
Gin memasang kuda-kuda dan tangan kananya bersiap untuk menarik pedang bayangan pada sarungnya. Pada saat orang tersebut semakin dekat dengan Gin, tiba-tiba saja Ten menghampiri orang tersebut. “Paman!!! Kenapa Paman baru pulang?”
“Apa Paman?” Gin tersontak kaget mendengar pernyataan Ten. Dia tidak menyangka, kalau Ten akan memiliki Paman yang sekuat itu.
Ten menunjuk sekitaran halaman klan Gajah perkasa dan tangannya berhenti pada tubuh Ketua klan yang terbaring kaku pada pohon beringin yang berada di sudut halaman. Tak lama kemudian Ten memukul-mukul dada Pamannya. “Paman selalu datang terlambat.”
Paman memerhatikan keadaan sekitar banyak mayat yang berhamburan dalam halaman klan Gajah Perkasa, tak ada lagi anggota klan Gajah Perkasa yang masih hidup, selain Ten setelah pertempuran berakhir.
Para pelayan yang bekerja di kediaman Ketua klan juga salah satunya yang selamat beserta dua orang anggota klan Gajah Perkasa yang berjaga di dalam kediaman, selain mereka semua tewas dalam pertempuran, termasuk Ketua klan Gajah perkasa.
“Sudahlah Ten yang berlalu biarlah, berlalu. Sekarang bantu Paman untuk menguburkan semua jasad para Pahlawan Klan dan juga para anggota Organisasi Rakon.” Paman Ten memerintahkan Ten untuk membantunya mengubur seluruh jasad yang pada halaman klan mereka.
“Tapi Paman, bukankah semua anggota Organisasi Rakon selama ini, ingin menghancurkan klan kita dan sekarang lihatlah. Apa yang telah mereka perbuat? Mereka tidak pantas dikubur, Paman.” Ten tidak setuju dengan Pamannya yang ingin menguburkan orang-orang dari Organisasi Rakon.
“Kalau begitu apa bedanya kita dengan mereka? Dan sebelum itu Paman harus mengurus satu hal yang terlewatkan.” Paman Ten berjalan menuju mayat lawan Yan sebelumnya. Pada saat Paman Ten berada di hadapan orang-oramg tersebut.
Dia lalu berkata, “Bangunlah!!! Dan lawanlah saya. Saya tau kamu masih hidup, sebaiknya kamu bangkit atau tubuhmu bernasib sama seperti pemimpinmu.” Tiba-tiba saja, lawan Yan bangkit dan menyerang Paman Ten, namun dengan mudah Paman Ten menghindari serangan tersebut.
__ADS_1
Lawan Yan mengeluarkan bola kecil seperti pada saat dia masih menghadapi Yan dalam ruang ilusi, namun kali ini bola kecil yang dikeluarkannya ada lima. Dia kemudian menggunakan tiga bola kecil untuk menyerang Paman Ten dan dua sisanya untuk melindungi dirinya sendiri.
Paman Ten tak bergerak sama sekali, dia malah membiarkan tubuhnya terkena bola kecil tersebut. Pada saat rentetan bola kecil mengenai tubuhnya, ledakan besar terjadi. Jika saja Paman Ten, tak membuat pelindung tak kasat mata untuk mencegah ledakan yang notabenenya dapat menghancurkan setengah klan Gajah perkasa. Mungkin saja bangunan klan Gajah perkasa hanya tinggal setengah.
Pada saat ledakan berakhir, nampak Paman Ten baik-baik saja. Dia masih berdiri dengan tegak tanpa terluka. Hal tersebut membuat lawan Yan gemetar ketakutan, Paman Ten berjalan mendekati lawan Yan dan menyerangnya dengan tombak yang membuat tubuhnya tercabik-cabik hingga kehilangan nyawa.
Melihat hal tersebut Gin hanya bisa menelan ludah, sementara Ten dengan malas-malas mengumpulkan seluruh mayat anggota Organisasi Rakon yang akan dia kuburkan pada satu tempat saja. Semua jasad anggota Organisasi Rakon, dikubur di luar wilayah klan Gajah perkasa.
Gin membantu Ten menguburkan satu persatu jasa para pahlawan di halaman klan atas perintah Paman Ten. Dia sengaja memerintahkan Ten untuk menguburkan para Pahlawan di halaman, karena klan Gajah perkasa telah sirna seutuhnya. Lagipula Paman Ten akan berkelana ke dunia persilatan dan mengajak Ten bersamanya sekaligus melatihnya selama perjalanan.
