Black Shadow

Black Shadow
Menyamar


__ADS_3

Suasana di ruang singgahsana Raja sangat sepi. Seorang prajurit datang melapor, langsung mengambil posisi setengah berlutut di hadapan singgasanah Raja. “Lapor, terjadi penculikan, serta pembunuhan peserta turnamen.”


 


Raja reflek berdiri, kemudian duduk kembali untuk menenangkan diri. “Lagi-lagi kejadian yang sama dan mirisnya pelaku perbuatan ini, belum juga tertangkap sampai saat ini,” batin Raja.


 


“Sampaikan perintahku! Utus lima puluh prajurit untuk menjaga setiap sudut asrama peserta, jangan biarkan satu peserta ‘pun keluar dari kamarnya. Jika, ditemukan ada yang melanggar, maka akan dikeluarkan.” Mendengar hal tersebut membuat prajurit undur diri, tapi sebelum dia melangkah pergi.


 


“Satu lagi, tempatkan sepuluh orang dari pasukan khusus untuk menjaga Mutia (Tuan Putri). Dan awasi ke mana ‘pun dia pergi, kalau sampai anakku lecet sedikit, nyawa mereka taruhannya!” Untuk pertama kalinya sang Raja menyelipkan ancaman di dalam perintahnya, hal ini membuat prajurit tersebut bergidik dan ketakutan setengah mati.


 


“Oh ya, temui Barbara (Tangan Kanan Raja). Katakan padanya untuk menyelidiki masalah ini. Saya masih ada urusan untuk mengantar para tamu di gerbang kota, tak perlu ada pengawalan. Sebab kami akan keluar istana dengan menyamar, agar tidak mencolok.” Wajah prajurit tersebut memucat, berubah bagai selembar kertas. Dia mematung sejenak, kemudian menyanggupi perintah Raja dengan berat hati.


 


Kemudian sang Raja mempersilahkan prajurit tersebut meninggalkan ruangan. Ruangan tersebut begitu mewah, dengan ornamen burung elang berwarna hitam pekat tepat di belakang singgasana Raja. Terdapat karpet merah di lantai ruangan yang terhubung dari pintu besar dan singgasanah, sementara kursi-kursi berlapis emas pada pinggirannya, berderet rapi di bawah singgahsana Raja.


 


Raja menghembuskan nafas halus, dia melihat prajuritnya meninggalkan ruangan dalam keadaan tegap, meski dia tahu prajurit tersebut keberatan dengan perintah yang diberikan padanya. Raja kemudian, berjalan ke arah pintu dengan langkah santai dengan tangan kanan menggenggam, tangan kiri di belakang.


 


“Waktunya mempersiapkan semuanya, sekalian untuk mengecek keadaan perbaikan kota saat ini. Kayaknya berpakaian seperti seorang pengemis lebih menarik. Tapi, tidak ada satu ‘pun pengemis di dalam kota,” pikir Raja sambil berjalan meninggalkan ruang singgasanah, menuju kamarnya.


 


Raja tidak langsung ke kamar, berjalan-jalan mengitari istana yang begitu luas seorang diri. Tanpa pengawalan. Dia fokus pada pikirannya sendiri, tiga jam berlalu. Sama sekali, tidak ada ide yang masuk. Bahkan, Raja sempat kembali ke singgahsananya. Berulang kali. Kemudian pergi lagi, tidak mudah memang mendapatkan ide saat ini. Pikirannya sedang penuh dengan banyak hal.


 


Tanpa sadar, Raja telah tiba di dalam kamarnya, tanpa menemukan ide sedikitpun. Biasanya, saya tidak kesulitan menemukan ide. Tapi, kenapa sekarang terasa sangat sulit?” Raja mendonggakkan kepala, hampir saja menabrak dinding di depannya. Raja menggelengkan kepala, menyadari kesalahannya. Melamun sambil berjalan.


 


“Lebih baik menyamar menjadi pengelana dengan baju compang-camping saja. Nanti, sekalian pakai jubah lusuh lengkap dengan penutup kepala.” Raja mengeluarkan peluit dari kayu rotan yang sudah dibersihkan, dia meniupnya. Tak ada suara yang keluar, tapi itu memang triknya.


 

__ADS_1


Menunggu beberapa menit, Kilin dengan memakai topeng perak, serta baju hitam yang super ketat. Tidak sedikitpun, kulitnya terekspose. Bahkan, telapak tangannya terdapat sarung tangan yang terbuat dari karet.


 


Dia muncul dari langit-langit kamar Raja dan turun ke bawah. Pintu kamar sudah tertutup rapat sejak tadi. “Ada apa, Raja memanggilku?”


 


Raja tersenyum lebar, “Saya meminta maaf, Kilin. Jika saja, kamu tidak sedang dikabarkan sedang menjalankan misi, terlebih dalam misi tersebut kau sudah dipastikan akan dinyatakan gagal dan mati. Tentu, kau tidak akan sembunyi-sembunyi seperti ini.”


 


Kilin tersenyum lebar, “itu bukan masalah. Lagipula, ini demi memasuki pasukan mata-mata Kerajaan. Walaupun, saya menjadi pemimpin dan orang pertama yang masuk ke pasukan ini. Tapi, tetap saja ini keren. Lagipula, Anda sudah menghapus seluruh informasi tentang diriku, di seluruh bagian informan, bukan?”


 


“Tentu, tindakan itu wajib dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya. Saya bangga bisa memilikimu dalam pasukan ini, Kilin.” Raja tidak sekedar membual, karena dalam pasukan ini Raja memerlukan orang yang bisa dipercaya dan setia sepertinya. Kesetiaan yang dimiliki Kilin tidak perlu dipertanyakan lagi.


