Black Shadow

Black Shadow
Sadar


__ADS_3

Pada desa Batu terdapat dua petarung muda yang dianggap sebagai pahlawan. Dua pahlawan muda ini selalu menjadi topik pembicaraan setiap penduduk desa. Dua petarung muda ini tidak lain merupakan Gin dan Yan.


Kondisi Yan sudah semakin membaik saja, sudah beberapa hari yang lalu dia sadar. Lain halnya dengan Gin masih terbujur kaku di dalam kolam. Hal ini membuat heran Pemilik permandian air panas dan Kepala desa yang setia menanti Gin sadarkan diri. Kedua orang tersebut setiap hari menjaga sekaligus menyakisakan pertumbuhan kondisi Gin dari hari ke hari.


Yan yang telah pulih total, dia saat ini sedang membantu penduduk sekitar dalam membangun kembali dasa Batu. Peranan Yan sangat membantu dalam memasok kayu, diciptakan dari energinya, kehadirannya telah mempercepat pembangunan desa Batu. Hal ini membuat para penduduk merasa sangat terbantu dengan adanya Yan.


Yan menjadi sangat terkenal dalam desa ini. Lihat saja, beberapa tahun ke depan desa ini berubah menjadi sebuah kota. Pada saat itu desa ini sudah berganti nama menjadi kota Yan.  Pada masa itu, Walikota bersama para penduduk membangun sebuah monumen pahlawan. Monumen tersebut terbuat dari batu bara yang telah dileburkan.


Monumen tersebut bertuliskan, “Demi mengenang pahlawan muda Yan dan Temannya.”


Satu bulan telah berlalu. Itu hanya hitungan angka. Tapi bukanlah hal yang mudah bagi penduduk desa Batu dan Yan untuk melewatinya. Mereka semua telah melalui hari-hari yang melelahkan, pembangunan desa ini telah rangkum. Bahkan, jauh lebih baik sebelum kejadian sebulan yang lalu.


Diantara seluruh penduduk hanya Yan yang melalui masa paling sulit diantara yang lain. Membantu pembangunan desa dengan menguras energinya seharian penuh. Belum lagi harus terdiam termenung di hadapan tubuh Gin yang sedang berada dalam permandian air panas desa tersebut.


Yan termenung sampai matanya terlelap dalam tidur. Bahkan, pernah Yan tidak tertidur sama sekali selama tiga hari penuh. Akan tetapi, hari ini semua berakhir dengan selesainya pembangunan desa. Satu-dua murid perguruan yang ingin mengikuti turnamen sudah mulai memasuki desa Batu.


Ada yang sekedar hanya lewat, ada juga yang ingin beristirahat, dan ada yang ingin menikmati permandian air panas. Namun hanya bisa menelan kekecewaan, karena hanya mendapati tempat permandian air panas tersebut tutup hingga batas waktu yang tidak ditentukan.


Yan yang sedang berbicara engan salah satu penduduk desa di pintu gerbang. Dihampiri oleh pemilik Permandian Air Panas, “Pahlawan muda Yan. Teman Anda telah siuman, harap pahlawan muda Yan menemuinya.”


Mendengar perkataan pemilik Permandian Air Panas, Yan dengan gembira berlari tanpa memperdulikan lagi Teman bicaranya yang sedang menatap riah padanya. “Setelah sekian lama, akhirnya pahlawan muda Yan bisa menampakkan senyumannya.”


“Kau benar, Tohuo. Selama ini pahlawan muda Yan tak pernah menampakkan senyumannya.” Pemilik Permandian tersenyum hangat menatap jejak kepergian Yan. Dia tak pernah mengira bahwa desa Batu akan diselamatkan oleh dua orang pemuda.

__ADS_1


Yan tiba di depan Permandian Air Panas dengan nafas sedikit tersengal. Dia sangat bahagia mendengar, bahwa Gin telah sadar. Dia pun memasuki Permandian tanpa halangan sedikit pun. Yan dsambut oleh seorang pemuda yang merupakan pegawai permandian. “Silahkan ikuti saya, pahlawan muda Yan. Teman Anda telah menunggu di dalam.”


Pemuda tersebut mengantar Yan ke sebuah ruangan cukup besar. Pada saat Yan memasuki ruangan dia dapat melihat Gin sedang melakukan sedikit gerakan merenggangkan otot. Sementara pemuda yang mengantar Yan sudah pergi meninggalkan ruangan tersebut. “Kau sudah sadar, Gin?”


Mendengar perkataan Yan, “Hai, apakah kau sedang memakiku?” Yan mengerutkan dahinya. Melihat wajah Yan, Gin menghembuskan nafas, “bukankah kau bisa melihatnya sendiri, aku sedang berbicara padamu dan itu berarti aku sudah sadar.”


“Kudengar dari pemilik tempat ini, kau telah sadar sejak sebulan yang lalu. Apakah itu benar? Bahkan kau membantu membangun kembali desa ini.” Gin bertanya pada Yan.


“Iya, semua yang dikatakan pemilik tempat ini benar.” Gin memijat keningnya yang terasa sakit, “berarti sudah sebulan saya tidak sadarkan diri.”


Yan tak menjawab pertanyaan Gin. Dia berlalu meninggalkan Gin yang sedang asik-asiknya pemanasan setelah tak bergerak selama sebulan.


