
Para penghianat yang mencoba mengambil kekuasaan Raja selatan sudah diberantas, sebagian lainnya lari dan terkurung di penjara Kerajaan. Sementara orang-orang berjubah hitam banyak yang berhasil lari. Meski banyak yang terbunuh, tertangkap. Namun orang-orang berjubah hitam ini benar-benar keras kepala, lebih memilih mati daripada harus membocorkan identitas mereka.
Orang-orang dari Klan Api tidak tahu-menahu informasi tentang mereka. Hanya satu yang mereka ketahui, akan ada bala bantuan dari orang-orang berjubah hitam dalam misi menginvansi Kerajaan Selatan.
Rasa penasaran yang besar dari salah satu Tetua Kerajaan Selatan tentang pertarungan di hutan bagian utara Ibukota membuat geger. Para prajurit yang diutus untuk melihat kondisi bekas pertarungan tersebut, datang melapor padanya dalam keadaan pucat. Bahkan satu-dua diantaranya gemetar setengah mati.
“Lapor Tetua, berdasarkan perintah yang anda berikan. Kami langsung ke hutan bagian utara, bekas pertarungan yang mengguncang Ibukota dan sekitarnya. Kondisi hutan tersebut buruk, bahkan sangat buruk. Pepohonan di sana gundul, terkena tebasan. Batang pohonnya berserakan di mana-mana. Terdapat lubang yang sangat besar dan dalam, ujungnya tidak terlihat. Terlampau dalam.
“Pertarungan macam apa yang telah terjadi di sana, hingga membuat dampak sebesar itu? Bahkan tempat saya bertemu Raja sebelumnya, masih terbilang memiliki dampak kecil. Siapa para monster ini? Dunia benar-benar sedang dalam bahaya, keseimbangan ke empat Kerajaan mulai goyah. Kurang dari satu tahun terakhir, dua Kerajaan mengalami gejolak yang sangat besar.” Tetua tersebut bergumam dalan hati, diam-diam dia merasa ketakutan.
“Kalian semua bereskan segala kekacauan yang ada di istana dan seluruh sudut Ibukota. Jangan ada yang terlewatkan sedikitpun, seluruh mayat para penghianat dan orang berjubah hitam kubur dalam satu tempat. Bagi beberapa prajurit untuk mengurusi hal tersebut, sisanya siapkan tempat yang layak untuk para pahlawan Kerajaan Selatan.” Tetua tersebut memberi perintah.
“Ingat! Sebelum Raja pulih, semua harus kembali, seperti semula. Bahkan gerbang Ibukota yang hancur harus kembali utuh.” Para prajurit tersebut saling melempar tatapan. Tentu saja, hal tersebut mustahil dilakukan oleh prajurit biasa, seperti mereka.
“Kalian akan dibantu oleh salah satu Tetua Akademi Kerajaan, jadi tidak perlu khawatir begitu.” Tetua tersebut tersenyum lebar, bahkan sedikit tertawa. Puas mengerjai para prajurit. Mereka memang perlu sedikit bercanda untuk menghilangkan lelah yang di dapat, setelah bertarung mati-matian.
Di sisi lain, Tetua tersebut bersyukur. Kerajaan Selatan bisa mengatasi bencana besar yang datang, dia tidak bisa membayangkan orang, seperti Barbara yang memimpin Kerajaan Selatan. Tetua ini, bukan orang yang bodoh. Selama ini, dia diam-diam mengawasi setiap gerak-gerik Barbara.
Hanya saja, dia tidak ingin nyawanya melayang begitu saja. Karena melaporkan setiap tindakan Barbara pada Raja, dia tahu betul karakter Raja. Berdasarkan sifatnya, Raja akan mengampuni Barbara atas tindakannya yang begitu kejam. Hanya akan memberikan hukuman ringan, sedangkan sebagian besar prajurit istana yang menjaga penjara sangat setia padanya. Dia akan bebas keluar-masuk penjara, tanpa sepengetahuan Raja. Sementara dirinya akan terancam kehilangan nyawa di tangan Barbara
__ADS_1
Para prajurit benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik, mereka memberekan mayat-mayat yang berserakan di setiap sudut istana dan Ibukota. Meski dengan perasaan jijik dan mual, karena bau busuk. Terlebih banyak mayat yang sudah terpisah dari kepalanya, beberapa terbagi menjadi dua bagian. Bau busuk yang menyengat hidung.
Satu-dua prajurit mual, muntah, bahkan pinggsan. Tidak tahan dengan bau busuk mayat musuh, kematian yang tragis. Sebagian besar prajurit penasaran dengan orang yang membunuh musuh dengan sangat kejam, mereka berpikir pelakunya tidak memiliki perasaan belas kasih sedikitpun. Sementara itu, beberapa prajurit tahu betul wajah pelaku yang membunuh musuh secara tragis. Hanya saja, mereka memilih bungkam, terlalu takut untuk bersuara.
Mereka adalah prajurit yang diselamatkan oleh Gin. Mereka melihat sendiri, betapa mudahnya Gin membunuh musuhnya dengan pedang. Tanpa belas kasih sedikitpun. Bahkan mereka masih mengingat jelas, tatapan Gin yang begitu datar saat membunuh musuh-musuhnya.
Hanya dengan mengingat kejadian tersebut, sudah membuat mereka keringat dingin. Gemetar setengah mati. Terlebih berhadapan secara langsung.
