
Gedung arena turnamen hancur tidak berbentuk, setengah bangunan gedung telah hancur. “Dasar para bocah yang menyusahkan, ke depannya jika mengeluarkan jurus. Perkirakan lebih dulu, tubuh kalian mampu menahan ledakannya atau tidak!”
Salah satu komandan pasukan membuat tameng, melindungi Raddas dan Yan. Untungnya, dia sempat melihat, serta merasakan energi besar tadi. Jika tidak? Bisa dipastikan kedua bocah di dalam tameng sudah kehilangan nyawa.
Komandan pasukan tersebut berdiri tegap di luar tameng, dia juga menahan ledakan yang hampir mengenai Yan dan Raddas. Tidak bisa berlindung di dalam bersama mereka, jika itu terjadi. Mereka semua akan tewas.
Bahkan armor dari komandan tersebut hancur berkeping-keping, bersimpah darah. Tubuhnya limbung, terjatuh ke lantai. Dia terbaring lemah, hingga akhirnya tewas. Bersamaan dengan itu, tameng yang melindungi Yan dan Raddas menghilang.
Raddas yang melihat hal tersebut, kakinya gemetar. Air matanya terjatuh. Dia histeris menghampiri komandan yang telah melindungi mereka. “Ini tidak mungkin. Paman Ghyi tidak akan tewas semudah ini, bukan?”
Raddas histeris memeluk kepala Paman Ghyi. Dia histeris, menangis. Suaranya terdengar ke penjuru arena yang telah hancur.
Juras menyingkirkan reruntuhan yang menimpanya, mengumpat pada Raddas dan Yan. “Kedua bocah sialan! Untung, saya masih sempat membuat tameng tadi, hampir saja kehilangan nyawa. Bagaimana ceritanya kedua bocah tersebut bisa mengeluarkan energi sebesar itu?”
Reruntuhan yang berada tidak jauh Juras bergerak, muncul seseorang di sana. “Akh, kupikir hanya saya yang berhasil selamat dari ledakan baru saja terjadi. Ternyata, kau panjang umur juga, Juras! Tidak heran orang-orang menyebutmu, Komandan Perang Berzirah Baja.”
Itui itulah nama komandan yang sedang berada di hadapan Juras saat ini, “Kau terlalu banyak bicara, Itui. Jika bukan karena kekuatanmu yang merepotkan itu, kau sudah lama kehilangan nyawa.”
“Oh ya? Saya baru tahu itu. Terima kasih telah memberitahu hal sepenting itu padaku.” Itui tersenyum konyol pada Juras, mencoba mengejeknya.
Juras menguap, bergerak maju menyerang. Itui adalah seorang perempuan seangkatan dengan Juras, hanya saja dia sudah kelihatan sangat tua. Rambut memutih, sedikit kerutan yang mulai terlihat. Berbeda dengan Juras yang masih memiliki kulit kencang.
Itui menghindari serangan yang datang dengan lincah, dia memiliki tubuh yang lentur. Pengguna pedang. Itui menebas Juras, namun dibiarkan begitu saja. Juras tidak terluka sedikitpun.
Itui mundur tiga langkah, “Benar juga, kali ini saya Itui mengakuimu Juras.”
Zirah Juras sangat kokoh, tergores ‘pun tidak. Juras melepaskan energinya, puing-puing yang ada di sekitarnya terbang. Dia langsung serius menghadapi Itui.
Juras bergerak maju, mengerahkan rentetan pukulan pada Itui. Dengan tangan yang cepat, Itui menangkis serangan tersebut. Dentingan pedang berbunyi nyaring, saat berbenturan dengan pukulan Juras.
Keduanya saling menyerang satu sama lain, tidak memberi celah. Itui bergerak lincah, tubuhnya sangat lentur. Dia berhasil menebas Juras berulang kali, hanya saja tergores ‘pun tidak. Zirah yang melindungi Juras sangat kokoh. Hal tersebut membuat Itui geram.
__ADS_1
Itui menginjak tanah tempatnya berpijak, hal tersebut menimbulkan retakan. Menyerang Juras yang sedang kehilangan keseimbangan, menebas dengan energi yang cukup kuat. Hal tersebut hanya membuat Juras terpental, menghancurkan reruntuhan yang ditabraknya.
