Black Shadow

Black Shadow
Sumur Latihan


__ADS_3

"Apa kau bilang?!” Bulan kaget dengan perkataan Putri. Dia sampai terbelalak dibuatnya.  Tidak percaya dengan Putri, Bulan memanggil Gin, untuk menghadap padanya.


 


Begitu Gin sampai di hadapannya, tangan Gin ditarik. Matanya terbelalak melihat gelang tersebut, level empat. Dia mengucek matanya, melihat sekali lagi. Hasilnya sama, level empat. “Jangan-jangan gelang ini sudah rusak.”


 


Bulan meyakini alat tersebut rusak, menganggap Gin lemah. Dia berniat untuk melatih Gin lebih kuat, agar dia sedikit lebih kuat.


 


“Gin melompatlah ke sumur yang ada di sana. Menyelam, panjat sumur itu dari dalam air.” Mendengar hal tersebut membuat Gin menelan ludahnya sendiri. Latihan yang diberikan Bulan semakin keras, dia bahkan belum menyelesaikan dua latihan sebelumnya.


 


“Tenang saja, kau tetap harus menyelesaikan kedua latihan yang telah kuberikan sebelumnya. Tapi, sebelum itu. Kau harus melatih semua ototmu, terlebih dahulu.” Bulan tersenyum penuh arti.


 


Dia bahkan mengerahkan sebuah pukulan yang sangat kuat padanya, Gin berseru tertahan, terhempas jauh. Menabrak dinding sumur. “Dasar orang gila!”


 


Gin menyumpah serapahi Bulan. Sementara Putri, dia sempat merasa cemas dengan Gin. “Kau tidak perlu khawatir, Mutia. Jika gelang itu tidak rusak, seharusnya dia bisa bertahan dari pukulanku. Juga dari latihan yang kuberikan.”


 


“Tapi... apa dia mampu berkembang dengan latihan selama dua hari penuh?” Bulan mengangkat bahu. Dia juga tidak tahu, semua tergantung pada kemampuan Gin.


Gin menjalani latihan keras dari Bulan, tidak ada jalan mundur. Dua hari lagi group D akan segera dimulai, kecepatannya telah menurun drastis. Karena gravitasi yang berasal dari gelang.


 


Latihan keras adalah jalan keluarnya, meski dia tidak bisa kembali secepat sebelumnya dalam waktu dua hari. Setidaknya, dia harus bisa berkembang. Agar lolos ke babak selanjutnya, meski dia tidak terlalu peduli dengan hal tersebut.


 


Dia menyelam ke dasar sumur, belum sampai ke dasar nafasnya sudah habis. Dengan cepat, dia naik ke atas. Berulang kali berusaha menyelam, berulang kali harus naik kembali sebelum sampai dasar. Dia terlalu lambat.


 


Bulan menyuruh Putri untuk kembali ke dalam istana, mereka tidak bisa terus-menerus berada di situ. “Tenang saja, Mutia. Saya akan menyuruh pelayan untuk mengantarkannya banyak makanan. Sesuai katamu, ‘Dia banyak makan’ bukan?”


 


Mereka masuk ke dalam, Putri sempat menoleh ke arah sumur. Bulan hanya mengelus punggungnya, membujuknya masuk. Itu lebih baik, dibanding harus menunggu Gin selesai latihannya.


 


Gin menghela nafas dalam-dalam, menyelam. Kali ini, dia berusaha lebih cepat. Sepertiga perjalanan ke dasar, nafasnya akan habis, terpaksa dia naik kembali ke atas. Begitu tiba di permukaan sumur, menghirup udara banyak-banyak.


 


Gin memutar otaknya, memikirkan cara untuk tiba ke dasar lebih cepat. Dia tidak mendapatkan cara, hanya menyelam dengan cepat yang muncul di dalam pikirannya.


 


Dia menyelam lagi, menggerakan tangan lebih cepat. Lebih kuat. Gelembung air bermunculan, dia coba mengambil nafas. Tapi, dia malah menelan air sumur. Terbatuk dalam laut, naik ke permukaan air sumur. Nafasnya tersengal, menghirup nafas sebanyak mungkin. “Ini mulai menyebalkan.”


 


Dia memukul air sumur, saking kesalnya. Hari sudah berada di atas kepalanya, perutnya sudah berbunyi. Tidak lama, kepala Bulan muncul di atas sana. “Kau lapar, bukan? Kau tidak akan mendapat makan siang, kalau belum menyentuh dasar sumur.”


