiganya, terdengar suara Cebures yang besar, menggelegar. Hal tersebut membuat ketiganya menganga, karena dalam pikiran mereka Cebures sudah tidak bernyawa lagi.


Cebures berdiri tegak, sementara ketiga komandan kesulitan bernafas akibat udara sekitar mereka nihil. Mereka juga kesulitan dalam berpikir jernih, meski pernafasan mereka bermasalah. Namun kecepatan mereka hanya sedikit melambat.


Cebures menyemburkan cairan hijau yang mematikan dari mulutnya, insting yang kuat dari ketiga komandan yang membuat mereka menghindari cairan tersebut. Akibatnya, cairan tersebut mengenai tanah.


Tanah yang terkena cairan hijau tersebut berlubang seketika, hal tersebut membuat Bulan, Itam dan Karibo mengucurkan keringat dingin.


Bagaimana tidak? Tanah saja bisa berlubang sampai sedalam itu. Apalagi kalau cairan hijau itu mengenai tubuh mereka.


Cebures terus menyemburkan cairan hijau tersebut, membuat ketiganya terpaksa menghindar ke sana-kemari. Alhasil, banyak toko, serta rumah yang hancur karenanya.


Merasa pusing dengan cairan tersebut, akhirnya dengan secara terpaksa Itam membuat kubah batu raksasa dari energinya. Dia menciptakan kubah yang mampu mengurung Cebures beserta mereka bertiga. Walaupun begitu, masih ada beberapa toko yang masih utuh masuk dalam kubah tersebut.


“Dengan ini, kita bisa mengamuk sepuasnya, monster sialan!” Itam mengatupkan rahang keras.


“Akhirnya, saya bisa mengamuk lagi setelah sekian lama.” Afro melemaskan dan membunyikan jari-jari tangannya.


Sementara, Bulan melepaskan energi yang cukup besar. Kedua belati di tangan yang tadinya berwarna mengkilap kini berubah menjadi ungu, juga terdapat asap ungu disekitar kedua belati tersebut.


“Hei, apa kau serius menggunakan jurus itu untuk menghadapi monster sialan ini, Bulan?” Afro dan Itam bersamaan, kedua alis mereka juga terangkat.

__ADS_1


“Yah, saya serius. Bahkan, bisa dibilang sangat serius.” Bulan dengan sangat tegas tanpa sedikit pun terdapat keraguan dalam sorot matanya.


“Baiklah, saya hanya berharap semoga monster sialan itu, tidak terlalu tersiksa menerima serangan darimu.”


“Tak perlu banyak omong kosong, sebaiknya kita fokus kepada Cebures atau kita akan kehilangan nyawa sia-sia, karena terlalu meremehkannya.” Bulan dengan penuh penekanan.


Bulan melempar belati yang berada di tangan kirinya, dia lalu berlari dan melompat. Ketika berada di udara Bulan menendang wajah Cebures, belati yang dilemparkannya tadi sedikit lebih lambat dari gerakan bulan.


Bulan menangkap belati yang dilemparkannya tadi dan menancapkannya ke mata Cebures. Akibat dari serangan tersebut, monster tersebut berteriak kesakitan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Hal tersebut membuat Bulan berayun ke sana-kemari dengan berpegangan pada belati yang masih tertancap dalam pada mata Cebures. Darah biru bercipratan ke sekitar membasahi tubuh Bulan, bukannya jijik dia malah tersenyum bahagia.


Merasa akan merepotkan jika tidak mencabut belatinya dengan cepat. Maka, bulan dengan kaki yang berpijak pada pipi Cebures dan tangan yang menarik kuat belati. Walaupun, Cebures terus bergoyang, tapi tetap saja Bulan mampu mencabut belati tersebut dan mengempaskan diri ke belakang.


Tubuh Bulan terhempas agak jauh, bahkan dia tanpa sengaja keluar dari area yang tak dapat dijangkau oleh Cebures. “Hei, di sini ada udara.”


“Karibo, Itam datang ke sini, kujamin kalian bisa bernafas dengan leluasa,” teriak Bulan sambil melambaikan tangan.


Mendengar teriakan Bulan, keduanya yang sudah hampir kehabisan nafas bergerak dengan kekuatan penuh ke arah Bulan dan menghirup nafas dalam-dalam.


“Akhirnya, bisa bernafas dengan leluasa lagi.”


Cebures yang mengalami kebutaan pada salah satu matanya, menyemburkan cairan hijau ke segala arah. Membuat kubah ciptaan Itam berlubang, tapi kembali utuh lagi. Karena dengan cepat dapat diperbaiki oleh Itam.


