
Suara gedang saling bertalu. Para penonton berteriak, menambah kemeriahan babak enam belas besar. Arena yang hancur tiga hari yang lalu, kini kembali pulih. Bahkan ketahanannya, jauh lebih baik dari sebelumnya.
Para peserta telah siap. Mereka akan mengambil sebuah bola yang bertuliskan nomor. Apabila mendapat nomor yang sama, maka akan bertarung. Sesederhana itu.
Yan mendapat nomor delapan. Itu artinya, dia akan tampil pada akhir babak enam belas besar ini. Wasit telah berdiri di tengah-tengah arena. Menyampaikan satu-dua kata sambutan. Memanggil peserta nomor satu untuk bertarung di atas arena.
Rog naik ke atas arena, tepat di samping wasit. Tangannya memegang kapak, dipegangnya dengan erat. Dia sedikit gugup. Tidak menyangka akan sampai ke babak enam belas besar.
Lawan Rog naik ke atas arena, memegang tombak. Dia memakai tunik hijau. Lambang tombak berwarna emas di belakangnya. Tersenyum pada Rog. Hal tersebut membuatnya tidak sabaran melawan orang di hadapannya. Keduanya terpisahkan oleh wasit yang berada di tengah tengah mereka.
Pada saat wasit memulai pertarungan, menghilang dari hadapan mereka. Rog bergerak maju, menebaskan kapaknya pada Pria Bertunik Hijau. Hampir mengenai dadanya. Menghindar tepat waktu, sedikit saja terlambat. Pria Bertunik Hijau sudah kehilangan banyak darah.
Pria Bertunik Hijau menghunuskan tombaknya, namun dapat ditangkis oleh Rog menggunakan kapak. Rog menghempaskan tombak tersebut ke udara, menyerang Pria Bertunik Hijau.
Rog kaget, tiba-tiba Pria Bertunik Hijau ada di belakangnya. Menangkap tombaknya, siap mengunus Rog. “Bagaimana bisa?”
Rog meliukkan tubuhnya, menebas Pria Bertunik Hijau Tang! Benturan kedua senjata. Cepat Rog membelokkan arah tombak Pria Bertunik Hijau. Bergerak maju, menebasnya.
Terdapat sedikit darah pada ujung kapak Rog. Dia tersenyum karenanya. Pria Bertunik Hijau sedikit tersayat oleh kapak Rog, luka kecil. Tidak besar. Tepat pada dadanya.
Keduanya diam, saling menatap. Tidak ada yang berniat maju lebih dulu, saling mengawasi gerak-gerik. “Kau hebat juga, mampu membuatku terluka.”
Tombak yang dipegang oleh Pria Bertunik Hijau dialiri energi, sehingga ketajamannya bertambah. Dia bergerak maju, cepat.
Rog bersiap menyambut kedatangannya. Keduanya saling menyerang, menangkis, menghindar. Tidak ada yang mau mengalah.
Rog menunduk, menebas lawan dengan kapaknya. Tepat pada kakinya, akan tetapi Pria Bertunik Hijau mundur tiga langkah. “Hei... hei... kau tidak perlu semangat, seperti itu.”
Rog memasang wajah meledek, “Saya memang sedang semangat. Apa ada yang salah dengan itu?”
Pria Bertunik Hijau terbelalak, Rog menghilang dari hadapannya. Entah, ke mana hilangnya dia? Pria Bertunik Hijau mencari sekeliling, menyapu sekitar dengan cepat tidak ada.
__ADS_1
“Bwah!!!” Pria Bertunik Hijau terjatuh, karena kaget. Dia merangkak mundur di belakangnya. Dia geram, karena telah dipermainkan oleh Rog.
Rog tiba-tiba muncul di hadapannya, mengagetkannya. Tepat pada saat, dia berbalik. Ingin melihat ke depan.
“Kau sedang mempermainkanku, ya?” Pria Bertunik Hijau dengan mata yang begitu merah. Tidak menyangka dirinya akan dibuat lawakan oleh Rog. Sementara para penonton sedang terbahak saat ini.
Yan yang sedang menonton di bawah arena, hanya bisa menahan tawa. Dia susah payah, mencoba untuk tidak terbahak.
Mereka semua merasa terhibur dengan pertarungan Rog kali ini. Berbeda dengan peserta lain, selalu serius dalam bertarung.
Rok ikut tertawa, dia menghentikan tawanya. Menatap tajam pada Pria Bertunik Hijau yang sedang diselimuti oleh energi besar.
Dia sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang ada. Memasang kuda-kuda awas. Lama bersiap, tapi Pria Bertunik Hijau tidak datang menyerang. Dia akhirnya, memutuskan untuk bergerak maju. Melompat tepat di hadapan Pria Bertunik Hijau.
Memukul kepala Pria Bertunik Hijau dengan pegangan kapak miliknya. Hal itu membuat Pria Bertunik Hijau, meringis kesakitan. Memegang kepalanya.