Bangunan-bangunan yang rusak, diperbaiki kembali. Gedung arena turnamen diruntuhkan, dirancang kembali. Dari ide rancangannya, gedung tersebut akan memakan sedikit waktu dan tenaga.
Proses pemulihan Ibukota kali ini, terbilang lambat. Meski kerusakannya masih dibilang tidak terlalu parah, karena pertarungan skala besar terjadi di luar Ibukota.
Si Tua Obat kaget bukan main, pertama kalo mendapati kedatangan Raja yang terluka parah di seluruh tubuh. Terlebih jubah kebanggaannya telah sirnah. Lihatlah tubuh kekar itu, penuh luka sayatan. Yang membuat Si Tua Obat terbelalak, banyak tulang Raja yang patah. Tulang pada tangannya juga retak parah, dia tidak bisa membayangkan pertarungan yang telah dilalui oleh Raja.
“Sebenarnya, pertarungan seperti apa yang telah dilalui yang mulia Raja? Terlebih tenaga dalamnya, hampir terkuras habis.” Si Tua Obat hanya bisa bertanya dalam hati, tidak berani menyuarakan rasa penasarannya.
“Keseimbangan dunia mulai goyah, bisa jadi dalam waktu dekat akan terjadi peperangan yang tidak diinginkan. Peperangan yang hanya akan mengakibatkan kekeringan, kelaparan, dan saling membunuh. Tidak akan ada yang menang, meski pasukan musuh telah terbantai. Semuanya kalah__ kalah oleh keserakahan, ambisi dan angan-angan kemenangan yang sejatinya adalah ilusi.”
“Sejatinya pihak manapun yang berperang akan kalah. Meski, anggapannya sudah menang. Padahal hanya demi keserakahan, ambisi dan angan-angan. Orang-orang ini, dengan mudah mengorbankan nyawa ribuan orang.” Si Tua Obat berperang dengan hati dan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Kondisi Raja kian berangsur membaik, meski bekas luka bakar pada tangannya tidak bisa dihilangkan. Hal ini membuat Si Tua Obat keheranan, tapi sudah dibilang pemulihan Raja sangat luar biasa. Sementara itu, Gin masih terbaring. Tidak sadarkan diri, meski beberapa kali dia mengigau memanggil nama Yan.
Putri Mutia beberapa kali datang melihat kondisinya, nampak sedih melihat Gin, seperti itu. Beberapa hari lagi, kabarnya mereka akan pindah ke istana kembali. Setelah kondisi Raja benar-benar stabil.
Di sisi lain, Bibi Yio menghilang tanpa kabar. Tidak ada yang tahu keberadaannya, selamat atau sudah tinggal nama. Bahkan jasadnya tidak ditemukan di mana ‘pun. Raja sudah memerintahkan seluruh anggota pasukan khusus untuk mencarinya. Tapi, hasilnya nihil. Kilin juga ikut mencari.
Ibukota sudah berjalan, seperti biasa. Banyak yang mulai membuka toko, restoran, dan penginapan. Jalanan Ibukota sudah mulai ramai kembali, segala kegiatan sudah kembali normal. Meski Raja belum kembali ke istana.
***
Dua Kerajaan lain, gempar dengan kabar kekacauan yang terjadi di Ibukota Kerajaan Selatan. Beberapa petinggi kedua Kerajaan mulai cemas, memikirkan hal yang sama dengan Si Tua Obat, yaitu keseimbangan mulai rusak.
Raja Kerajaan Timur (Kaisar). Mengadakan rapat mendadak, selepas mendengar kabar yang terjadi di Kerajaan Selatan. Para petinggi mulai cemas di depan singgasana Kaisar, mereka tahu betul maksud Kaisar mengadakan rapat mendadak.
Di tempat lain, di Kerajaan Timur. Ketua-ketua Klan besar gelisah, mempersiapkan segala sesuatu yang bisa dilakukan. Mengumpulkan para tetua Klan untuk membahas kejadian di Kerajaan Selatan, Kerajaan Barat juga ikut menjadi pembahasan.
Kekacauan yang terjadi di Kerajaan Selatan menjadi topik hangat di kalangan masyarakat Kerajaan Timur. Di setiap toko pasti ada kelompok yang duduk bersama, sembari membicarakan musibah yang terjadi di Kerajaan Selatan.
Di salah satu kedai mie, Liu Peng dan Mei Ni tersontak kaget mendengar kabar tersebut. Mereka tersedak mie, saling menatap satu sama lain. Mereka mendengar dengan seksama pria yang sedang bercerita tentang kekacauan yang terjadi di Kerajaan Selatan. Mereka berdua bisa mendengar suara Pria tersebut dengan jelas, meja mereka tidak berjauhan dengan pria tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan Kerajaan Timur. Di dalam istana salju, Raja utara sedang melakukan rapat tertutup. Hanya dihadiri para petinggi Kerajaan. Rapat tersebut telah mencapai akhir.
__ADS_1
“Baiklah, mari kita buat pesta yang sangat meriah. Adu kedua Kerajaan tersebut, agar saling menghancurkan. Sementara kita Kerajaan Utara, hanya perlu menjadi penonton saja. Menurut orang kepercayaanku, Raja Selatan mengutus pangeran ketiga untuk mewakili Kerajaan di Turnamen antar Kerajaan. Gunakan pangeran konyol itu untuk memicu perang diantara Kedua belah pihak. Bunuh bila perlu!” Raja Utara terbahak. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.