
Ketiga orang tersebut adalah tiga dari beberapa orang yang memimpin ratusan ribu pasukan. Masing-masing dari mereka memiliki ribuan anak buah.
Orang yang sedang berdiri tegap sambil melipat tangan di depan dada bernama Bulan. Yup, dia seorang perempuan, dia adalah primadona di Kerajaan Selatan. Itu tidak hanya sekedar bualan semata. Lihatlah! wajah oval, alis runcing, berhidung kecil, dan berkulit putih, jangan lupakan rambut yang terkuncir ke belakang. Namun tak nampak sedikitpun senyum pada raut wajahnya, serta sorotan mata tajam.
Baju yang dikenakannya serba hitam, juga cukup ketat. Diantara semua komandan pasukan, dia adalah yang paling muda, baru berusia dua puluh tahun lebih. Sangat mudah dibanding komandan lain yang berusia di atas tiga puluh lima tahunan, bahkan ada yang lima puluh ke atas.
Itam yang sedang berjongkok, berbadan besar dengan sorot mata yang selalu awas, bibir yang cukup tebal, berkulit hitam dan berambut lurus, namun pendek.
Sementara, orang ketiga bernama Karibo. Dia memiliki hobi makan, berambut afro tak diikat, dibiarkan mengembang begitu saja. Bermata bulat, berwajah tegas, serta berhidung kecil. Hobi Karibo terbilang merepotkan. Bagaimana tidak? Kalau sudah makan, dia tak peduli dimana pun itu. Makannya selalu menggunung, tanpa kira-kira sedikitpun.
Pada pesta ulang tahun Raja Selatan saja, dia hampir menghabiskan setengah hidangan seorang diri. Hal ini sempat membuat malu Sang Raja, tapi itu bukan masalah besar bagi Sang Raja, karena Raja sudah mengetahui hobi makan dari Karibo. Jika saja, tidak terhenti oleh perintah Raja Selatan yang mendapat kabar, bahwa ibukota saat ini dilanda kekacauan. Mungkin saja, hanya tinggal tiga seperempat makanan yang tersisa.
“Monster masa lalu ini, sungguh menyebalkan. Lihatlah, kita harus meninggalkan pesta dan harus mengurus monster sialan itu! Padahal sudah gede, masih saja harus diurus.” Si Rambut Afro yang sedang asyik mengupil, mencak-mencak.
“Sudahlah, tak perlu marah-marah. Lagipula kau sudah makan banyak tadi, Karibo,” sergah si kulit hitam yang sedang berjongkok.
“Banyak apanya? Sedikit itu.” Mendengar hal tersebut membuat Itam mengumpat dalam hati, karena belum sedikitpun menyentuh hidangan, lantaran malu melihat cara makan Karibo. Apalagi banyak tamu yang berasal dari Kerajaan lain.
Bahkan, ruangan perjamuan sempat hening beberapa saat, akibat seisi ruangan melihat cara makan Karibo. Beberapa saat setelahnya, tiba-tiba semua orang yang berada dalam ruangan terbahak, lantaran Karibo tidak merasa terganggu dengan tatapan semua orang yang mengarah padanya.
__ADS_1
Ketiganya mengamati keadaan sekitar dengan seksama, setiap sudut ada dalam pantauan mereka. Sejauh mata memandang, tak ada lagi penduduk kota yang berkeliaran disekitar gerbang Ibukota. Hanya ada prajurit dan beberapa petarung yang notabenenya adalah murid senior dari berbagai perguruan yang berbeda.
Mungkin, para murid tersebut bermaksud mengikuti turnamen. Cebures yang dikelilingi oleh banyak orang tidak gentar seikitpun. Bahkan, monster tersebut nampak senang. Berbagai serangan yang mengarah padanya, tak begitu berarti.
Mulai dari lilitan selendang yang menjerat, tanah yang berubah menjadi lumpur hisap, sampai jarak pandang terbatas yang diakibatkan oleh kabut yang menyelimut sekitar dan juga serangan cambuk yang menghantam sekujur tubuh Cebures, serta berbagai senjata yang datang dari berbagai arah mata angin.
Tapi, tetap saja. Seluruh serangan tersebut tak meninggalkan bekas sedikitpun. Bahkan, monster tersebut dapat lolos dengan mudah dari lumpur hisap, juga menghancurkan selendang yang melilitnya.
