
Yan terbangun mendengar langkah di luar kamarnya, matanya masih buram. Pada saat matanya sudah fokus, matanya menyapu seisi ruangan. Keringatnya mengucur deras, saat menyadari Gin tidak berada dalam ruangan.
Langkah kaki semakin jelas terdengar, karena penasaran dia membuka pintu secara perlahan. Matanya membulat, saat melihat tubuh bergelimang darah tergeletak di atas lantai, reflek dia membuka lebar pintu kamar.
Yan melihat seseorang yang sedang menyeret salah satu tubuh prajurit untuk disembunyikan, dia dengan cepat menyerangnya. Akan tetapi, serangannya dapat dihalau dengan mudah. Picik! Jubah Hitam menggunakan mayat prajurit sebagai tameng, serangan Yan mengenai mayat tersebut.
Orang tersebut memakai jubah besar, berwarna serba hitam dengan penutup kepala. Jubah Hitam menyerangnya dengan tapak. Bukannya menghindar, Yan malah sengaja menyambut serangan tersebut dengan jurus tapaknya.
Pertemuan jurus keduanya menimbulkan gelombang kejut yang menghasilkan tiupan angin di sekitar mereka. Namun, Yan hanya bisa bertahan beberapa detik, termundur ke belakang dengan memuntahkan darah segar yang cukup banyak.
“Orang ini sangat hebat! Sepertinya, akan merepotkan, jika bertarung secara habis-habisan dengan orang ini,” batin Yan.
Yan tidak mau menyerah, dia menyerang sosok berjubah. Namun dapat dihindari dengan mudah, dia tidak menyerah begitu saja. Usahanya, tentu tidak sia-sia. Lihatlah, saat ini dia sudah bisa menyarangkan satu-dua pukulan ke sosok berjubah yang membuatnya termundur sejauh tiga langkah.
“Siapa kau sebenarnya? Apa tujuanmu membunuh para prajurit ini?” Yan, akhirnya bertanya dengan suara yang cukup keras. Sementara itu, sosok berjubah hitam di depannya tidak bersuara sedikitpun.
Dia menyerang Yan dengan tapak secara tiba-tiba, tapi kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Yan yang tidak siap menerima serangan sosok berjubah, terhempas ke dinding. Dia memuntahkan lebih banyak darah dari sebelumnya.
Sosok berjubah lari begitu saja, ketika melihat Yan terhempas ke dinding. Yan segera menghapus bekas darah dari mulutnya, dia dengan kecepatan penuh mengejar. Akan tetapi, sosok berjubah lebih cepat dibandingkan dirinya.
Yan mengepalkan tangan dengan kuat, dia baru menyadari hari sudah malam. Ketika melihat langit dari arena turnamen. Yup! Yan mengejar sosok berjubah sampai ke arena turnamen, tapi sosok berjubah hilang begitu saja dari pandangannya.
Yan langsung merasakan sakit di sekujur tubuh yang amat sangat, dia sampai menjerit kesakitan. Itu efek dari serangan tapak yang diterimanya. Yan terus menjerit keras hingga seseorang tiba, memberikan energi yang begitu menyejukkan.
Yan tepar begitu saja, setelah menerima energi tersebut. Dia baru bisa sadar ketika setengah jam berlalu, Yan langsung terbangun oleh ingatan terakhirnya. Matanya menyapu sekitar, mencari seseorang yang telah meredakan rasa sakitnya. Bahkan, dia merasakan tubuhnya jauh lebih ringan dibandingkan sebelumnya.
__ADS_1
Dia mencoba mencari di sekitar situ, tapi tidak menemukan apapun. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari prajurit yang masih hidup untuk melaporkan kejadian yang dialaminya, sembari mencari keberadaan Gin.
Akan tetapi, lama berjalan menyusuri asrama. Dia tidak menemukan siapapun. Hanya mayat prajurit yang didapatinya, berserakan di mana-mana. Yan mengepalkan tangan keras.
“Jika saja, saya lebih kuat. Mungkin, saya bisa mengalahkan sosok berjubah hitam tadi.” Yan menyimpan dendam tersendiri kepada orang yang memakai jubah hitam. Apalagi dia sudah dikalahkan dengan mudah.
***
Senyuman tidak pernah hilang dari wajah Gin. Senyuman yang diakibatkan oleh Putri, dia telah membebaskan dari ikatan yang menjerat, menyiksanya sejak tadi. Apalagi dengan perut kosong. Gin benar-benar tersiksa, karena hal tersebut.
“Saya tidak menyangka, ternyata Iblis Kecil bisa berbuat baik juga.” Gin memuji Tuan Putri tulus dari hati, bukan sebuah gurauan atau sekedar mencari muka. Toh, dia sudah memiliki wajah yang lumayanlah.
