Black Shadow

Black Shadow
Elang


__ADS_3

Gin tertegun, dia menggeleng kuat. Raut wajah Putri nampak serius. Dia bingung harus menjawab Putri, tidak terpikirkan olehnya. Jika Putri bisa sampai pada kesimpulan, bahwa dia adalah bocah yang ada dalam cerita orang-orang tersebut.


 


“Haha, serius sekali. Saya hanya bercanda. Jangan terlalu tegang, nanti salah urat.” Putri tertawa. Puas mengerjai Gin.


 


Gin menghembuskan nafas, dia pikir Putri benar-benar serius tadi. “Eh, Kalian tahu? Selain informasi itu, ada kabar menarik diantara para peserta turnamen. Ternyata, kejadian hilangnya peserta turnamen masih saja terjadi tahun ini. Tidak hanya itu, bahkan terdapat peserta yang tak lagi bernyawa ditemukan di tengah arena turnamen!”


 


Semua yang berada di situ, hening. Menahan nafas. Mereka tidak menyangka kejadian, seperti itu akan terjadi. Diantara keamanan yang semakin ketat.


 


Putri yang mendengar hal tersebut mengepalkan tangan, dia tidak menyangka kejadian di dalam area arena turnamen bisa tersebar luas.


 


Putri berdiri, menghampiri orang yang bercerita tadi. “Katakan padaku, siapa teman yang memberikan semua informasi itu padamu?”


 


Putri sangat emosi, dia sampai menarik baju orang tersebut. “Cepat katakan, atau saya akan melenyapkan mulutmu itu.”


 


Pria berpakaian coklat pucat, dia menggelengkan kepala. Tak mau mengaku. Putri menghembuskan nafas halus, dia mencabut pisau kecilnya. Menempelkannya pada pria berbaju coklat tersebut.


 


“Benar, kau tidak mau mengatakannya?” Putri tersenyum sinis, Gin bergidik melihatnya. Jika pria berbaju coklat itu dia, maka lebih baik mengatakan yang sebenarnya dibanding berurusan dengan Putri.


 


“Baik... baik akan kukatakan. Saya mendapat semua informasi tersebut dari teman yang menjadi prajurit Kerajaan, dia kebetulan bertugas di bagian arena.” Putri melepaskan baju pria tersebut secara kasar.


 


Dia tidak menyangka akan ada prajurit yang mengingkari perintah Raja. “Katakan padaku. Siapa nama prajurit tersebut?”


 


Hening. Tak ada jawaban dari pria tersebut. “Katakan!!! Oh, atau kau mau pisau kecil ini menancap di lehermu?”


 


Pria berbaju coklat tersebut menggelengkan kepala, “Namanya ...”


 


Putri pergi dengan perasaan kesal. Masih sempat-sempatnya, dia mampir menghabiskan tehnya. “Kau bayar tagihannya!”


 


Gin tak berkutik, tak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. “Ada apa? Kau tidak ingin mengikuti perintahku, hah?!”


 


Gin menggeleng, kemudian mengangguk. “Bukan begitu, saya tak punya uang sepersen ‘pun”


 

__ADS_1


Putri terbahak mendengar jawaban Gin. Dia tidak menyangka ada orang yang datang untuk mengikuti turnamen, tapi tidak memiliki uang sama sekali.


 


“Kau benar-benar gila!!! Bagaimana kau akan bertahan hidup, jika seandainya pendaftaran turnamen tiba-tiba ditunda selama satu bulan?” Putri berhenti tertawa bertanya serius pada Gin.


 


“Untungnya, tidak tertunda ‘kan.” Gin menjawab santai. Tak peduli, jika jawabannya telah membuat Putri jengkel. Telinganya dijewer, karenanya.


 


“Adududu. Sakit... sakit...” Putri menghentakkan kakinya ke tanah dan pergi meninggalkan Gin, dia sempat menyimpan satu koin emas di meja.


 


Pemilik kedai muncul, dia berkata, “Uang ini terlalu banyak. Ah, anggap saja gratis. Karenamu kedai menjadi baru, dibangun oleh orang Kerajaan, gratis. Saya tahu, kalau kamu adalah bocah yang dikejar oleh monster tersebut.”


 


Gin tersenyum konyol, “Hehehe,”


 


“Tenang saja, saya akan merahasiakannya. Benar juga, selama kau ingin minum teh. Datanglah ke kedai ini, khusus untukmu gratis.” Pemilik kedai memberikan koin emas itu pada Gin. Lumayan satu koin emas.


 


Gin berjalan dengan perasaan senang, menyusul Putri yang sudah jauh di depan sana. Masuk ke kerumunan orang. Jalanan kota begitu ramai.


 


Dia menyibak kerumunan, mencari Putri yang pergi ke mana? Menghilang diantara orang banyak. Merepotkan memang.


 


 


Gin baru pertama kali melihat kue sebanyak itu. Menggelengkan kepala, melihat-lihat, “Hei, kau kemari. Pilih kue mana yang kau sukai. Terserah, sebanyak apapun boleh. Saya yang membayarnya.”


