
Kali ini Gin benar-benar sulit untuk bangkit kembali, Tangan kanan Raja selatan mengalirkan tenaga dalam pada Putranya. Setelah itu dia segera membawa Putranya pergi dari tempat tersebut. Dia juga tak lupa meninggalkan perintah pada anak buahnya untuk menghabisi Gin.
Anak buah Tangan kanan Raja selatan menghampiri Gin untuk mengakhiri hidupnya, tetapi asap tebal yang menghalangi pandangan tiba-tiba saja muncul memenuhi ruangan tersebut.
Saat asap yang memenuhi mulai menghilang. Kulit para anak buah Tangan kanan Raja selatan berubah menjadi pucat, sepucat jasad yang tak memiliki darah lagi dalam tubuh mereka. Hal yang membuat mereka pucat adalah tubuh Gin tergeletak lemah di tempatnya terbaring sebelumnya telah kosong.
“Ke mana bocah tadi, bukannya dia sudah tidak bisa bergerak lagi?” ucap salah satu dari anak buah Tangan kanan Raja selatan.
Kemudian salah satu dari mereka yang terlihat lebih kuat dari semua anak buah Tangan kanan Raja selatan yang masih berada di ruangan tersebut memberikan perintah kepada yang lain untuk berpencar mencari Gin dengan cepat atau nyawa mereka sebagai gantinya.
Tentu saja sudah jelas bahwa nyawa mereka akan menjadi gantinya, karena Tangan kanan Raja selatan terkenal tak menerima kegalalan dengan alasan apapun dikalangan anak buahnya. Teringat akan hal tersebut orang yang memberikan perintah tiba-tiba saja mengeluarkan keringat dingin.
Seluruh anak buah Tangan kanan Raja selatan yang berpencar mencari Gin, kembali dengan tangan kosong. “Cepat cari lagi atau kita akan di bunuh olehnya secara mengenaskan, jika kalian tidak mendapatkan bocah tersebut, maka persiapkan kuburan kalian masing-masing.”
Di sisi lain dalam kediaman Widora, seorang perempuan sedang mengomeli dua orang pria. Kedua pria tersebut hanya bisa menunduk sambil memain-mainkan jemari mereka masing-masing. “Kalau lagi bicara itu tatap mata lawan bicara. Bukannya menunduk kayak kucing basah begitu, apalagi sambil memainkan jari-jari kalian seperti itu.”
“Bicara atau lagi marah-marah seperti Nenek sihir yang kelaparan.” Rupanya umpatan Yan yang bagai bisikan dapat didengar dengan jelas oleh perempuan yang sedang mengomeli mereka.
“Apa? Nenek sihir katamu.” Widora tanpa menunggu lebih lama untuk menjitak kepala Yan hingga benjol yang lumayan besar.
“Aduh... aduh... duh, sakit tau Widora, ahh sakit.” Yan meringis sambil meloncat ke sana-kemari bagaikan kanguru yang belum makan setahun.
Melihat hal tersebut Gin hanya bisa menahan tawa sambil menunduk. Jika dia kelepasan maka nasibnya tidak akan jauh beberda dari Yan. Alasan Widora mengomeli Gin dan Yan, karena Yan memulangkan Gin dalam keadaan mengenaskan.
""Ternyata perempuan itu, kalau sedang marah seperti iblis."
__ADS_1
Setelah Gin meminum ramuan yang diberikan oleh Widora, Ginpun pulih tiga puluh persen, tetapi berkat itu. Dia sudah bisa bergerak dengan leluasa, walaupun masih ada beberapa bagian tubuhnya yang masih membutuhkan perawatan yang lebih lanjut.
Saat Widora menanyakan penyebab Gin bisa sampai pulang dalam keadaan sekarat yang sampai tak mampu berdiri.
Dengan polosnya Gin menceritakan semuanya secara detail kepada Widora. Yan yang sedari awal mencoba untuk memberi kode pada Gin untuk tidak bercerita sampai menutup mulutnya. Yan hanya bisa pasrah saat diancam oleh Widora untuk diam mendengarkan cerita Gin.
Yan duduk diam sambil memasang muka konyolnya serta tersenyum miris, memikirkan nasib yang akan menimpanya setelah mendengar Widora mendengar penjelasan Gin. Pada akhir cerita Yan sempat ingin kabur, tetapi leher jubahnya sudah dipegang lebih dulu oleh Widora hingga membuatnya tercekik setengah mati, diberi hadiah sebuah pukulan yang tepat pada perutnya.
Menerima pukulan Widora yang begitu keras membuat mata Gin membulat besar hingga hampir meloncat keluar. Setelah itu Widora mengomeli Gin dan Yan. Dan yang menjadi sasaran omelan adalah Yan, karena dialah yang mengajak Gin ke pasar gelap.
“Lain kali, kalau Widora menanyakan hal yang tidak-tidak, kau tak perlu jujurlah menjawabnya.” Giliran Yan mengomeli Gin usai Widora tak terlihat lagi.
“Kamu mulai seperti Nenek sihir Yan.” timpal Gin sambil merinding.
“Maksudmu?”
“Kata siapa omelan Widora seram? Yang seram itu wajahnya bukan omelannya.” Yan tak sadar bahwa Widora sudah berada di belakangnya sejak dia mengatainya, hal ini membuat Gin ketakutan setengah mati.
Melihat Gin yang ketakutan membuat Yan bertanya padanya. “Kamu kenapa Gin?”
