Black Shadow

Black Shadow
Cambuk Arena


__ADS_3

Pagi yang cerah bagi Gin, dia bangun dengan keadaan bugar. Semalam genap sudah, dia berhasil menyelesaikan ketiga latihan yang diberikan Bulan. Meski begitu, dia merasa semua badannya sakit.


 


Gin memakai kembali pakaiannya, jubah dari kulit monster macan level tujuh. Tanpa pedang. Lagipula, senjata belum diperbolehkan dalam turnamen. Terlebih pedangnya, masih ada di ruang latihan Putri.


 


Gin sudah siap, sedikit merenggangkan otot. Tersenyum lebar. Beranjak dari kamar tersebut. Mengeluarkan sebuah jurus. ‘Jurus menyamar, ilmu meniru tingkat dua.’


 


Tubuh Gin menghilang, menyatu dengan alam. Dia berjalan santai keluar, melihat Putri berjalan cepat. Tanpa pengawal, sepertinya ingin membangunkan Gin.


 


Begitu tiba di dalam kamar Gin, Putri menggaruk kepala yang tidak gatal. Karena yang dicari tidak ada. Padahal turnamen sudah akan dimulai. Putri mengangkat bahu, percuma dia mencari. Putri bergegas ke arena turnamen, menonton peserta yang bertanding hari ini.


 


Gin menahan tawa, saat melihat Putri melintas di hadapannya dengan wajah yang terlihat bingung. Dia mengekor Putri. Berjalan keluar istana, mereka sedang menuju bangunan arena turnamen.


 


Gin mengikuti Putri hingga pintu tribun VIP, khusus untuk dirinya dan Bulan. Tentu saja, Bulan sudah ada di dalam. Gin berbelok ke arah lain. Begitu melihat Putri membuka pintu, masuk ke dalamnya.


 


“Langsung saja, turnamen battle royal group D di mulai!” Tepat waktu, Gin melompat ke atas arena. Persis seperti Yan. Dia membuat penonton menahan nafas, melihat aksinya. Cari muka.


 


Gin mendarat di tengah-tengah turnamen, lantai turnamen sedikit retak, karenanya. Dia tersenyum lebar. Menghindar, seorang peserta menyerangnya. Bukan hal yang berarti baginya. Bukan hanya dari satu arah, serangan tersebut datang dari berbagai arah.


 


Gin kalang-kabut menghindari serangan yang datang bertubi-tubi, sesekali menangkisnya. Terpental tiga langkah ke belakang, satu serangan berhasil lolos.


 


Yan yang menonton dari atas tribun, terbahak. Dia puas melihat Gin yang terkena pukulan telak. Dia sempat khawatir tadi, jika Gin terlambat datang. Dia sempat mengatai Gin ikut caranya muncul. Tidak terima.


 


Di atas arena Gin bergerak ke sana-kemari, menghindari segala serangan yang datang. “Hei, mengapa orang-orang ini fokus menyerangku? Apa mereka ada dendam pribadi denganku?”


 


Gin terus bergerak menghindari serangan yang datang, beberapa kali harus jatuh-bangun terkena pukulan dan tendangan yang datang. Untung tidak dilapisi energi.


 


Dia mengerahkan pukulan, lawan tidak bisa menghindari. Terpental ke lantai turnamen, darah menghias sudut bibirnya.


 


Gin menendang lawan yang muncul di belakamgnya, menghindar pukulan yang datang dari samping. Pelik memang. Terlebih, dia belum secepat dulu. Masih butuh latihan banyak, agar kecepatannya kembali.


 


Gelang level satu mengandung gravitasi lima puluh kali dari orang bisa, level dua merasakan tiga ratus kali, level tiga merasakan lima ratus kali, sementara level empat merasakan seribu kali berat gravitasi dari orang biasa.


 


Itulah yang membuat gerakan Gin sangat berkurang drastis. Sementara itu, Yan yang melihat dari tribun merasakan kecepatan Gin berkurang drastis. “Kurasa, gerakan Gin mengalami penurunan, dia sangat lambat.”


