Black Shadow

Black Shadow
Lolos


__ADS_3

Gin melompat ke udara, menautkan kedua tangannya untuk menghantam kepala Barbara. Terlalu kaget, Barbara tidak sempat menghindar. Dia terhempas ke tanah mendarat dengan debu mengepul. Tanah tempatnya mendarat retak, hancur begitu saja.


 


Gin meluncur ke bawah menghantamkan pukulan dengan energi yang sangat besar, tidak main-main. Dia mengerahkan pukulan tersebut belum menyentuh tubuh Barbara, tapi tubuhnya sudah remuk. Tanah di bawahnya berlubang.


 


Kekuatan yang sangat besar, Raja yang melihat itu hanya bisa menelan ludah sendiri. Tidak menyangka Bocah tersebut begitu kuat, jauh di luar perkiraannya.


 


Gin terus melancarkan pukulan bertubi-tubi pada Barabara, bebatuan melesat ke mana-mana. Gin seperti sedang melampiaskan seluruh perasaannya pada pukulan tersebut, dia juga seperti ingin segera membunuh Barbara secepat mungkin.


 


Gin terus menyerang Barbara, hingga tertanam. Bergerak ke arah lain. Lebih tepatnya, dia menuju ke arah Raja. Mengerahkan pukulan yang sangat kuat, Raja terbelalak menyilangkan kedua tangannya. Terhempas jauh, terdengar suara retakan nyaring pada tangannya, saat menangkis serangan tersebut.


 


Tulang tangan Raja retak, “Cih, anak ini kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dikendalikan oleh kekuatan besar tersebut.”


 


Raja mencoba untuk berdiri, tapi kembali terhempas oleh pukulan Gin. Muntah darah. Tidak sedikit, darah yang keluar dari mulut Raja sangat banyak. Dia terhempas sangat jauh.


 


Barbara yang baru saja keluar dari tanah, harus menelan kepahitan yang teramat sangat. Gin bergerak cepat, tiba-tiba muncul di hadapannya. Barbara yang melihat Gin muncul, seperti melihat setan. Dia mengerahkan energi api biru miliknya berfokus pada pukulannya, menghantamkan pukulan pada Gin.


 


Pukulan keduanya bertemu, Barbara termundur tiga langkah. Bergerak maju, mengerahkan tendangan pada Gin. Namun Gin hanya sedikit menunduk, menendang dagu Barbara.


 


Darah keluar keluar dari mulutnya, Barbara terhempas ke udara. Melesat. Raja yang melihat hal tersebut hanya bergidik ngeri. “Pasti sakit. Sangat malang nasibmu Barbara.”


 


Gin berkacak pinggang, begitu tubuh Barbara terjatuh. Tepat akan terjatuh ke depannya, dia mengambil ancang-ancang untuk memukulnya. Begitu tubuh Barbara tepat di hadapannya, Gin melesatkan tinju yang sangat kuat.


 


Hal tersebut membuat Barbara berteriak kesakitan, dia merasa dipermalukan oleh Gin. Merasa terhina, Barbara merupakan orang yang memiliki harga diri tinggi. Energi dalam tubuhnya meluap. Menyeimbangkan tubuh.


 


Api biru membentuk armor untuk melindungi dirinya, dia melesat maju mengerahkan pukulan yang sangat kuat pada Gin. Namun ditangkis dengan mudah, dia mengerahkan pukulan keras lagi. Gin memiringkan kepalanya, tersenyum sinis. Santai memukul perut Barbara.


 


Meski armor tidak retak, tapi tetap saja pukulan tersebut terasa sakit. Tubuh Barbara melengkung ke belakang. Wajahnya ditempeleng berulang kali, akhirnya terhempas ke sebelah kanan.


 

__ADS_1


Barbara menyeimbangkan tubuh, melepaskan seluruh energi api biru miliknya. Energi keduanya saling bertemu, saling berusaha untuk mendominasi. Gelombang kejut tercipta, karena tabrakan energi keduanya. Meski tidak besar.


 


Gin bergerak, begitu juga dengan Barbara. Keduanya bertemu di tengah-tengah, saling mengerahkan pukulan keras. Pertemuan pukulan mereka menimbulkan kesiur angin, tidak terlalu kencang.


 


Mereka bertarung sengit, saling mengerahkan serangan terbaik. Gin memiringkan kepala, menghantamkan tendangan keras. Namun ditangkis oleh Barbara menggunakan pergelangan tangannya, keduanya saling jual-beli pukulan.


 


Gin melompat ke udara, meremas rambut Barbara. Membantingnya ke tanah, hal tersebut membuat Barbara menahan sakit. Meremas rambutnya yang terasa perih, Gin menginjak tubuh Barbara. Tanah berlubang, Barbara lebih dulu menggelindingkan tubuhnya. Melompat dengan tumpuan tangannya.


 


Gin mengerahkan pukulan kuat, Barbara terbelalak. Dia mengerahkan pukulan keras, terdapat energi api biru pada pukulannya. Gelombang kejut tercipta, kesiur angin membuat debu memenuhi sekitar.


 


Gin mengerahkan pukulan lagi dengan menggunakan tangan kiri, Barbara terhempas ke belakang. Tidak mengira, Gin akan memukul menggunakan tangan kiri.


 


Dia melepaskan bola api biru, tidak besar. Tapi, lumayan membuat suhu sekitar berubah. Untungnya, pohon di sekitar telah musnah, di sekeliling mereka hanya ada tanah kosong.


 


Gin dengan mudah menghindari serangan tersebut, namun bola api yang datang beruntun. Tetap tidak sulit bagi Gin untuk menghindari serangan tersebut. Sementara itu, Raja menonton sambil duduk bersilah. Dia sedang memulihkan energi, berusaha fokus. Meski besar keinginan untuk menonton pertarungan di depan sana.


