Black Shadow

Black Shadow
Si Tombak Putih


__ADS_3

Gin dan Yan harus tinggal selama beberapa hari di kediaman Ketua klan beserta yang lain, berbeda dengan Yan, Gin membutuhkan waktu tiga hari untuk pulih total. Ramuan obat yang diberikan Paman Yan benar-benar mujarab.


Kecepatan pemulihannya didukung oleh regenerasi tubuhnya telah meningkat, setelah kejadian gunung Tibas. Yan juga merasa heran dengan hal tersebut, tetapi dia tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut.


Setelah beberapa hari tinggal di klan Gajah perkasa. Akhirnya, Gin dan Yan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, begitu juga dengan Ten dan Pamannya, sementara para Pelayan dan juga dua orang lainnya juga ikut meninggalkan klan Gajah perkasa. Mereka semua berpencar Gin dan Yan ke arah Selatan, Ten dan Pamannya Ke arah barat sementara lainnya ke arah timur dan utara.


Klan Gajah perkasa yang memiliki banyak anggota kini menjadi kosong, setelah seminggu dunia persilatan dikagetkan oleh musnahnya klan Gajah perkasa dan juga Organisasi Rakon. Ada beberapa orang yang ingin bertamu ke klan Gajah perkasa, namun hanya gundukan tanah yang mereka dapati dan bangunan kosong serta reruntuhan bekas pertarungan.


Walaupun terhitung sebagai klan kecil, tetapi klan Gajah perkasa cukup disegani, karena kemurahan hati Ketua klannya dan juga salah seorang yang cukup kuat berada di dalam klan tersebut. Si Tombak Putih, dia tidak lain adalah Paman Ten.


Tidak hanya disegani dalam Kerajaan selatan, Si Tombak Putih juga disegani oleh orang-orang dari ketiga Kerajaan lainnya. Dia begitu terkenal dalam dunia persilatan. Si Tombak putih telah menghilang selama setahun terakhir, hal itulah yang membuat Organisasi Rakon berani mengusik klan Gajah perkasa selama enam bulan terakhir.


Organisasi pembunuh lain, tidak mau mengambil resiko dengan menyerang klan Gajah perkasa, karena mereka yakin sewaktu-waktu Si Tombak Putih bisa saja kembali ke klan Gajah perkasa. Meskipun terkenal, tetapi orang-orang dalam dunia persilatan tidak banyak mengetahui hal tentang Si Tombak Putih.


Mereka hanya mengetahui, bahwa Si Tombak Putih memiliki reputasi yang amat menakutkan dalam dunia persilatan. Nama Si Tombak Putih, bukan sebuah omong kosong belaka. Dengan hanya bermodalkan sebuah tombak saja, dia bahkan bisa mengguncang dunia, seorang diri.


Orang-orang dunia persilatan menebak musnahnya klan Gajah perkasa dan Organisasi Rakon saling berhubungan satu sama lain. Karena beberapa bulan terakhir, tersiar kabar klan Gajah perkasa dan Organisasi Rakon sedang dalam konflik.

__ADS_1


***


Di tengah hutan terlihat Remaja berambut putih yang sedang memanjat tebing bersama seorang remaja berambut hitam yang memiliki mata setajam elang, sedang bersantai di tepi sungai, mereka tidak lain adalah Gin dan Yan.


Mereka berdua sedang beristirahat sekaligus menikmati keindahan alam. “Yan, udara di sini begitu segar,” teriak Gin untuk mengalahkan suara air sungai jatuh dari atas sana.


Sementara Yan yang berada di atas tebing mendengar teriakan Gin. “Kau benar Gin,” teriak Yan. Dia sedang ingin meloncat terjun dari atas tebing. Yan adalah orang suka mandi di sungai. Karena hal tersebutlah mereka sudah tertahan di tempat itu sudah lebih dari satu jam.


Gin yang sudah selesai dari tadi mandi memutuskan untuk menunggu Yan dengan menikmati keindahan sekitar. Tumbuhan dan pepohonan yang ada di pinggir sungai juga, menambah panorama sungai tersebut, airnya yang begitu jernih, serta kawanan berang-berang yang sedang bermain di pinggir yang cukup jauh dari Gin.