 

__ADS_1


Gin benar-benar harus berusaha keras, agar bisa lolos. Tidak mudah bagi Gin. Para peserta sudah beberapa yang gagal, terdisfikualifikasi. Keluar arena. Ada beberapa yang pingsan, tidak bisa melanjutkan pertarungan.


 


Sesekali para penonton berseru tertahan, bersorak. Mereka sangat terhibur dengan pertarungan yang terjadi di atas arena.


 


Gin bergerak maju, mengerahkan pukulannya. Dapat dihindari, menyerang dengan tendangan yang menyasar kaki lawan. Berhasil! Gin mengangkatnya, melemparnya keluar arena. Peserta tersebut beruntung, dia menjadi yang pertama dikeluarkan oleh Gin.


 


Gin terus bergerak, mencari mangsa. Bertarung dengan lawan yang cukup kuat. Jual-beli pukulan terjadi, tendangan yang dilapisi oleh energi. Hanya saja, Gin dapat mengatasinya dengan baik. Dia mampu mengalahkan lawannya.


 


Dari arah belakang ada yang datang memiting Gin, membantingnya. Dia merasa pusing, berdiri. Kepalanya terasa oleng. Matanya berputar, dia bergerak seperti orang yang sedang mabuk.


 


Terkena pukulan, terjatuh. Bangkit kembali. Terkena pukulan yang keras, membuatnya terjungkal. Gin bangkit menggelengkan kepalanya. “Runyam ini.”


 


Dia menghembuskan nafas halus, menyerang lawannya dengan tendangan yang dilapisi oleh energi tipis. Namun dapat ditangkis oleh musuhnya, tangan musuhnya kebas. Termundur beberapa langkah, bahkan terjungkal.


 


Musuh Gin terbelalak, memegang lengannya yang kebas. Gemetar. Tidak habis pikir, jika pukulan Gin akan sekuat itu. Padahal sebelumnya, Gin terlihat seperti seorang pecundang.


 


Musuh Gin meremas tangannya, dia melapisi tangan dengan energi yang cukup besar. Menyerang Gin, namun dapat dihindari dengan menunduk, berjongkok. Gin berdiri dengan pukulan yang tepat mengenai dagu. Hal tersebut membuat musuhnya tersungkur, tidak sadarkan diri.


 


 


Putri tidak puas dengan hasil latihan, Gin. Dia tahu betapa sulitnya, Gin harus bertahan menahan lapar, tahu betapa setengah matinya Gin menahan dingin, tahu betapa sulitnya Gin berulang kali menyelam, hingga naik ke atas dari dasar sumur. Berlari mengitari istana, mengangkat batu besar dan memindahkannya.


 


Gin mulai tersengal. Padahal turnamen masih sangat panjang, peserta belum banyak berkurang. Masih lebih dari setengah, total keseluruhan.


 


Dia menyapu sekitar, melihat peserta lain saling menjatuhkan, saling menyerang. “Sepertinya, turnamen ini akan jadi sangat menarik.”


 


Gin tersenyum lebar, bergerak maju. Dia menarik satu peserta yang sedang bertarung, melepaskannya. Mundur tiga langka ke belakang. Hal tersebut sengaja dilakukannya, agar dia bisa melawan dua peserta sekaligus.


 


Gin bergerak maju, bersamaan dengan dua orang lainnya. Mereka saling jual-beli serangan. Dua orang sebelumnya saling bertarung, kini bekerja sama. Tujuan mereka satu, menyingkirkan Gin dari arena turnamen.


 


Gin melepaskan pukulan keras, mengenai salah satu dari lawannya. Hal tersebut membuat lawannya terhempas jauh. Kedua lawan Gin, tidak ada yang bisa mengeluarkan energi.


 


Gin menghindari serangan kedua lawannya yang datang secara beruntung, dia santai melawan keduanya. Sudah sedikit bosan, Gin meliuk mengerahkan pukulan pada kedua orang tersebut. Keduanya terhenpas jauh, pingsan.


 


Gin melihat sesuatu yang menarik di sudut sana, dia melihat seorang peserta yang dapat menggerakkan arena turnamen. Mengeluarkan para peserta. Banyak peserta turnamen yang harus gagal maju ke babak selanjutnya, karena dirinya.