 


 


Gin terus menghindari bola api yang datang, bergerak ke depan mengerahkan pukulan keras. Namun tangannya justru terikat tali api biru yang begitu kecil, Barbara memutarnya di udara. Membatingnya ke kiri dan kanan.


 


Tanah di kanan-kirinya retak, karenanya. Hal tersebut terus dilakukannya, hingga melemparkan Gin ke depan sana. Melesatkan bola api biru yang berukuran sedang. Bola api biru melesat secara beruntun ke arah Gin. Bum! Bum! Bum!


 


Muncul ledakan beruntun di sana. Asap mengepul, menghalangi pandangan. Gin bergerak muncul dari dalam asap tersebut. Bergerak untuk menyerang Barbara, mengerahkan pukulan yang teramat keras. Plak! Plak! Plak!


 


Barbara menangkis pukulan Gin dengan melapisi pergelangan tangannya menggunakan energi api biru, tapi tangannya tetap saja kebas. Sedikit mati rasa.


 


Gin bergerak cepat, terlalu cepat. Hingga Barbara tidak tahu keberadaannya. Tubuhnya terpental begitu saja. Cukup jauh. “Anak setan!”


 


Barbara kesal, dia menyeimbangkan tubuhnya. Bergerak menyerang balik Gin, namun Gin menangkisnya dengan pergelangan tangannya. Kesiur angin muncul, masing-masing mundur satu langkah. Bergerak maju mengerahkan pukulan kuat, gelombang kejut tercipta.

__ADS_1


 


Mereka beberapa kali beradu pukulan, gelombang kejut yang tercipta benar-benar besar. Sesekali, Barbara melepaskan bola api kecil yang mengarah pada Gin, namun seperti tak berefek sama sekali padanya.


 


“Jangan bercanda!” Tanah tempat Barbara berpijak retak, kakinya tertanam. Pukulan yang sangat kuat dengan lengan berkobar api biru mengarah pada Gin.


 


Tidak tinggal diam, Gin juga mengarahkan pukulan yang sangat kuat. Tidak kalah kuat dengan pukulan Barbara. Kedua pukulan bertemu, gelombang kejut yang sangat besar muncul. Membuat bebatuan sekitar melayang di sekitar keduanya. Keduanya saling menyerang, mengarahkan pukulan keras satu sama lain.


 


Barbara telah dipenuhi oleh energi api biru yang meluap-luap, tidak menyangka legenda api biru milik Klanmya dapat dengan mudah ditahan oleh seorang Bocah yang tidak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri.


 


Mereka saling jual-beli pukulan, sesekali mengerahkan tendangan yang sangat kuat. Saling menyerang satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah, satu karena harga diri. Satunya lagi, tidak bisa mengendalikan kekuatan sendiri.


 


Mereka terus beradu pukulan, hal tersebut membuat gelombang kejut yang bermunculan secara beruntun. Terlebih saat energi keduanya saling bertabrakan, mencoba saling mendominasi.


***


Pertempuran yang begitu sengit diantara keduanya membuat perempuan kecil penasaran, dia yang sebelumnya ingin mengejar Drak, Rog dan Raddas. Melihat percikan gelombang kejut di udara. Sedikit terdapat api biru di sana.


 


“Hei, bukankan itu api biru yang menjadi legenda di Klan api? Siapa yang mampu membangkitkan api legenda itu? Jangan-jangan itu dia!” Perempuan kecil bergerak cepat menuju asal percikan gelombang kejut tersebut. Dia mengerahkan kecepatan penuh miliknya, tidak sabar melihat energi api biru yang selama ini menjadi legenda di Klannya. Akhirnya, dia bisa melihat dengan mata kepala sendiri.


 


Raddas, Rog dan Drak yang baru saja lolos dari kejaran perempuan kecil mengatur nafas mereka. Masih tersengal. Mereka tidak menyangka dapat lolos dengan lumayan mudah, terlebih mereka hampir terkejar tadi.


 


“Jika kalian bertemu dengan tetua Fionix sekali lagi, pilihan satu-satunya adalah lari. Bisa saja, kalian tidak lari. Tapi, siap-siaplah mayat kalian menjadi salah satu koleksi patung manusianya.” Raddas memberitahu keduanya begitu nafasnya mulai teratur. Mereka saat ini berada di dalam istana Kerajaan.


 


Bau busuk menusuk hidung ketiganya, mereka tidak menyadari banyak mayat yang telah membusuk di sepanjang lantai istana. “Ini...”


 


Mereka menutup hidung masing-masing, memandang mual mayat yang bertebaran dengan lalat berterbangan di atasnya. Bahkan Drak sampai muntah kuning, bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali.


 


Fionix terus bergerak menuju asal percikan gelombang kejut, dia tidak jauh lagi. Menyusuri hutan dengan kecepatan penuh.


Gerakannya benar-benar cepat, dari jauh Fionix melihat hamparan tanah luas. Tak ada tumbuhan sama sekali, meski sehelai rumput ‘pun tak ada. Lubang yang sangat luas di sana. Berbentuk setengah oval. “Sejak kapan ada lubang seluas ini?”


 

__ADS_1


Begitu tiba di ujung hutan, dia melompat ke ujung pohon berdiri di sana. Melihat semuanya secara jelas. Fionix benar-benar pangling, sebelumnya dia menemui pohon-pohon berbentuk api membeku di belakang sana. Sekarang? Di depannya ini! Dia benar-benar tidak percaya ini.


__ADS_2