
Yan yang sedang berpikir jernih di atas Sicepat, Yan menjauh dari lokasi kejar-kejaran Gin dan Cebures untuk berpikir mencari cara mengalahkan monster tersebut. Merasa khawatir melihat kepulan debu terlihat dari kejauhan, dia mencoba berkosentrasi penuh.
Gin tercekat, peluh bercucuran. Dia berusaha keras menahan pukulan Cebures dengan pedang. Sementara itu, Madei dengan tubuh gemetar menahan beban berat di atasnya. Gin susah payah menyeimbangkan tubuh, karenanya.
“Apa yang harus kulakukan? Monster ini serius ingin membunuhku, saya tidak bisa terus-menerus menahan pukulannya dan hanya akan menitik beratkan semua beban pada Madei. Jelas-jelas sejak tadi menahan rasa sakit, juga rasa takut yang teramat sangat,” pikir Gin.
Gin meluapkan energi dalam jumlah yang besar. Hal tersebut membuat hewan yang berada disekitar menjauh ketakutan, burung-burung terbang sembari berteriak kencang. Yan merasakan energi yang begitu pekat dengan aura mencengkam, merinding dibuatnya.
“Energi ini sungguh menakutkan!” Yan mengusap wajah, bahkan kaki Sicepat melangkah mundur secara naluriah.
Gin kali ini lebih unggul, pedang tadinya menahan pukulan. Kini sedikit demi sedikit bergerak naik dan menghempaskan tangan Cebures. Gin tidak ingin menyia-nyiakan celah yang ada, tubuhnya melenting ke arah Cebures dan mengayunkan pedangnya.
Pedang tersebut menyayat dada Cebures, membentuk tanda silang di sana. Darah berwarna biru muncrat dengan cukup deras, tanah yang terkena darah menjadi berlubang. Melihat hal tersebut membuat Gin, kalabakan menghindari darah.
Bersamaan dengan itu, debu sekitar telah sirna sepenuhnya.
Madei sudah sejak tadi menjauh dari area pertarungan, semenjak Gin melentingkan tubuhnya. Madei kini sedang menikmati rumput, baginya itu adalah makanan terlezat di dunia. Menganggap makanan tersebut sebagai rumput terakhir yang dimakannya, seakan-akan tidak akan selamat dari Cebures.
Tidak! Cebures tidak semudah itu untuk ditumbangkan. Serangan yang dilancarkan oleh Gin seakan tak berpengaruh baginya, sebuah pukulan melesat ke arah Gin yang sudah siaga sejak tadi. “Ke mana perginya Yan? Hanya untuk berpikir harus selama ini. Apa dia berniat untuk membunuhku melalui perantara Cebures dan kabur begitu saja?”
Gesit gerakannya menghindari serangan yang datang, tak sanpai di situ saja. Cebures mengeluarkan cairan berwarna kuning dari mulut, cairan kuning tersebut melesat cepat. Insting Gin berdentang kencang, menyuruhnya menghindari cairan tersebut.
Gin dengan gesit meliukkan tubuh menghidari cairan tersebut. Cairan tersebut meledak, setelah menyentuh tanah. Radius ledakannya tidak cukuo besar, namun cukup untuk merenggut nyawanya tanpa ampun. “I__ ini, bagaimana mungkin sebuah cairan yang keluar dari mulut monster ini dapat menimbulkan ledakan?”
Gin tertegun, sekaligus mengumpat dalam hati. Hampir saja dia mati konyol, hanya karena cairan dari mulut Cebures.
__ADS_1
Gin menatap awas pada Cebures, dia mendongak ke atas demi melihat sorot mata monster tersebut. Gin mengeratkan genggamannya pada pedangnya, dia memasang kuda-kuda, menghembuskan nafas halus membiarkan seluruh tubuhnya rileks.
Badannya terasa kaku sejak tadi, Gin menaruh kembali pedangnya di punggung. Melompat tinggi dan berputar untuk menghindari kibasan tangan Cebures, Gin melesatkan pukulan teramat kuat ke wajahnya.
Kali ini berbeda dari sebelumnya, Cebures terjatuh ke tanah dan menghasilkan suara dentuman, serta kepulan debu. Tidak sampai di situ, Gin mencabut pedangnya dan melompat ke tubuh Ceberus. Berlari cepat menuju matanya dan menusuknya, seketika terdengar suara teriakan dari monster itu.
Cebures menangkap Gin yang sudah menikam matanya, darah segar keluar dari sana. Dia meremas tubuhnya dengan tangan kanan dan melemparnya jauh, Gin yang terhempas jauh menabrak dan menumbangkan sebuah pohon.
Gin memuntahkan darah segar, kepalanya mengalir darah karena terbentur oleh pohon. Tubuhnya dibiarkan terbaring, demi mengumpulkan kembali nyawanya yang seakan hampir tertarik habis.
Dia memang sudah menduga, kalau Cebures adalah makhluk yang sangat kuat. Akan tetapi, tidak sedikit pun terpikir olehnya bisa bertahan sampai selama ini. Apalagi Yan yang hanya untuk berpikir, meninggalkannya bertarung melawan Cebures sampai selama ini.
