Black Shadow

Black Shadow
Desa Batu


__ADS_3

Seorang samurai sepuh dengan sebilah pedang tersampir di pinggang kiri sedang melintasi hutan yang begitu lebat. Samurai sepuh tersebut berlari begitu cepat dengan wajah yang merah masam akibat dua orang pengacau yaitu Liu Peng dan Mei Ni. “Ini semua akibat ulah Liu Peng dan Mei Ni, saya jadi lupa membahas tentang luapan energi kegelapan yang terjadi beberapa waktu lalu. “


Samurai sepuh tersebut tidak lain adalah Masamune. Dia memiliki perawakan yang agak muda dibanding usianya yang telah mendekati seratus tahun, dia juga memiliki rambut putih panjang yang terkuncir rapi.


Masamune terus merutuki Liu Peng dan Mei Ni dalam hati. Akibat mereka berdua dia sampai lupa membahas hal yang begitu penting bagi kerajaan Selatan, bahkan dunia persilatan. Sejauh yang Masamune tahu energi kegelapan merupakan energi yang sangat amat langkah, bahkan saking langkanya energi kegelapan hanya dimiliki oleh seorang petarung hebat yang menempati puncak dunia persilatan beberapa abad yang lalu.


Masamune sedikit mengetahui tentang energi kegelapan, karena dia sempat menemukan sepenggal kisah tentang orang yang memiliki energi kegelapan dimasa lampau, kisah tesebut termuat dalam buku tua. Masamune menaksir buku tua yang dibacanya hanya menyisakan sepersepuluh halaman dari keseluruhan buku aslinya. Masamune mengira kisah tentang orang tersebut hanya dongeng masa lampau saja.


Entah di mana buku itu sekarang, Masamune sampai kebingungan mencari buku yang sempat dibacanya belasan tahun yang lalu, dia juga sudah mengingat-ngingat tempat terakhir buku itu diletakkan. Tetap saja hasilnya nihil, Masamune juga sudah berusaha mencari buku tua tersebut di seluruh sudut kediamannya, namun tidak ada hasil sama sekali. Buku tersebut menghilang bagai ditelan bumi.


Masamune juga berniat mencari informasi tentang energi kegelapan di perpustakaan Kerajaan Selatan. Dia juga beruntung, karena kedatangannya ke Kerajaan Selatan bersamaan dengan Turnamen yang akan diadakan beberapa bulan lagi dari sekarang.


Masamune juga sempat mendengar kabar tentang banyak bakat muda Kerajaan Selatan akan berpartisipasi dalam turnamen Se-kerajaan Selatan. Tentulah turnamen tersebut akan menjadi tontonan yang sangat menarik baginya.


Dia benar-benar tidak sabar untuk segera sampai ke Kerajaan Selatan, karena beberapa hal tersebut. Dia sangat berharap bahwa akan ada banyak hal menarik selama dia berada di Kerajaan Selatan. Karena ketidaksabarannya Masamune berlari dengan kecepatan penuhnya.


Masamune sedikit lagi keluar dari hutan yang begitu lebat dan akan menjumpai padang rumput begitu berkelebat di depan sana yang berarti dia semakin dekat dengan tempat tujuannya, yaitu Kerajaan Selatan.


Saat dia berhasil keluar dari hutan yang begitu lebat. Masamune menatap kosong hamparan rerumputan di hadapannya, beberapa menit berlalu dia pun memutuskan kembali bergerak dengan kecepatan penuh menuju Kerajaan Selatan.


Masamune sejak awal telah mempertimbangkan secara matang untuk ke Kerajaan Selatan agar bisa mencari pemilik energi kegelapan yang dia lihat beberapa waktu lalu. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan yang sangat langkah ini.

__ADS_1


***


Pada kerajaan Selatan terdapat suatu desa yang bernama desa Batu, desa Batu bukan merupakan desa yang besar, namun banyak talenta muda berasal dari desa ini yang berhasil menjadi murid akademi kerajaan yang tes masuknya saja begitu sulit. Desa Batu walaupun kecil, tapi begitu terkenal diberbagai wilayah, karena hal tersebut.


Beberapa waktu yang lalu, terdapat gejalah aneh yang menimpa beberapa pemuda setempat. Awalnya para Pemuda banyak melamun dan kadang tertawa secara tiba-tiba tanpa sebab, beberapa jam kemudian aliran energi para pemuda tersebut mengalir secara tidak beraturan. Tidak lama kemudian para pemuda tersebut berubah menjadi monster dan mengamuk, menyerang, serta menghancurkan rumah penduduk.