Reruntuhan tersebut terpencar, Juras bergerak maju menyerang Itui. Cepat sekali gerakan keduanya, saling mengarahkan serangan. Keduanya saling jual-beli pukulan, maupun tebasan. Namun belum ada yang terluka sama sekali, Juras dengan pertahanannya yang kokoh. Itui dengan tubuhnya yang lentur.
Keduanya terus berseteru, gelombang kejut yang ditimbulkan oleh tabrakan energi keduanya membuat puing-puing berserakan ke segala arah. Melesat tajam.
Itui melihat celah, saat mereka sedang saling bertarung. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia meliukkan tubuh, menebas Juras. Namun fatal baginya, itu jebakan yang disiapkan oleh Juras, sengaja menciptakan celah bagi Itui.
Itui menerima pukulan yang begitu keras, energi Juras sampai keluar dari belakang tubuhnya. Itui terhempas jauh, benar-benar jauh. Itui terhempas hingga ke tengah kota, batuk darah.
Juras bergerak cepat, menyusul Itui yang baru saja berdiri. Dia mengerahkan pukulan yang lebih kuat dari sebelumnya, energi yang dikerahkan jauh lebih besar.
Itui reflek menghindar, namun pukulan tersebut berimbas pada sebuah bangunan di belakang itui. Dinding bangunan tersebut hancur, terkena energi pukulan Juras.
Itui bergeser mencoba menyabet leher Juras dengan pedang, namun dihindari. Tidak hanya itu, dia memanjat tubuh Juras, memutar tubuhnya. Membantingnya. Kepulan debu memenuhi jalanan kota yang nampak lenggang, para penduduk sudah dievakuasi ke tempat yang aman.
Itui dan Juras bertarung dengan serius, tidak ada diantara mereka yang berpikir bisa menyelesaikan pertarungan dengan keadaan baik-baik saja. Tanpa luka.
Itui kesal, karena tidak mampu melukai Juras sedikitpun. Dia melepaskan energinya, menebas ke arah Juras. Namun Juras dengan cekatan bergeser, hal tersebut membuat penginapan yang berada di depan Itui terbelah secara horizontal menjadi dua bagian.
Dia bergelinding, membelakangi penginapan tersebut. Sempat menebas kaki Juras, tapi hanya menghasilkan percikan api. Itui dibuat kesal, karenanya. Dibuat repot oleh zirah milik Juras.
Itui bergerak maju untuk menyerang Juras, tubuhnya meliuk-liuk sembari memberikan tebasan mematikan pada Juras. Namun tidak memiliki efek untuk Juras, dia hanya dibuat termundur oleh tebasan Itui.
Itui terbelalak, melihat Juras mengerahkan pukulan ke arahnya. Energi yang digunakan untuk pukulan tersebut tidak main-main, Itui bisa kewalahan jika menerima pukulan tersebut.
Dia melompat ke samping untuk menghindari serangan Juras, pukulan Juras menghancurkan setengah bagian dari penginapan yang sudah terbagi menjadi dua oleh ulah Itui sebelumnya.
Mereka sangat cocok bekerja sama untuk menghancurkan penginapan orang, lihatlah berkat keduanya. Setengah bagian gedung penginapan hancur. Tidak bersisa.
Itui sempat terperangah, melihat penginapan tersebut. Jika saja, serangan Juras mengenainya. Bisa jadi, dia sudah terbaring lemah, sekurang-kurangnya luka parah. Benar-benar serangan yang fatal.
__ADS_1
Itui mundur, bergerak cepat. Menjauh dari Juras, bukan karena takut. Tapi, bisa-bisa karena pertarungan keduanya, Ibukota Kerajaan Selatan hanya tinggal nama. Dia berlari ke arah hutan, menyusuri jalanan kota. Sesekali harus menghindari serangan Juras yang mengarah padanya. Sangat merepotkan memang, Itui melihat ke arah hutan. Burung-burung beterbangan, “Sepertinya ada orang yang bertarung di hutan. Menghindari kerusakan kota.”
Sial bagi Itui, dia harus terkena pukulan tepat pada pinggang kanannya, Juras tiba-tiba muncul dari arah kanan. Itui terhempas, menabrak salah satu bangunan yang baru saja didirikan ulang. Dia menghancurkan dindingnya.
