Black Shadow

Black Shadow
Melindungi


__ADS_3

Gin sedang menghadapi musuh yang begitu banyak, terus berdatangan, kini dia mulai lelah. Nafasnya tersengal. Dia telah membunuh banyak musuh yang mencoba menggulingkan kekuasaan Raja.


 


“Darimana datangnya orang-orang ini, seperti tidak ada habisnya?” Gin tidak sendiri dalam melawan musuh, terdapat beberapa prajurit yang datang membantunya.


 


Mayat berserakan di mana-mana, sudah satu jam lebih Gin tertahan di ruangan tersebut. Dia sedang berada di ruang makan, mencari seseorang yang bisa diselamatkan. Nihil.


 


Gin telah bermandikan darah, dia bergerak cepat. Tapi, orang-orang berjubah hitam tidak henti-hentinya berdatangan, terlebih orang-orang dari Klan Api. Gin cukup kewalahan mengayunkan pedang, tangannya terasa pegal. Seluruh lengannya telah berurat, kelelahan.


 


Gin memutuskan menyimpan pedangnya di punggung, dia mengeluarkan jurus. Jurus pembunuh tingkat satu, tangan penembus.


 


Gin bergerak cepat, tangannya mampu menembus  dada lawan. Tepat pada jantungnya, menembus jantung lawan. Baru pertama kali, dia mencobanya pada manusia. Dulu dia menggunakannya pada saat berada di hutan bagian terlarang, jurus tersebut diajarkan langsung oleh Bibi Merume.


 


Tangan Gin terasa lengket oleh darah, dia mencabut tangannya. Tubuh musuhnya tumbang begitu saja, sudah tidak bernyawa lagi. Sementara itu, para prajurit yang bersamanya sudah sangat kelelahan sejak tadi, meski telah berulang kali diselamatkan oleh Gin. Tetap saja, mereka prajurit biasa. Dua dari mereka telah tewas, tidak bernyawa lagi.


 


Gin yang melihat hal tersebut geram, dia membantai lawannya satu-persatu. Tanpa belas kasihan, dia membunuh mereka dengan jurus yang sama. Jantung mereka tertembus oleh tangan kosong, teronggok bisu.


 


Banyak mayat yang telah membusuk di sana, dikerumuni oleh lalat. Bau yang sangat menyengat, membuat kepala musuh pusing. Sementara itu, Gin yang merasa biasa saja dengan bau busuk tersebut. Dia bergerak bebas, ke sana-kemari membunuh musuh.


 


Gin benar-benar buas membunuh lawannya, tidak ada yang mengira seorang bocah yang berumur belasan tahun dapat membantai musuh yang ingin menggulingkan kekuasaan Raja selatan. Sementara para prajurit yang melihat Gin membunuh lawannya, terperangah. Sesekali merasa mual, mereka menjadi saksi kehebatan seorang Gin.


 


Gin terus bergerak lincah, keringat bercampur darah membasuh kulit. Dia bergerak ke sana-kemari, beberapa dari musuh mulai sadar. Gin bukan lawan yang sebanding untuk mereka, lari kocar-kacir.


 


Gin yang melihat hal tersebut, mengejar musuh. Membunuh mereka dengan langsung menyerang leher belakangnya. Tangan Gin tembus begitu saja, lawannya terbelalak saat lehernya tertembus oleh sebuah tangan.


 


Gin mengejar musuh, ketika terkejar dia membunuh mereka secara tragis. Seorang pria berjubah hitam terjatuh, tersandung kaki sendiri. “Mohon ampuni saya!”


 

__ADS_1


Gin dengan tanpa belas kasihan menendang mulut pria berjubah hitam yang memohon ampun padanya, dia mengarahkan tangannya pada jantung lawan. Tertembus. Dalam waktu singkat, lawannya kehilangannya nyawa.


 


Gin mendongak menyapu sekitar. Dia mengamati musuh yang sedang lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Tidak diam begitu saja, dia bergerak cepat. Menendang musuh yang berada paling belakang. Menabrak teman-temannya, beberapa orang rubuh.


 


“Kalian jangan harap bisa keluar dari ruangan ini!” Suara Gin menggema, dia bergerak cepat ke arah pintu besar. Agar tidak ada seorang ‘pun yang bisa meloloskan diri.


 


Gin menatap dengan wajah datar. Tidak memasang raut wajah apapun, perasaan Gin sedang buruk. Dia bergerak menyerang musuh, satu-persatu jasad mereka terjatuh ke lantai. Tidak bernyawa.


 


Satu-dua orang mencoba memberi perlawanan, namun tindakan yang mereka lakukan sia-sia. Gin menghabisi mereka dalam sekejap, tidak memberi kesempatan pada mereka. Meski, memohon ampun.


 


Gin bergerak diantara musuhnya, menembuskan tangannya ke jantung musuh. Tumbang, hanya menyisakan jasad tidak bernyawa.


 


Gin telah kehilangan rasa kemanusiaannya, tidak ada belas kasih yang ditunjukkan kali ini. Hanya rasa haus membunuh yang terlihat dari sorot matanya.