Perubahan para Pemuda tersebut beragam ada yang menjadi setengah monster, seperti hanya bagian kepala atau tangannya saja dan ada juga yang berubah secara utuh.


Terlihat dari kejauhan dua orang Remaja memasuki desa Batu. Untungnya saat ini tidak ada pemuda yang berubah menjadi setengah monster maupun monster seutuhnya. Entah kedua Remaja tersebut beruntung atau memang sudah tidak akan ada lagi Pemuda yang mengalami kejaduan naas beberapa waktu yang lalu.


Pada saat kedua Remaja telah memasuki pemukiman penduduk. Nampak satu dua rumah Penduduk telah rata dengan tanah dan ada juga rumah yang sedang dalam masa perbaikan. “Apa yang telah terjadi pada desa ini?”


“Entahlah, ada baiknya kita bertanya pada penduduk setempat.” Remaja tersebut menjawab sambil mengangkat kedua bahunya.


“Tentu saja.”


“Apa yang telah terjadi pada desa ini?”


Dengan wajah yang agak kikuk, Pria paruh baya tersebut menjelaskan bahwa beberapa waktu yang lalu terdapat beberapa monster telah menyerang desa. Walaupun seluruh penduduk serta kepala desa sempat kerepotan menghadapi serangan monster tersebut. Namun pada akhirnya semua dapat diatasi dengan kerja sama yang dilakukan oleh seluruh penduduk.


Melihat gerak-gerik Pria paruh baya yang kikuk serta mencurigakan saat menjelaskan tentang penyebab rusaknya beberapa rusaknya beberapa rumah penduduk membuat Gin maupun Yan kurang mempercayai keakuratan cerita Pria paruh baya.

__ADS_1


Setelah menjelaskan semuanya Pria paruh baya tersebut langsung pergi dengan cepat tanpa menoleh ke belakang.


“Melihat gerak-gerik Paman itu yang begitu mencurigakan, kurasa ada suatu yang salah dengan desa ini.”


“Kau benar, Gin. Ada yang tidak beres dengan desa ini.”


“Sebaiknya kita tetap berada di desa ini agar tahu. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Sehingga beberapa rumah bisa sampai hancur seperti ini.”


“Saya setuju denganmu, Yan.” Mereka berdua telah memutuskan untuk tinggal selama beberapa waktu dj desa Batu. Gin dan Yan berjalan menyusuri desa, sekaligus mencari sebuah penginapan sebagai tempat peristirahatan mereka selama berada di desa Batu.


Setiap kali Gin dan Yan berpas-pasan dengan Pria paruh baya, Wanita paruh baya dan Lansia, mereka semua terlihat seperti ketakutan. Dan yang lebih aneh lagi, sejak Gin dan Yan memasuki desa mereka belum melihat para pemuda di desa ini, bahkan batang hidungnya sama sekali tak terlihat.


Tak lama kemudian mereka menemukan sebuah penginapan desa yang agak besar. Wajar saja, jika penginapan di desa ini tak kalah besarnya dengan penginapan yang ada di kota-kota kecil, sebab desa ini merupakan tempat persinggahan orang-orang yang akan ke Ibukota Kerajaan Selatan.


Gin dan Yan memasuki penginapan tersebut dan ternyata penginapan tersebut sangat sepi. Penginapan rangkap dengan restoran, lantai bawah di jadikan sebagai restoran, sementara lantai atas merupakan tempat penginapan.


Di lantai bawah terdapat meja, kursi yang tertata rapi dan tepat di tengah ruangan terdapat meja yang melingkari tiang besar yang merupakan pusat dari penginapan tersebut. Di balik meja melingkar berdiri seorang juru yang lengkap dengan peralatan masaknya dan seorang penerima tamu.


Mereka saling membelakangi dan dipisahkan oleh tiang besar. Jika dilihat secara seksama maka akan terlihat wajah kedua pengawai penginapan tersebut nampak tertekuk dan sedih. Tetapi, setelah melihat Gin dan Yan si Penerima tamu mencoba memasang senyum terbaiknya, walaupun kesedihan tetap tergambar di wajahnya.


Yan dengan langkah yang dipercepat menghampiri Penerima tamu, diapun melemparkan beberapa koin emas ke meja yang berada di depan sang Penerima tamu. “Saya memerlukan seluruh informasi yang telah terjadi di desa ini, selama beberapa waktu ini.”

__ADS_1


“Maaf, penginapan ini tidak menyediakan layanan informasi.” Mendengar hal tersebut. Yan melempar beberapa koin emas lagi.


__ADS_2