Black Shadow

Black Shadow
Pria Tua


__ADS_3

Di salah satu ruangan, toko tempa serba bisa, lantai tiga terdapat dua pemuda yang mengobrol riah. Kedua pemuda tidak lain adalah Yan dan Poo, keduanya sedang menceritakan kisah mereka pada saat berpisah setahun yang lalu.


“Oh ya, mengapa kamu datang menemuiku?” ucap Poo dengan satu alis terangkat.


“Saya sampai lupa.” Yan memberikan kulit monster macan level tujuh pada Poo, setelah melepas kulit monster tersebut dari pinggang.


“Inikan!!!” ucap Poo sambil menatap Yan tak percaya.


“Bagaimana kamu mendapatkan benda ini?” tentu saja Poo heran karena dirinya yang memiliki banyak anak buah, tak mampu menemukan monster macan yang sudah langka di keempat kerajaan.


Dengan menggaruk-garuk pelipisnya dengan jari telunjuk, Yan berkata, “Cerita begini...”


Yan menceritakan awal mula pertemuannya dengan Gin sampai akhirnya Yan terjatuh pingsan.


“Apa pemuda bernama Gin ini, mampu mengalahkan monster level tujuh seorang diri? Apa kamu sedang bercanda denganku?”


Bahkan seorang murid senior perguruan Tapak angin saja, kembali dengan luka parah setelah menjalani misi untuk menghabisi monster tersebut. Namun sayang senior dari perguruan Tapak angin gagal dalam misi tersebut.


“Tidak heran sih, lagipula monster itu benar-benar memiliki pertahanan terkuat pada kulitnya.”


“Sampai sekarang saya tidak percaya, kalau monster macan level tujuh mampu dikalahkan oleh seorang pemuda seperti kita ini.” Yan hanya mampu menggeleng-gelengkan melihat sahabatnya tersebut tidak percaya akan ceritanya.


“Kulit ini akan kusulap menjadi jubah yang tahan akan berbagai macam serangan musuh.”


“Jubah yang ingin sekali di miliki oleh semua pendekar di dunia persilatan.”


“Oh ya, kapan saya bisa mengambil jubah yang kamu janjikan?”


“Kamu boleh datang tiga hari dari sekarang, satu lagi toko ini tujuh hari lagi akan mengadakan pelelangan akbar.” Sambil menyerahkan kartu VIP pada Yan.


Yan yang menerima kartu tersebut hanya tersenyum kecut. Yan pernah menghadiri salah satu pelelangan, harga awal barang saja sudah membuatnya menelan ludah.


***


Setelah Yan dan Poo bercerita riang. Yan keluar dari toko tempa serba bisa dan kembali menyusuri pusat kota, sebab dia sudah setahun meninggalkan kota kelahirannya tersebut.

__ADS_1


Yan melihat begitu banyak bangunan baru yang membuat matanya berbinar. Yan memasuki sebuah restoran tiga tingkat, dia langsung menuju lantai tiga yang merupakan tempat VIP di restoran tersebut.


Di lantai tiga tersebut hanya memiliki tujuh meja saja dan hanya tersisa dua meja kosong. Lantai tiga tentunya berbeda dengan lantai satu dan dua yang memiliki puluhan meja pada setiap lantai.


Yan duduk pada meja tersebut dan memesan seluruh makanan yang terdapat pada buku yang diberikan oleh seorang pelayan yang menghampirinya.


“Apa tuan sedang bercanda?” tanya pelayan tersebut setelah mendengar pesanan Yan.


“Saya serius. Oh ya, jangan lupa bawakan saya arak terbaik restoran ini!!!” sebelum Yan keluar dari toko Tempa serba bisa, Poo memberikannya seribu koin emas.


Yan takkan menyia-nyiakan uang yang diberikan oleh Poo hanya menjadi pajangan saja tanpa digunakan.


Jika para pembaca menerka bahwa Yan adalah orang yang boros, maka pikiran para pembaca tepat sekali.


Pada saat Yan pergi berpetualang setahun yang lalu saja, dia dapat menghabiskan seluruh koin yang diberikan kepadanya sebagai pegangan selama tiga bulan perjalanan, dia hanya membutuhkan tiga hari untuk menghabiskan seluruh uangnya.


Alhasil dia harus pontang-panting kerja ditoko-toko yang terdapat pada setiap kota yang disinggahinya untuk mencukupi kebutuhan perutnya selama perjalanan.


Yan menikmati semua hidangan yang telah terdapat di hadapannya dengan rakus. Yan merupakan orang yang masa bodoh dengan orang sekitar yang berbisik tentang cara makannya.


Tiba-tiba seorang pemuda tampan yang memakai pakaian bangsawan, memiliki mata sipit, rambut berwarna biru gelap serta bibir yang lancip, pemuda tersebut dikawal oleh dua orang pengawal yang gagah perkasa lengkap dengan baju besinya serta pedang di pinggang.