“Apa kau bilang? Iblis Kecil!” Gin yang sedang mengelus-ngelus perut yang sedang kekecangan, harus terhenti. Dia menyadari telah melakukan kesalahan.
“Entah, siksaan apalagi yang akan diberikan oleh Iblis Kecil kepadaku?” batin Gin sambil terus melangkah mundur, sementara Tuan Putri terus maju, mendesaknya hingga tubuh Gin tertahan oleh dinding.
“Kau berani mengataiku seperti itu?” Tuan Putri membentak sambil menunjuk-nunjuk dada Gin.
“Ti... tidak.” Gin sampai terbata-bata dibuatnya, dia mengucurkan keringat dingin lebih banyak. Sampai harus membuatnya membersihkan keringat dari wajah. Hal itu dilakukannya, hingga beberapa kali. Seakan tahu, Gin sedang khawatir, jika dia akan mengerjainya lagi.
Akhirnya, Tuan Putri melipat tangannya di depan dada, tapi posisi tangan kanan berada di dagu dengan jari yang mengetuk pipinya. “Tapi, sepertinya menarik. Kau boleh memanggilku Iblis Kecil, sebagai tanda pertemanan kita.”
Tuan Putri mengulurkan tangan, tak lupa senyuman menghiasi. Hal tersebut membuat Gin menjadi waspada, dia melihat tangan Tuan Putri dengan teliti. Untuk mencegah dirinya dikerjai oleh Tuan Putri, merasa tidak ada yang salah. Gin menerima uluran tangan Tuan Putri.
“Oh ya, kita sudah dua kali bertemu, tapi saya belum tahu namamu?” tanya Tuan Putri padanya. Gin adalah teman yang sangat berarti bagi Tuan Putri, baginya Gin adalah harta karun yang tidak ternilai harganya. Bagaimana tidak, Gin adalah teman satu-satunya baginya.
__ADS_1
Selama ini, Tuan Putri malas untuk keluar dari area istana, paling jauh Tuan Putri hanya bisa ke ruang latihan ini dan menghabiskan banyak waktu tanpa terganggu. Sekali-dua kali, dia menyelinap keluar istana.
Rakyat Kerajaan Selatan tidak ada yang mengetahui, kalau Raja memiliki seorang Putri. Dunia juga tidak mengetahui fakta tersebut, hanya orang dalam istana yang mengetahui ini. Bahkan, orang dalam istana juga tidak semua mengenali Tuan Putri.
Bisa dibilang Gin adalah orang yang beruntung, karena satu-satunya orang luar yang mengetahui, bahwa Raja Selatan memiliki seorang Putri. Yah, meski Gin mungkin tidak akan peduli dengan fakta itu.
“Namaku Gin.” Dia memperkenalkan namanya.
“Kamu peserta turnamen, ya?” Tuan Putri menanyai Gin yang sedang menatapnya tanpa mengedipkan mata sedetik ‘pun. Tuan Putri sampai bingung dibuatnya, dia pertama kali ditatap seperti itu oleh orang lain.
“Iya, kamu betul sekali.” Pernyataan Gin membuat Tuan Putri mengerutkan dahi. Meskipun, dia tidak tahu banyak tentang turnamen yang akan diadakan, tapi sejauh yang diketahuinya. Bahwa, peserta turnamen dilarang keluar dari kamarnya masing-masing.
“Bukannya, peserta turnamen dilarang keluar, ya? Juga setiap sudut asrama dijaga ketat. Dengar-dengar, kalau ketahuan bisa-bisa didiskualifikasi dari turnamen.” Tuan Putri dengan polosnya.
“Kamu benar lagi.” Gin dengan cengiran lebarnya.
“Lalu, bagaimana caranya kamu bisa melewati penjagaan yang begitu ketat?” Hal tersebut membuat Putri menjadi kebingungan.
“Itu rahasia. Hahahaha!” Gin dengan tawa yang membahana.
Seketika Gin tersentak, segera menutup mulut Tuan Putri yang ingin berbicara. “Humpt... humpt.. humpt...”
Gin memberi tanda ke Tuan Putri, agar diam dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Seraya memberi tanda kepadanya, agar tetap berada di tempat. Gin dengan langkah tanpa suara, berjalan ke arah pintu ruang latihan.
Gin meraba pintu ruangan, kupingnya dia letakkan di daun pintu. Gin mendengar suara serangan saling berbenturan, tapi disaat yang sama Gin juga mendengar banyak suara langkah kaki. Dia mengerutkan dahi, “Ada yang menyerang para prajurit?”
__ADS_1