 


Gin bergerak cepat, menghabisi lawannya. Darah tercecer ke mana-mana, memenuhi lantai ruang makan. Tidak hanya itu, mayat-mayat musuh bergelimpangan di sana-sini.


 


 


Diam-diam mereka bersyukur berada di pihak Gin, tidak membangkang kepada Raja. Sebenarnya, terdapat banyak prajurit yang membelot melawan Raja, hanya mereka sedang bernasib baik. Belum bertemu dengan Gin.


***


Pertempuran tidak hanya terjadi di dalam istana saja, tapi juga di depan istana. Di segala penjuru Ibukota. Hanya saja, para prajurit, orang-orang berjubah hitam,  dan anggota Klan Api. Tidak berani bertempur di dekat pertarungan para komandan, maupun tetua istana.


 


Mereka semua akan menyingkir, jika melihat orang-orang tersebut. Mereka tidak mau mati konyol, karena berurusan dengan para monster berwujud manusia tersebut


.


Salah satu ruangan di dalam istana, Kilin sedang kerepotan menghadapi anggota dari Klan Api dan orang-orang berjubah hitam yang terus berdatangan. Dia menatap jerih pada lawan-lawan yang sedang mengelilinginya.


 


Kilin sedang melindungi Putri Mutia, mempertaruhkan nyawa sendiri. “Berhentilah menjaga, serta melarangku ikut bertarung, Pria Bertopeng yang tidak kukenal. Kau tahu, caramu mengawalku persis, seperti Kilin yang menyebalkan itu. Sudah jelek tukang atur juga.”

__ADS_1


 


Putri membuang muka.


 


Kilin terbatuk mendengar hal tersebut, dia mencoba menahan rasa dongkolnya sendiri. “Putri yang satu ini, mau dalam keadaan menyamar atau tidak. Dia selalu menyebalkan. Oh ya, saya jadi penasaran. Kira-kira akan seperti apa tanggapan Putri, jika mendengar kabar kematianku? Karena gagal menjalankan misi, sesuai rencana yang disiapkan oleh Raja.”


 


Kilin berpikir di tengah-tengah kepungan musuh, dia tidak memerdulikan musuh yang menatap tajam padanya. Lagi pula tidak semenakutkan yang ada di pikiran musuhnya.


 


Kilin memutar pedang kecilnya yang tipis, dia bergerak menebas ke sana-kemari. Dia memegang ujung pedang tersebut, menyabetkannya pada lawan. Teknik berpedang yang unik, tapi begitu menakutkan.


 


Kilin bergerak ke sana-kemari, dia melukai banyak musuh. Kembali ke tempat semula, membelakangi Putri. Sigap melindungi.


 


Kilin dengan cepat melindungi serangan yang mengarah pada Putri. Menepis serangan tersebut menggunakan pedang, dia memutar pedangnya. Bergerak cepat mengunuskan pada lawan. Insting berdentang kencang, dia yang ingin mengunuskan pedang kecil miliknya. Mundur ke belakang.


 


Kilin menatap awas, menoleh ke segala arah. Memastikan tidak ada yang menyerang Putri dari titik butanya, merasa terhambat dengan adanya Putri di sisinya. Kilin tidak bisa bergerak dengan bebas, penuh kewaspadaan. Begitu merasakan pergerakan, dia akan bergerak cepat. Matanya menyapu sekitar, bahkan lalat sekalipun tidak lepas dari penglihatannya.


 


“Urusan ini benar-benar menyebalkan, juga merepotkan.” Kilin bergerak cepat, dia memotong sebuah anak panah yang sedikit lagi mengenai Putri.


 


Putri juga melihatnya ingin menghalau anak panah tersebut, tapi didahului oleh Kilin. Putri dibuat kesal oleh ulah orang berada di hadapannya, sangat menganggap remeh dirinya. Persis seperti Kilin dan orang-orang istana.


 


Putri membuang muka, saat pria bertopeng menoleh padanya. Dia tidak sudi ditatap oleh pria bertopeng tersebut, terlebih pakaiannya begitu membosankan menurut Putri. Serba hitam.


 


Kilin bergerak lagi, menebas anggota Klan Api yang berani mendekat. Perut anggota Klan Api robek, darah menetes ke lantai. Mundur ke tempatnya semula, menjaga Putri. Hal tersebutlah yang membuat Kilin kelelahan, padahal ruang geraknya tidak terlalu luas.


 


Kilin sangat ingin bergerak ke sana-kemari untuk menghabisi penghianat Kerajaan. Tapi, kondisi yang tidak memungkinkan. Dia terlalu khawatir dengan Putri, Kilin hanya bergerak sesuai keperluan. Tidak ingin melakukan kesalahan


.


Tangan dan kakinya gatal ingin menebas, serta menendang para penghianat hingga pulang tinggal nama saja. Dia tidak ingin membiarkan penghianat berkeliaran bebas di muka bumi.

__ADS_1


***


Yan mengumpat keras dalam hati, dia lupa tentang orang tersebut. Dia menelan ludah, kakinya bahkan sudah dibuat gemetar oleh kemunculannya.


__ADS_2