Gin menghembuskan nafas halus, berdiri dengan berpegang pada pedang sebagai penopang tubuhnya. Pedang tersebut berlumuran darah berwarna biru milik Cebures, nafasnya terengah-engah. Dia merasa udara sekitar membencinya, hingga membuatnya kesulitan bernafas sampai terengah-engah.
“Gila! Mengapa udara di sekitar sini seakan-akan telah habis,” pikir Gin keheranan. Tidak tahu saja dia, kalau Cebureslah dalang dari hal tersebut. Yup, makhluk itu dapat membuat udara sekitar lenyap seketika, hal itu hanya berlaku dalam jangkauan lingkup area energinya.
Kondisi Gin sedang tidak baik-baik saja, sementara itu Yan tak kunjung muncul. Meski Gin mengira Yan telah meninggalkannya, tapi dalam hati kecilnya masih menyimpan harapan, jika Yan akan muncul untuk membantunya menghabisi monster ini.
Gin merasa kewalahan melawan monster tersebut, dia bersiul memanggil Madei. Tak berselang lama, kuda itu muncul dengan cepat menghampiri Gin. Madei dipacu ke arah acak, penting mereka bisa menjauh dari Cebures.
Cebures yang melihat Gin telah menjauh darinya segera menyusul.
***
Sementara itu, tidak lama setelah merasakan energi yang menakutkan. Yan dikelilingi oleh monster level empat sampai lima, jumlah mereka tak terhitung. Energi menakutkan tidak menakuti para monster ini, malah lebih ke mengundang mereka. Yan mengutuk pemilik energi tersebut dalam hati.
__ADS_1
Hening beberapa saat, baik para monster maupun Yan belum ada yang berinisiatif untuk menyerang. Sementara itu, Sicepat hanya diam dalam keheningan. Keheningan tersebut tak bertahan lama, setelah salah satu monster maju menerkam Yan.
Tentu monster tersebut kalah cepat dari Sicepat yang membuatnya terkena serangan Yan, terhempas ke kawanannya tak lagi bernyawa. Para monster yang melihat tubuh kawannya tergeletak kaku tak bernyawa di hadapan mereka, membuat para monster tersebut menggerum ganas, tajam ke arah Yan.
Yan yang menunggangi Sicepat, lebih waspada melihat kumpulan monster tersebut melihatnya seperti ingin menelannya hidup-hidup. Lima monster level empat maju secara bersamaan, menyerang Yan dari segala arah.
Yan sempat pucat melihat hal tersebut, tapi untungnya Sicepat menghindari serangan tersebut dengan mudah. Yan yang mengambil kesempatan saat Sicepat gesit menghindar, dia berhasil menumbangkan tiga monster.
Yan berdecak kesal sambil berkata, “seharusnya, saya dapat membinasakan ke lima monster tadi. Jika saja, keseimbanganku tidak sempat terganggu tadi.”
Yan yang sebelumnya agak gentar, kini berubah menjadi menikmati pertarungannya sampai melupakan Gin yang sedang mempertahankan nyawa. Mereka berdua terpisah cukup jauh, karena Yan yang sebelumnya mencari tempat yang tenang untuk berpikir jernih.
Yan sangat menikmati pertarungannya melawan para monster, dia sampai tidak merasakan sudah berjam-jam bertarung melawan para monster yang terus muncul tanpa henti. Mungkin istilah mati satu, muncul seribu cocok untuk kondisi Yan saat ini.
Bukannya frustasi atau merasa jengkel, dia malah tersenyum. Dengan adanya Sicepat yang dengan mudah menghindari serangan, Yan mampu bertahan sampai saat ini. Jika saja, Yan tidak menunggangi Sicepat. Mungkin saja, dia sudah kehabisan tenaga dalam sejak tadi.
Yan silih berganti mengeluarkan energi es maupun tumbuhannya untuk menumbangkan para monster. Walaupun, tenaga dalamnya belum terkuras habis, karena menunggangi Sicepat. Akan tetapi, tetap saja dia berangsur-angsur kelelahan.
Yan mulai berdecak kesal dalam hati, “kenapa para monster sialan ini, tidak ada habisnya?” Bahkan seakan-akan jumlah monster yang mengerumuninya belum berkurang sama sekali, sejak awal pertempuran. Lihatlah, gerombolan monster yang sedang mengelilingi Yan, menatapnya seakan ingin melahapnya hidup-hidup.
Karena kekesalannya tanpa sadar Yan membekukan area, sekitar lima kilometer jauhnya. Para monster juga ikut membeku. Yan yang baru saja, mengeluarkan kekuatan dasyat. Seketika termenung melihat keadaan sekitar.
Sejauh mata memandang, hanya ada bongkahan es. Yan tersadar, dia mengambil busurnya. Menarik busur tersebut dengan anak panah dari energi tumbuhannya. Membidikkan sasaran pada udara, melepaskannya ketika merasa sudah pas.
Anak panah Yan melesat ke udara, awalnya hanya satu anak panah, kini berubah menjadi banyak sekali. Anak panah tersebut meluncur ke bawah dan menghancurkan para monster yang membeku. Melihat hal tersebut Yan mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke udara dan bersorak, “Yes,”
__ADS_1