Black Shadow

Black Shadow
Pria Bertunik Hijau 2


__ADS_3

Yan menghentikan langkahnya di dalam hutan yang lebat. Yan sengaja memilih tempat ini agar energinya dapat digunakan secara maksimal. Memasang kuda-kuda setelah melihat kedua pengejar yang memakai tunik hijau dengan lambang tombak emas dipunggung.


“Kalian pikir, saya tidak tahu identitas kalian.” Yan tersenyum sinis, menunjuk ke dua pria di hadapannya.


“Percuma kau tahu identitas kami, lagipula sebentar lagi nyawa akan kami renggut.” Ke dua pria bertunik hijau memandang rendah Yan. Tanpa menunda waktu lebih lama ke dua pria bertunik hijau menghunuskan tombak ke arah Yan.


Yan merunduk ke belakang agar dapat menghindari serangan tombak tersebut. Kakinya gesit menendang salah satu tombak hingga membuat senjata tersebut mengudara. Yan tak ingin kehilangan momen. Dia dengan gerakan yang begitu gesit dan cepat menyerang pria bertunik hijau yang tak lagi memiliki senjata.


Namun teman pria bertunik hijau tak membiarkan Yan begitu saja. Yan diserang dengan tombak pria bertunik hijau yang satu lagi. Untungnya Yan dapat menghindari serangan tersebut dengan meliukkan tubuhnya.


Tak sampai disitu pria bertunik hijau yang kehilangan senjata. Kini melompat untuk meraih tombaknya. Walaupun dia sedang berada di udara, dia mampu menyerang Yan yang masih sibuk menghindari serangan di hadapannya saat ini.


Menyadari terdapat sebuah tombak yang datang dari atas ke arahnya. Yan bergeser tiga puluh deratat dari tempatnya semula. Pria bertunik hijau yang satu lagi, tak memberi belas kasih terhadap Yan. Dia terus-menerus menyerangnya.


Yan mundur, menjauh dari ke dua pria bertunik hijau. “Meski mereka belum mengeluarkan energi. Akan tetapi, mereka sudah membuatku kewalahan seperti ini.”


“Atau apakah para murid perguruan tombak emas ini belum bisa memicu energi dalam tubuh mereka. Oh ya, benar juga meski Perguruan Tombak Emas merupakan salah satu Perguruan besar di Kerajaan ini.”


“Tapi, bukankah mereka tidak akan membiarkan murid berbakat untuk turun tangan membunuh para peserta turnamen lain. Pasti murid berbakat mereka sedang menyimpan energi demi turnamen ke depan. Lagipula hanya murid berbakat yang dapat memicu energi dalam tubuh di usia kami sekarang ini.” Yan menimbang-nimbang keputusan yang harus dia ambil.


Yan terlalu keasyikan berpikir hingga tak menyadari kedua pria bertunik hijau sedang mengarahkan serangan dari dua arah. Tombak kedua pria tersebut hampir mengenai Yan dan membunuhnya. Tiga centimeter, sedikit saja Yan terlambat menyadarinya. Sudah dipastikan dia akan berpindah alam, Yan mengindari serangan keduanya dengan melentingkan tubuhnya ke udara.


Tubuh Yan mendarat di belakang salah satu pria bertunik hijau, dia mengerahkan sebuah pukulan ke leher belakang pria bertunik hijau. Namun tanpa diduga, pria bertunik hijau tersebut merundukkan kepalanya. Pria bertunik hijau menendangkan kaki kananya ke belakang, Yan menangkis tendangan tersebut dengan kedua tangannya.

__ADS_1


“Hey, kau curang. Masa kau menyerang area tak terlihat. Apa kau ingin membunuhku, hah?” Yan berceloteh kepada pria bertunik hijau.


Pria bertunik hijau mengangkat kedua alis. Memang itu yang sedang dilakukannya, bukan? Lagipula pada kondisi seperti ini, kalau bukan dibunuh, yah harus membunuh.


Pria bertunik hijau tak ingin memperdulikan Yan. Dia menyerangnya dengan tombak di tangannya, serangan tombak pria bertunik hijau diarahkan ke kiri, kanan, atas, bahkan bawah. Akan tetapi,Yan tetap menghindarinya dengan cekatan.


Tiba-tiba saja, pria bertunik hijau yang sedang asyik menonton pertarungan, memutuskan untuk ikut menyerang Yan. Dengan santai menghindari segala serangan mengarah padanya. Tombak silih berganti mengarah ke Yan.


Melihat terdapat sebuah celah. Yan menarik tombak yang datang padanya dan melompati tombak tersebut. Yan berlari di atas tombak tersebut, begitu tiba di depan wajah pria bertunik hijau. Dia menendang wajah pria tersebut.


Pria bertunik hijau yang menerima tendangan Yan, memuncratkan banyak darah. Tidak sampai disitu, Yan memungut tombak pria bertunik hijau yang baru dihajarnya dan melemparnya ke arah pria bertunik lainnya.


Lemparan Yan begitu cepat dan akurat. Namun lemparan tombaknya dapat dihindari oleh pria bertunik hijau tersebut. “Siapa yang akan menyangka? Jika Perguruan Tombak Emas adalah dalang dibalik hilangnya murid Perguruan yang melalui jalur utama selama ini.”


Yan bertepuk tangan seraya menyoraki Perguruan Tombak Emas, mereka selama ini telah berhasil menghadang setiap murid perguruan maupun petarung lepas yang ingin mengikuti Turnamen Kerajaan.


