
Gin dan Yan mendapat group yang berbeda. Gin berada pada group D, sementara Yan berada pada group C. Mereka berdua begitu bersemangat, bahkan Gin hampir saja bertukar nomor peserta dengan yang lain.
Akan tetapi, Yan melarangnya. Sebab group Gin berisikan orang-orang lemah di mata Yan, sementara Yan berada di group neraka. Bagaimana tidak? Dia berada di group yang sama dengan beberapa murid dari akademi Kerajaan.
Di atas arena turnamen, lima puluh peserta telah memenuhi arena. Mereka semua terlihat bersiap untuk segala hal yang terjadi, kecuali satu orang yang sedang duduk tanpa suara di tengah-tengah arena sembari menutup mata.
Seakan tak terusik oleh suara bising dari celotehan peserta lain, dia tetap tenang duduk di tempatnya. Seakan dia berada seorang diri di sana, sementara beberapa peserta tahu betul kemampuannya yang sangat menakutkan dan tidak ingin mengusiknya. Jika wasit telah memulai pertarungan group A.
Suasana menegangkan memenuhi arena yang berisikan lima puluh peserta. Terlihat wasit mulai mengambil ancang-ancang untuk memulai turnamen. Dia berkata, “Kalian sudah tahu ketentuannya, bukan? Baiklah, pertarungan group A yang berisikan lima puluh peserta. Dimulai.”
Seluruh peserta saling menyerang yang diiringi oleh teriakan penonton yang berada di tribun. Meski sudah dikenal banyak orang sebagai pemegang puncak generasi muda saat ini, tapi masih ada juga yang berani mengusiknya.
Pemegang puncak generasi muda tersebut adalah putra Barbara (Tangan Kanan Raja Selatan) yang bernama Raddas. Dia sebelumnya pernah bertarung dengan Gin beberapa kali, semenjak pertarungannya tersebut dia berlatih lebih keras.
Tiga peserta menyerangnya sekaligus, Raddas tidak bergerak dari tempatnya sama sekali. Bum! Suara serangan ketiganya terdengar ke seluruh penjuru arena dan mengalihkan mata penonton ke arah suara tersebut.
Ketiga peserta syok bukan main, sebab Raddas menghilang begitu saja. Serangan mereka hanya mengenai lantai, “Kalian mencari saya? Dasar bodoh! Tadinya saya hanya akan duduk dengan tenang dan lolos tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali. Tapi, kalian telah menggangguku, maka terima akibatnya.”
Tangan Raddas diselimuti oleh api yang cukup kecil, tapi sudah dapat membuat ketiga peserta tersebut ketar-ketir gemetaran. Mereka menyesal telah mengganggu ketenangan Raddas, keringat mulai bercucuran di balik punggung.
Raddas menguap lebar, dia membatin, “orang-orang ini sangat menyebalkan. Lagipula, saya hanya ingin bersantai tanpa harus mengeluarkan usaha sedikitpun untuk lolos dari babak ini, karena saya harus mengalahkan seseorang!”
__ADS_1
Raddas mendongak ke tempat Gin menonton pertandingan, lalu mengerahkan pukulan kepada lawannya. Ketiga peserta tersebut kalah dengan sekali serang, luka bakar menghiasi tubuh mereka.
Melihat hal tersebut sebagian kecil penonton bersorak, sementara sebagian lagi tidak. Mereka bahkan berharap dalam hati, ‘semoga muncul seseorang yang bisa mengalahkan Raddas’ mengingat kekejaman Barbara dan anak buahnya kepada rakyat kecil seperti mereka.
Di atas arena terdapat seorang lagi yang popularitasnya tidak kalah dari Raddas, dialah Boo. Dia merupakan murid dari perguruan tombak emas, identitas tersebut nampak dari tunik hijau dengan lambang tombak emas di punggung.
Gin yang menonton dari atas arena mengepalkan tangan dengan kuat, dia menahan emosi yang sedang memuncak. Ingatannya kembali berputar pada kejadian pembunuhan beberapa murid dari Perguruan menengah dan mayat-mayat yang mereka temukan di dekat pembunuhan yang dilakukan oleh murid perguruan tombak emas.
Boo dengan tangan kosong dapat menghadapi tiga orang sekaligus, dia bahkan mempermainkan lawannya dengan terus bergerak ke sana-kemari. Arena yang penuh oleh peserta lain bukan halangan baginya.