Secara perlahan kabut yang membatasi jarak pandang, kini menghilang. Hal tersebut diakibatkan oleh pengguna jurus yang hampir kehabisan energi.
Cebures yang sejak tadi menjadi sam-sak para prajurit, murid dari berbagai perguruan, serta para petarung lepas yang kebetulan mau menyaksikan turnamen, kini mengamuk mempora-porandakkan area gerbang Ibukota.
Orang-orang yang mengelilingi Cebures, satu-persatu terlempar tinggi ke atas dan jatuh ke tanah dan menghancurkan atap akibat jatuh di atasnya. Karena hal tersebut sedikitnya mereka akan patah tulang, parahnya yah tanpa bisa singgah ke Tabib lagi, alias menghembuskan nafas terakhir.
“Kau benar! Kurasa monster ini terlalu kuat untuk kita semua.”
“Dengan kekuatan yang kita miliki, kita hanya menyetor nyawa kepada monster ini.”
“Apa pihak kerajaan tidak mengetahui kondisi yang terjadi di sini? Atau mereka sudah tahu, tapi tetap masih ingin bersenang-senang. Ditambah Raja sedang mengadakan pesta ulang tahunnya.”
__ADS_1
Orang-orang yang menghadapi Cebures mulai tersadar, kalau mereka bukanlah lawan yang sepadan bagi Cebures. Mereka terus mengoceh satu sama lain, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Hei, bukannya mereka ingin berburuk sangka kepada Raja, tapi ini sudah melibatkan nyawa orang banyak.
Disekitar mereka banyak bangunan yang hancur dibeberapa bagian, bahkan ada juga beberapa yang sudah rata dengan tanah terkena pukulan monster tersebut. Mayat-mayat bergelimpangan memenuhi sekitar, sudah tidak terhitung nyawa yang hilang akibat ulah Cebures.
Meski sadar, mereka bukan lawan yang sepadan dengan Cebures, tapi tetap saja mereka tidak bergeser dari tempat tersebut. Dengan penuh harap ada salah satu komandan pasukan yang datang memusnakan monster tersebut.
Sebenarnya, harapan mereka sudah tercapai sebelum berharap, karena para komandan yang mereka harapkan sejak tadi tiba dan sibuk memperhatikan situasi. Seandainya mereka mengetahui hal tersebut, tentunya mereka semua akan mengutuk para komandan dalam hati.
Bagaimana tidak? Lihatlah, sebagian dari mereka sudah menjadi mayat yang tak bernyawa, sebagian lagi mengalami luka-luka berat dan sisanya mengalami luka ringan.
Cebures tak membiarkan mereka memiliki waktu untuk sekedar mengoceh, kepalan tangannya mengarah ke kumpulan para petarung dan prajurit. Banyak yang tidak sempat menghindari serangan tersebut akibat sibuk mengoceh. Kehilangan nyawa hanya karena mengoceh adalah hal terkonyol bagi para komandan yang sedang mengamati situasi pertempuran.
Mayat yang terkulai tak bernyawa bertambah lagi, tapi tiga komandan tersebut belum terggerak untuk melawan Cebures.
“Apa kita akan terus menonton seperti ini terus? Sementara, orang-orang itu semakin ke sini, semakin banyak yang kehilangan nyawa sia-sia. Ingatlah, diantara mereka ada generasi muda sepertiku yang akan menjaga Kerajaan ini dimasa depan nantinya.”
“Tapi, jika kita berdiam diri seperti ini. Apa mereka bisa bertahan untuk itu?”
Akhirnya, Bulan membuka suara, tak tahan melihat pembantaian yang dilakukan oleh Cebures. Juga kerusakan yang diakibatkan olehnya. Dia bahkan berkata sambil mengatupkan rahang, kesal dengan gerak lamban yang dilakukan oleh kedua rekannya. Bahkan, mereka berdua terlalu santai menurutnya.
__ADS_1
Padahal yang mereka atasi saat ini tentang nyawa banyak, dia mengerti kalau kedua rekannya tersebut sudah tu__ ups maksudnya sudah berumur. Tapi, tinggal bertarung saja, apa susahnya. Lagipula, mereka memiliki kekuatan untuk melawan.
“Jika kalian belum juga menyerang monster itu, maka biarkan saya yang membinasakan monster tersebut seorang diri.” Belum sempat kedua rekannya bersuara. Bulan sudah bergerak dengan cepat menuruni atap bangunan.