Itui dibuat kebingungan oleh Juras, dia sejak tadi tidak mampu melukai orang itu. Setahunya, kemampuan keduanya tidak jauh berbeda. Semua itu hanya karena dia memiliki zirah itu.
Dia memegang pinggang kanannya, “Kau tahu, Kerajaan ini akan menjadi milik Barbara. Dia akan menggulingkan Raja konyol itu dan menduduki takhta selanjutnya. Dia Barbara adalah orang yang pantas menduduki takhta Raja.”
Suara Juras menggema ke segala penjuru Ibukota. Tiba-tiba saja, dia terkena anak panah dari energi tumbuhan. Sebuah akar mengenai lengannya. Hal tersebut membuatnya terpental, tidak jauh. Dia tidak terjatuh, mampu menyeimbangkan tubuhnya.
Yan muncul. Dia berada cukup jauh dari keduanya, mendengus menekan pinggir hidungnya dengan ibu jari. Dia meninggalkan Raddas seorang diri, dia sedang bersedih. Yan sempat menenangkannya tadi, Raddas menyuruhnya untuk membantu Itui begitu melihatnya terpental jauh tadi. Raddas sempat mendongak melihat Itui terpental jauh, terperangah karena pelaku yang membuat Itui terpental adalah Juras.
Yan berlari ke arah Juras, cukup memakan waktu. Jarak mereka yang jauh adalah penyebabnya. “Kebetulan kau datang bocah, saya ingin membalas perbuatanmu dan Raddas yang hampir membuatku kehilangan nyawa.”
Yan menarik busurnya, menciptakan anak panah yang terbuat dari energi es miliknya. Energi yang keluar begitu besar, “Apa?! Serangan itu lagi. Ini tidak boleh dibiarkan.”
Begitu target terkunci, Yan melepaskan anak panah tersebut. Melesat cepat, bahkan mengenai Juras. Anak panah tersebut meledak, hal tersebut membuat Itui mengepalkan tangan. Dia bersiap maju, menyerang Juras. Memikirkan segala kemungkinan, dia tidak sedang melebihkan Juras. Bertarung melawannya secara langsung, membuat Itui sadar. Bahwa kemampuan bertahan Juras sangat luar biasa kuat, sulit untuk menghancurkannya.
Ledakan tersebut menciptakan kesiur angin, Yan menutup kepalanya. Tidak mau matanya kemasukan debu, bisa repot. Terlebih kalau Juras bisa selamat, kepulan debu membatasi jarak pandang.
Itui menatap awas ke arah kepulan debu. Bersiap dengan segala kemungkinan, dia terperangah begitu kepulan debu mulai menipis. Nampak bayangan Juras masih kokoh berdiri.
Semua terlihat jelas, saat debu menghilang seluruhnya. Juras nampak terbahak, terdapat sedikit bekas darah di pinggir mulutnya.
Yan memicingkan mata, terdapat sedikit retakan di bekas serangan anak panahnya. “Serang pria berzirah itu dengan kekuatan penuh!”
Itui tidak mengerti dengan maksud Yan, Itui mengikuti perkataannya. Meski umur, serta pengalaman mereka dalam sebuah pertarungan berbanding terbalik. Tapi, Itui percaya pada Yan.
Dia bergerak cepat, muncul di hadapan Juras. Mengerahkan seluruh energinya pada serangan pedangnya, begitu tebasan mengenai Juras. Hal tersebut membuat Juras terhempas jauh, dia menyemburkan darah yang cukup banyak. Baju zirahnya hancur berkeping-keping.
Yan tersenyum melihat hal tersebut. Dia menarik anak panah akar yang terbuat dari energinya, anak panah tersebut melesat cepat. Berhasil menembus jantung Juras, tubuhnya terjatuh ke tanah. Tewas secara mengenaskan.
__ADS_1
Tiba-tiba Itui terhempas jauh, menabrak toko. Menghancurkan beberapa dindingnya. Tembus sampai tiga dinding, itu artinya dia tertahan pada dinding toko yang berada di belakang. “Akhirnya, kita bertemu lagi, bocah!”