Kedua pria bertunik hijau geram terhadap Yan. Mereka merasa sedang dipermainkan olehnya, “Kau... kau cari mati.” Salah satu pria bertunik hijau berlari ke belakang untuk mengambil tombak yang dilemparkan oleh Yan sebelumnya. Mendapat tombak yang diinginkan pria bertunik menepuk bahu temannya.


Mengerti akan maksud temannya, pria bertunik hijau yang sejak tadi menatap geram pada Yan, kini melompat ke sana-ke mari sambil menuju ke arah Yan. Tak jauh berbeda, pria bertunik hijau yang satu lagi melakukan hal yang sama.


Kedua pria bertunik hijau bergerak dengan sangat gesit. Mereka melompat ke sana-ke mari, datang dari dua arah. Depan dan belakang. Yan menyampingkan tubuhnya, dia berusaha konsentrasi. Satu sayatan di dada kanan hingga perut kiri mengeluarkan darah. “Arghh.”


Yan berteriak kencang ketika pria bertunik hijau terus melancarkan serangan dan berhasil menggores luka di sekujur tubuh Yan. “Gerakan mereka tak beraturan. Akan tetapi, sulit untuk menebak datangnya serangan.” Tiba-tiba pipi Yan mengeluarkan darah, tidak banyak, tapi cukup untuk membuat Yan tersulut emosi.

__ADS_1


Dia menghapus jejak darah di pipinya, Yan memasang kuda-kuda untuk mengeluarkan jurus. Empat  akar yang cukup besar keluar dari tanah dan menjadi satu. Ujung pada setiap akar begitu tajam. Akar yang telah bersatu tersebut menyerang salah satu dari pria bertunik hijau yang sedang bergerak dan menyerang Yan dari belakang.


Sungguh naas nasibnya harus mati tanpa menyadari kematiannya begitu tragis. Akar besar berhasil melubangi tubuhnya dan ketika akar itu menghilang. Dapat terlihat lubang besar yang sangat jelas di sana.


Sementara itu, pria bertunik hijau yang ingin menyerang Yan dari udara kini terdiam membisu di atas tanah. Dia bisa melihat serangan Yan yang begitu cepat membunuh temannya. Pria bertunik hijau itu pucat fasih bagai tak lagi memiliki darah.


Tubuhnya menggigil, menyaksikan bagaimana teman mati secara tragis. Lihat tubuh pria bertunik hijau yang saat ini tergeletak di atas tanah. Bermandikan darahnya sendiri.


Yan mengelap percikan darah yang mengenai wajahnya. Dengan tatapan tajam Yan berkata, “Di mana kesombonganmu tadi? Bukankah kau mengatakan ingin menyiksaku, sehingga berharap bisa cepat mati di tanganmu, hah.”


Pria bertunik hijau membisu tak ada jawaban. Lihatlah kakinya gemetaran. Ehh, mengapa celananya basah. Dan aduh, ternyata dia pipis di celana. Tetesan air belum berhenti jatuh ke tanah, Yan hanya bisa menepuk jidatnya.


Yan sempat berpikir untuk tidak membunuhnya, “Kasihan.” Katanya. Akan tetapi, Yan melihat ada sebuah gerakan dari dedaunan pohon yang di atasnya. Yan mengeluarkan jurus yang sebelumnya, empat akar berukuran cukup besar menyatu dengan ujung yang sangat tajam.


Keempat akar yang bersatu membuatnya membesar. Yan melancarkan akar tersebut ke atas pohon. Dengan cekatan bagaikan sesosok bayangan berpindah ke pohon satunya. Yan bergerak ke pohon tersebut. Sebuah pukulan mengarah padanya Yan mengapitkan kedua kakinya pada dahan pohon dan merunduk ke belakang.


Yan membalas pukulan tersebut dengan akar yang besar pengarah pada orang di hadapanya. Pria di hadapannya bergerak ke arah pria bertunik hijau yang sedang mematung. Dari atas Yan dapat melihat jika pria tersebut memakai tunik hijau yang sama dengan pria yang sedang membisu.


Yan turun dari pohon dan mengarahkan jurus akarnya pada pria tersebut. Namun naas jurus Yan malah menembus tubuh pria bertunik hijau yang membisu tadi. Karena pria yang baru saja bertarung dengan Yan, berlindung di balik tubuh pria bertunik hijau yang membisu.


Di saat akar tersebut menembus tubuh pria bertunik hijau yang membisu, pria yang menggunakan tubuh temannya tersebut mundur beberapa langkah, karena tidak ingin terkena serangan. Tunik hijaunya bermandikan darah. “Kau... kau petarung yang hebat. Saya ingin bertarung denganmu lebih lama. Akan tetapi, lain waktu saja. Saya sedang sibuk saat ini. Dadah.” Pria tersebut melambaikan tangan sambil meninggalkan Yan.


Melihat pria tersebut yang bisa dengan mudah datang dan pergi dengan seenaknya di hadapannya. Yan hanya bisa berdecak kesal.

__ADS_1


Yan menunggu kedatangan Gin, di tempat mereka terpisah tadi. Yan sekalian melihat ketiga murid Perguruan menengah yang tersisa. Bukan main keadaan para murid Perguruan menengah sudah begitu mengenaskan.


Tidak lama menunggu Gin muncul dari sisi gelap hutan. Gin membantu memulihkan para murid tersebut dengan sedikit obat-obatan yang dia bawa dari gubuk reotnya dan Merume.


__ADS_2