Tiba-tiba Itam menciptakan golem raksasa yang sama besar dengan Cebures. Sementara itu, Karibo menambah daya ledak pukulannya dengan energi yang dimilikinya. Keduanya menyerang Cebures secara bersamaan.

__ADS_1


Itam dengan golem batunya, sementara Karibo dengan pukulan meletupnya. Ketika serangan keduanya mengenai Cebures, ledakan besar muncul. Itam dan Bulan termundur beberapa langkah ke belakang karenanya.


Sedangkan Karibo, terus melesatkan pukulan meletupnya tanpa henti pada Cebures. Akibatnya, ledakan beruntun terus terdengar memekakkan telinga. Serangan Karibo terus berkelanjutan tanpa henti, hal tersebut membuat Cebures termundur beberapa langkah.


Puing-puing toko beterbangan ke sana-ke mari, akibat serangan yang diakibatkan oleh letupan pukulan Karibo pada Cebures. Karena, kehabisan nafas Karibo mundur jauh ke belakang untuk mengambil nafas dalam-dalam.


Hal tersebut membuat Bulan merensek maju, menggantikan Karibo. Dengan belatinya, Bulan menyayat habis-habisan tubuh Cebures. Namun hanya sedikit goresan yang nampak di sana, racun yang terdapat pada belati hanya memperlambat gerakan monster tersebut.


Bulan melenting ke sisi kanan, menghindari tendangan kaki Cebures. Kemudian, Bulan melesat ke udara melakukan gerakan tendangan berputar. Dia menendang Cebures dengan belakang kakinya, tendangan Bulan membuat Cebures terjatuh ke belakang.


Bersamaan dengan getaran tanah yang cukup ringan, tak hanya sampai disitu. Bulan melemparkan belatinya tepat di tengah-tengah tanda silang. Cebures berteriak kesakitan, dia berguling-guling.


Cebures bangkit dan mengarahkan pukulan pada Bulan yang membuatnya terhempas dan menabrak dinding kubah. Bulan muntah darah karenanya, golem Itam yang mengantikan Bulan.


Karibo dan Itam sebenarnya, mengkhawatirkan Bulan, tapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Melihat golem dan Cebures saling beradu pukulan, Karibo merensek maju dan menghantam kaki Cebures. Bum! Sebuah letupan besar terdengar membahana.


Cebures yang kakinya terkena hantaman keras kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tanah yang mengakibatkan tanah bergetar, serta muncul suara dentuman. Tak hanya sampai disitu, Bulan yang baru saja bangkit langsung bergerak melompati tubuh Cebures yang masih terbaring.


Dia menikam dada Cebures dengan belati, tepat pada luka silang. Hal tersebut membuat Cebures lagi-lagi menjerit kesakitan. Cebures menyibakkan tangan ke arah luka silang di dadanya, Bulan yang sibuk menarik belatinya tidak menyadari tangan Cebures menghantamnya kuat.


Bulan terhempas dan menabrak dinding kubah, darah segar kembali keluar dari mulutnya. Dengan cepat, Bulan membersihkan sisa darah dari bibirnya. “Lumayan, bibirku jadi lebih merah karena darah yang keluar, seharusnya saya harus lebih berterima kasih pada monster itu.”


Bulan yang baru saja melihat Cebures berdiri tegak, dia berlari cepat dan melompat tinggi tepat di depan monster itu. Bersamaan dengan itu Karibo juga melompat ke atas. Bulan melakukan tendangan berputar, sedangkan Karibo menghantam Cebures dengan pukulan yang menimbulkan letupan besar.


Letupan tersebut membuat Bulan yang berada di atas terhempas ke langit-langit kubah dan terjatuh ke lantai. Sementara, Cebures lagi-lagi terjatuh menghantam lantai yang menimbulkan suara yang tidak asing lagi ditelinga ketiganya.

__ADS_1


Cebures tidak berkutik selama beberapa menit, hal tersebut memberi harapan pada ketiganya bahwa monster tersebut sudah kalah. Namun berselang beberapa detik setelah menaruh harapan, tiba-tiba puing-puing toko terangkat ke udara, kubah yang menutupi mereka retak seketika.


Dengan cepat Itam memulihkan kubah, namun kubah tersebut justru lubruh begitu saja. Cebures bangkit dengan berlapis energi yang sangat besar diseluruh tubuhnya. Hal tersebut membuat Bulan, Itam dan Karibo mengucurkan keringat dingin.


__ADS_2