Black Shadow

Black Shadow
Petarung dari Kerajaan Barat


__ADS_3

Gin dan Yan berkacak pinggang sembari berkata, “Kamu pikir kami akan mati dengan mudah, hanya karena racun murahanmu itu?”


Sebenarnya hanya Gin yang terkena racun, tapi karena pernah terkena racun monster macan level tujuh. Asap abadi hanya membuat Gin tertidur beberapa jam, sementara Yan tidak terkena racun sama sekali, dia hanya pura-pura mati dan melihat situasi.


Sebenarnya Yan sempat khawatir pada Gin, tapi setelah merasakan hembusan nafas Gin mengenainya, dia merasa lega. Yan juga sempat beberapa kali ingin mengakhiri kepura-puraannya sejak tadi, tapi urung saja. Akhirnya, dia memutuskan untuk menunggu Gin sadar.


Gin maupun Yan saling menatap satu sama lain, seakan saling mengetahui yang sedang dipikirkan masing-masing. “Sebaiknya, kau duduk sambil menikmati pertarunganku melawan biawak ini, Yan.” Gin angkuh.


Tidak mau kalah dari Gin, Yan balas berkata, “tidak sebaiknya, kamu yang duduk sambil menikmati serunya pertarunganku. Sepertinya, biawak ini lawan yang cukup kuat.”


Gin tidak mau ambil pusing, dia bergerak dengan cepat menyerang petarung dari Kerajaan Barat. Sebuah pukulan keras yang sangat terarah. Mudah saja, bagi orang tersebut menangkis serangan tersebut. Hei, serangan Gin kali ini, datangnya dari depan. Bukan seperti tadi menyerang dari belakang.


Orang dari Kerajaan Barat mengeluarkan energi yang berbentuk buliran-buliran timah, dia menyerang Gin dengan energi tersebut. Gin yang melihat serangan tersebut, menghindari serangan yang datang.


Lantai keramik yang terkena serangan tersebut berlubang, sama persis dengan besar buliran timah. Gin berdecih, dia tidak pernah menyangka serangan orang tersebut begitu kuat. Gin memutuskan untuk lebih hati-hati, memasang kuda-kuda awas dengan serangan berikutnya.


Gin menoleh sebentar demi melihat Yan, dia yang sedang tidur menyamping dengan tangan kiri menopang kepala sedang tangan kanan memasukan kacang ke mulut. Ahh, santai sekali dia. Gin menyesal tidak membiarkan Yan saja tadi yang bertarung.


“Tak apalah, lagipula orang ini kuat sekali. Entah mengapa begitu menyenangkan melawan orang yang kuat,” batin Gin. Semangatnya membara, dia tidak menyangka akan melawan orang kuat di tempat seperti ini.


Gin melesat mengepalkan pukulan sekuat tenaga, tapi sebelum pukulannya mengenai lawannya. Bum, terdengar suara yang memekakan telinga, membuat Yan sampai kalabakan, kaget dibuatnya. Tiba-tiba muncul tameng yang terbuat dari energi timah.

__ADS_1


Gin mengambil jarak dari lawannya. “Kemampuan orang ini, tidak bisa dianggap remeh,” batinnya.


Orang tersebut memasang wajah mengejek, sepertinya dia sedang meremehkan Gin. Melihat wajah lawannya membuat Gin mengatupkan rahang, dia tidak suka dengan wajah yang sedang ditunjukan oleh lawannya.


Gin mengepalkan tinjunya kuat-kuat, melapisinya dengan energi kegelapan yang sangat tipis untuk menambah daya hancur serangannya. Dia geram pada orang di hadapannya, bergerak cepat dan muncul di samping kanan lawan, segera melesatkan pukulan keras. Bum! Sekali lagi, suara memekakan telinga.


Gin segera mengambil jarak, menghempaskan tetesan keringat yang mengucur di dahi.


Lawan Gin terkesima, sekaligus merinding melihat pukulan Gin yang mampu meretakkan tamengnya. Dia tidak menyangka seorang remaja dari Kerajaan kecil seperti ini mempunyai serangan dengan daya hancur__ bukan main.


“Siapa bocah ini? Sepertinya, dia memiliki latar belakang yang tidak sederhana. Tapi... ahh, lebih baik tidak perlu berpikir banyak, pastinya saya tidak boleh meremehkannya, “ batin orang dari Kerajaan Barat dalam hati.


