
Gin yang sedang berteriak dan memberontak ke sana-ke mari, terdiam begitu saja. Dengan sendirinya akar yang melilit tubuhnya terlepas begitu saja. Berselang beberapa detik terlihat Yan mensejajarkan diri di samping Gin.
“Serahkan barang-barang berharga kalian. Jika tidak akan kuledakkan kalian semua, hahaha.” Salah satu pria bermata hitam, juga berambut tak beraturan berdiri di depan sekelompak petarung berpenampilan sama sepertinya.
Mereka semua berdiri di depan bekas ledakan, masih terlihat sisa-sisa api di sana. Beberapa tubuh yang hangus terbakar juga mulai nampak. Gin dengan muka yang sangat datar mencabut pedang bayangan dengan sangat cepat. Dia melemparkan pedang tersebut ke sekolompok petarung di depannya.
Pedang tersebut tertancap pada tubuh salah satu petarung. Petarung tersebut terlempar ke belakang dan menabrak beberapa orang lainnya. Pedang Gin telah menembus jantung orang tersebut.
“Orang-orang seperti kalian, hanya bisa menghancurkan suasana hatiku yang sedang bagus. Apakah kalian tahu tempat ini menyimpan barang-barang yang jauh lebih berharga dibanding nyawa kalian.” Gin yang sebelumnya enggan membunuh manusia, kini tanpa sadar telah menikmati sensasi membunuh.
Sementara itu, Yan yang berdiri di samping Gin, bergidik ngeri. Atas perubahan Gin, setelah kejadian Perguruan Tombak Emas malam itu. Dia lebih menikmati membunuh dibandingkan siapapun. Dia dengan mudah membunuh para petarung yang membuat kekacauan di sekitarnya.
Lihatlah, Gin sedang bergerak dengan cepat ke arah petarung yang baru saja terkena serangannya untuk mencabut pedangnya. Gin menebas asal ke segala arah. Dia mengambil jarak dari para petarung tersebut.
Sepertinya mereka geram terhadap Gin. Lihatlah wajah mereka sekarang yang telah memerah, rahang yang di katupkan dan tangan terkepal. Mereka bergerak mendekat ke arah Gin. Melancarkan serangan yang begitu ganas.
Gin menangkis beberapa serangan dengan pedangnya, serangan yang datang dari berbagai arah membuatnya kalang-kabut. Bukan main, Gin dengan susah payah menghindari serangan yang terus berdatangan. “Kalian begitu tidak tahu malu. Menganiaya seorang bocah dengan jumlah yang begitu banyak. Apa orang-orang seperti kalian telah putus urat malunya?”
Yan mencoba untuk memprovokasi orang-orang tersebut, rencana tentu berjalan lancar. Lihatlah, sekarang para petarung tersebut terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok mengelilingi Gin dan satu kelompok lagi, mengepung Yan.
__ADS_1
Gin memasukan pedang ke dalam sarungnya. Dia merenggangkan sedikit otot-ototnya, terdengar bunyi gemeletuk dari jari-jari tangannya. Saat Gin memasang kuda-kuda, orang-orang tersebut mulai menyerangnya.
Gin mundur dua langkah, dia menyerang dengan tendangan. Tendangan tersebut mengenai dua orang yang membuat mereka terpental beberapa meter. “Apa tujuan kalian mengacaukan tempat yang menarik ini, hah?”
“Apa kamu mempunyai hak untuk mengetahui alasan kami mengacaukan tempat ini?” Gin menggertakkan gigi mendengar jawaban tersebut. Dia bergerak dengan cepat menyerang orang-orang yang mengepungnya.
Satu, dua, tiga, dan empat petarung berjatuhan ke tanah, terkena serangan Gin. Tidak sampai disitu saja, Gin terus mengerahkan pukulannya yang telah dilapisi sedikit energinya. “Para bocah ini, bagaimana bisa menghajar para anak buah yang mengepungnya?”
Pemimpin para petarung tersebut mulai heran dengan kemampuan yang dimiliki oleh Gin maupun Yan. Mereka berdua telah menumbangkan satu persatu anak buah sang petarung. Wajah pemimpin para petarung sudah tidak enak dilihat.
Dia tidak pernah menyangka, jika anak buahnya akan dihajar habis-habisan oleh Gin dan Yan. Lihatlah, Yan telah menumbangkan setengah dari orang-orang yang mengepungnya. Tidak jauh berbeda dengan Gin.