Keesokan harinya pada saat Gin terbangun Yan telah berada di depan pintu. Dia keluar dari ruangan tersebut sambil berkata, “Bersiap-siaplah. Kita akan melanjutkan perjalanan. Tidak baik terlalu merepotkan penduduk desa ini, apalagi pemilik tempat ini yang telah menampung kita selama sebulan lebih.”


“Tidak ada alasan, Gin. Kita harus segera tiba di Ibukota Kerajaan. Turnamen Kerajaan akan segera buka dan kita telah menunda banyak waktu di sini. Lagipula kita juga sedang menghindari kejaran anak buah tangan kanan Raja selatan, bukan.” Mendengar hal tersebut Gin mengangguk mantap.


Gin mengganti jubahnya dan menyampirkan pedang di punggungnya. Setelah persiapannya selesai dia pun keluar dari ruangan tersebut. Di luar ruangan dia dapat melihat pemilik tempat sedang berbincang hangat dengan Yan. “Pahlawan muda, kalian yakin ingin meninggalkan desa ini sekarang juga?”


“Iya, kami sudah sangat merepotkan penduduk desa ini. Terlebih lagi pada pemilik tempat ini. Kami ucapkan terima kasih.” Gin memberikan sekantong koin emas pada Kepala desa dan beberapa koin emas pada pemilik Permandian sebagai tanda terima kasih.


“Manfaatkanlah sedikit koin untuk membangun desa ini, serta mensejahterakan penduduk desa.” Kepala desa membulatkan matanya setelah melihat isi kantong kulit yang diberikan oleh Gin padanya, “i...ii...ini.”


Yan hanya tersenyum sambil berkata, “Terimalah pemberian temanku ini. Lagipula kami tidak terlalu membutuhkannya.” Koin yang diberikan oleh Gin kepada Kepala desa. Digunakan dengan sangat baik, sebagai bukti beberapa tahun ke depan desa Batu berubah sangat drastis.

__ADS_1


Gin dan Yan keluar dari Permandian Air Panas tersebut setelah berbasa-basi sedikit.


Keduanya kaget bukan kepalang, karena pintu Permandian telah dipadati oleh para murid perguruan besar yang tersebar di seluruh Kerajaan Selatan. Para murid perguruan ini tadinya sudah menyerah untuk menikmati air panas yang terdapat di dalam permandian ini. Tapi mereka semua berbondong-bondong ke Permandian Air Panas saat mendengar desas-desus tentang tempat tersebut sebentar lagi akan kembali beroperasi. Padahal mereka sudah cukup jauh dari desa Batu.


Gin dan Yan melewati gerbang desa yang bertuliskan. “Selamat datang di desa Batu.” Mereka berdua tidak akan mengira gerbang yang mereka lewati saat ini akan berubah drastis begitu pula dengan desa ini.


Mereka tidak akan pernah mengira, bahwa desa yang mereka tinggalkan saat ini akan berubah menjadi kota. Kota yang akan menjadi pusat perdagangan di Kerajaan Selatan. Mereka tidak akan mengira beberapa tahun ke depan.


Setelah kepergian mereka berdua, di dalam permadian air panas. Pemilik Permandian dan Kepala desa sedang membicarakan Gin dan Yan. “Hei, Teng. Apakah kau tahu, kedua pahlawan muda yang baru saja meninggalkan desa ini, bukanlah bocah biasa.”


“Benar, keduanya bukanlah bocah biasa. Kita tahu sendiri bocah berambut hitam itu, saat dia akan di bawa permandian ini, bukankah perlu dua puluh orang berbadan kekar untuk mengangkat tubuhnya. Itu pun dua orang ini harus menggunakan tenaga ekstra hingga tubuh bocah itu sampai.”


“Untuk Pahlawan muda Yan. Tubuhnya seringan kapas, penyembuhannya tubuhnya pun sangat menakjubkan. Dia juga sadar jauh lebih awal dibandingkan, bocah berambut hitam itu.”


“Sungguh para generasi muda penuh dengan bakat. Jika, maksud mereka pergi ke Ibukota kerajaan adalah untuk mengikuti turnamen. Saya yakin salah satu dari keduanya lah pemenangnya.”


Pada malam harinya, di tengah perjalanan Gin dan Yan terpaksa menghentikan langkah kaki mereka, berserakan mayat murid Perguruan besar. Bau darah yang begitu menyengat memenuhi udara, beberapa saat memeriksa salah satu tubuh korban.


Tidak jauh dari tempat mereka berada segorombolan murid dari perguruan menengah nekat melewati jalur berbahaya. Segorombolan murid tersebut menuju ke arah Gin dan Yan berada. Mendengar langkah kaki Gin memberitahu Yan untuk segera bersembunyi.


Selang beberapa menit segerombolan murid tersebut tiba di tempat Gin dan Yan berdiri sebelumnya. Salah satu dari mereka berteriak histeris, sementara yang lainnya hanya bisa terpaku melihat pemandangan yang begitu mengerikan di hadapan mereka. “ Sudah kubilang, kita lewat jalur aman saja. Kalian malah ingin sok ku...”


Sebelum menyelesaikan kata-katanya secara tiba-tiba sebuah tombak menembus jantung murid tersebut, dari mulut murid tersebut keluar banyak darah segar. Disaat yang bersamaan muncul beberapa orang mengelilingi para murid dari Perguruan menengah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2