Jika dilihat, pemuda tersebut agak lebih tua dari Yan. Tak lama melihat sekeliling, mata pemuda tersebut tertuju pada Yan yang sedang makan dengan rakusnya tanpa memerdulikan orang lain yang menatap jijk padanya.


Sang pemuda yang tak lain adalah anak ketiga dari raja selatan saat ini, memandang jijik pada Yan. Pemuda tersebut bukannya menuju meja kosong yang tersisa malah menuju ke meja Yan yang di ikuti oleh para pengawalnya.


“Hey, rakyat jelata pergi dari sini!!!” ucap sang pemuda dengan suaranya yang begitu layu, Yan hanya mendongak sebentar melihat sumber suara lalu melanjutkan aktivitasnya.


Melihat perlakuan Yan padanya, membuat wajah pemuda menjadi merah padam karena amarah yang meluap mengingat statusnya sebagai pangeran ketiga.


Pangeran ketiga merebut arak yang terdapat di tangan Yan, pada saat Yan akan meminum arak tersebut.


Pangeran ketiga lalu menyiramkan arak yang direbutnya pada Yan, seperti sedang memandikan seorangan bayi.


Mendapat perlakuan dari pangeran ketiga, bukannya kesal Yan malah tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Melihat Yan malah senang setelah mendapat perlakuan tersebut membuat pangeran ketiga naik pintam. “Apakah kau tidak tahu, siapa saya ini?”


Mendengar hal tersebut Yan hanya mendongak pangeran ketiga sambil menaikkan sebelah alisnya. “Memang kau itu siapa? Siapapun dirimu saya tidak peduli!!!”


Para pengunjung yang melihat pertikaian antara Yan dan pangeran hanya bergidik ketakutan sambil membuka mulut mereka tanpa disadari. bagaimana tidak? siapa sih yang tidak mengetahui wajah pangeran ketiga kerajaan selatan.


Walaupun memiliki perangai seperti perenpuan pangeran ketiga dikenal kejam.


Mendengar jawaban Yan membuat pangeran ketiga benar-benar murka. “Akulah pangeran ketiga kerajaan selatan!!!”


Suara pangeran memekik ke seluruh lantai tiga. Dengan amarah yang membludak, tangan kanannya mengambil pedang pengawal yang terdapat di belakangnya dan mengayunkannya ke arah leher Yan.


Sebelum pedang tersebut mengenai leher Yan. Dia sudah menangkap pergelangan tangan pangeran ketiga dan mematahkannya.


Pria tua menyadari tindakan Yan dan dengan kecepatan yang dimilikinya, dia menyerang Yan yang membuatnya terhempas dan memuntahkan banyak darah.


Gerakan pria tua tersebut memang cepat, tetapi pergelangan tangan pangeran ketiga telah patah.


“Akkkhhh sakit.” Jerit pangeran ketiga dengan sekuat-kuatnya..


Melihat pangeran ketiga yang meringis kesakitan pria tua tersebut bergegas mengampiri pangeran ketiga yang berguling-guling memegang tangan kanannya yang kesakitan, dia mengalirkan tenaga dalamnya untuk meredahkan rasa sakit yang diderita pangeran ketiga.


Setelah meredahkan rasa sakit pada pergelangan tangan pangeran ketiga, pria tua tersebut memerintahkan para pengawal untuk membawa pangeran ketiga kembali ke penginapan dengan segera.


Melihat amarah pria tua yang tidak lain adalah salah satu guru dari akademi kerajaan selatan murka, para pengunjung lantai tiga berhamburan turun ke lantai dua bahkan mereka cepat-cepat keluar dari restoran. Mengingat kekuatan pria tua tersebut, restoran tersebut bisa roboh dengan mudah.


“Kau bocah sialan!! Berani-berani kau menyakiti pangeran.” Pria tua tersebut dengan amarahnya menyerang Yan dengan tapaknya.


Yan yang baru saja bangkit mencoba untuk menghindar, namun usahanya sia-sia sebab dia tidak dapat menandingin kecepatan pria tua tersebut.


Serangan pria tua tepat mengenai dada Yan. Tepat sebelum serangan pria tua mengenai dadanya Yan mengeluarkan energi es yang ada dalam dirinya secara reflek.


Walaupun serangan pria tua tak membuat Yan bergeming dari tempatnya tetap saja. Yan mengeluarkan sedikit darah dibibirnya dan tumbang.


Melihat Yan tumbang pria tua tersebut tersenyum sinis dan berkata, “Kau memiliki bakat, nak. Namun sayang harus berakhir sampai di sini.”

__ADS_1


Pria tua tidak asal menebak, dia merasakan sendiri bakat yang terdapat pada Yan. Serangan tapak yang mengenai Yan telah membunuh ratusan pendekar dalam sekali serang, tetapi Yan hanya terjatuh pingsan karena serangan tersebut.


Jika dunia persilatan melihat hal ini maka akan terguncang karenanya. Pria tua bersiap menyerang Yan yang sudah tergeletak di lantai dengan jurus tapaknya untuk mengakhiri hidup pemuda tersebut.


__ADS_2