Tiba-tiba saja, orang-orang yang mengepung Gin maupun Yan. Secara serentak mengeluarkan sebuah bambu yang mempunyai penutup kayu yang terbungkus oleh kain berwarna merah. Pada saat tutup botol tersebut di buka.
“Ini asap abadi dari Kerajaan Barat yang terkenal itu. Apakah kalian orang-orang yang berasal dari Kerajaan Barat?” Salah satu penjaga toko berseru lantang, sehingga suaranya menggema ke seluruh ruangan.
“Rupanya, barang dari Kerajaan kami begitu terkenal sampai ke Kerajaan kecil ini.” Pemimpin para petarung memberi jawaban.
“Kukira kekacauan yang terjadi pada Kerajaan Barat hanyalah sebuah rumor saja. Akan tetapi, melihat para petarung sampai mengacau ke sini. Itu berarti Kerajaan benar-benar dalam keadaan krisis sehingga harus menutup diri dari dunia luar. Sehingga membuat banyak orang seperti kalian mengacau di mana-mana.”
__ADS_1
“Tidak bisa dipungkiri, begitu besar imbas dari kekacauan yang timbul akibat Kerajaan Barat ini menutup diri dari dunia luar. Bisa kutebak kalian keluar dari Kerajaan Barat, karena kekurangan sadang dan pangan, bukan. Sebab, hampir seluruh sadang dan pangan harus tersalur ke kerajaan.”
“Bukan hanya itu saja, banyak bandit, perampok dan para pembunuh mulai bermunculan di ketiga Kerajaan, karena Raja barat sedang sibuk memulihkan kerajaannya.” Mendengar hal tersebut. Seluruh petarung maupun para konsumen yang berada di ruangan tersebut termangu.
Termasuk Yan. Hanya Gin yang merasa biasa-biasa saja. Terdengar bisik-bisik di seluruh ruangan tersebut. “Hal apa yang membuat Kerajaan Barat harus sampai menutup diri?”
“Kerajaan Barat terjadi kekacauan hingga krisis sandang dan pangan. Bukankah, Kerajaan Barat adalah Kerajaan terbesar di antara Kerajaan yang lain.” Semua yang berada di ruangan tersebut berpikir keras mencari penyebab kekacauan Kerajaan.
Seakan tidak ingin membuat para petarung maupun pengunjung lain merasa penasaran, penjaga toko berkata, “Dengar-dengar yang membuat Kerajaan Barat hingga sampai seperti itu hanyalah satu orang saja. Dia bahkan dapat menghancurkan setengah Kerajaan.” Seluruh ruangan penuh dengan suara keterkagetan.
“Bagaimana mungkin dengan hanya seorang saja dapat menimbulkan kehancuran yang begitu besar bagi Kerajaan Barat. Apakah orang yang mampu mengacaukan Kerajaan Barat itu monster?” Bisik-bisik memenuhi ruangan.
Terdengar suara tepuk tangan menggema ke seluruh ruangan. “Rupanya penduduk desa Goa yang hanya berisi sekumpulan tabib, juga merupakan pengumpul informasi yang cukup baik.” Terdengar tawa lantang sebagai jawaban.
“Bukan kami yang baik dalam mengumpulkan informasi. Hanya saja, informasi ini belum sampai ke telinga para pengunjung di sini. Bukankah, sudah sebulan lebih kabar ini telah mengguncang dunia. Menjadi topik hangat bagi para petarung di seluruh dunia. Bahkan, tidak sedikit yang meragukan kabar ini.”
“Kekacauan di mana-mana, bahkan para petarung yang selama ini berdiam diri atau orang yang telah lama menyatakan pensiun dan ingin hidup normal, kini kembali ke permukaan setelah mendengar kabar tersebut.”
“Ini, kenapa kepalaku terasa pusing?” Gin mulai merasa ada yang salah pada asap tebal tersebut.
__ADS_1
Yan yang mendengar keluhan, Gin. Dia menepuk jidat dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menutup mulut dan hidungnya. Yan berkata sambil menurunkan tangan kirinya. “Dasar bodoh, mengapa kau menghirup asap tebal ini. Asap ini beracun!!!”
Yan juga merasa pusing di kepala. Dia baru menyadari telah menghirup asap, “Betapa bodohnya diriku. Mungkin kebobrokan Gin menular padaku.” Gumam Yan dalam hati sembari terjatuh ke tanah, begitu pula dengan Gin.