Lawan Gin memasang kuda-kuda, waspada pada serangan Gin selanjutnya. Dia juga melapisi sekujur tangan dengan timah yang terbuat dari energinya.


Keduanya bergerak bersamaan, benturan kedua pukulan menghasilkan suara yang memekakan telinga. Yan sampai harus mengambil jarak seratus meter, tidak ingin kehilangan pendengaran, akibat pertarungan Gin dan orang dari Kerajaan Barat.


Yan tetap santai menonton, bahkan dia sampai mulai menyukai pertarungan diantara keduanya. “Tontonan gratis, pertarungan dua orang ini seru juga, sepertinya lebih seru lagi jika saya sedikit usil,” batin Yan.


Gin mengarahkan pukulan pada lawannya, tapi dengan mudah di tangkis menggunakan pergelangan tangannya. Serangan datang, mudah saja dihindari. Sudah banyak serangan yang dilancarkan, tapi tidak ada satu pun serangan yang lolos.


Lawan Gin berlari cepat, ingin melancarkan pukulan mematikan. Tapi, tepat sebelum pukulannya mengenai sasaran. Kaki kanannya terlilit sebuah akar panjang, membuatnya terjungkal. Tentu saja, hal itu membuatnya mencak-mencak, “hei, dasar curang. Bukankah kau menonton sejak tadi, tapi mengapa sekarang tiba-tiba menyerangku?”

__ADS_1


“Maaf, energiku keseleo, jadi kadang-kadang lepas kendali.” Tentu saja Yan sengaja, lagipula mana ada energi yang keseleo. Itu hanya akal-akalannya saja.


Lawan Gin geram setengah mati, tapi dia tidak punya waktu untuk meladeni Yan. Memutuskan untuk fokus pada Gin yang saat ini menjadi lawannya. Dia melesat cepat melepaskan pukulan pada Gin, namun telat menghindarinya. Untung saja, hanya luka gores di pipi kanan, setetes darah mengalir.


Gin menghapus darah di pipi kananya, menyerang untuk mendapat membalas lawannya. Suara memekakan telinga muncul, setiap kali kedua serangan saling bertemu. Dia tidak putus asa terus melancarkan serangan.


Keduanya kembali bertukar serangan, nampak seutas senyum terukir pada wajah lawan Gin. Mungkin dia tertarik pada Gin yang mampu menahan imbang dirinya. Walaupun, dia belum serius sama sekali.


Gin terus menimbang untuk menambah ketebalan energi kegelapannya atau tidak. Terlalu banyak berpikir membuat kepalanya sakit. “Orang ini tidak bisa dikalahkan dengan cara sederhana,” batin Gin.


Gin tersentak kaget, saat melihat lawannya__ mengarah padanya dengan cepat. Dia tidak sempat menghindari pukulan yang mengarah padanya, tapi secara tiba-tiba muncul beberapa akar yang mengarah pada lawannya.


Lawan Gin, membatalkan serangannya. Memilih mundur__ menghindari serangan yang datang. Kesal sekali rasanya pertarungannya terus diganggu. “Dasar bocah tengil, mengapa kau terus menggangguku? Apa kau akan terus jadi pengecut seperti itu?”


“Pengecut? Hahaha, bukannya kamu yang pertama kali mengeroyok dua bocah dengan segerombol orang, heh!” petarung dari Kerajaan Barat terdiam seribu bahasa__ tidak bisa membantah. Dia tidak habis pikir, bisa dipermainkan oleh dua bocah ingusan.


“Sebaiknya, kalian menggabungkan kekuatan melawanku atau bisa kupastikan penyesalan akan menghampiri.” Angkuh orang dari Kerajaan Barat.


Benar saja, orang tersebut mengeluarkan hawa yang menakutkan dari sekujur tubuh. Energi dalam tubuhnya seketika meluap-luap. Sorot matanya__ berbeda dengan tadi. Kuda-kudanya berubah, otot-otot yang membesar.


Yan yang sedari tadi menonton sambil melipat tangan di dada, santai. Kini berkeringat dingin merasakan hawa sekitar. Kakinya terpaku, dia merinding dengan kekuatan yang meluap dari orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2