Pada saat Ten, Paman Ten, seluruh pelayan dan dua orang lainnya yang selamat serta Gin, Tabib khusus Ketua klan, tak lupa Yan sudah sadar sedang menatap haru jasad Ketua klan. Pada saat pemakaman tersebut Ten, Paman Ten, dua orang lainnya, serta para Pelayan menangis pilu.
Mereka semua tak pernah menyangka jika, Ketua klan mereka akan pergi secepat itu. Mereka juga tak pernah membayangkan, jika klan mereka akan hancur lebur seperti ini. Pemakaman Ketua klan diiringan dengan terbitnya mentari pada ufuk timur menghapus dingjnnya embun di pagi itu.
Semburat mentari yang begitu indah menghiasi langit. Burung-burung kecil hinggap ke atap kediaman Ketua klan dan berkicau-kicau. Yup, Ketua klan Dimakamkan di tepat di halaman kediamannya. Seusai pemakaman mereka semua masuk ke dalam kediaman Ketua klan.
Walaupun, kemenangan berada dipihak mereka, tetapi tidak ada yang satupun diantara mereka yang merasa bahagia atau bahkan tersenyum sedikitpun mereka tak bisa melakukannya. Kenyataan pahit harus dirasakan para orang-orang dari klan Gajah perkasa maupun pelayan yang tersisa, terutama Ten yang paling merasakan kepedihan yang amat mendalam.
__ADS_1
Gin dan Yan, entah mengapa juga ikut merasakan kesedihan yang amat mendalam, namun mereka mencoba untuk menahan agar air mata mereka tak gugur untuk menghormati para pahlawan klan yang gugur dalam pertempuran.
Gin dan Yan memasuki ruangan mereka, pada saat tubuh Gin terbaring pada kasur, dia langsung masuk ke mimpi indahnya. Hal tersebut membuat Yan hanya bisa terbengong saja, dia langsung membaringkan tubuhnya dengan santai sambil memikirkan. Hal-hal aneh yang terjadi pada dirinya akhir-akhir ini.
Setelah kejadian di gunung Tibas, setiap tepat tengah malam Yan merasa kedinginan yang luar biasa, seakan dia sedang berada di Kerajaan utara. Dia terkadang tak tidur hingga pagi hari, karena kedinginan.
Dia juga sampai saat ini belum bisa mengendalikan energi esnya. Yan hanya sedikit menguasai energi es tersebut, karena dia telah dilatih oleh Biru akan tetapi, pada saat latihan tersebut terkadang dia harus kehilangan kendali atas tubuh dan energi es dalam tubuh meluap-luap dan menyerang Biru.
Itulah yang mengakibatkan Yan tak menggunakan energi es saat berada di dunia ilusi waktu itu. Dia takut kehilangan kendali dan melukai orang-orang dari klan Gajah perkasa atau bahkan Gin. Dia tidak ingin hal tersebut sampai terjadi, makanya Yan diam-diam berlatih tanpa diketahui oleh Gin sekalipun.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pada daun pintu. “Seperti ada yang ingin bertamu.” Pada saat Yan membuka pintu terdapat Paman Ten dibaliknya. Sebelumnya Ten sudah memperkenalkan Gin dan Yan pada Pamannya, oleh karena itu Yan bisa mengenal baik Paman Ten. “Eh, Paman silahkan masuk.”
Yan Mempersilahkan Paman Ten memasuki tempat istirahatnya bersama Gin. Saat Paman Ten memasuki ruangan tersebut matanya tak pernah lepas dari Gin, pada saat pertama kali melihat Gin Paman Ten terus memerhatikan gerak-geriknya, dia merasa Gin mengingatkannya pada seseorang yang amat penting baginya, tetapi Paman Ten lupa siapa orang tersebut.
Paman Ten terus memerhatikan wajah Gin yang sedang tertidur dengan lelap di tempat tidurnya, dia juga melihat seluruh tubuh Gin dipenuhi oleh luka sayatan pedang, tetapi yang membuatnya bingung adalah jubah Gin tak tergores sedikitpun.
Melihat Paman Ten terus melihat Gin tanpa berkedip sedikitpun, membuat Yan kebingungan. “Apa Paman Ten pernah bertemu Gin sebelum ini atau bahkan mengenalnya?”
__ADS_1
Hal ini membuat Yan memberanikan diri untuk bertanya lagi pada Paman Ten. “Apa Paman mengenal Gin?”