Yan sempat menyapu tribun dengan matanya, mencari keberadaan Gin. Namun dia tidak menemukan keberadaannya di seluruh sudut tribun. “Akhir-akhir ini, Gin benar-benar sibuk.”
Pria Bertunik Hijau geram, marah besar pada Rog. Uratnya sampai muncul di pelipis kanannya. Terlalu menahan emosi.
Pria Bertunik Hijau memukul lantai arena dengan ujung tombaknya. Retak. Dia tidak suka dipermainkan. Bergerak maju, muncul begitu saja di hadapan Rog. Memberinya pukulan bertubi-tubi, tidak memberinya ruang untuk membalas.
Rog benar-benar tidak diberi peluang untuk membalas, dia saat ini sedang menjadi sam-sak hidup. Menyilangkan kedua tangannya. Menangkis pukulan yang datang. Berharap Pria Bertunik Hijau, membuka celah untuknya.
Begitu terdapat celah, meski kecil. Rog menebaskan kapaknya. Hal tersebut membuat Pria Bertunik Hijau mundur tiga langkah.
Pria Bertunik Hijau melompat ke belakang, mengambil tombaknya. Bergerak menyerang Rog dengan tombak tersebut.
__ADS_1
Mereka saling menyerang dengan senjata masing-masing. Suara senjata yang saling beradu, memenuhi arena turnamen. Rog menghindar ke samping, menebas Pria Bertunik Hijau. Namun Pria Bertunik Hijau menunduk ke belakang. Menendang Rog.
Hal tersebut membuat Rog termundur dua langkah ke belakang. Rog tertawa sesekali, menertawai Pria Bertunik Hijau. “Hehe, tendanganmu lemah sekali, saya tidak menyangka ada tendangan yang begitu lemah, seperti ini.”
Pria Bertunik Hijau naik pintam, dia tidak menyangka akan dipermainkan oleh Rog. Bahkan menjadi bahan leluconnya, mempermalukannya di depan banyak pasang kata.
“Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Saya harus melakukan sesuatu. Apakah saya harus mengeluarkan jurus itu?” Pria Bertunik Hijau berpikir matang-matang.
Dia memusatkan energinya pada mata tombak, hal tersebut membuat mata tombaknya sedikit bersinar. Dia membuka mata, bergerak menyerang Rog. Menyabetkan tombaknya, Rog dengan mudah menghindari serangan tersebut.
Lantai arena turnamen hancur, tidak terlalu besar. Hanya membentuk lubang kecil, hanya saja serpihan batunya ke mana-mana.
Rog terus menghindari serangan tersebut, akhirnya membuat arena turnamen berlubang di sana-sini. Sesekali, dia menyerang. Hanya saja, dia tidak jadi. Karena, beberapa hampir terkena serangan Pria Bertunik Hijau.
Rog terus-menerus menghindar, berpikir melakukan perlawanan. Hanya saja, peluang tersebut belum tercipta. Belum ada celah untuk menyerang Pria Bertunik Hijau, sebenarnya bisa saja menyerang. Akan tetapi, resikonya begitu besar.
Dia masih ingin lolos ke babak selanjutnya, tidak ingin berhenti di babak enam belas besar tersebut. Jadi sabar merupakan kunci dari pertarungan ini. Rog tidak punya pilihan lain, selain bersabar.
Mereka berdua terus, seperti itu. Merasa muak, Rok bergerak maju. Menerobos serangan Pria Bertunik Hijau, dia meliukkan tubuh. Begitu serangan Pria Bertunik Hampir mengenainya.
Melesatkan pukulan dengan menggunakan tangan kirinya, Pria Bertunik Hijau mundur tiga langkah ke belakang. Tersenyum. Sementara Rog membersihkan darah pada luka di pipinya.
Rog maju tidak sabaran lagi, tidak peduli dengan resiko yang akan didapat. Dia bergerak maju, menebas Pria Bertunik Hijau. Akan tetapi, dengan cepat dia merubah posisi kapaknya menjadi bertahan menangkis serangan Pria Bertunik. Hal tersebut membuat Rog terhempas, terbaring di atas arena. Muntah darah, hingga beberapa kali.
Dia berdiri tegap, memusatkan energinya pada senjata miliknya. Bergerak maju, menebas ke arah Pria Bertunik Hijau.
Dengan cepat Pria Bertunik Hijau menangkis serangan tersebut menggunakan tombaknya, namun tombaknya patah. Terbagi menjadi dua, karena serangan Rog mengandung energi yang besar pada tebasan tersebut.
Tebasan tersebut membuat Pria Bertunik terhempas jauh, darah merembes keluar. Terluka karena serangan Rog. Dia sampai memuntahkan darah yang begitu banyak.
__ADS_1
Pria Bertunik Hijau terhempas jauh, hingga menabrak dinding tribun. Terbaring tidak sadarkan diri, di sana. Hal tersebut membuat Rog, sebagai pemenang dalam pertarung tersebut.