Black Shadow

Black Shadow
Si Bocah Mungil dan Si Bocah Raksasa


__ADS_3

Semua peserta kembali bertarung, mereka tersadar masih berada dalam arena. Sementara itu, diantara kerumunan peserta yang sedang bertarung. Si Kaki Ajaib dan Boo saling menatap satu sama lain, tidak ada suara yang keluar dari mulut mereka.


 


Boo sedang memegang tangan kanannya berkata, “Kau memiliki potensi yang besar, meski berada dalam perguruan kecil. Saya mengakui kehebatan yang kau miliki. Tapi, itu tidak membuatmu menjadi angkuh, bukan?”


 


Si Kaki Ajaib mendengus berlari melakukan tendangan memutar dari udara ke arah lawannya, Boo menghindari serangan tersebut. Dia menghantamkan sebuah pukulan ke wajah Si Kaki Ajaib, dia memiringkan kepala ke samping untuk menghindari serangan Boo.


 


Melihat serangannya tidak mengenai lawan, Boo melakukan gerakan zig-zag ke sana-kemari. Dia bergerak lincah, bukannya memerhatikan lawannya. Si Kaki Ajaib malah menutup mata. Hal tersebut membuat Boo menghentikan gerakannya sejenak, dia mengerutkan dahi. Akan tetapi, setelahnya malah tersenyum puas.


 


Dia mengambil ancang-ancang. Jurus tombak, tangan penembus baja!  Pada saat serangan Boo hampir mengenai perut Si Kaki Ajaib. Dia membuka mata dengan cepat menghindar. Boo membulatkan mata kaget, dia pikir Si Kaki Ajaib sudah menyerah. Akan tetapi, rupanya dia sedang mengumpulkan tingkat fokusnya.


 


***


 


Sementara itu, di sisi arena terdapat seseorang yang memiliki rambut hijau, serta bertubuh mungil. Dia sedang menghindari serangan lawan yang terus berdatangan, merepotkannya. Meski begitu, dia tidak berniat untuk menyerang balik. Cengiran tidak luput dari wajahnya, mungkin hal itu yang membuat banyak peserta kesal dan menyerang secara bersama-sama.


 


Dia melompat memegangi kepala peserta lain yang botak halus, tanpa sehelai rambut ‘pun berlari tanpa henti. “Ah, kalian begitu membosankan. Padahal saya ingin mendapatkan lawan yang kuat, tapi kenapa kalian begitu lemah? Ini sungguh mengecewakan"


 


Peserta lain yang mendengar hal tersebut mengatupkan rahang, marah dengan perkataannya. Dengan kekesalan mereka membuatnya terbahak, “Kalian ini lucu sekali, saya mengatakan yang sebenarnya. Tapi, kalian malah marah, tidak terima dengam perkataanku. Dasar aneh.”


 


Orang ini bernama Rog, dia berasal dari klan embun. Sebenarnya dia anak jalanan yang tidak memiliki siapa-siapa, tapi dipungut dan diadopsi salah satu tetua klan. Karena bakatnya yang luar biasa dalam beladiri, akhirnya dia ditunjuk sebagai salah satu perwakilan klan dalam mengikuti turnamen.


 


Meski memiliki bakat yang tinggi, tapi dia lebih suka bermain daripada berlatih. Hal tersebut terbukti dengan dia yang saat ini sedang berlari sambil mengejek peserta lain, seperti permainan kucing dan tikus.


 


Permainan kucing dan tikus ini adalah permainan kejar-kejaran. Satu yang mengejar, sementara yang lain dikejar. Tapi, kondisi Rog terbalik, dia yang dikejar-kejar.

__ADS_1


 


“Bwah,” Rog dikagetkan oleh seseorang tiba-tiba muncul di hadapannya, tapi Rog bersikap biasa saja. Bahkan dia sempat-sempatnya mengupil di depan orang tersebut, tidak lama berselang berlagak kaget, karenanya.


 


“Wah, saya kaget. Karena saya tidak kaget. Hahaha!” Rog sambil memegang bahu orang tersebut, lalu berlari meninggalkannya yang tersulut emosi. Dia kini dikejar-kejar oleh belasan orang, bukannya takut dia malah terbahak.


 


Banyak penonton yang ikut tertawa oleh tingkahnya, termasuk Raja. “Hahahaha.” Tawa Gin terdengar ke mana-mana, hingga membuat sebagian besar penonton menatap ke arahnya.


 


Hal tersebut memancing tangan Yan untuk menjitak kepalanya. “Dasar bodoh! Kalau tertawa itu. Ya, dikira-kira juga. Lihat, karena ulahmu semua mata menatap ke arah kita.”


