
“Gin!!!” Teriak Yan yang berada di luar arena. Diapun menghampiri Gin, namun sebelum dia tiba di tempat Gin. Tiba-tiba Gin bangkit dan memuntahkan darah yang cukup banyak untuk kedua kalinya.
Gin mengusap darah yang tersisa pada mulutnya. Dia segera kembali ke atas arena pertarungan, Gin akhirnya berhadapan dengan Si Rambut Merah yang sedang tersenyum sinis padanya.
“Sudah kuduga, kamu tidak akan tewas semudah itu. Ayo lanjutkan lagi pertarungan kita.”
“Sudahlah jangan banyak mengoceh di sini, sebaiknya kamu bersiap untuk kekalahanmu.” Tatapan mata Gin kali ini jauh lebih tajam dari sebelumnya.
“Hahaha,” tawa Si Rambut Merah menggema di seluruh ruangan bersama dengan gerakan yang begitu cepat untuk menyerang Gin.
Gin dengan mudah menghindari serangan tersebut dan membalas dengan pukulannya, namun dapat di tangkis oleh Si Rambut Merah.
“Sebaiknya, saya menambah kecepatan seranganku agar tak mudah dihindari,” batin Gin.
Gin melesatkan sebuah pukulan yang telak mendarat pada Si Rambut Merah yang hampir membuatnya terhempas jauh, jika saja dia tidak membuat pijakan dengan menginjak lantai arena hingga bolong hingga betis Si Rambut Merah.
Gin memanfaatkan kondisi Si Rambut Merah yang sebelah kakinya masih tertancap pada lantai arena. Dia menyerang Si Rambut Merah dengan serangan tapak, Gin tak memberi kesempatan bagi Si Rambut Merah dengan serangan demi serangan yang dia berikan kepada lawannya tersebut.
Si Rambut Merah tak membiarkan Gin menyerangnya terus-menerus, dia menangkis serangan Gin sambil mencari kesempatan untuk lolos darinya. Saat melihat kesempatan itu datang di depan matanya dia tentu saja tak ingin membiarkannya lewat begitu saja.
Si Rambut Merah melayangkan sebuah pukulan yang ditangkis oleh Gin yang membuatnya termundur beberapa meter. Si Rambut Merah kemudian mencabut kakinya dari lantai arena, energinya hampir terkuras habis sementara Gin masih terlihat baik-baik saja.
Melihat pertarungan yang begitu menegangkan para penonton seperti merasakan ketegangan yang ada di dalam arena. Begitu juga dengan Tangan kanan Raja selatan, bahkan dia yang paling merasakan ketegangan yang ada dalam arena, karena dia melihat dengan jelas, bahwa Gin lebih unggul dibandingkan dengan putranya sendiri.
Tanpa ada yang mengetahui sama sekali, Tangan kanan Raja selatan mentransfer sedikit tenaga dalamnya pada putranya.
__ADS_1
Si Rambut Merah merasa ada tenaga dalamnya secara mengejutkan meluap-luap di dalam tubuhnya dan diapun senang akan hal tersebut, karena sebelumnya tenaga dalamnya sudah menipis. Diapun mengeluarkan energinya yang membuat Gin sedikit kaget.
“Dia masih memiliki tenaga dalam sebanyak itu.” Tepat seusai Gin membantin si Rambut merah muncul di hadapannya dan mengerahkan pukulannya yang mengenai wajah Gin yang membuatnya terpental jauh.
Saat Gin ingin berpijak dengan tegap, Si Rambut merah muncul di depannya dan melancarkan sebuah tendangan yang membuatnya terlempar lagi. Disaat Gin masih terhempas si Rambut merah mengeluarkan jurus bola apinya yang dia lempar ke arahnya.
Bola api tersebut yang di lemparkan si Rambut merah menghantam Gin hingga membuatnya hampir tak dapat bangkit lagi.
“Apakah saya harus mengeluarkan salah satu jurus pembunuh untuk memenangkan pertarungan ini? Ah tidak, sebaiknya jangan kukeluarkan jurus tersebut, lagipula Bibi Merume melarangku untuk menggunakan jurus tersebut di depan umum,” batin Gin.
Hal yang membuat Si Rambut Merah adalah jubah Gin yang tidak terbakar oleh serangan bola apinya. Kejadian tersebut sedikit mengusik ketenangannya yang sedang berada di atas angin.
Gin mencoba untuk lebih fokus lagi. Pada saat si Rambut Merah menyerangnya Gin hanya menghindar, dia juga menangkis beberapa pukulan yang mengarah padanya. Beberapa tendangan juga dapat ditangkis.