“Wi... do... Wid... do... do... ra.” Gin langsung lari ketakutan, sementara itu Yan mencoba untuk memaksakan lehernya yang tiba-tiba menjadi kaku untuk berbalik melihat ke belakang.
“Oh begitu, yah. Wajahku seram, hmm pujianmu lumayan juga yah, Yan.” Widora yang sedang berdiri di belakang Yan, sambil berkacak pinggang. Dia sudah bersiap untuk memberi sebuah jitakkan yang lumayan keras sebagai hadiah, karena Yan sudah berbaik hati memuji Widora.
“Sungguh naas nasib Yan,” pikir Gin. Dia benar-benar ketakutan melihat Widora marah. Gin bernafas legah, karena bisa lari dari kemarahan Widora. Dia juga masih ketakutan untuk pulang ke kediaman Widora jadi, sampai ketakutannya dan kemarahan Widora hilang dia memutuskan untuk berkeliling kota siang itu.
__ADS_1
Gin berkeliling sampai sore hari, di salah satu sudut lorong kota Yure. Gin melihat sekelompok Pemuda yang ingin mempermainkan Pria sepuh sudah memegang tongkat. “Hentikan!!!” teriak Gin.
“Wow, rupanya ada seorang bocah yang ingin menolong tua bangka yang sudah berbau tanah ini.” Salah satu Pemuda tertawa terbahak-bahak mendengar itu diikuti Pemuda yang lain.
Tanpa basa-basi Gin bergerak dengan cepat untuk memukul Pemuda yang mengoceh sebelumnya. Pemuda tersebut terpental jauh hingga menabrak ujung lorong. “Kau berani memukul teman kami, saat masih berada dihadapan kami.”
Meski berkata lantang kaki Pemuda tersebut, sebenarnya sudah gemetaran saat Gin tiba-tiba dengan mudah bergerak dengan begitu cepat dan memukul teman mereka. Gin kemudian bergerak lagi untuk menyerang salah satu dari mereka akan tetapi, pukulannya ditangkap oleh salah satu dari kumpulan pemuda tersebut.
Gin dengan sigap menyerang Pemuda yang masih menggengam tangannya dengan erat. Pegangan tangan Pemuda tersebut dilepaskan demi menghindari tendangan Gin yang begitu cepat.
Pemuda tersebut lalu bergerak untuk menyerang Gin dengan pukulan yang dialiri oleh energi yang tak terlalu kuat.
Gin menghindari pukulan Pemuda tersebut, dia bisa saja menangkis Pukulan lemah dari lawannya, tetapi dia tidak ingin meremehkan lawannya seperti yang pernah Bibi Merume katakan padanya, “Bahwa kekalahan yang paling buruk adalah karena meremehkan kekuatan lawan yang sedang dihadapi.
Gin bergerak dengan cukup cepat hingga muncul di belakang sang Pemuda dan mengerahkan pukulannya. Pukulan Gin dapat dihindari oleh Pemuda tersebut, hal tersebut membuat Gin sontak kaget, karena dia sudah menambah kecepatan serangannya, tetapi masih juga bisa dihindari walaupun dia tau lawannya kesulitan menghindari serangannya.
Pemuda tersebut tidak tinggal diam saja, membiarkan Gin terus-menerus melancarkan serangan padanya. Diapun melancarkan serangan terkuatnya pada Gin, gerakan Pemuda tersebut dua kali lebih cepat dari sebelumnya, hal ini membuat Gin sedikit kaget. Pukulan Pemuda tersebut dialiri oleh energi yang cukup besar.
Saat pukulan Pemuda tersebut hampir mengenai Gin. Dia menghilang dari hadapannya dan muncul di samping kanan Pemuda tersebut. Tanpa basa-basi lagi Gin mengerahkan pukulanya pada sang Pemuda. Pukulan Gin mendarat mulus pada wajahnya yang membuat Pemuda tersebut kalang-kabut serta terhempas jauh.
Melihat hal tersebut, teman-teman Pemuda yang sedari tadi asik menonton segera lari membawa kedua teman mereka yang terbaring pingsan, sebab diantara mereka semua Pemuda itulah yang memiliki kekuatan lebih besar. Melihat sekelompok Pemuda tersebut sudah meninggalkan dirinya dan sang Pria sepuh.
Gin menghembuskan nafas lega. Diapun menghampiri sang Pria sepuh. “Apakah Kakek tidak terluka?”
Sang Pria sepuh tersenyum sumringah hingga giginya terlihat. “Kakek baik-baik saja terima kasih, yah. Anak muda, ini ada sedikit barang Kakek miliki, Kakek berikan padamu sebagai tanda terima kasih.” Sang Kakek tersenyum memberikan sebuah buku yang sudah usang, bahkan sebagian sampulnya hilang.
__ADS_1
Sampul buku tersebut berwarna hitam pekat. Kakek itu pergi meninggalkan Gin yang sedang kebingungan. Karena tak ingin menyinggung perasaan sang Kakek. Gin meletakkan buku yang diberikan sang Kakek diselah jubahnya.
Ginpun pulang ke kediaman Widora. Pada saat Gin sudah berada di depan pintu kediaman Widora, dia dengan ragu-ragu membuka pintu kediaman. Dengan tangan yang gemetar Gin membuka pintu tersebut, di balik pintu terdapat Widora yang sudah menunggunya.