 


“Ups. Wah, sekali saya. Apakah saya setampan itu, sampai banyak yang melihatku?” Gin bertanya dengan polos, sehingga membuat Yan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


 


Di atas arena Rog sedang berputar-putar, tak tentu arah. Dia meledek peserta lain yang mengejarnya sejak tadi, tanpa melihat ke depan. Tubuh Roh terpental ke belakang saat menabrak sesuatu, saat dia mendongak.


 


 


Peserta lain yang mengejar Rog, mundur teratur. Mereka tidak berani mengganggu kesenangan Big Baby, semua yang berada di situ mengenal anak berbakat tersebut. Meski memiliki tubuh yang abnormal, tapi kekuatan yang terpendam dalam tubuhnya tidak bisa dianggap remeh.


 


Big Baby adalah murid dari Akademi Kerajaan. Itulah salah satu penyebab dia begitu tersohor, bahkan banyak penonton yang merasa miris dengan nasib Rog. “Malang betul nasib bocah itu. Dia harus berhadapan dengan Big Baby, padahal dia cukup menghibur sejak tadi.”


 


Senyum Rog tidak pudar dari wajahnya, dia tidak gentar sedikitpun. Tatapan mereka Saling beradu, Big Baby tidak berani meremeh Rog. Dia merasakan aura aneh berasal dari Rog, karena hal tersebut Big Baby merasa tertantang untuk menghadapinya.


 


Big Baby sudah memperhatikan Rog sejak awal, dia sangat ingin menghapus senyum kebahagiaan dari wajah Rog dan menggantinya dengan keputuasaan. Big Baby sangat membenci orang, seperti Rog.


 


Dengan cengiran yang lebar, Bjg Baby mendengus. Rog yang melihat itu, semakin menunjukan cengjran terlebarnya. Dia melompat ke bahu Big Baby dan duduk di sana. “Apa kau ingin melawanku? Hei, kau sepertinya lawan yang tangguh.”

__ADS_1


 


Big Baby tentu kesal, dia menepuk bahunya dengan tangan kanan. Rog yang tidak siap akan hal tersebut harus terpental ke arena, dia berdiri. Kepalanya terasa pusing, bahkan hanya untuk berdiri saja dia sudah oleng.


 


Penonton yang melihat kondisi Rog, hanya bisa mengasihaninya. Mereka merasa iba dengan Rog yang di tepuk oleh Big Baby, seperti nyamuk kecil.


 


“Dasar bocah raksasa, sialan! Dia kira saya nyamuk, ditepuknya begitu saja. Awas saja, pembalasanku lebih keji.” Bahkan disaat seperti itu Rog masih bisa tersenyum.


 


Merasa kepalanya sudah tidak pusing lagi, Rog melompat dan menampeleng Big Baby hingga terjatuh menimpa beberapa peserta di bawahnya. Penonton yang melihat hal tersebut, hanya bisa berseru.


 


Mereka tidak menyangka, bahwa bocah bertubuh mungil seperti Rog dapat membuat Big Baby terjatuh. Big Baby yang menerima hal memalukan tersebut geram, dia segera bangkit dan menyerang Rog dengan pukulan kuat.


 


Rog menghindari serangannya dengan mudah, tapi peserta lain yang terkena imbas tidak dapat menghindar. Rog memanfaatkan celah tersebut dan langsung menyerang tangan tersebut dengan energinya.


 


Big Baby dengan cepat menarik tangannya, sebelum serangan Rog mengenainya. Big Baby menghantamkan pukulan ke arah Rog, gesit tubuh Rog menghindari serangan tersebut, serta meloncat ke tangan Big Baby dan bergelantungan di sana.


 


“Awo... woo... wooo.” Rog meniru kera. Hal tersebut membuat penonton terhibur, rasa iba mereka terhadap Rog sirna begitu saja.


 


Mereka tidak menyangka bocah mungil tersebut memiliki kemampuan, meski seperti yang diketahui dia berasal dari klan besar. “Lihat, bocah mungil itu dapat mengimbangi Big Baby.”


 


“Kau benar, bocah itu memiliki bakat yang tidak bisa dianggap remeh. Lihatlah, meski bertubuh mungil, dia mampu mengimbangi lawan yang jauh lebih besar dibanding dirinya.” Gosip-gosip diantara para penonton.


 


Hal tersebut adalah hal yang lumrah dalam sebuah perhelatan seperti ini, bahkan menjadi tradisi tersendiri. Terkadang juga ada satu-dua penonton yang bertaruh, tapi itu tentu tanpa sepengetahuan pihak kerajaan.


 

__ADS_1


Tidak tanggung-tanggung, terkadang taruhan bisa mencapai puluhan koin emas.


__ADS_2