Gin juga sesekali meledek Si Rambut Merah yang tak bisa menangkapnya. Ledekan Gin membuat Si Rambut Merah naik pintam. Dia akhirnya untuk mengeluarkan jurus ke empatnya. Jurus kobaran api membara, negeri api.
Tiba-tiba saja seluruh arena dipenuhi oleh kobaran api. Gin mulai kepanasan oleh kobaran api tersebut. Bagaimana tidak sekarang saja tidak ada pilihan lain, selain dia harus berpijak pada kobaran api.
Jika saja, Gin terlambat sedetik saja untuk melapisi seluruh tubuhnya dengan energi kegelapanya, mungkin saat ini dia telah hangus terbakar. “Orang ini, bagaimana bisa dia sampai sekuat ini?” batin Si Rambut merah. Dia heran pada Gin yang mampu bertahan pada zona kobaran apinya.
“Jika seperti ini terus bisa-bisa saya jadi daging panggang lagi,” batin Gin. Merasa terdesak Gin memutuskan menyerang si Rambut merah. Dia mengerahkan serangan tapaknya disambut oleh Si Rambut merah dengan serangan tapak, tetapi berbeda dari Gin.
Tapak Si Rambut merah dilapisi oleh kobaran api yang begitu panas. Saat kedua tapak bertemu beberapa saat, kemudian Gin terlempar beberapa meter ke belakang yang membuatnya meneteskan darah segar di pinggir bibirnya.
Gin mengusap habis darah tersebut, dia sepertinya sudah kehabisan akal untuk menghadapi Si Rambut merah.
__ADS_1
Sementara itu, di tribun atas. Tangan kanan Raja selatan mengarahkan energi tipis pada kobaran api yang ada di arena. Tiba-tiba saja Gin merasa kepanasan setengah mati hingga meloncat ke sana-kemari. “Panas... panas... panas...” Gin kalang-kabut akibat kepanasan.
Jurus angin kegelapan, tornado kegelapan. Tornado berwarna gelap muncul mengitari Gin, tornado tersebut semakin lama, semakin besar hingga memenuhi arena dan menerbangkan Si Rambut Merah. Tubuh Si Rambut Merah berputar-putar mengikuti putaran tornado.
Penonton yang sedang menyaksikan pertarungan tersebut hanya bisa menatap tornado gelap yang memenuhi arena.
Sementara itu, Tangan kanan Raja selatan yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa tertegun. “Apa-apaan kekuatan bocah itu?”
Tak lama kemudian tornado gelap tersebut mulai menyusut hingga menghilang tanpa bekas, begitu juga dengan kobaran api yang memenuhi arena. Di tengah-tengah arena terlihat Gin berdiri tegak sambil menutup mata, tak jauh dari Gin tersungkur Si Rambut Merah dalam keadaan yang cukup mengenaskan.
Tubuh Si Rambut Merah di penuhi oleh darah segar, jubah dia pakai pun robek entah ke mana yang hanya menyisahkan celananya saja. Pemandangan tersebut membuat para penonton diam membisu tanpa sepatah-katapun.
“Putraku!!!” jerit Tangan kanan Raja selatan, “Kau harus menerima akibatnya.” Tiba-tiba Tangan kanan Raja selatan muncul di hadapan tubuh putranya.
Gin tiba-tiba merasakan suasana yang sangat mencekam di sekitarnya. Dia bahkan merasa berat untuk bernafas, disaat yang sama Tangan kanan Raja selatan menatapnya tajam. Seluruh penonton hanya bisa menahan nafas, melihat peristiwa mencekam tersebut.
Gin mulai memperkirakan segala kemungkinan yang terjadi, mulai dari dia akan diserang oleh Tangan kanan Raja selatan hingga memikirkan cara keluar dari pasar gelap tersebut.
Tiba-tiba saja, Tangan kanan Raja selatan muncul di hadapan Gin. Dia mencekik leher Gin yang terlihat kaget atas kemunculannya secara tiba-tiba.
Gin yang kesulitan bernafas, karena lehernya tercekik mencoba melepaskan diri dari cengkraman musuhnya yang sangat berbahaya. Namun apalah daya Gin yang tak mampu melepaskan diri hingga Tangan kanan Raja selatan melempar tubuhnya ke udara.
Pada saat tubuh Gin terjatuh dan tepat ada dihadapannya, dia melepaskan pukulan ke perut Gin yang membuatnya terhempas jauh hingga menabrak dinding berduri sampai roboh.
Tubuh Gin terus melesat hingga menabrak kerumunan penonton dan muntah darah yang jauh lebih banyak dari sebelumnya, diapun terbaring lemas.
__ADS_1