 


“Apa?!” Bukan karena tidak mendengar ucapan Bulan, tapi karena ucapan Bulan yang membuatnya semakin kesal. Jangankan menyentuh dasar sumur, untuk menyelam sampai ke tengah saja dia masih kalabakan. Belum bisa.


 


“Jika saja, saya tidak mengatur gelang ini ke level empat, sudah dari tadi saya menyelesaikan semua latihan menyebalkan ini.” Gin bergumam kesal, wajahnya mulai membiru, karena terlalu lama berendam di air sumur.


 

__ADS_1


Dia mulai menyesali perbuatan teledornya, jika dia bisa kembali ke masa lalu. Dia tidak akan menyetel ke level empat, bahkan tidak mau menyentuh gelang gravitasi.


 


“Apa kau tidak kasihan padaku, saya belum makan sejak tadi pagi. Bangun-bangun sudah diajak ke tempat ini.” Diam-diam Gin mengumpat. Meski, dia sedang berkata manis, membuat dirinya menyedihkan pada Bulan. Agar Bulan merasa kasihan padanya.


 


Bulan tersenyum manis, kemudian menampakkan wajah datar. “Tidak! Sebelum kau mencapai dasar. Jangan harap, kau bisa makan.”


 


“Dasar pelit.” Gin mengatai Bulan. Bukannya, marah. Bulan tertawa keras, merasa tergelitik oleh ucapan Gin.


 


“Berusahalah sekuat mungkin untuk mencapai dasar, agar kau bisa makan. Ingat! Tidak ada yang boleh membantumu, jika ketahuan. Jangan harap, kau bisa menghadiri turnamen pada group D.” Bulan sungguhan mengancam.


 


Gin tidak peduli. Lagipula, dia ikut turnamen, karena ikut-ikutan. Jika, Yan tidak ikut, dia pasti tidak ikut. Lupa dengan motivasinya ikut turnamen, ‘karena ingin berhadapan dengan orang-orang kuat’. Mungkin, Gin terlalu kesal dengan latihan yang diberikan oleh Bulan.


 


Gin mulai kedinginan, dia memilih untuk beristirahat sejenak. Menjemur badan dengan sedikit memanjat dinding sumur, dia sedikit kesulitan.


 


Begitu tubuhnya kering, dia kembali menceburkan diri ke air. Langsung menyelam, kali ini dia menyelam sedikit lebih dalam. Nafasnya masih banyak. Tapi lagi-lagi, belum sampai ke tengah kedalaman sumur. Dia naik ke atas permukaan dengan nafas tersengal, menghirup udara sebanyak yang dia bisa.


 


Sore hari, Gin akhirnya mencapai pertengahan kedalaman sumur, meski tidak menyadarinya. Dia tersengal. Menahan lapar di perutnya yang sejak tadi menggerung, minta makan.


 


Dia beristirahat sebentar, “Gin.”


 


 


Dia berkata, ‘Akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan Gin makan’. Itu benar, tidak salah. Pelayan tersebut, benar-benar mengantar makanan. Tapi, tidak untuk memberinya makan. Setidaknya sampai, Gin mampu menyelesaikan target yang diberikan Bulan.


 


Begitu malam tiba, air sumur menjadi lebih dingin. Gin mencoba bertahan, tidak mau kalah dengan air sumur yang sangat dingin. Dia bersiap untuk menyelam, tapi mendengar suara yang memanggilnya.


 


“Gin!” Akhirnya, Gin menoleh ke atas. Dia mengerutkan dahi, tidak lama Putri melemparkan makanan yang telah dibungkus dengan daun lebar.


 


“Terima kasih, Iblis Kecil.” Putri tersenyum hangat. Dia melihat Gin makan dengan lahap, dalam sekejap makanan miliknya habis.


 


Gin semangat kembali, karenanya. Dia menghirup nafas sebanyak mungkin, menyimpannya di dalam tubuh sebagai persediaan di bawah air. Menyelam dengan cepat. tanpa disadari oleh Gin, dia sudah menyesuaikan diri dengan gravitasi level empat. Beradaptasi.


 


Putri berniat kembali ke dalam istana. Begitu membalikkan, dia kaget. “Hah!”


 


Bulan sudah berada di belakangnya dengan melipat tangan di atas perut, kaki kanan menginjak-injak tanah dengan tumit sebagai tumpuan. “Bagus!”


 


Putri tidak bisa berkata-kata, diam seribu bahasa. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. “Hehe, pemandangan malam ini cukup indah. Saya tertarik untuk melihatnya dari halaman belakang. Lihat, bintang itu lebih terang dari sini.”


 

__ADS_1


Putri berlari kecil ke dalam istana. “Mutiaaa!”