 


Raja kemudian memberi kertas kecil kepadanya. “Ingat, kau tidak boleh ketahuan. Karena orang-orang berpikir, kau sedang menjalankan misi.”


 


 


Raja juga sempat melamun, namun harus terhenti dengan kedatangan Kilin. Dia membawa semua perlengkapan yang diinginkannya, Raja berdiri sambil berbalik ke Kilin. Raja tersenyum dengan tangan ke belakang.


 


Kilin, lalu menyerahkan seluruh perlengkapan yang dibawanya kepada Raja. Setelah Raja menerimanya, Kilin pamit dan pergi begitu saja. Raja segera mengubah penampilannya, kemudian bergegas ke halaman Kerajaan untuk mengantar tamu.


 


Sesampainya di halaman Kerajaan, semua yang berada di sana terkesiap melihat kedatangan seorang pengelana (Raja Selatan). Bahkan, satu-dua prajurit menyerangnya. Tentu saja, Raja dengan mudah menghindari serangan tersebut. Sekaligus memancarkan tenaga dalamnya untuk memberitahu para tamu, kemudian para tamu meninggalkan halaman Kerajaan bersama pengelana tersebut.


 


Di halaman Kerajaan masih terdapat beberapa tenda besar yang dihuni oleh penduduk kota, bahkan banyak diantara para penduduk harus menghentikan kegiatan mereka. Karena melihat dan merasakan sendiri ketegangan yang sempat terjadi, sebab kemunculan sang pengelana.


 


Hal itu, membuat para petinggi tersinggung, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. Karena Raja menitip pesan sebelumnya, bahwa mereka harus menghormati tamu. Dengan hati yang geram mereka, hanya bisa melihat kepergian para tamu bersama sang pengelana.

__ADS_1


 


Kepergian mereka begitu sederhana, tanpa pesta, sambutan, kerumunan penduduk atau arak-arakan sedikitpun. Sepanjang jalan lancar saja, tidak ada hambatan. Hanya satu-dua kali, mereka ditatap oleh pejalan kaki yang lewat.


 


Sesampainya di depan gerbang, terlihat gerbang kota yang nampak baru dan lebih baik dari sebelumnya. Gerbang kota adalah ikon kota yang pertama kali dibangun kembali, karena menjadi penanda dan pintu masuk Ibukota.


 


Tentu saja, toko-toko, serta bangunan yang lain sudah sebagian diperbaiki dan dibangun ulang dengan bantuan Raja. Bahkan, kedai teh dekat gerbang sudah mulai beroperasi kembali. Tapi, masih ada banyak lagi yang harus dibangun ulang dan diperbaiki.


 


Puluhan tamu langsung pamit undur diri. Hal tersebut menyisakan Raja Selatan yang sedang menyamar, perwakilan raja Timur dan perwakilan raja Utara. Mereka bertiga sempat berbincang-bincang, “suatu kehormatan dapat diantar secara langsung oleh Raja.“ Perwakilan raja Timur setengah membungkuk.


 


“Tak perlu seformal itu, lagipula saya sedang menyamar. Agar tidak menimbulkan kecurigaan kuharap, kalian bersikap biasa saja untuk kali ini. Saya sungguh berterima kasih dengan kedatangan kalian di pesta ulang tahunku. Oh ya, sampaikan rasa terima kasihku kepada Raja Utara dan Timur. Permohonan maaf, secara pribadi terhadap kalian, karena mengantar kalian dengan penampilan seperti ini.” Raja Selatan dengan senyum lebar.


 


Kedua wakil dari Kerajaan Timur dan Utara, masing-masing mengangguk mantap. Bercakap-cakap sejenak, kemudian mereka mohon diri kepada Raja. Dalam hitungan detik kedua wakil dari Kerajaan berbeda tersebut telah menghilang begitu saja, kecepatan mereka begitu luar biasa.


 


Raja yang sedang menyamar memutuskan untuk melaksanakan rencananya, dia memutuskan untuk duduk sejenak menikmati teh hangat yang sangat nikmat di lidah. Bukan baru kali ini, Raja datang dan menikmati teh di kedai ini. Bahkan, setiap kali menyamar tempat pertama yang dikunjunginya adalah kedai teh ini.


 


Jadi, Raja sangat familiar dengan kedai ini, meskipun kedai ini telah jauh berbeda dari sebelumnya. Tadinya, kedai ini sangat kecil dan pengunjung harus menikmati teh di luar kedai. Bukan karena kekurangan modal, tapi menurut pemilik kedai jauh lebih baik menikmati teh sambil menikmati keramaian suasana Ibukota.


 


Akan tetapi, kata-kata itu sekarang tidak berlaku lagi. Sebab, kedai sudah dibangun ulang, meja dan kursi sudah disediakan di dalam kedai untuk pengunjung, meski masih ada pengunjung yang terlihat menikmati teh di luar kedai. Sepertinya, kebiasaan tersebut sudah mendarah daging. Padahal, tidak ada pengunjung di dalam kedai. Hanya Raja seorang yang memilih pindah, masuk ke dalam.


 


Pengunjung yang ada di luar belum lama datang, tepat setelah para tamu Raja pergi. Mereka muncul, mulai berdatangan.


 


Pada saat Raja sedang menikmati teh, muncul sekelompok berandalan. Mereka membuat keributan dalam kedai tersebut. Mereka juga meminta uang milik pengunjung kedai, semua dimintai. Tanpa terkecuali. Saat giliran Raja yang dimintai uangnya. Raja bahkan tidak menatap para berandal yang mengelilingi mejanya.

__ADS_1


__ADS_2