__ADS_1


 


Gin tersenyum, bergerak maju. Mengerahkan pukulan yang dilapisi oleh energi tipis, peserta yang disasar Gin membuat tameng dari lantai arena. Seketika, tameng tersebut hancur lebur. Serpihannya mengenai peserta lain, menghempaskan mereka.


 


Gin tidak menyerah, dia bergerak maju. Menyerang peserta tersebut, tapi arena berubah menjadi lentur. Naik ke atas menyerupai sebuah cambuk, menyerangnya. Gin menghindar ke sana-kemari, tidak ingin terkena serangan tersebut.


 


Arena retak, hancur akibat pertarungan keduanya. Gin kalabakan harus menghindar. Lawan Gin geram, serangannya tidak kunjung mengenai Gin. Dia bahkan sampai bergerak maju, bersisian dengan cambuk yang terbuat dari arena tersebut.


 


Gin sudah kalabakan dengan cambuk arena tersebut. Kini harus menghadapi penggunanya, dia memutar otaknya. Agar bisa menghadapinya, sekaligus mengalahkannya. Tidak mudah memang.


 


Peserta yang lain, terkena imbas dari pertarungan keduanya. Banyak yang keluar arena, terluka, dan pingsan. Terkena cambuk yang salah sasaran.


 


Raja tertawa bahagia. Akhirnya, dia mendapatkan generasi yang sangat berbakat. Tidak hanya satu, tapi belasan orang. Dia tidak menyangka turnamen kali ini, tidak hanya ramai. Tapi, juga banyak bakat yang bermunculan.


 


Dia pikir, Kilin dan Bulan merupakan bakat yang sangat langka, tapi begitu melihat turnamen tahun ini. Hal itu tidak lagi langka. Meski generasi saat ini, masih sulit untuk mencapai prestasi dan kemampuan kedua orang tersebut.


 


Yan beberapa kali, berseru tertahan. Terkadang mengepalkan tangan, dia sangat emosional hari ini. Melihat Gin yang bertarung di atas arena. Mungkin, karena dia sudah disogok dengan susunan kotak kue.


 


Gin menghapus peluh yang membasahi pipinya. Nafas sangat tersengal, tubuhnya terasa remuk. Dia berhenti sejenak, “Hei, apakah kau sudah menyerah melawanku? Padahal, saya baru sedikit berolahraga. Belum serius betul menghadapimu.”


 


Gin tersenyum mendengar pernyataan lawannya. Dia tertawa kecil. “O.”


 


Lawan Gin menatap geram padanya, tersulut emosi. Mudah terprovokasi. Menyerang Gin secara acak-acakan, tidak terarah. Akhirnya, banyak peserta yang terkena serangan tersebut. Berteriak kesakitan, terluka, dan menjerit tertahan.


 


Gin beberapa kali menghancurkan cambuk-cambuk dari arena tersebut, tapi utuh kembali. Tidak hanya dia sebenarnya.


 


Lawannya tertawa sombong di sana. Hal tersebut membuatnya muak. Dia bergerak menghindari cambuk-cambuk tersebut, muncul di hadapan penggunanya. Mengerahkan pukulan yang dilapisi energi tipis, pukulan Gin tepat mengenai perut lawan. Tubuhnya melengkung ke belakang, memuntahkan banyak darah.


 


Gin tersenyum lebar berbisik, “Kau lebih cepat dariku, bukan berarti saya tidak bisa mengalahkanmu! Ingat itu. Jangan sampai melupakan wajahku juga.”


 


Tubuh lawan Gin terhempas jauh, terjungkal-jungkal. Tidak bisa berhenti, meski arena turnamen menahannya. Hancur, ketika akan menahan tubuh lawan Gin. Namun terhenti juga, tepat di sudut arena turnamen. Tergeletak begitu saja.


 


Arena turnamen sudah tidak berbentuk sama sekali, hancur di mana-mana. Berlubang besar di sana-sini. Tidak dapat dipungkiri.  Pertarungan yang baru saja terjadi, sangat mengagumkan.


 


Para penonton bersorak memenuhi arena turnamen, bahkan satu-dua melompat sangat bahagia. Merasakan ketegangan pertarungan yang baru saja terjadi. Akan tetapi, semua itu belum berakhir.

__ADS_1


__ADS_2