 


Gin yang sedang menyelam, sayup-sayup mendengar suara. Karena tidak jelas, jadi dia tidak peduli. “Mungkin saja, Iblis Kecil sedang menyemangatiku.”


 


Semakin semangat saja, dia. Kali ini lebih cepat, berharap tiba di dasar sumur. Belum juga tiba, dia harus naik ke atas. Sama seperti sebelumnya.


 


Semakin malam, Gin semakin kesulitan. Suhu air turun drastis, sangat berbeda saat siang hari. Dia mengusap wajah, menggigil. Merasa tersiksa dengan latihan yang dijalaninya, dia sampai lupa. Jika pernah jauh lebih menderita daripada saat ini.


 


Gin mencoba membujuk dirinya sendiri, menyelam ke bawa sumur yang begitu gelap. Semakin lama, semakin dalam. Telinganya mulai berdenging, dia tidak peduli. Begitu nafasnya akan habis, dia segera naik ke atas.


 


Gerakannya sangat cepat, berbeda saat turun. Tiba di permukaan air sumur, “Hahh! Hah! Hah!”


 


“Ini menarik. Hahaha.” Gin seperti orang kesetanan, sementara itu Bulan tersenyum melihat perkembangan Gin. Dia pikir besok siang, Gin akan berhasil. Tapi, sepertinya tidak lama lagi, Gin berhasil akan berhasil mencapai dasar.


 


Dilain sisi, Bulan menatap iba pada Gin.


 


Gin berusaha keras, berulang kali menyelam. Tidak menyerah, meski kedinginan sejak tadi. Menyelam lagi, naik ke permukaan hanya untuk mengambil nafas dalam-dalam.


 


Gin benar-benar keras kepala, dia bahkan hampir mati tenggelam beberapa kali. Terlalu memaksa dirinya untuk tiba ke dasar sumur.


 


Bulan tersenyum lebar kali ini, “Gin, ya. Sepertinya, dia membuatku tertarik padanya. Tidak salah, melatihnya begitu keras. Dua hari cukup untuknya, menyelesaikan latihan yang kuberikan.”


 


Gin menyelam lagi, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Dia melewati seperempat kedalaman sumur dalam waktu singkat, menyelam lebih dalam lagi. Berhasil melewati setengah kedalaman sumur, dia terus menyelam. Berusaha keras mengayuh tangannya, agar bisa sampai ke bagian dasar sumur.


 


Belum sampai dasar, dia harus naik lagi. Mengambil nafas lebih banyak. Berusaha untuk tenang. Dia terbahak kali ini, merasa sudah dekat dengan dasar sumur.


 


Dia menyelam lagi, mengayuh tangannya lebih kuat. Lebih cepat. Melewati pertengahan kedalaman sumur. Dia mengayuh lebih cepat. Turun lebih dalam, telinganya mulai berdenging sakit. Dia tidak peduli, tetap menyelam lebih dalam. Merasa nafasnya akan habis, tapi tanggung. Dia tetap menyelam ke bawah. Namun dia naik juga, tidak mau mati konyol di dalam sumur.


 


Begitu sampai ke permukaan, Gin bernafas lega. Sedikit lagi, dia akan kehabisan nafas. Wajahnya memerah. Terlambat sedikit saja, dia akan mengambang dengan sendirinya. Tanpa mengayuh tangan lagi.


 


Gin berenang ke pojokan. Beristirahat sejanak, memulihkan tenaga, sekaligus mengatur nafas. Tidak mudah memang, harus menyelam sedalam itu. “Pasokan air istana ini, sangat melimpah.”


 


Masih sempat-sempatnya, Gin memikirkan hal seperti itu. Malam semakin larut. Sudah tengah malam, jam dua belas tepat. Setelah istirahat yang cukup, Gin memutuskan untuk kembali menyelam. Berusaha setenang mungkin, dia mulai menyelam.


 


Masuk ke dalam air sumur, dia melewati seperempat kedalaman sumur dalam waktu singkat. Sepertiga kedalaman sumur, menyalam lebih dalam. Melewati setengah kedalaman sumur, tidak berhenti sampai di situ. Dia terus menyelam, hingga sedikit lagi menyentuh dasar. Tidak peduli dengan telinganya yang sangat sakit, Gin menyelam lebih kuat. Begitu menyentuh dasar sumur, dia berseru.


 


Bodoh! Dia lupa sedang berada dalam air. Menelan terlalu banyak air sumur, kalabakan naik ke permukaan. Dengan susah payah, dia sampai kepermukaan. Terbatuk-batuk.

__ADS_1


__ADS_2