 


Gin langsung tersenyum lebar. Dia memilih hampir semua jenis kue, hasilnya kotak kue yang tersusun dipegang dengan kedua tangan olehnya. Masing-masing tangan memegang kotak. Bukan hanya miliknya, ada milik Putri juga.


 


“Kita akan makan ini di sebuah tempat yang sangat indah. Kau harus ikut.” Putri dengan perasaan gembira. Dia sesekali tertawa.


 


Gin mengekori Putri yang berjalan gembira, sepertinya dia sangat bahagia. Suasana hatinya sangat bagus hari ini.


 


Mereka tidak menuju ke istana Kerajaan, terlebih kembali ke asrama peserta. Keduanya melangkah ke ara yang berbeda dari Istana dan asrama peserta.


 


Pada saat mereka tiba, Gin terpukau dengan pemandangan yang di lihatnya. Sebuah kanal kecil, terdapat beberapa pohon bunga flamboyan yang berjejer rapih. Bunga flamboyan berwarna merah dengan empat kelopak.


 


Terdapat batu besar di tepi danau, seperti khusus tersedia untuk mengamati pemandangan sekitar. Danau tersebut begitu jernih. Kelopak bunga flamboyan yang bertebaran di danau. Sangat indah.

__ADS_1


 


Putri melompat ke batu besar, bersiul. Nyaring. Tak lama muncul elang yang sangat besar dari langit, seluruh bulunya berwarna hitam pekat. Suaranya menggema memenuhi sekitar. Elang tersebut hinggap di tanah tepi danau, menghadap ke arah Putri.


 


Putri tersenyum bahagia, mengelus kepala elang tersebut. “Kau kemarikan kotak kue itu.”


 


Gin mendekat, menyerahkan kotak kue milik Putri. Tanpa pikir panjang Putri memilah satu-persatu kotak kue dan mengambil satu kue, melemparkannya ke arah mulut elang. Dilahap saja.


 


Setelah mengunyah kue tersebut. Elang bersuara nyaring, memenuhi sekitar. Gin menutup telinga, kesal. Sementara Putri tertawa. Mengelus kepala elang. Melempar satu kue lagi. Dilahap.


 


Hal tersebut terus dilakukan oleh Putri secara berulang kali, hingga kotak pertama kosong. Dia pindah ke kotak kedua.


 


“Kau mau mencobanya?” Putri memberi tawaran pada Gin. Namun gelengan kepala sebagai jawaban, dia tak mau memberi makan elang tersebut. Takut dia dimakan sekalian.


 


“Ayolah, kau tak perlu takut. Elang ini baik. Jinak. Saya merawatnya sudah lama.” Putri memaksa.


 


Gin menurut, karena sedikit penasaran. Dia melompat ke batu. Mengambil kue dari kotak yang ada di tangan Putri, memberi makan elang. Lalu mengelus kepala elang tersebut, dia masih patah-patah melakukannya. Takut.


 


“Seru, bukan?” Gin sedikit mengangguk. Dia tak bisa memungkiri itu. Dia bahkan sedikit ketagihan memberi makan elang tersebut. Tanpa sadar kotak kedua habis. Hal tersebut terus mereka lakukan secara bergantian, tertawa bersama. Bahkan saling menyuap satu sama lain.


 


Putri tertawa dengan renyah, tanpa beban sama sekali. Berbeda dengan saat mereka tanpa sengaja bertemu di ruang latihan Putri.


 


Gin tersenyum melihat tawa Putri, sangat menentramkan jiwa. Begitu kue pada semua kotak milik Putri habis. Elang tersebut bersuara nyaring, memenuhi sekitar. Kemudian menatap susunan kotak yang ada di samping Gin.


 


Hal tersebut membuat Gin sadar, dia cepat meraih kotak tersebut dan menjauh dari elang tersebut. Sementara elang tak mau menyerah. Dia mengejar Gin dan mematuk-matuk mengincarnya.


 


Gin berlari menghindari patukan elang tersebut. “Hei, Iblis Kecil. Perintahkan ayam terbang ini untuk berhenti mematukku. Saya bukan makanan yang bisa dimakan.”


 


Putri bersiul pelan, elang tersebut berhenti mengejar Gin. Putri mengelus-elus kepalanya. Tak lama, elang tersebut terbang menjauh.


 


Gin yang melihat itu, hanya bisa menghembuskan nafas halus. Kuenya selamat dari kerakusan elang tersebut. Bukan, karena tak mau memberi elang tersebut. Akan tetapi, kue tersebut dia simpan untuk menyogok Yan.


 


“Mutia!!! Putri Mutia. Apa yang kau lakukan di sini?” Raut wajah Putri langsung berubah, dia tak suka dengan kedatangan perempuan paruh baya yang sedang menghampirinya tersebut. Mengganggu kesenangannya saja.

__ADS_1


__ADS_2