Gin sampai ke tempat yang begitu luas, jarak antara pohon yang satu dengan yang lainnya kisaran lima ratus meteran. Gin mengambil nafas dalam-dalam, saat dia sudah merasa siap. Gin menarik pedang bayangan dari sarungnya dan bergerak dengan lincah.


Belum sampai satu menit tempat tersebut sudah porak-poranda, oleh jurus Gin. Dia terus mengerahkan jurus tersebut hingga menyelesaikan semua gerakan dalam jurusnya. Ketika selesai dan melihat sekitar wajah Gin menjadi lesu, tempat sebelumnya begitu indah menjadi hancur karenanya.


Gin tak mau menyerah sampai disitu, diapun berusaha sampai bisa. Gin sedikit demi sedikit mulai mengendalikan jurus tersebut, namun naas tempat yang menjadi tempat berlatihnya tak bisa dikatakan indah lagi, semuanya kacau-balau. Gin seakan tak ingin ambil pusing akan hal tersebut, diapun melanjutkan latihanya dengan tekun. Hingga akhirnya, diapun mampu mengendalikan jurusnya dengan sangat baik.


Gin melanjutkan latihannya, dia ingin melatih jurus membunuhnya yang belum pernah ditunujukannya selama memulai perjalanan. Dia menuju ke salah satu pohon yang paling besar untuk melatih jurus pembunuh yang diajarkan oleh Merume.

__ADS_1


Jurus pembunuh tingkat satu, tangan pencabut nyawa. Pohon yang berada di hadapan Gin, berlubang setelah terkena jurus Gin. Lubang yang di timbulkan tak begitu dalam, tetapi jika saja jurus tersebut digunakan pada manusia, tentu saja tubuhnya akan berlubang.


Gin tidak puas akan hasil dari jurusnya, dia berusaha untuk lebih fokus. Jurus pembunuh tingkat satu, tangan pencabut nyawa. Gin memusatkan energi ke telapak tangannya, dia menggunakan energi yang cukup banyak kali ini.


Pada saat jurus Gin mengenai pohon tersebut memiliki lubang yang jauh lebih besar, kali ini jurus yaang digunakan Gin jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Pohon tersebut juga sedikit lagi tumbang, karena ulahnya.


Di sisi lain, melihat Gin telah menjauh dari tepi sungai membuatnya lompat kegirangan sampai membuatnya tak sadar sudah berada di tempat yang tak memiliki pijakan sama sekali. Hal tersebut membuatnya jatuh ke sungai. “Ahhhh tidak!!!”


“Huft, membuatku kaget saja.” Yan bernafas lega saat menyadari ternyata dia jatuh ke sungai. Bukan ke bebatuan yang tak jauh darinya.


“Akhirnya, saya memiliki kesempatan untuk berlatih.” Yan sebenarnya sengaja mengulur waktu, lebih lama mandi, karena menurutnya ini adalah tempat yang cocok untuk melatih energi esnya. Dia sudah sedari awal menunggu Gin merasa bosan dan berjalan-jalan di sekitar sini.


Yan sangat bahagia saat mengetahui rencananya berjalan mulus, dia duduk bersila dan menutup mata. Beberapa saat kemudian pada telapak tangan Yan muncul sinar biru yang sangat kecil. Lama-kelamaan sinar tersebut membesar hingga berubah menjadi kristal es.


Walaupun merasakan dingin pada telapak tangannya Yan, tetap melanjutkan latihannya. Tanpa dia sadari sungai dihadapannya membeku sejauh satu meter, dua meter, hingga seratus meter. Kumpulan berang-berang yang tadinya sedang asik bermain dengan cepat berlari menjauh dari air sungai yang tiba-tiba saja menjadi dingin.


Karena sudah merasa sangat dingin Yan, memutuskan untuk membuka matanya. Mata Yan terbelalak saat dia melihat sekelilingnya dalam radius satu kilometer sungai maupun tumbuhan dan pepohonan di hadapannya membeku.

__ADS_1


__ADS_2