Dia bahkan, berani mengganggu pertarungan orang lain. Tentu orang yang merasa pertarungannya terganggu tersulut emosi dan bekerja sama untuk menyingkirkan Boo dari pertandingan, namun mereka hanya menjadi bahan permainan.
Semua permainan Boo berjalan lancar sampai seseorang menyerangnya dengan tendangan yang cukup keras. Hal tersebut membuatnya terpental, serta menabrak peserta lain yang sedang bertarung.
Boo tersenyum, “Oh, rupanya kau. Si Kaki Ajaib yang namanya tersohor sampai ke perguruan besar, seperti tombak emas kami. Tidak kusangka bisa bertemu orang hebat sepertimu di sini. Kau begitu diakui banyak orang, meski berasal dari perguruan kecil. Sungguh bakat yang disia-siakan.” Boo sambil menggelengkan kepala.
Si Kaki Ajaib tidak peduli, mengerahkan tendangan ke perut Boo. Namun dapat ditangkis dengan mudah, melihat celah yang cukup lebar. Boo memanfaatkannya dengan mengerahkan pukulan pada kaki lawan.
Boo terkejut setengah mati saat kaki yang seharusnya terkena serangan, berbelok menghantam wajahnya. Hal tersebut membuatnya termundur tiga langkah ke belakang. “Ternyata, reputasi yang kau miliki bukan omong kosong belaka.”
__ADS_1
Si Kaki Ajaib hanya mendengus, dia kembali menyerang Boo. Kecepatan Si Kaki Ajaib meningkat pesat, tapi Boo sudah memprediksi hal semacam itu. Dia tidak mau melakukan kesalahan yang sama, hingga dirinya terkena serangan remeh seperti tadi.
Jual-beli serangan diantara keduanya tidak terelakkan, bahkan peserta lain yang dianggap sebagai penghalang terkena imbas keluar arena. Boo terkadang harus terpental, menabrak peserta lain. Si Kaki Ajaib juga sesekali terkena pukulan dan tendangan dari Boo, tapi itu bukan masalah baginya.
“Kau benar-benar kuat, bergabunglah dengan perguruan Tombak Emas. Dengan kapasitasmu, kau pasti mudah diterima. Bagaimana?” Boo menawarkan kepada Si Kaki Ajaib. Namun bukannya menjawab, dia hanya mendengus dan terus menyerang Boo dengan brutal.
Segala serangan yang dilancarkan kepada Boo, namun dapat dihindari, ditangkis dengan baik. Hal ini diakibatkan oleh kosentrasi Si Kaki Ajaib hilang, karena dikuasai oleh emosi. Akibatnya, serangan yang dilancarkan menjadi tidak terarah dan mudah ditebak.
Si Kaki Ajaib terus menyerang tanpa henti, menyerang dari segala arah. Dia melambungkan tubuh ke udara, saat tubuhnya melesat ke arah Boo. Dia menumpukkan segala beban tubuh, serta tenaga dalam pada kakinya.
Bukannya menghindar, Boo tersenyum dibuatnya. Dia benar-benar tidak menyingkir dari tempatnya. Dia memasang kuda-kuda, bersiap menerima serangan Si Kaki Ajaib dengan pukulan yang sangat kuat. Pertemuan serangan mereka membuat peserta lain berhenti bertarung, melihat sejenak pertarungan keduanya.
Si Kaki Ajaib melentingkan tubuhnya ke belakang, saat merasakan sesuatu yang aneh. Dia berhadapan dengan Boo, masih dengan emosi yang belum stabil.
Boo memanfaatkan hal tersebut untuk menyarangkan banyak serangan ke tubuh Si Kaki Ajaib, pemandangan tersebut membuat penonton terpekik. Bagaimana tidak? Si Kaki Ajaib, bahkan tidak menangkis atau membalas pukulan tersebut.
Akan tetapi, bukannya resah Si Kaki Ajaib hanya tersenyum lebar. “Kau masih bisa tersenyum disaat seperti ini? Heh, rasakan pukulan yang akam membuatmu menyesali senyuman konyol itu.”
Boo mengerahkan pukulan yang sangat kuat ke arah Si Kaki Ajaib, tapi dia dapat menangkis serangan Boo dengan sebuah tendangan. Hal tersebut membuat tangan Boo terhempas ke belakang, tangan Boo gemetar karenanya.
__ADS_1
“Ini!” Boo meringis sambil memegang tangan kanannya.